{"id":4048,"date":"2022-04-19T04:31:00","date_gmt":"2022-04-18T21:31:00","guid":{"rendered":"http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048"},"modified":"2024-08-27T11:22:47","modified_gmt":"2024-08-27T04:22:47","slug":"teropong-cercah-kauniyah-tercerahkan-bahas-perspektif-iptek-dan-islam-dalam-memandang-daging-sintetis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048","title":{"rendered":"Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dunia, permintaan konsumsi daging turut meningkat. Para ilmuwan \u2018memutar otak\u2019 dengan cara membuat daging sintetis sebagai alternatifnya. Terlebih lagi dengan meningkatnya kesadaran akan lingkungan berkelanjutan dan aspek kesejahteraan hewan.<br>Terkait dengan daging s\u00edntesis ini, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar kajian kauniyah Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) dengan topik \u201cDaging Sintetis\u201d, Selasa (05\/04). Terutama untuk mengupas daging s\u00edntetis dari perspektif Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prof Nahrowi, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan menilai bahwa produksi daging sintetis bisa menjadi peluang baik untuk industri peternakan. Terdapat kelebihan dan kekurangan terutama terkait aspek nutrisi. Daging sintetis biasa terbuat dari protein nabati hingga yang berbasis sel.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDaging sintetis ini merupakan hal yang tidak boleh dielakkan karena teknologi akan terus berkembang menurut pemikiran manusia agar lebih efisien,\u201dungkapnya.<br>Menurutnya, alasan rasional lain ilmuwan mengembangkan daging sintetis ini terkait persoalan lingkungan. Umat muslim juga telah diajarkan untuk tidak merusak lingkungan. Selain itu, aspek kesejahteraan hewan (animal welfare) juga tidak kalah penting. Alasan lainnya yakni terkait penyusutan dan konversi lahan, penyakit menular dan meningkatnya tren hidup ala vegan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMaka saya katakan ini merupakan peluang industri peternakan untuk memperbaiki cara-caranya (industri peternakan) dalam mengelola industri. Agar lingkungan tidak rusak serta mengikuti animal welfare. Bila industri peternakan menjalankan syariat maka animal welfare ini seharusnya sudah dijalankan,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menambahkan, produksi daging s\u00edntetis masih terbilang mahal. Industri peternakan harus bersikap bijak untuk menganalisis produksi daging sintetis ini. Daging sintetis dinilai lebih cocok untuk olahan makanan. Namun ada kekhawatiran daging ini dioplos.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari segi nutrisi, tambahnya, nutrisi makronya terbilang cukup baik. Namun nutrisi mikronya belum bisa disejajarkan dengan daging alami. Daging asli dan daging s\u00edntetis tidak dapat dipertukarkan secara nutrisi. Persepsi negatif terhadap daging alami juga kecil kemungkinan untuk berubah. \u201cKekurangan dari industri peternakan ini menjadi peluang untuk berproduksi secara eco-friendly,\u201d imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, Prof Hamim, Dosen IPB University dari Departemen Biologi FMIPA menambahkan bahwa dalam perspektif ajaran Islam, binatang ternak telah dianjurkan untuk dipergunakan menjadi baju hingga dikonsumsi. Dagingnya memiliki berbagai manfaat, untuk memenuhi kebutuhan protein dan asam amino esensial. Islam dan Al-Qu\u2019ran memandang daging penting sebagai sumber pangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut, Allah hanya membatasi konsumsi dan penggunaan beberapa jenis daging serta aturannya tidak menyulitkan umatnya. Al-Qu\u2019ran lebih menekankan pada aspek kehalalannya. Selain itu, Islam menekankan agar daging tidak hanya dikonsumsi oleh orang kaya. Oleh karena itu, penyembelihan hewan kurban sejatinya dianjurkan agar daging dapat terdistribusi kepada fakir miskin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaya dorong bagi Bapak Ibu yang bergiat di industri peternakan bagaimana membuat industri yang baik. Karena Allah menekankan pentingnya ini (daging) menjadi barang yang tidak terlalu mahal dan bisa terjangkau bagi seluruh umat manusia,\u201d sebutnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menambahkan, daging disebut sebagai salah satu hidangan surga. Dalam memenuhi permintaan daging ini, adanya daging sintetis masih diperdebatkan aspek kehalalannya. Paling tidak, unsur, proses, dan komponennya harus terbebas dari bahan haram.