{"id":3958,"date":"2021-11-16T03:06:00","date_gmt":"2021-11-15T20:06:00","guid":{"rendered":"http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958"},"modified":"2024-08-21T11:45:57","modified_gmt":"2024-08-21T04:45:57","slug":"dosen-biologi-ipb-university-jelaskan-pentingnya-peran-kelulut-dalam-konservasi-hutan-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958","title":{"rendered":"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebah memiliki peranan penting di dalam ekosistem lingkungan. Hilangnya serangga ini bahkan dapat mengancam keseimbangan ekosistem.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terkait hal ini, Dr Windra Priawandiputra, dosen IPB University dari Departemen Biologi berbagi pengetahuan tentang biologi lebah tanpa sengat atau kelulut. Ia menyebut, kelulut dapat menjadi dasar dalam budidaya lebah secara berkelanjutan dan sebagai upaya konservasi. Menurutnya, tanpa informasi biologi dan keanekaragaman, manusia tidak akan mampu mengetahui cara budidaya dan mempertahankan kelestarian lingkungan yang tepat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTidak semua orang mampu membedakan antara lebah bersengat dan tanpa sengat,\u201d kata Dr Windra. Lebih lanjut ia menjelaskan, lebah memiliki lebih dari 20.000 jenis. Lebah tanpa sengat atau kelulut memiliki ciri khas tersendiri. Umumnya, lebah jenis ini dimanfaatkan masyarakat untuk menghasilkan madu, polen, dan propolis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSeperti lebah pada umumnya, kelulut memiliki tingkat sosial dan pembagian kerja tergantung umur. Namun informasinya lebih beragam dibandingkan lebah madu biasa,\u201d tambah Dr Windra Priawandiputra, pakar polinator dari IPB University.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dosen IPB University itu menyebut, disribusi kelulut di Indonesia hanya 46 tempat yang terekam. Namun demikian, jumlah spesies terbanyak terdapat di pulau Kalimantan dan kemungkinan besar di daerah pedalaman lebih banyak lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia pun menjelaskan, distrupsi distribusi dari lebah kian meningkat. Distrupsi data ini menyebabkan kemungkinan perpindahan spesies dan kepunahan lebah endemik. Tidak hanya itu, popularitas kelulut kian meningkat untuk diperjual-belikan di berbagai daerah sehingga dapat menyebabkan invasi spesies. Oleh karena itu, ia merekomendasikan peternak lebah untuk memilih spesies lokal atau endemik bukan dari luar pulau.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLebah madu tanpa sengat memiliki morfologi yang unik dan biasanya ukurannya lebih kecil daripada lebah madu bersengat,\u201d kata Dr Windra.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Biasanya, katanya, tempat bersarang lebah ini beragam, mulai dari lubang di pohon, rongga bambu, hingga rongga dinding rumah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, produk kelulut dikenal lebih mahal karena kuantitasnya lebih sedikit. Bahkan, produktivitasnya per tahun hanya berkisar 6,5 kilogram apabila sumber pakannya banyak. Menariknya, produktivitas propolisnya lebih tinggi daripada lebah biasa. Kandungan antioksidan dan antibiotiknya pun lebih kaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr Windra juga menyebut, panen madu dari kelulut harus bersifat berkelanjutan. Ia menyarankan, supaya penyimpanan koloni berada di tempat yang memiliki tanaman pakan yang berbunga sepanjang musim. Contoh tanaman berbunga penghasil polen, nektar dan resin misalnya adalah kelapa, kaliandra, kapuk radu, mangga, jambu, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSelain memberikan manfaat berupa polen dan nektar, mereka bisa membantu dalam proses peningkatan produktivitas dari tumbuh-tumbuhan di sekitarnya,\u201d jelasnya dalam Webinar Series Ke-2 Jurusan Biologi, Universitas Mulawarwan dengan judul \u201cBudidaya dan Potensi Kelulut dalam Ekosistem Serta Manfaat bagi Manusia,\u201d (09\/11).