{"id":4098,"date":"2022-06-23T02:28:00","date_gmt":"2022-06-22T19:28:00","guid":{"rendered":"http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098"},"modified":"2024-08-28T14:58:01","modified_gmt":"2024-08-28T07:58:01","slug":"guru-besar-fmipa-ipb-jelaskan-antisipasi-perubahan-iklim-akibat-la-nina-pada-produktivitas-pertanian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098","title":{"rendered":"Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian"},"content":{"rendered":"\n<p>Perubahan iklim mengancam sektor pertanian. Kemampuan petani untuk memproduksi tanaman pangan bagi populasi global ikut terancam, terutama di tengah misi ketahanan pangan. Maka dari itu, antisipasi terhadap perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman pangan sangat diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof Yonny Koesmaryono, Guru Besar IPB University bidang Geofisika dan Meteorologi mengatakan bahwa prediksi anomali Suhu Permukaan Laut (SPL) sangat penting untuk menentukan musim tanam yang tepat. \u201cMenurut data histori rataan tiga bulan, anomali SPL di Nino 3.4 oleh the Oceanic Nino Index (ONI), sejak 2021 sampai Juni 2022 masih menunjukkan tren negatif. Artinya menunjukkan periode dingin atau La Nina lemah sehingga curah hujan sepanjang tahun 2022 cenderung tinggi,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, La Nina masih terjadi namun diprediksi terus melemah secara perlahan. Suhu permukaan laut tropis di bagian Barat Samudra Pasifik telah menghangat selama dua minggu terakhir. Hal ini menyebabkan air di bawah permukaan Pasifik Tropis terus mendukung pemanasan permukaan lebih lanjut. Indeks Osilasi Selatan tetap pada tingkat La Nina tetapi kekuatan angina pasat telah melemah selama Mei dibandingkan awal tahun 2022.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita berharap La Nina ini semakin melemah kemudian musim kemarau, walaupun ada beberapa yang terlambat tapi tetap akan masuk musim kemarau. Hal ini yang mesti diwaspadai saat musim tanam padi, jangan sampai tertipu dan padi kekurangan air,\u201d terangnya dalam Webinar Propaktani \u201cDampak dan Antisipasi Perubahan Iklim terhadap Produktivitas Tanaman Pangan\u201d yang digelar oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian RI, (21\/06).<\/p>\n\n\n\n<p>Ia melanjutkan, prediksi juga menunjukkan bahwa masih ada peluang terjadinya La Nina lemah sampai netral hingga awal tahun 2023. Kondisi ini menyebabkan musim kemarau di tahun 2022 akan cenderung bersifat basah. Petani harus waspada ketika memanfaatkan kondisi ini saat musim tanam padi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPetani harus menggali informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat terkait kondisi iklim di masing-masing daerah. Sehingga dapat mengetahui daerah mana saja yang dapat ditanami selama La Nina masih ada. Selama musim kemarau, pembentukan awan masih cukup efektif untuk menjadi hujan. Petani juga harus mewaspadai kondisi ini dan siap mengantisipasi jika terjadi kelebihan air dan bencana,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, musim hujan ini juga diperkuat dengan gerakan angin Monsoon Asia setelah bulan September. Namun, bahkan jika La Nina mereda, prakiraan pola suhu permukaan laut di Pasifik Tropis masih mendukung curah hujan yang terjadi di musim kemarau di atas rata-rata.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKondisi ini harus diantisipasi sebagai musim kemarau yang masih ada hujan. Hal ini merupakan anugerah sehingga kita masih bisa menanam di musim kemarau. Tapi kita harus mengantisipasi tanaman apa yang cocok ditanam pada kondisi ini, jangan sampai memilih tanaman yang membutuhkan genangan air yang banyak ,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, diperlukan rencana strategis nasional untuk mengatasi dampak dan antisipasi perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman pangan. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan mulai dari penguatan sistem prediksi iklim nasional, identifikasi wilayah rentan kekeringan termasuk wilayah potensial pertanaman pangan non padi, pengembangan sistem pertanian hemat air, hingga perluasan implementasi asuransi iklim dan pertanian. \u201cMetode pertanian yang adaptif di tengah perubahan iklim ini juga penting, kita sebagai insan yang membutuhkan makanan harus bisa adaptif terhadap perubahan iklim akibat perbuatan kita sendiri,\u201d tutupnya. (MW\/Zul)<\/p>\n\n\n\n<p>Narasumber : Prof Yonny Koesmaryono<br>Resource : ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perubahan iklim mengancam sektor pertanian. Kemampuan petani untuk memproduksi tanaman pangan bagi populasi