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDaging sintetis juga memiliki perbedaan dengan daging sembelih terutama harus bebas dari ghoror (penipuan). Terlebih industri daging ini termasuk ke dalam sistem yang kompleks dan mekanismenya panjang. Selain itu, dagingnya juga harus memenuhi kualitas yang baik yakni bergizi dan bebas dari unsur yang membahayakan. Aspek-aspek ini harus menjadi bagian yang harus diperhatikan dan menjadi PR bersama. (MW\/Zul)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dunia, permintaan konsumsi daging turut meningkat. Para ilmuwan \u2018memutar otak\u2019 dengan cara membuat daging sintetis sebagai alternatifnya. Terlebih lagi dengan meningkatnya kesadaran akan lingkungan berkelanjutan dan aspek kesejahteraan hewan.Terkait dengan daging s\u00edntesis ini, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar kajian kauniyah Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) dengan topik \u201cDaging Sintetis\u201d, Selasa (05\/04). Terutama untuk mengupas daging s\u00edntetis dari perspektif Islam. Prof Nahrowi, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan menilai bahwa produksi daging sintetis bisa menjadi peluang baik untuk industri peternakan. Terdapat kelebihan dan kekurangan terutama terkait aspek nutrisi. Daging sintetis biasa terbuat dari protein nabati hingga yang berbasis sel. \u201cDaging sintetis ini merupakan hal yang tidak boleh dielakkan karena teknologi akan terus berkembang menurut pemikiran manusia agar lebih efisien,\u201dungkapnya.Menurutnya, alasan rasional lain ilmuwan mengembangkan daging sintetis ini terkait persoalan lingkungan. Umat muslim juga telah diajarkan untuk tidak merusak lingkungan. Selain itu, aspek kesejahteraan hewan (animal welfare) juga tidak kalah penting. Alasan lainnya yakni terkait penyusutan dan konversi lahan, penyakit menular dan meningkatnya tren hidup ala vegan. \u201cMaka saya katakan ini merupakan peluang industri peternakan untuk memperbaiki cara-caranya (industri peternakan) dalam mengelola industri. Agar lingkungan tidak rusak serta mengikuti animal welfare. Bila industri peternakan menjalankan syariat maka animal welfare ini seharusnya sudah dijalankan,\u201d tambahnya. Ia menambahkan, produksi daging s\u00edntetis masih terbilang mahal. Industri peternakan harus bersikap bijak untuk menganalisis produksi daging sintetis ini. Daging sintetis dinilai lebih cocok untuk olahan makanan. Namun ada kekhawatiran daging ini dioplos. Dari segi nutrisi, tambahnya, nutrisi makronya terbilang cukup baik. Namun nutrisi mikronya belum bisa disejajarkan dengan daging alami. Daging asli dan daging s\u00edntetis tidak dapat dipertukarkan secara nutrisi. Persepsi negatif terhadap daging alami juga kecil kemungkinan untuk berubah. \u201cKekurangan dari industri peternakan ini menjadi peluang untuk berproduksi secara eco-friendly,\u201d imbuhnya. Sementara itu, Prof Hamim, Dosen IPB University dari Departemen Biologi FMIPA menambahkan bahwa dalam perspektif ajaran Islam, binatang ternak telah dianjurkan untuk dipergunakan menjadi baju hingga dikonsumsi. Dagingnya memiliki berbagai manfaat, untuk memenuhi kebutuhan protein dan asam amino esensial. Islam dan Al-Qu\u2019ran memandang daging penting sebagai sumber pangan. Menurut, Allah hanya membatasi konsumsi dan penggunaan beberapa jenis daging serta aturannya tidak menyulitkan umatnya. Al-Qu\u2019ran lebih menekankan pada aspek kehalalannya. Selain itu, Islam menekankan agar daging tidak hanya dikonsumsi oleh orang kaya. Oleh karena itu, penyembelihan hewan kurban sejatinya dianjurkan agar daging dapat terdistribusi kepada fakir miskin. \u201cSaya dorong bagi Bapak Ibu yang bergiat di industri peternakan bagaimana membuat industri yang baik. Karena Allah menekankan pentingnya ini (daging) menjadi barang yang tidak terlalu mahal dan bisa