{"id":4054,"date":"2022-04-26T01:13:00","date_gmt":"2022-04-25T18:13:00","guid":{"rendered":"http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054"},"modified":"2024-08-28T09:16:38","modified_gmt":"2024-08-28T02:16:38","slug":"prof-rd-roro-dyah-perwitasari-bicara-pentingnya-kelestarian-satwa-primata-dalam-menyelamatkan-manusia-dan-bumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054","title":{"rendered":"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi"},"content":{"rendered":"\n<p>Satwa primata tidak hanya sekedar hadir untuk mewarnai keanekaragaman alam di dunia. Satwa primata memegang peran penting dalam menjaga stabilitas ekosistem. Punahnya satwa primata dapat mengancam keberadaan manusia di muka bumi.<\/p>\n\n\n\n<p>Menyinggung isu-isu pelestarian primata dan hubungannya dengan keberlangsungan umat manusia, Program Studi Primatologi Sekolah Pascasarjana didukung oleh Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dan Yayasan Nirwana Dondin Sajuthi menggelar Webinar \u201cMenyelamatkan Satwa Primata Menyelamatkan Primata Manusia\u201d, (21\/4).<br>Serial kajian primata ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa primata demi menyelamatkan manusia dan bumi.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof Rd Roro Dyah Perwitasari, Guru Besar IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menyebutkan pembahasan ini akan membuka wawasan masyarakat untuk turut mengambil peran dalam pelestarian satwa primata Indonesia. Ia mengajak masyarakat untuk berkenalan dengan berbagai jenis satwa primata. Dengan jauh lebih memahami persamaan dan perbedaan satwa primata dan primata manusia, manusia akan memahami betapa pentingnya menjaga satwa primata dari kepunahan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cManusia dan satwa primata telah terbukti memiliki kesamaan pada level DNA hingga 86 persen. Satwa primata memiliki kecerdasan otak yang sangat maju. Ordo dan biosistematika manusia dengan satwa primata hampir sama, bahkan memiliki karakteristik fisik yang mirip,\u201d ujarnya. Ia mencontohkan letak ibu jari yang berlawanan sehingga bermanfaat untuk memegang lebih erat dan bergerak stabil di tanah dan pohon. Kemampuan melihat secara binokuler dan memiliki keterbatasan untuk melihat bagian belakang kepala.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, sebagian besar satwa primata memiliki kehidupan diurnal atau berkegiatan aktif pada siang hari. Struktur otak yang kompleks dan lebih maju dibanding ordo primata lainnya. Fungsi otak ini membantu primata dalam memecahkan masalah dan perilaku sosial. Satwa primata juga memiliki laju reproduksi yang lambat sehingga terbatas dalam menghasilkan individu baru.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLaju reproduksi yang lambat ini menjadikan populasi satwa primata dapat terancam. Terlebih bila faktor habitat dan makanan tidak menunjang kehidupannya,\u201d terangnya. Ia menjelaskan, peran satwa primata dalam menjaga fungsi ekologi secara keseluruhan sangat penting. Satwa primata dapat bertindak sebagai polinator untuk membantu penyerbukan tumbuhan tertentu. Primata juga berperan sebagai penyebar biji atau disebut \u2018petani hutan\u2019. Primata juga bertindak sebagai spesies mangsa dalam ekosistem serta agen penular penyakit.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHal-hal ini perlu diwaspadai dan perlu terus dikaji sehingga kita bisa paham peran satwa primata bagi keutuhan ekosistem kita,\u201d katanya. Ia menambahkan, seiring dengan meningkatnya intensifikasi produksi pertanian, satwa primata juga mendapat ancaman bagi kelangsungan hidupnya. Di sinilah peran manusia diandalkan dalam kelestarian satwa primata. Fakta di lapang menyebutkan bahwa deforestasi, kebakaran hutan dan konversi lahan membawa nasib buruk bagi populasi satwa primata. Tanpa habitat alaminya, satwa primata akan sulit tumbuh dan sekedar bertahan hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTingginya tekanan ini dapat menyebabkan kehilangan spesies satwa primata terutama di sekitar zona kontak. Belum lagi adanya perdagangan dan perjualbelian ilegal satwa primata kian menambah ancaman tersebut,\u201d imbuhnya. Menurutnya, masyarakat dapat berkontribusi dalam aksi konservasi untuk menyelamatkan satwa primata. Peluang konservasi ini tidak hanya ditujukan bagi masyarakat yang memiliki keahlian di bidang biologi.