(MW)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Narasumber : Dr. Windra Dwiputra, ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lebah memiliki peranan penting di dalam ekosistem lingkungan. Hilangnya serangga ini bahkan dapat mengancam keseimbangan ekosistem. Terkait hal ini, Dr Windra Priawandiputra, dosen IPB University dari Departemen Biologi berbagi pengetahuan tentang biologi lebah tanpa sengat atau kelulut. Ia menyebut, kelulut dapat menjadi dasar dalam budidaya lebah secara berkelanjutan dan sebagai upaya konservasi. Menurutnya, tanpa informasi biologi dan keanekaragaman, manusia tidak akan mampu mengetahui cara budidaya dan mempertahankan kelestarian lingkungan yang tepat. \u201cTidak semua orang mampu membedakan antara lebah bersengat dan tanpa sengat,\u201d kata Dr Windra. Lebih lanjut ia menjelaskan, lebah memiliki lebih dari 20.000 jenis. Lebah tanpa sengat atau kelulut memiliki ciri khas tersendiri. Umumnya, lebah jenis ini dimanfaatkan masyarakat untuk menghasilkan madu, polen, dan propolis. \u201cSeperti lebah pada umumnya, kelulut memiliki tingkat sosial dan pembagian kerja tergantung umur. Namun informasinya lebih beragam dibandingkan lebah madu biasa,\u201d tambah Dr Windra Priawandiputra, pakar polinator dari IPB University. Dosen IPB University itu menyebut, disribusi kelulut di Indonesia hanya 46 tempat yang terekam. Namun demikian, jumlah spesies terbanyak terdapat di pulau Kalimantan dan kemungkinan besar di daerah pedalaman lebih banyak lagi. Ia pun menjelaskan, distrupsi distribusi dari lebah kian meningkat. Distrupsi data ini menyebabkan kemungkinan perpindahan spesies dan kepunahan lebah endemik. Tidak hanya itu, popularitas kelulut kian meningkat untuk diperjual-belikan di berbagai daerah sehingga dapat menyebabkan invasi spesies. Oleh karena itu, ia merekomendasikan peternak lebah untuk memilih spesies lokal atau endemik bukan dari luar pulau. \u201cLebah madu tanpa sengat memiliki morfologi yang unik dan biasanya ukurannya lebih kecil daripada lebah madu bersengat,\u201d kata Dr Windra. Biasanya, katanya, tempat bersarang lebah ini beragam, mulai dari lubang di pohon, rongga bambu, hingga rongga dinding rumah. Sementara itu, produk kelulut dikenal lebih mahal karena kuantitasnya lebih sedikit. Bahkan, produktivitasnya per tahun hanya berkisar 6,5 kilogram apabila sumber pakannya banyak. Menariknya, produktivitas propolisnya lebih tinggi daripada lebah biasa. Kandungan antioksidan dan antibiotiknya pun lebih kaya. Dr Windra juga menyebut, panen madu dari kelulut harus bersifat berkelanjutan. Ia menyarankan, supaya penyimpanan koloni berada di tempat yang memiliki tanaman pakan yang berbunga sepanjang musim. Contoh tanaman berbunga penghasil polen, nektar dan resin misalnya adalah kelapa, kaliandra, kapuk radu, mangga, jambu, dan sebagainya. \u201cSelain memberikan manfaat berupa polen dan nektar, mereka bisa membantu dalam proses peningkatan produktivitas dari tumbuh-tumbuhan di sekitarnya,\u201d jelasnya dalam Webinar Series Ke-2 Jurusan Biologi, Universitas Mulawarwan dengan judul \u201cBudidaya dan Potensi Kelulut dalam Ekosistem Serta Manfaat bagi Manusia,\u201d (09\/11).(MW) Narasumber : Dr. Windra Dwiputra, ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3959,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-3958","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Lebah memiliki peranan penting di dalam ekosistem lingkungan. Hilangnya serangga ini bahkan dapat mengancam keseimbangan ekosistem. Terkait hal ini, Dr Windra Priawandiputra, dosen IPB University dari Departemen Biologi berbagi pengetahuan tentang biologi lebah tanpa sengat atau kelulut. Ia menyebut, kelulut dapat menjadi dasar dalam budidaya lebah secara berkelanjutan dan sebagai upaya konservasi. Menurutnya, tanpa informasi biologi dan keanekaragaman, manusia tidak akan mampu mengetahui cara budidaya dan mempertahankan kelestarian lingkungan yang tepat. \u201cTidak semua orang mampu membedakan antara lebah bersengat dan tanpa sengat,\u201d kata Dr Windra. Lebih lanjut ia menjelaskan, lebah memiliki lebih dari 20.000 jenis. Lebah tanpa sengat atau kelulut memiliki ciri khas tersendiri. Umumnya, lebah jenis ini dimanfaatkan masyarakat untuk menghasilkan madu, polen, dan propolis. \u201cSeperti lebah pada umumnya, kelulut memiliki tingkat sosial dan pembagian kerja tergantung umur. Namun informasinya lebih beragam dibandingkan lebah madu biasa,\u201d tambah Dr Windra Priawandiputra, pakar polinator dari