global ikut terancam, terutama di tengah misi ketahanan pangan. Maka dari itu, antisipasi terhadap perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman pangan sangat diperlukan. Prof Yonny Koesmaryono, Guru Besar IPB University bidang Geofisika dan Meteorologi mengatakan bahwa prediksi anomali Suhu Permukaan Laut (SPL) sangat penting untuk menentukan musim tanam yang tepat. \u201cMenurut data histori rataan tiga bulan, anomali SPL di Nino 3.4 oleh the Oceanic Nino Index (ONI), sejak 2021 sampai Juni 2022 masih menunjukkan tren negatif. Artinya menunjukkan periode dingin atau La Nina lemah sehingga curah hujan sepanjang tahun 2022 cenderung tinggi,\u201d ujarnya. Menurutnya, La Nina masih terjadi namun diprediksi terus melemah secara perlahan. Suhu permukaan laut tropis di bagian Barat Samudra Pasifik telah menghangat selama dua minggu terakhir. Hal ini menyebabkan air di bawah permukaan Pasifik Tropis terus mendukung pemanasan permukaan lebih lanjut. Indeks Osilasi Selatan tetap pada tingkat La Nina tetapi kekuatan angina pasat telah melemah selama Mei dibandingkan awal tahun 2022. \u201cKita berharap La Nina ini semakin melemah kemudian musim kemarau, walaupun ada beberapa yang terlambat tapi tetap akan masuk musim kemarau. Hal ini yang mesti diwaspadai saat musim tanam padi, jangan sampai tertipu dan padi kekurangan air,\u201d terangnya dalam Webinar Propaktani \u201cDampak dan Antisipasi Perubahan Iklim terhadap Produktivitas Tanaman Pangan\u201d yang digelar oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian RI, (21\/06). Ia melanjutkan, prediksi juga menunjukkan bahwa masih ada peluang terjadinya La Nina lemah sampai netral hingga awal tahun 2023. Kondisi ini menyebabkan musim kemarau di tahun 2022 akan cenderung bersifat basah. Petani harus waspada ketika memanfaatkan kondisi ini saat musim tanam padi. \u201cPetani harus menggali informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat terkait kondisi iklim di masing-masing daerah. Sehingga dapat mengetahui daerah mana saja yang dapat ditanami selama La Nina masih ada. Selama musim kemarau, pembentukan awan masih cukup efektif untuk menjadi hujan. Petani juga harus mewaspadai kondisi ini dan siap mengantisipasi jika terjadi kelebihan air dan bencana,\u201d terangnya. Menurutnya, musim hujan ini juga diperkuat dengan gerakan angin Monsoon Asia setelah bulan September. Namun, bahkan jika La Nina mereda, prakiraan pola suhu permukaan laut di Pasifik Tropis masih mendukung curah hujan yang terjadi di musim kemarau di atas rata-rata. \u201cKondisi ini harus diantisipasi sebagai musim kemarau yang masih ada hujan. Hal ini merupakan anugerah sehingga kita masih bisa menanam di musim kemarau. Tapi kita harus mengantisipasi tanaman apa yang cocok ditanam pada kondisi ini, jangan sampai memilih tanaman yang membutuhkan genangan air yang banyak ,\u201d tambahnya. Menurutnya, diperlukan rencana strategis nasional untuk mengatasi dampak dan antisipasi perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman pangan. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan mulai dari penguatan sistem prediksi iklim nasional, identifikasi wilayah rentan kekeringan termasuk wilayah potensial pertanaman pangan non padi, pengembangan sistem pertanian hemat air, hingga perluasan implementasi asuransi iklim dan pertanian. \u201cMetode pertanian yang adaptif di tengah perubahan iklim ini juga penting, kita sebagai insan yang membutuhkan makanan harus bisa adaptif terhadap perubahan iklim akibat perbuatan kita sendiri,\u201d tutupnya. (MW\/Zul) Narasumber : Prof Yonny KoesmaryonoResource : ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4099,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-4098","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Perubahan iklim mengancam sektor pertanian. Kemampuan petani untuk memproduksi tanaman pangan bagi populasi global ikut terancam, terutama di tengah misi ketahanan pangan. Maka dari itu, antisipasi terhadap perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman pangan sangat diperlukan. Prof Yonny Koesmaryono, Guru Besar IPB University bidang Geofisika dan Meteorologi mengatakan bahwa prediksi anomali Suhu Permukaan Laut (SPL) sangat penting untuk menentukan musim tanam yang tepat. \u201cMenurut data histori rataan tiga bulan, anomali SPL di Nino 3.4 oleh the Oceanic Nino Index (ONI), sejak 2021 sampai Juni 2022 masih menunjukkan tren negatif. Artinya menunjukkan periode dingin atau La Nina lemah sehingga curah hujan sepanjang tahun 2022 cenderung tinggi,\u201d ujarnya. Menurutnya, La Nina masih terjadi namun diprediksi terus melemah secara perlahan. Suhu permukaan