<\/p>\n\n\n\n<p>Konservasi satwa primata melibatkan berbagai aspek dan bidang sehingga berbagai pakar dengan keahliannya juga dibutuhkan. Edukasi kepada generasi muda juga penting untuk meningkatkan pemahaman terhadap pentingnya upaya konservasi. \u201cTentunya didukung dengan berbagai riset yang dapat membantu program konservasi. Sehingga kolaborasi juga harus dilakukan untuk memudahkan upaya konservasi ini,\u201dtambahnya. (MW\/Zul)<\/p>\n\n\n\n<p>Narasumber: Prof Rd Roro Dyah Perwitasari, ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Satwa primata tidak hanya sekedar hadir untuk mewarnai keanekaragaman alam di dunia. Satwa primata memegang peran penting dalam menjaga stabilitas ekosistem. Punahnya satwa primata dapat mengancam keberadaan manusia di muka bumi. Menyinggung isu-isu pelestarian primata dan hubungannya dengan keberlangsungan umat manusia, Program Studi Primatologi Sekolah Pascasarjana didukung oleh Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dan Yayasan Nirwana Dondin Sajuthi menggelar Webinar \u201cMenyelamatkan Satwa Primata Menyelamatkan Primata Manusia\u201d, (21\/4).Serial kajian primata ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa primata demi menyelamatkan manusia dan bumi. Prof Rd Roro Dyah Perwitasari, Guru Besar IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menyebutkan pembahasan ini akan membuka wawasan masyarakat untuk turut mengambil peran dalam pelestarian satwa primata Indonesia. Ia mengajak masyarakat untuk berkenalan dengan berbagai jenis satwa primata. Dengan jauh lebih memahami persamaan dan perbedaan satwa primata dan primata manusia, manusia akan memahami betapa pentingnya menjaga satwa primata dari kepunahan. \u201cManusia dan satwa primata telah terbukti memiliki kesamaan pada level DNA hingga 86 persen. Satwa primata memiliki kecerdasan otak yang sangat maju. Ordo dan biosistematika manusia dengan satwa primata hampir sama, bahkan memiliki karakteristik fisik yang mirip,\u201d ujarnya. Ia mencontohkan letak ibu jari yang berlawanan sehingga bermanfaat untuk memegang lebih erat dan bergerak stabil di tanah dan pohon. Kemampuan melihat secara binokuler dan memiliki keterbatasan untuk melihat bagian belakang kepala. Menurutnya, sebagian besar satwa primata memiliki kehidupan diurnal atau berkegiatan aktif pada siang hari. Struktur otak yang kompleks dan lebih maju dibanding ordo primata lainnya. Fungsi otak ini membantu primata dalam memecahkan masalah dan perilaku sosial. Satwa primata juga memiliki laju reproduksi yang lambat sehingga terbatas dalam menghasilkan individu baru. \u201cLaju reproduksi yang lambat ini menjadikan populasi satwa primata dapat terancam. Terlebih bila faktor habitat dan makanan tidak menunjang kehidupannya,\u201d terangnya. Ia menjelaskan, peran satwa primata dalam menjaga fungsi ekologi secara keseluruhan sangat penting. Satwa primata dapat bertindak sebagai polinator untuk membantu penyerbukan tumbuhan tertentu. Primata juga berperan sebagai penyebar biji atau disebut \u2018petani hutan\u2019. Primata juga bertindak sebagai spesies mangsa dalam ekosistem serta agen penular penyakit. \u201cHal-hal ini perlu diwaspadai dan perlu terus dikaji sehingga kita bisa paham peran satwa primata bagi keutuhan ekosistem kita,\u201d katanya. Ia menambahkan, seiring dengan meningkatnya intensifikasi produksi pertanian, satwa primata juga mendapat ancaman bagi kelangsungan hidupnya. Di sinilah peran manusia diandalkan dalam kelestarian satwa primata. Fakta di lapang menyebutkan bahwa deforestasi, kebakaran hutan dan konversi lahan membawa nasib buruk bagi populasi satwa primata. Tanpa habitat alaminya, satwa primata akan sulit tumbuh dan sekedar bertahan hidup. \u201cTingginya tekanan ini dapat menyebabkan kehilangan spesies satwa primata terutama di sekitar zona kontak. Belum