IPB University. Dosen IPB University itu menyebut, disribusi kelulut di Indonesia hanya 46 tempat yang terekam. Namun demikian, jumlah spesies terbanyak terdapat di pulau Kalimantan dan kemungkinan besar di daerah pedalaman lebih banyak lagi. Ia pun menjelaskan, distrupsi distribusi dari lebah kian meningkat. Distrupsi data ini menyebabkan kemungkinan perpindahan spesies dan kepunahan lebah endemik. Tidak hanya itu, popularitas kelulut kian meningkat untuk diperjual-belikan di berbagai daerah sehingga dapat menyebabkan invasi spesies. Oleh karena itu, ia merekomendasikan peternak lebah untuk memilih spesies lokal atau endemik bukan dari luar pulau. \u201cLebah madu tanpa sengat memiliki morfologi yang unik dan biasanya ukurannya lebih kecil daripada lebah madu bersengat,\u201d kata Dr Windra. Biasanya, katanya, tempat bersarang lebah ini beragam, mulai dari lubang di pohon, rongga bambu, hingga rongga dinding rumah. Sementara itu, produk kelulut dikenal lebih mahal karena kuantitasnya lebih sedikit. Bahkan, produktivitasnya per tahun hanya berkisar 6,5 kilogram apabila sumber pakannya banyak. Menariknya, produktivitas propolisnya lebih tinggi daripada lebah biasa. Kandungan antioksidan dan antibiotiknya pun lebih kaya. Dr Windra juga menyebut, panen madu dari kelulut harus bersifat berkelanjutan. Ia menyarankan, supaya penyimpanan koloni berada di tempat yang memiliki tanaman pakan yang berbunga sepanjang musim. Contoh tanaman berbunga penghasil polen, nektar dan resin misalnya adalah kelapa, kaliandra, kapuk radu, mangga, jambu, dan sebagainya. \u201cSelain memberikan manfaat berupa polen dan nektar, mereka bisa membantu dalam proses peningkatan produktivitas dari tumbuh-tumbuhan di sekitarnya,\u201d jelasnya dalam Webinar Series Ke-2 Jurusan Biologi, Universitas Mulawarwan dengan judul \u201cBudidaya dan Potensi Kelulut dalam Ekosistem Serta Manfaat bagi Manusia,\u201d (09\/11).(MW) Narasumber : Dr. Windra Dwiputra, ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-11-15T20:06:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-08-21T04:45:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958\"},\"author\":{\"name\":\"Support FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\"},\"headline\":\"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan\",\"datePublished\":\"2021-11-15T20:06:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-21T04:45:57+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958\"},\"wordCount\":409,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958\",\"name\":\"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"datePublished\":\"2021-11-15T20:06:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-21T04:45:57+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"width\":180,\"height\":180},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=3958#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\",\"name\":\"Support FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Support FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Lebah memiliki peranan penting di dalam ekosistem lingkungan. Hilangnya serangga ini bahkan dapat mengancam keseimbangan ekosistem. Terkait hal ini, Dr Windra Priawandiputra, dosen IPB University dari Departemen Biologi berbagi pengetahuan tentang biologi lebah tanpa sengat atau kelulut. Ia menyebut, kelulut dapat menjadi dasar dalam budidaya lebah secara berkelanjutan dan sebagai upaya konservasi. Menurutnya, tanpa informasi biologi dan keanekaragaman, manusia tidak akan mampu mengetahui cara budidaya dan mempertahankan kelestarian lingkungan yang tepat. \u201cTidak semua orang mampu membedakan antara lebah bersengat dan tanpa sengat,\u201d kata Dr Windra. Lebih lanjut ia menjelaskan, lebah memiliki lebih dari 20.000 jenis. Lebah tanpa sengat atau kelulut memiliki ciri khas tersendiri. Umumnya, lebah jenis ini dimanfaatkan masyarakat untuk menghasilkan madu, polen, dan propolis. \u201cSeperti lebah pada umumnya, kelulut memiliki tingkat sosial dan pembagian kerja tergantung umur. Namun informasinya lebih beragam dibandingkan lebah madu biasa,\u201d tambah Dr Windra Priawandiputra, pakar polinator dari IPB University. Dosen IPB University itu menyebut, disribusi