terjangkau bagi seluruh umat manusia,\u201d sebutnya. Ia menambahkan, daging disebut sebagai salah satu hidangan surga. Dalam memenuhi permintaan daging ini, adanya daging sintetis masih diperdebatkan aspek kehalalannya. Paling tidak, unsur, proses, dan komponennya harus terbebas dari bahan haram. \u201cDaging sintetis juga memiliki perbedaan dengan daging sembelih terutama harus bebas dari ghoror (penipuan). Terlebih industri daging ini termasuk ke dalam sistem yang kompleks dan mekanismenya panjang. Selain itu, dagingnya juga harus memenuhi kualitas yang baik yakni bergizi dan bebas dari unsur yang membahayakan. Aspek-aspek ini harus menjadi bagian yang harus diperhatikan dan menjadi PR bersama. (MW\/Zul)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4049,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-4048","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dunia, permintaan konsumsi daging turut meningkat. Para ilmuwan \u2018memutar otak\u2019 dengan cara membuat daging sintetis sebagai alternatifnya. Terlebih lagi dengan meningkatnya kesadaran akan lingkungan berkelanjutan dan aspek kesejahteraan hewan.Terkait dengan daging s\u00edntesis ini, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar kajian kauniyah Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) dengan topik \u201cDaging Sintetis\u201d, Selasa (05\/04). Terutama untuk mengupas daging s\u00edntetis dari perspektif Islam. Prof Nahrowi, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan menilai bahwa produksi daging sintetis bisa menjadi peluang baik untuk industri peternakan. Terdapat kelebihan dan kekurangan terutama terkait aspek nutrisi. Daging sintetis biasa terbuat dari protein nabati hingga yang berbasis sel. \u201cDaging sintetis ini merupakan hal yang tidak boleh dielakkan karena teknologi akan terus berkembang menurut pemikiran manusia agar lebih efisien,\u201dungkapnya.Menurutnya, alasan rasional lain ilmuwan mengembangkan daging sintetis ini terkait persoalan lingkungan. Umat muslim juga telah diajarkan untuk tidak merusak lingkungan. Selain itu, aspek kesejahteraan hewan (animal welfare) juga tidak kalah penting. Alasan lainnya yakni terkait penyusutan dan konversi lahan, penyakit menular dan meningkatnya tren hidup ala vegan. \u201cMaka saya katakan ini merupakan peluang industri peternakan untuk memperbaiki cara-caranya (industri peternakan) dalam mengelola industri. Agar lingkungan tidak rusak serta mengikuti animal welfare. Bila industri peternakan menjalankan syariat maka animal welfare ini seharusnya sudah dijalankan,\u201d tambahnya. Ia menambahkan, produksi daging s\u00edntetis masih terbilang mahal. Industri peternakan harus bersikap bijak untuk menganalisis produksi daging sintetis ini. Daging sintetis dinilai lebih cocok untuk olahan makanan. Namun ada kekhawatiran daging ini dioplos. Dari segi nutrisi, tambahnya, nutrisi makronya terbilang cukup baik. Namun nutrisi mikronya belum bisa disejajarkan dengan daging alami. Daging asli dan daging s\u00edntetis tidak dapat dipertukarkan secara nutrisi. Persepsi negatif terhadap daging alami juga kecil kemungkinan untuk berubah. \u201cKekurangan dari industri peternakan ini menjadi peluang untuk berproduksi secara eco-friendly,\u201d imbuhnya. Sementara itu, Prof Hamim, Dosen IPB University dari Departemen Biologi FMIPA menambahkan bahwa dalam perspektif ajaran Islam, binatang ternak telah dianjurkan untuk dipergunakan menjadi baju hingga dikonsumsi. Dagingnya memiliki berbagai manfaat, untuk memenuhi kebutuhan protein dan asam amino esensial. Islam dan Al-Qu\u2019ran memandang daging penting sebagai sumber pangan. Menurut, Allah hanya membatasi konsumsi dan penggunaan beberapa jenis daging serta aturannya tidak menyulitkan umatnya. Al-Qu\u2019ran lebih menekankan pada aspek kehalalannya. Selain itu, Islam menekankan agar daging tidak hanya dikonsumsi oleh orang kaya. Oleh karena itu, penyembelihan hewan kurban sejatinya dianjurkan agar daging dapat terdistribusi kepada fakir miskin. \u201cSaya dorong bagi Bapak Ibu yang bergiat di industri peternakan bagaimana membuat industri yang baik. Karena Allah menekankan pentingnya ini (daging) menjadi barang yang tidak terlalu mahal dan bisa terjangkau bagi seluruh umat manusia,\u201d sebutnya. Ia menambahkan, daging disebut sebagai salah satu hidangan surga. Dalam memenuhi permintaan daging ini, adanya daging sintetis masih diperdebatkan aspek kehalalannya. Paling tidak, unsur, proses, dan komponennya harus terbebas dari bahan haram. \u201cDaging sintetis juga memiliki perbedaan dengan daging sembelih terutama harus bebas dari ghoror (penipuan). Terlebih industri daging ini termasuk ke dalam sistem yang kompleks dan mekanismenya panjang. Selain itu, dagingnya juga harus memenuhi kualitas yang baik yakni bergizi dan bebas dari unsur yang membahayakan. Aspek-aspek ini harus menjadi bagian yang harus diperhatikan dan menjadi PR bersama. (MW\/Zul)\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-04-18T21:31:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-08-27T04:22:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048\"},\"author\":{\"name\":\"Support FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\"},\"headline\":\"Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis\",\"datePublished\":\"2022-04-18T21:31:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-27T04:22:47+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048\"},\"wordCount\":542,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048\",\"name\":\"Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg\",\"datePublished\":\"2022-04-18T21:31:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-27T04:22:47+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg\",\"width\":180,\"height\":180},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4048#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\",\"name\":\"Support FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Support FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dunia, permintaan konsumsi daging turut meningkat. Para ilmuwan \u2018memutar otak\u2019 dengan cara membuat daging sintetis sebagai alternatifnya. Terlebih lagi dengan meningkatnya kesadaran akan lingkungan berkelanjutan dan aspek kesejahteraan hewan.Terkait dengan daging s\u00edntesis ini, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar kajian kauniyah Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) dengan topik \u201cDaging Sintetis\u201d, Selasa (05\/04). Terutama untuk mengupas daging s\u00edntetis dari perspektif Islam. Prof Nahrowi, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan menilai bahwa produksi daging sintetis bisa menjadi peluang baik untuk industri peternakan. Terdapat kelebihan dan kekurangan terutama terkait aspek nutrisi. Daging sintetis biasa terbuat dari protein nabati hingga yang berbasis sel. \u201cDaging sintetis ini merupakan hal yang tidak boleh dielakkan karena teknologi akan terus berkembang menurut pemikiran manusia agar lebih efisien,\u201dungkapnya.Menurutnya, alasan rasional lain ilmuwan mengembangkan daging sintetis ini terkait persoalan lingkungan. Umat muslim juga telah diajarkan untuk tidak merusak lingkungan. Selain itu, aspek kesejahteraan hewan (animal welfare) juga tidak kalah penting. Alasan lainnya yakni terkait penyusutan dan konversi lahan, penyakit menular dan meningkatnya tren hidup ala vegan. \u201cMaka saya katakan ini merupakan peluang industri peternakan untuk memperbaiki cara-caranya (industri peternakan) dalam mengelola industri. Agar lingkungan tidak rusak serta mengikuti animal welfare. Bila industri peternakan menjalankan syariat maka animal welfare ini seharusnya sudah dijalankan,\u201d tambahnya. Ia menambahkan, produksi daging s\u00edntetis masih terbilang mahal. Industri peternakan harus bersikap bijak untuk menganalisis produksi daging sintetis ini. Daging sintetis dinilai lebih cocok untuk olahan makanan. Namun ada kekhawatiran daging ini dioplos. Dari segi nutrisi, tambahnya, nutrisi makronya terbilang cukup baik. Namun nutrisi mikronya belum bisa disejajarkan dengan daging alami. Daging asli dan daging s\u00edntetis tidak dapat dipertukarkan secara nutrisi. Persepsi negatif terhadap daging alami juga kecil kemungkinan untuk berubah. \u201cKekurangan dari industri peternakan