laut tropis di bagian Barat Samudra Pasifik telah menghangat selama dua minggu terakhir. Hal ini menyebabkan air di bawah permukaan Pasifik Tropis terus mendukung pemanasan permukaan lebih lanjut. Indeks Osilasi Selatan tetap pada tingkat La Nina tetapi kekuatan angina pasat telah melemah selama Mei dibandingkan awal tahun 2022. \u201cKita berharap La Nina ini semakin melemah kemudian musim kemarau, walaupun ada beberapa yang terlambat tapi tetap akan masuk musim kemarau. Hal ini yang mesti diwaspadai saat musim tanam padi, jangan sampai tertipu dan padi kekurangan air,\u201d terangnya dalam Webinar Propaktani \u201cDampak dan Antisipasi Perubahan Iklim terhadap Produktivitas Tanaman Pangan\u201d yang digelar oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian RI, (21\/06). Ia melanjutkan, prediksi juga menunjukkan bahwa masih ada peluang terjadinya La Nina lemah sampai netral hingga awal tahun 2023. Kondisi ini menyebabkan musim kemarau di tahun 2022 akan cenderung bersifat basah. Petani harus waspada ketika memanfaatkan kondisi ini saat musim tanam padi. \u201cPetani harus menggali informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat terkait kondisi iklim di masing-masing daerah. Sehingga dapat mengetahui daerah mana saja yang dapat ditanami selama La Nina masih ada. Selama musim kemarau, pembentukan awan masih cukup efektif untuk menjadi hujan. Petani juga harus mewaspadai kondisi ini dan siap mengantisipasi jika terjadi kelebihan air dan bencana,\u201d terangnya. Menurutnya, musim hujan ini juga diperkuat dengan gerakan angin Monsoon Asia setelah bulan September. Namun, bahkan jika La Nina mereda, prakiraan pola suhu permukaan laut di Pasifik Tropis masih mendukung curah hujan yang terjadi di musim kemarau di atas rata-rata. \u201cKondisi ini harus diantisipasi sebagai musim kemarau yang masih ada hujan. Hal ini merupakan anugerah sehingga kita masih bisa menanam di musim kemarau. Tapi kita harus mengantisipasi tanaman apa yang cocok ditanam pada kondisi ini, jangan sampai memilih tanaman yang membutuhkan genangan air yang banyak ,\u201d tambahnya. Menurutnya, diperlukan rencana strategis nasional untuk mengatasi dampak dan antisipasi perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman pangan. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan mulai dari penguatan sistem prediksi iklim nasional, identifikasi wilayah rentan kekeringan termasuk wilayah potensial pertanaman pangan non padi, pengembangan sistem pertanian hemat air, hingga perluasan implementasi asuransi iklim dan pertanian. \u201cMetode pertanian yang adaptif di tengah perubahan iklim ini juga penting, kita sebagai insan yang membutuhkan makanan harus bisa adaptif terhadap perubahan iklim akibat perbuatan kita sendiri,\u201d tutupnya. (MW\/Zul) Narasumber : Prof Yonny KoesmaryonoResource : ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-06-22T19:28:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-08-28T07:58:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098\"},\"author\":{\"name\":\"Support FMIPA\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\"},\"headline\":\"Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian\",\"datePublished\":\"2022-06-22T19:28:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-28T07:58:01+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098\"},\"wordCount\":509,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098\",\"name\":\"Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"datePublished\":\"2022-06-22T19:28:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-28T07:58:01+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"width\":180,\"height\":180},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\",\"name\":\"Support FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Support FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Perubahan iklim mengancam sektor pertanian. Kemampuan petani untuk memproduksi tanaman pangan bagi populasi global ikut terancam, terutama di tengah misi ketahanan pangan. Maka dari itu, antisipasi terhadap perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman pangan sangat diperlukan. Prof Yonny Koesmaryono, Guru Besar IPB University bidang Geofisika dan Meteorologi mengatakan bahwa prediksi anomali Suhu Permukaan Laut (SPL) sangat penting untuk menentukan musim tanam yang tepat. \u201cMenurut data histori rataan tiga bulan, anomali SPL di Nino 3.4 oleh the Oceanic Nino Index (ONI), sejak 2021 sampai Juni 2022 masih menunjukkan tren negatif. Artinya menunjukkan periode dingin atau La Nina lemah sehingga curah hujan sepanjang tahun 2022 cenderung tinggi,\u201d