kelulut di Indonesia hanya 46 tempat yang terekam. Namun demikian, jumlah spesies terbanyak terdapat di pulau Kalimantan dan kemungkinan besar di daerah pedalaman lebih banyak lagi. Ia pun menjelaskan, distrupsi distribusi dari lebah kian meningkat. Distrupsi data ini menyebabkan kemungkinan perpindahan spesies dan kepunahan lebah endemik. Tidak hanya itu, popularitas kelulut kian meningkat untuk diperjual-belikan di berbagai daerah sehingga dapat menyebabkan invasi spesies. Oleh karena itu, ia merekomendasikan peternak lebah untuk memilih spesies lokal atau endemik bukan dari luar pulau. \u201cLebah madu tanpa sengat memiliki morfologi yang unik dan biasanya ukurannya lebih kecil daripada lebah madu bersengat,\u201d kata Dr Windra. Biasanya, katanya, tempat bersarang lebah ini beragam, mulai dari lubang di pohon, rongga bambu, hingga rongga dinding rumah. Sementara itu, produk kelulut dikenal lebih mahal karena kuantitasnya lebih sedikit. Bahkan, produktivitasnya per tahun hanya berkisar 6,5 kilogram apabila sumber pakannya banyak. Menariknya, produktivitas propolisnya lebih tinggi daripada lebah biasa. Kandungan antioksidan dan antibiotiknya pun lebih kaya. Dr Windra juga menyebut, panen madu dari kelulut harus bersifat berkelanjutan. Ia menyarankan, supaya penyimpanan koloni berada di tempat yang memiliki tanaman pakan yang berbunga sepanjang musim. Contoh tanaman berbunga penghasil polen, nektar dan resin misalnya adalah kelapa, kaliandra, kapuk radu, mangga, jambu, dan sebagainya. \u201cSelain memberikan manfaat berupa polen dan nektar, mereka bisa membantu dalam proses peningkatan produktivitas dari tumbuh-tumbuhan di sekitarnya,\u201d jelasnya dalam Webinar Series Ke-2 Jurusan Biologi, Universitas Mulawarwan dengan judul \u201cBudidaya dan Potensi Kelulut dalam Ekosistem Serta Manfaat bagi Manusia,\u201d (09\/11).(MW) Narasumber : Dr. Windra Dwiputra, ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2021-11-15T20:06:00+00:00","article_modified_time":"2024-08-21T04:45:57+00:00","og_image":[{"width":180,"height":180,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Support FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Support FMIPA","Estimasi waktu membaca":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958"},"author":{"name":"Support FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef"},"headline":"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan","datePublished":"2021-11-15T20:06:00+00:00","dateModified":"2024-08-21T04:45:57+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958"},"wordCount":409,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg","articleSection":["Berita Utama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958","name":"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg","datePublished":"2021-11-15T20:06:00+00:00","dateModified":"2024-08-21T04:45:57+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg","width":180,"height":180},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef","name":"Support FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","caption":"Support FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=1"}]}},"views":30,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pak-windra-800x445-1-180x180-1.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":4327,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4327","url_meta":{"origin":3958,"position":0},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB Gelar Seminar, Salah Satunya Ungkap Alasan Lebah Suka Berkoloni","author":"Support FMIPA","date":"14\/11\/2023","format":false,"excerpt":"Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University kembali menggelar Seminar on Biology, Kamis (2\/11). Topik utama yang diulik terkait lebah dan isu-isu yang menyelimutinya dilihat dari sisi biologi. Adapun peserta yang hadir merupakan mahasiswa Departemen Biologi IPB University. Seminar ini menghadirkan dua mahasiswa, salah satunya dari\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":6400,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400","url_meta":{"origin":3958,"position":1},"title":"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan","author":"FMIPA","date":"16\/10\/2025","format":false,"excerpt":"Kasus