lagi adanya perdagangan dan perjualbelian ilegal satwa primata kian menambah ancaman tersebut,\u201d imbuhnya. Menurutnya, masyarakat dapat berkontribusi dalam aksi konservasi untuk menyelamatkan satwa primata. Peluang konservasi ini tidak hanya ditujukan bagi masyarakat yang memiliki keahlian di bidang biologi. Konservasi satwa primata melibatkan berbagai aspek dan bidang sehingga berbagai pakar dengan keahliannya juga dibutuhkan. Edukasi kepada generasi muda juga penting untuk meningkatkan pemahaman terhadap pentingnya upaya konservasi. \u201cTentunya didukung dengan berbagai riset yang dapat membantu program konservasi. Sehingga kolaborasi juga harus dilakukan untuk memudahkan upaya konservasi ini,\u201dtambahnya. (MW\/Zul) Narasumber: Prof Rd Roro Dyah Perwitasari, ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4055,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-4054","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Satwa primata tidak hanya sekedar hadir untuk mewarnai keanekaragaman alam di dunia. Satwa primata memegang peran penting dalam menjaga stabilitas ekosistem. Punahnya satwa primata dapat mengancam keberadaan manusia di muka bumi. Menyinggung isu-isu pelestarian primata dan hubungannya dengan keberlangsungan umat manusia, Program Studi Primatologi Sekolah Pascasarjana didukung oleh Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dan Yayasan Nirwana Dondin Sajuthi menggelar Webinar \u201cMenyelamatkan Satwa Primata Menyelamatkan Primata Manusia\u201d, (21\/4).Serial kajian primata ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa primata demi menyelamatkan manusia dan bumi. Prof Rd Roro Dyah Perwitasari, Guru Besar IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menyebutkan pembahasan ini akan membuka wawasan masyarakat untuk turut mengambil peran dalam pelestarian satwa primata Indonesia. Ia mengajak masyarakat untuk berkenalan dengan berbagai jenis satwa primata. Dengan jauh lebih memahami persamaan dan perbedaan satwa primata dan primata manusia, manusia akan memahami betapa pentingnya menjaga satwa primata dari kepunahan. \u201cManusia dan satwa primata telah terbukti memiliki kesamaan pada level DNA hingga 86 persen. Satwa primata memiliki kecerdasan otak yang sangat maju. Ordo dan biosistematika manusia dengan satwa primata hampir sama, bahkan memiliki karakteristik fisik yang mirip,\u201d ujarnya. Ia mencontohkan letak ibu jari yang berlawanan sehingga bermanfaat untuk memegang lebih erat dan bergerak stabil di tanah dan pohon. Kemampuan melihat secara binokuler dan memiliki keterbatasan untuk melihat bagian belakang kepala. Menurutnya, sebagian besar satwa primata memiliki kehidupan diurnal atau berkegiatan aktif pada siang hari. Struktur otak yang kompleks dan lebih maju dibanding ordo primata lainnya. Fungsi otak ini membantu primata dalam memecahkan masalah dan perilaku sosial. Satwa primata juga memiliki laju reproduksi yang lambat sehingga terbatas dalam menghasilkan individu baru. \u201cLaju reproduksi yang lambat ini menjadikan populasi satwa primata dapat terancam. Terlebih bila faktor habitat dan makanan tidak menunjang kehidupannya,\u201d terangnya. Ia menjelaskan, peran satwa primata dalam menjaga fungsi ekologi secara keseluruhan sangat penting. Satwa primata dapat bertindak sebagai polinator untuk membantu penyerbukan tumbuhan tertentu. Primata juga berperan sebagai penyebar biji atau disebut \u2018petani hutan\u2019. Primata juga bertindak sebagai spesies mangsa dalam ekosistem serta agen penular penyakit. \u201cHal-hal ini perlu diwaspadai dan perlu terus dikaji sehingga kita bisa paham peran satwa primata bagi keutuhan ekosistem kita,\u201d katanya. Ia menambahkan, seiring dengan meningkatnya intensifikasi produksi pertanian, satwa primata juga mendapat ancaman bagi kelangsungan hidupnya. Di sinilah peran manusia diandalkan dalam kelestarian satwa primata. Fakta di lapang menyebutkan bahwa deforestasi, kebakaran hutan dan konversi lahan membawa nasib buruk bagi populasi satwa primata. Tanpa habitat alaminya, satwa primata akan sulit tumbuh dan sekedar