ini menjadi peluang untuk berproduksi secara eco-friendly,\u201d imbuhnya. Sementara itu, Prof Hamim, Dosen IPB University dari Departemen Biologi FMIPA menambahkan bahwa dalam perspektif ajaran Islam, binatang ternak telah dianjurkan untuk dipergunakan menjadi baju hingga dikonsumsi. Dagingnya memiliki berbagai manfaat, untuk memenuhi kebutuhan protein dan asam amino esensial. Islam dan Al-Qu\u2019ran memandang daging penting sebagai sumber pangan. Menurut, Allah hanya membatasi konsumsi dan penggunaan beberapa jenis daging serta aturannya tidak menyulitkan umatnya. Al-Qu\u2019ran lebih menekankan pada aspek kehalalannya. Selain itu, Islam menekankan agar daging tidak hanya dikonsumsi oleh orang kaya. Oleh karena itu, penyembelihan hewan kurban sejatinya dianjurkan agar daging dapat terdistribusi kepada fakir miskin. \u201cSaya dorong bagi Bapak Ibu yang bergiat di industri peternakan bagaimana membuat industri yang baik. Karena Allah menekankan pentingnya ini (daging) menjadi barang yang tidak terlalu mahal dan bisa terjangkau bagi seluruh umat manusia,\u201d sebutnya. Ia menambahkan, daging disebut sebagai salah satu hidangan surga. Dalam memenuhi permintaan daging ini, adanya daging sintetis masih diperdebatkan aspek kehalalannya. Paling tidak, unsur, proses, dan komponennya harus terbebas dari bahan haram. \u201cDaging sintetis juga memiliki perbedaan dengan daging sembelih terutama harus bebas dari ghoror (penipuan). Terlebih industri daging ini termasuk ke dalam sistem yang kompleks dan mekanismenya panjang. Selain itu, dagingnya juga harus memenuhi kualitas yang baik yakni bergizi dan bebas dari unsur yang membahayakan. Aspek-aspek ini harus menjadi bagian yang harus diperhatikan dan menjadi PR bersama. (MW\/Zul)","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2022-04-18T21:31:00+00:00","article_modified_time":"2024-08-27T04:22:47+00:00","og_image":[{"width":180,"height":180,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Support FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Support FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048"},"author":{"name":"Support FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef"},"headline":"Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis","datePublished":"2022-04-18T21:31:00+00:00","dateModified":"2024-08-27T04:22:47+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048"},"wordCount":542,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg","articleSection":["Berita Utama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048","name":"Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg","datePublished":"2022-04-18T21:31:00+00:00","dateModified":"2024-08-27T04:22:47+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg","width":180,"height":180},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4048#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) Bahas Perspektif Iptek dan Islam dalam Memandang Daging Sintetis"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef","name":"Support FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","caption":"Support FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=1"}]}},"views":33,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dosen-IPB-University-Bahas-Perspektif-Iptek-dan-Islam-dalam-Memandang-Daging-Sintetis-180x180-1.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":4124,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4124","url_meta":{"origin":4048,"position":0},"title":"Prof Purwantiningsih Sugita Jelaskan Kontribusi Sains dalam Penentuan Status Kehalalan Produk","author":"Support FMIPA","date":"28\/08\/2022","format":false,"excerpt":"Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Hal ini menjadikan masyarakat negeri ini semakin memiliki perhatian terhadap status kehalalan produk yang beredar. Sehingga proses sertifikasi halal sangat diperlukan bagi produsen. Prof Purwantiningsih Sugita, Dosen IPB university dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menjelaskan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3971,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3971","url_meta":{"origin":4048,"position":1},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB University Gelar Kuliah Umum Pengelolaan Cendawan","author":"Support FMIPA","date":"09\/12\/2021","format":false,"excerpt":"Kesuburan tanah merupakan suatu tren untuk riset penelitian dan pengembangan. Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Mikoina Komunitas Bogor dan Indonesian Center for Tropical Sciences menyelenggarakan kuliah umum daring. Kuliah umum tersebut bertema \u201cStrategi Pengelolaan Aset Biodiversitas Cendawan di Indonesia\u201d (06\/12). Ketua Kelompok Peneliti Biologi\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3897,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3897","url_meta":{"origin":4048,"position":2},"title":"Kaitan Teori Evolusi dengan Beberapa Surah di Al-Quran Menurut Dosen FMIPA IPB","author":"Support FMIPA","date":"29\/03\/2021","format":false,"excerpt":"Setelah sebelumnya menggelar kajian ilmiah dan tafsir Al-Quran Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) bertopik Black Hole, kali ini Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University kembali menggelar sesi kedua dengan topik Evolusi, Rabu (10\/03). Dekan FMIPA, Dr Berry Juliandi dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini berusaha mengkaji serta mempertemukan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4268,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4268","url_meta":{"origin":4048,"position":3},"title":"Dosen FMIPA IPB University: Kreasikan Limbah Tandan Kelapa Sawit Jadi Bahan Baku Fashion","author":"Support FMIPA","date":"07\/02\/2023","format":false,"excerpt":"Indonesia adalah produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan bahwa produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2018 mencapai 47 juta ton. Tingginya produksi minyak sawit dibarengi dengan meningkatnya limbah pabrik kelapa sawit yang harus dikelola. Salah satunya adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4269","width":350,"height":200,"srcset":"http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4269 1x, http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4269 1.5x, http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4269 2x"},"classes":[]},{"id":4345,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4345","url_meta":{"origin":4048,"position":4},"title":"Edisi Perdana Physics Talk 2024, Departemen Fisika FMIPA IPB Undang Pakar Optika dan Fotonika","author":"Support FMIPA","date":"25\/01\/2024","format":false,"excerpt":"Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menyelenggarakan kegiatan IPB Physics Talk perdana di tahun 2024. Kegiatan dwi-mingguan ini telah mencapai seri ke-57 dengan narasumber kali ini adalah Dr Agus Muhamad Hatta dari Departemen Teknik Fisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Topik yang dipaparkan adalah Optical\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3935,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3935","url_meta":{"origin":4048,"position":5},"title":"Kajian TerCerahKan FMIPA IPB University Bahas Peran Matematika dalam Dunia Islam dan Penerapannya dalam Sains","author":"Support FMIPA","date":"10\/08\/2021","format":false,"excerpt":"Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University kembali hadir dalam kajian rutin ilmiah tafsir Al-Quran bulanan yakni TerCerahKan edisi enam, (27\/07). Topik yang diangkat yakni kontribusi aljabar dalam pengembangan sains dan teknologi. Kajian ini menghadirkan Dr Sugi Guritman, Kepala Divisi Matematika Murni Departemen Matematika FMIPA IPB University dan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4048","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4048"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4048\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4050,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4048\/revisions\/4050"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4049"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4048"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4048"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4048"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}