meninggalnya seorang nenek di Bantul akibat disengat kawanan serangga yang diduga tawon gung menyita perhatian publik. Menanggapi hal ini, Pakar Serangga IPB University, Prof Tri Atmowidi, meluruskan informasi tersebut sekaligus mengedukasi masyarakat terkait penanganan yang tepat saat terjadi sengatan. Bukan Tawon GungMenurut Prof Tri, istilah tawon gung yang beredar\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":5047,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5047","url_meta":{"origin":3958,"position":2},"title":"Kenalkan Biopori, Warga Babakan Kembar, Situ Gunung Siap Gali Lubang","author":"FMIPA","date":"02\/08\/2019","format":false,"excerpt":"\"Kegiatan ini sangat bermanfaat. Warga sangat antusias menyaksikan demo yang disampaikan,\" ujar Juarma, Ketua RT Babakan Kembar, Desa Gede Pangrango, Kadudampit, yang terletak di kawasan Situ Gunung. Bertempat di Babakan Kembar, sejumlah dosen dan mahasiswa dari jenjang S1, S2, dan S3 di Departemen Biologi bertemu dengan warga untuk mensosialisasikan lubang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Biologi&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Biologi","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=45"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/2a.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/2a.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/2a.jpeg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/2a.jpeg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/2a.jpeg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":4232,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4232","url_meta":{"origin":3958,"position":3},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB University Gelar Kelas Diskusi: Mengenal Kemampuan Unik Lebah Madu Bertahan Hidup di Wilayah Bersuhu Dingin","author":"Support FMIPA","date":"23\/11\/2022","format":false,"excerpt":"Lebah madu dikenal sebagai salah satu serangga polinator penghasil madu. Riset terkait ekologi dan genomik lebah ini juga semakin berkembang, terutama terkait kemampuannya bertahan hidup di tengah perubahan iklim. Membahas lebih lanjut terkait hal ini, Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar Integrative Biology Class\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":5089,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5089","url_meta":{"origin":3958,"position":4},"title":"Department of Biology Has Successfully Organized The 5th Summer Course on Biology","author":"FMIPA","date":"14\/09\/2023","format":false,"excerpt":"Kursus Musim Panas ke-5 tentang Biologi diselenggarakan oleh Departemen Biologi IPB University pada 5-12 Agustus 2023, dengan dua kegiatan utama: kuliah pada 5-6 Agustus dan kursus lapangan di Pulau Belitung pada 7-12 Agustus. Acara ini diikuti oleh 45 mahasiswa dari berbagai universitas internasional. Kegiatan dimulai dengan kuliah tentang genetika tanaman,\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Biologi&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Biologi","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=45"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4259,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4259","url_meta":{"origin":3958,"position":5},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB University Memulai Riset UKICIS Pariwisata di Belitung","author":"Support FMIPA","date":"07\/02\/2023","format":false,"excerpt":"Para peneliti di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University telah melakukan riset pemanfaatan sumberdaya hayati untuk pariwisata berkelanjutan dan terintegrasi. Rangkaian riset di bawah United Kingdom-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS)-IPB yang dibiayai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini akan berlangsung selama empat tahun.\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3958"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3958\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3960,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3958\/revisions\/3960"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3959"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}