ujarnya. Menurutnya, La Nina masih terjadi namun diprediksi terus melemah secara perlahan. Suhu permukaan laut tropis di bagian Barat Samudra Pasifik telah menghangat selama dua minggu terakhir. Hal ini menyebabkan air di bawah permukaan Pasifik Tropis terus mendukung pemanasan permukaan lebih lanjut. Indeks Osilasi Selatan tetap pada tingkat La Nina tetapi kekuatan angina pasat telah melemah selama Mei dibandingkan awal tahun 2022. \u201cKita berharap La Nina ini semakin melemah kemudian musim kemarau, walaupun ada beberapa yang terlambat tapi tetap akan masuk musim kemarau. Hal ini yang mesti diwaspadai saat musim tanam padi, jangan sampai tertipu dan padi kekurangan air,\u201d terangnya dalam Webinar Propaktani \u201cDampak dan Antisipasi Perubahan Iklim terhadap Produktivitas Tanaman Pangan\u201d yang digelar oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian RI, (21\/06). Ia melanjutkan, prediksi juga menunjukkan bahwa masih ada peluang terjadinya La Nina lemah sampai netral hingga awal tahun 2023. Kondisi ini menyebabkan musim kemarau di tahun 2022 akan cenderung bersifat basah. Petani harus waspada ketika memanfaatkan kondisi ini saat musim tanam padi. \u201cPetani harus menggali informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat terkait kondisi iklim di masing-masing daerah. Sehingga dapat mengetahui daerah mana saja yang dapat ditanami selama La Nina masih ada. Selama musim kemarau, pembentukan awan masih cukup efektif untuk menjadi hujan. Petani juga harus mewaspadai kondisi ini dan siap mengantisipasi jika terjadi kelebihan air dan bencana,\u201d terangnya. Menurutnya, musim hujan ini juga diperkuat dengan gerakan angin Monsoon Asia setelah bulan September. Namun, bahkan jika La Nina mereda, prakiraan pola suhu permukaan laut di Pasifik Tropis masih mendukung curah hujan yang terjadi di musim kemarau di atas rata-rata. \u201cKondisi ini harus diantisipasi sebagai musim kemarau yang masih ada hujan. Hal ini merupakan anugerah sehingga kita masih bisa menanam di musim kemarau. Tapi kita harus mengantisipasi tanaman apa yang cocok ditanam pada kondisi ini, jangan sampai memilih tanaman yang membutuhkan genangan air yang banyak ,\u201d tambahnya. Menurutnya, diperlukan rencana strategis nasional untuk mengatasi dampak dan antisipasi perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman pangan. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan mulai dari penguatan sistem prediksi iklim nasional, identifikasi wilayah rentan kekeringan termasuk wilayah potensial pertanaman pangan non padi, pengembangan sistem pertanian hemat air, hingga perluasan implementasi asuransi iklim dan pertanian. \u201cMetode pertanian yang adaptif di tengah perubahan iklim ini juga penting, kita sebagai insan yang membutuhkan makanan harus bisa adaptif terhadap perubahan iklim akibat perbuatan kita sendiri,\u201d tutupnya. (MW\/Zul) Narasumber : Prof Yonny KoesmaryonoResource : ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2022-06-22T19:28:00+00:00","article_modified_time":"2024-08-28T07:58:01+00:00","og_image":[{"width":180,"height":180,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Support FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Support FMIPA","Estimasi waktu membaca":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098"},"author":{"name":"Support FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef"},"headline":"Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian","datePublished":"2022-06-22T19:28:00+00:00","dateModified":"2024-08-28T07:58:01+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098"},"wordCount":509,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg","articleSection":["Berita Utama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098","name":"Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg","datePublished":"2022-06-22T19:28:00+00:00","dateModified":"2024-08-28T07:58:01+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg","width":180,"height":180},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4098#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Guru Besar FMIPA IPB Jelaskan Antisipasi Perubahan Iklim Akibat La Nina pada Produktivitas Pertanian"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef","name":"Support FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","caption":"Support FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=1"}]}},"views":25,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/prof-yonny-800x445-1-180x180-1.