bertahan hidup. \u201cTingginya tekanan ini dapat menyebabkan kehilangan spesies satwa primata terutama di sekitar zona kontak. Belum lagi adanya perdagangan dan perjualbelian ilegal satwa primata kian menambah ancaman tersebut,\u201d imbuhnya. Menurutnya, masyarakat dapat berkontribusi dalam aksi konservasi untuk menyelamatkan satwa primata. Peluang konservasi ini tidak hanya ditujukan bagi masyarakat yang memiliki keahlian di bidang biologi. Konservasi satwa primata melibatkan berbagai aspek dan bidang sehingga berbagai pakar dengan keahliannya juga dibutuhkan. Edukasi kepada generasi muda juga penting untuk meningkatkan pemahaman terhadap pentingnya upaya konservasi. \u201cTentunya didukung dengan berbagai riset yang dapat membantu program konservasi. Sehingga kolaborasi juga harus dilakukan untuk memudahkan upaya konservasi ini,\u201dtambahnya. (MW\/Zul) Narasumber: Prof Rd Roro Dyah Perwitasari, ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-04-25T18:13:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-08-28T02:16:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054\"},\"author\":{\"name\":\"Support FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\"},\"headline\":\"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi\",\"datePublished\":\"2022-04-25T18:13:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-28T02:16:38+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054\"},\"wordCount\":551,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054\",\"name\":\"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg\",\"datePublished\":\"2022-04-25T18:13:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-28T02:16:38+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg\",\"width\":180,\"height\":180},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4054#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\",\"name\":\"Support FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Support FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Satwa primata tidak hanya sekedar hadir untuk mewarnai keanekaragaman alam di dunia. Satwa primata memegang peran penting dalam menjaga stabilitas ekosistem. Punahnya satwa primata dapat mengancam keberadaan manusia di muka bumi. Menyinggung isu-isu pelestarian primata dan hubungannya dengan keberlangsungan umat manusia, Program Studi Primatologi Sekolah Pascasarjana didukung oleh Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dan Yayasan Nirwana Dondin Sajuthi menggelar Webinar \u201cMenyelamatkan Satwa Primata Menyelamatkan Primata Manusia\u201d, (21\/4).Serial kajian primata ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa primata demi menyelamatkan manusia dan bumi. Prof Rd Roro Dyah Perwitasari, Guru Besar IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menyebutkan pembahasan ini akan membuka wawasan masyarakat untuk turut mengambil peran dalam pelestarian satwa primata Indonesia. Ia mengajak masyarakat untuk berkenalan dengan berbagai jenis satwa primata. Dengan jauh lebih memahami persamaan dan perbedaan satwa primata dan primata manusia, manusia akan memahami betapa pentingnya menjaga satwa primata dari kepunahan. \u201cManusia dan satwa primata telah terbukti memiliki kesamaan pada level DNA hingga 86 persen. Satwa primata memiliki kecerdasan otak yang sangat maju. Ordo dan biosistematika manusia dengan satwa primata hampir sama, bahkan memiliki karakteristik fisik yang mirip,\u201d ujarnya. Ia mencontohkan letak ibu jari yang berlawanan sehingga bermanfaat untuk memegang lebih erat dan bergerak stabil di tanah dan pohon. Kemampuan melihat secara binokuler dan memiliki keterbatasan untuk melihat bagian belakang kepala. Menurutnya, sebagian besar satwa primata memiliki kehidupan diurnal atau berkegiatan aktif pada siang hari. Struktur otak yang kompleks dan lebih maju dibanding ordo primata lainnya. Fungsi otak ini membantu primata dalam memecahkan masalah dan perilaku sosial. Satwa primata juga memiliki laju reproduksi yang lambat sehingga terbatas dalam menghasilkan individu baru. \u201cLaju reproduksi yang lambat ini menjadikan populasi satwa primata dapat terancam. Terlebih bila faktor habitat dan makanan tidak menunjang kehidupannya,\u201d terangnya. Ia menjelaskan, peran satwa primata dalam menjaga fungsi ekologi secara keseluruhan sangat penting. Satwa primata dapat bertindak sebagai polinator untuk membantu penyerbukan tumbuhan tertentu. Primata juga berperan sebagai penyebar biji atau disebut \u2018petani hutan\u2019. Primata juga bertindak sebagai spesies mangsa dalam ekosistem serta agen penular penyakit. \u201cHal-hal ini perlu diwaspadai dan perlu terus dikaji sehingga kita bisa paham peran satwa primata bagi keutuhan ekosistem kita,\u201d katanya. Ia menambahkan, seiring dengan meningkatnya intensifikasi produksi pertanian, satwa primata juga mendapat ancaman bagi kelangsungan hidupnya. Di sinilah peran manusia diandalkan dalam kelestarian satwa primata. Fakta di lapang menyebutkan bahwa deforestasi, kebakaran hutan dan konversi lahan membawa nasib buruk bagi populasi satwa primata. Tanpa habitat alaminya, satwa primata akan sulit tumbuh dan sekedar bertahan hidup. \u201cTingginya tekanan ini dapat menyebabkan kehilangan spesies satwa primata terutama di sekitar zona kontak. Belum lagi adanya perdagangan dan perjualbelian ilegal satwa primata kian menambah ancaman tersebut,\u201d imbuhnya. Menurutnya, masyarakat dapat berkontribusi dalam aksi konservasi untuk menyelamatkan satwa primata. Peluang konservasi ini tidak hanya ditujukan bagi masyarakat yang memiliki keahlian di bidang biologi. Konservasi satwa primata melibatkan berbagai aspek dan bidang sehingga berbagai pakar dengan keahliannya juga dibutuhkan. Edukasi kepada generasi muda juga penting untuk meningkatkan pemahaman terhadap pentingnya upaya konservasi. \u201cTentunya didukung dengan berbagai riset yang dapat membantu program konservasi. Sehingga kolaborasi juga harus dilakukan untuk memudahkan upaya konservasi ini,\u201dtambahnya. (MW\/Zul) Narasumber: Prof Rd Roro Dyah Perwitasari, ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2022-04-25T18:13:00+00:00","article_modified_time":"2024-08-28T02:16:38+00:00","og_image":[{"width":180,"height":180,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Support FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Support FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054"},"author":{"name":"Support FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef"},"headline":"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi","datePublished":"2022-04-25T18:13:00+00:00","dateModified":"2024-08-28T02:16:38+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054"},"wordCount":551,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg","articleSection":["Berita Utama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054","name":"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg","datePublished":"2022-04-25T18:13:00+00:00","dateModified":"2024-08-28T02:16:38+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg","width":180,"height":180},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4054#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari Bicara Pentingnya Kelestarian Satwa Primata dalam Menyelamatkan Manusia dan Bumi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef","name":"Support FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","caption":"Support FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=1"}]}},"views":24,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-rd-roro-800x445-1-180x180-1-1.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":3926,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3926","url_meta":{"origin":4054,"position":0},"title":"Prof Rd Roro Dyah Perwitasari: Indonesia Miliki 38 Spesies Satwa Primata Endemik, Terbanyak Ada di Sulawesi","author":"Support FMIPA","date":"10\/08\/2021","format":false,"excerpt":"","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4118,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4118","url_meta":{"origin":4054,"position":1},"title":"Dr Puji Rianti Ungkap Penelitian Evolusi Genetika Orangutan dalam Simposium Primatologi Internasional","author":"Support FMIPA","date":"14\/07\/2022","format":false,"excerpt":"Dr Puji Rianti, Dosen IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menjadi salah satu pembicara dalam acara Simposium Internasional, Women and Primatology, \u201cWhat Attracts Women into Science and Conservation on Non-Human Primates?