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":3989,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3989","url_meta":{"origin":4098,"position":0},"title":"Dr Akhmad Faqih Berikan Rekomendasi Strategi dalam Kebijakan Sekolah Lapang Iklim","author":"Support FMIPA","date":"23\/12\/2021","format":false,"excerpt":"Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar Webinar Lesson Learnt: Sekolah Lapang Iklim, pekan lalu. Webinar ini bertujuan untuk memberikan layanan informasi terkait cuaca dan iklim di Jawa Barat yang selama ini dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala Bidang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4297,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4297","url_meta":{"origin":4098,"position":1},"title":"Prof Sri Nurdiati Prediksi Potensi Karhutla Menggunakan Konsep Pemodelan Matematis","author":"Support FMIPA","date":"25\/09\/2023","format":false,"excerpt":"Prof Sri Nurdiati, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menyampaikan analisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dapat menggunakan konsep pemodelan matematis. Ia menilai, konsep pemodelan yang menggunakan data amatan dari stasiun klimatologi dengan skala model yang singkat (harian, mingguan) tersebut dapat memberikan hasil\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4238,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4238","url_meta":{"origin":4098,"position":2},"title":"Prof Imas Sukaesih Sitanggang Paparkan Implementasi Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pertanian Cerdas","author":"Support FMIPA","date":"01\/12\/2022","format":false,"excerpt":"Prof Imas Sukaesih Sitanggang, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer menyebut bahwa smart agriculture penting untuk masa depan. \u201cKita membutuhkan smart agriculture di masa depan, terutama karena jumlah penduduk semakin meningkat disusul dengan isu perubahan iklim, serta masalah hama dan penyakit tanaman yang berakibat pada kerawanan pangan,\u201d katanya dalam\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4084,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4084","url_meta":{"origin":4098,"position":3},"title":"Prof. Dr. Ir. Daniel Murdiyarso, M.S. Mendapatkan Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Helsinki, Finlandia","author":"Support FMIPA","date":"20\/06\/2022","format":false,"excerpt":"Prof. Dr. Ir. Daniel Murdiyarso, M.S., Profesor Meteorologi Hutan pada Institut Pertanian Bogor (IPB) mendapatkan gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Helsinki, Finlandia pada tanggal 17 Juni 2022. Prof Daniel merupakan satu-satunya penerima gelar kehormatan yang dipilih dari Indonesia dan merupakan satu dari 30 orang lainnya dari berbagai\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4232,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4232","url_meta":{"origin":4098,"position":4},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB University Gelar Kelas Diskusi: Mengenal Kemampuan Unik Lebah Madu Bertahan Hidup di Wilayah Bersuhu Dingin","author":"Support FMIPA","date":"23\/11\/2022","format":false,"excerpt":"Lebah madu dikenal sebagai salah satu serangga polinator penghasil madu. Riset terkait ekologi dan genomik lebah ini juga semakin berkembang, terutama terkait kemampuannya bertahan hidup di tengah perubahan iklim. Membahas lebih lanjut terkait hal ini, Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar Integrative Biology Class\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3955,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3955","url_meta":{"origin":4098,"position":5},"title":"Pentingnya Bioinformatika dalam Seleksi Genomik bagi Proses Pemuliaan Tanaman","author":"Support FMIPA","date":"16\/11\/2021","format":false,"excerpt":"Pendekatan bioinformatika semakin banyak digunakan pada berbagai penelitian, termasuk dalam pemuliaan tanaman. Bioinformatika dimanfaatkan dalam proses penyeleksian varietas unggul. Teknologinya kian berkembang dan semakin memudahkan pemulia tanaman. Dr Willy Bayuardi Suwarno, Dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian menjelaskan bahwa untuk mendapatkan varietas unggul, perlu dilakukan seleksi\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4098","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4098"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4098\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4100,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4098\/revisions\/4100"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4099"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4098"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4098"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4098"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}