\u201d Kegiatan ini digelar oleh Pusat Riset Primata Universitas Nasional, 7\/7. Sebuah kebanggaan menjadi\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":5050,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5050","url_meta":{"origin":4054,"position":2},"title":"Departemen Biologi IPB, Resmikan 2 Stasiun Riset Lapang di Belitung","author":"FMIPA","date":"14\/11\/2019","format":false,"excerpt":"Sebagai bagian dari kerja sama antara Departemen Biologi, MCSTO IPB, dan Belitong Geopark, dua stasiun riset lapang resmi dibuka oleh Ketua Departemen Biologi. Peresmian Stasiun Hutan Kerangas Cendil berlangsung pada 24 Oktober 2019, dihadiri oleh Dr. Miftahudin, Ketua Departemen Biologi, bersama dengan Hirmas Fuady Putra, M.Si., Ketua MCSTO IPB. Peresmian\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Biologi&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Biologi","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=45"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=1400%2C800&ssl=1 4x"},"classes":[]},{"id":4069,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4069","url_meta":{"origin":4054,"position":3},"title":"Peneliti FMIPA IPB Ciptakan Obat Herbal Atasi Perut Buncit","author":"Support FMIPA","date":"14\/06\/2022","format":false,"excerpt":"Timbunan lemak berlebih atau kegemukan hingga kini masih menjadi masalah serius. Pasalnya, jika status kegemukan beralih menjadi obesitas, hal ini dapat menimbulkan komplikasi penyakit serius. Komplikasi yang akan dihadapi oleh penderita obesitas dapat berupa hipertensi, hiperlipidemia, kanker, diabetes, kelainan jantung, gangguan pernafasan, dan kelainan sendi pada penderita usia lanjut. Tim\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4273,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4273","url_meta":{"origin":4054,"position":4},"title":"Dua Dosen FMIPA IPB University Bahas Ekohidrologi dalam Mendukung Ekonomi Hijau dari Sisi Sains dan Kajian Islam","author":"Support FMIPA","date":"21\/02\/2023","format":false,"excerpt":"Ekonomi hijau merupakan konsep ekonomi berkelanjutan yang berfokus kepada lingkungan. Ekonomi hijau terus didorong oleh Pemerintah Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak. Di dalamnya, aspek ekohidrologi juga tidak bisa diabaikan. Membahas hal ini dari sisi sains dan kajian Islam, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar acara TerCerahkan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4226,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4226","url_meta":{"origin":4054,"position":5},"title":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Jelaskan Peran Bioinformatika dalam Upaya Konservasi Genomik dan Pencapaian SDGs","author":"Support FMIPA","date":"23\/11\/2022","format":false,"excerpt":"Peran ilmu bioinformatika memiliki keterkaitan erat dengan pelestarian lingkungan. Data genetik digunakan sebagai sumber inspirasi terciptanya inovasi dan hasil riset yang bermanfaat bagi lingkungan.Kekayaan biodiversitas bangsa Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia dan harus tetap dipertahankan. Ilmu bioinformatika yang berawal dari inovasi sekuensing genom awal tahun 2000-an, telah\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4054","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4054"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4054\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4056,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4054\/revisions\/4056"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4055"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4054"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4054"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4054"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}