{"id":4127,"date":"2022-08-05T09:52:00","date_gmt":"2022-08-05T02:52:00","guid":{"rendered":"http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127"},"modified":"2024-08-28T15:41:19","modified_gmt":"2024-08-28T08:41:19","slug":"riset-dosen-fmipa-ipb-bayam-liar-bisa-menjadi-agen-fitomining-di-lahan-bekas-pertambangan-emas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127","title":{"rendered":"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas"},"content":{"rendered":"\n<p>Bayam liar merupakan salah satu tumbuhan akumulator ion logam, termasuk logam emas. Bahkan, beberapa spesiesnya termasuk sebagai hiperakumulator. Bayam liar memiliki kemampuan mengabsorpsi atau menyerap beberapa logam dalam jumlah yang tinggi. Bila tempat tumbuhnya kebetulan mengandung emas, kemungkinan bayam liar juga akan menyerap logam emas tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, Prof Hamim, Dosen IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan menjelaskan bahwa tidak hanya emas yang diserap, bayam juga bisa menyerap jenis logam terlarut lainnya. Spesies ini sudah banyak diteliti terkait kemampuannya sebagai akumulator logam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMekanismenya adalah tumbuhan bayam liar ini akan menyerap logam dalam bentuk ion terlarut di tanah. Meski demikian untuk penyerapan emas biasanya tergolong rendah diakibatkan kelarutannya di alam untuk emas (Au) relatif rendah,\u201d katanya dalam sebuah sesi wawancara, belum lama ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, untuk memudahkan kelarutan emas dalam bentuk ion biasanya ditambahkan pelarut seperti aqua regia, tiosulfat atau tiosianat. Nantinya bentuk terlarutnya akan mudah diserap oleh tumbuhan. Kalau tidak, akan sulit diserap oleh bayam, sehingga akumulasi di dalam jaringannya menjadi sedikit.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengatakan bahwa penelitian terkait kemampuan bayam liar ini diuji di lahan bekas pertambangan emas atau disebut tailing. Tailing adalah hancuran bebatuan yang halus seperti pasir atau debu yang telah diekstrak mineralnya untuk ditambang seperti emas dan perak. Sebenarnya tailing limbah pertambangan emas ini masih mengandung emas walau kandungannya sangat rendah, sehingga kalau dilakukan penambangan kembali membutuhkan biaya mahal. Bayam liar ini berguna sebagai fitomining untuk mengakumulasi emas di lahan tersebut dan dapat diekstraksi setelahnya. Bila dibanding dengan metode lain, tentu metode ini jauh lebih murah walau memerlukan penanganan yang spesifik.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPengumpulan emas dengan cara diambil secara fisik mungkin sulit dan biayanya mahal bahkan menjadi tidak efisien. Tumbuhan fitomining seperti bayam liar ini punya fungsi ganda, sebagai penyerap semua unsur yang beracun di tanah dan menyerap logam yang di dalamnya mungkin mengandung logam mulia seperti emas,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, penelitian terkait bayam liar sebagai fitomining memerlukan proses yang panjang. Harapannya dapat dicari spesies bayam maupun tumbuhan lain yang lebih efektif dan bersifat selektif terhadap penyerapan logam.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menjelaskan, tumbuhan hiperakumulator seperti bayam liar ini juga berfungsi untuk mengembalikan kualitas tanah di bekas area pertambangan. Lahan bekas pertambangan biasanya tidak mudah kembali ditanami karena kualitas tanahnya sudah menurun drastis. Bayam liar dapat menyerap kandungan senyawa logam berat yang tinggi maupun logam esensial berlebih. Namun, upaya ini harus dilakukan secara terstruktur, terencana dan perlu waktu yang tidak singkat. Setelah bayam dipanen, logam-logam yang terserap bisa diekstrak dan dipisahkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh area pertambangan lain, imbuhnya, yang cocok untuk menggali potensi tumbuhan hiperakumulator seperti bayam liar ini adalah di wilayah tanah ultramafic di Sulawesi atau Maluku. Ia yakin dengan pengembangan penelitian lebih lanjut, dapat digali jenis bayam liar maupun tumbuhan lain yang mampu memiliki kemampuan serapan lebih tinggi. Karena tumbuhan yang hidup di area tersebut telah beradaptasi puluhan bahkan ratusan tahun pada lahan dengan kadar logam yang tinggi sehingga akan banyak jenis tumbuhan yang lebih tahan terhadap cekaman logam berat dan berpotensi digunakan sebagai agen fitomining.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHarapan saya juga penelitian ini mendapat dukungan dari aspek pendanaan dengan berbagai skema yang ditawarkan pemerintah karena perlu waktu yang relatif panjang. Saya juga berharap swasta dan industri yang terkait dengan bidang pertambangan yang memiliki perhatian yang sama terhadap lingkungan sehingga ikut mendukung penelitian ini. Baik dari industri hingga masyarakat juga dapat memanfaatkan tumbuhan ini dengan optimal,\u201d terangnya. (MW\/Zul)<\/p>\n\n\n\n<p>Narasumber : Prof Hamim, ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bayam liar merupakan salah satu tumbuhan akumulator ion logam, termasuk logam emas. Bahkan, beberapa spesiesnya termasuk sebagai hiperakumulator. Bayam liar memiliki kemampuan mengabsorpsi atau menyerap beberapa logam dalam jumlah yang tinggi. Bila tempat tumbuhnya kebetulan mengandung emas, kemungkinan bayam liar juga akan menyerap logam emas tersebut. Namun, Prof Hamim, Dosen IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan menjelaskan bahwa tidak hanya emas yang diserap, bayam juga bisa menyerap jenis logam terlarut lainnya. Spesies ini sudah banyak diteliti terkait kemampuannya sebagai akumulator logam. \u201cMekanismenya adalah tumbuhan bayam liar ini akan menyerap logam dalam bentuk ion terlarut di tanah. Meski demikian untuk penyerapan emas biasanya tergolong rendah diakibatkan kelarutannya di alam untuk emas (Au) relatif rendah,\u201d katanya dalam sebuah sesi wawancara, belum lama ini. Menurutnya, untuk memudahkan kelarutan emas dalam bentuk ion biasanya ditambahkan pelarut seperti aqua regia, tiosulfat atau tiosianat. Nantinya bentuk terlarutnya akan mudah diserap oleh tumbuhan. Kalau tidak, akan sulit diserap oleh bayam, sehingga akumulasi di dalam jaringannya menjadi sedikit. Ia mengatakan bahwa penelitian terkait kemampuan bayam liar ini diuji di lahan bekas pertambangan emas atau disebut tailing. Tailing adalah hancuran bebatuan yang halus seperti pasir atau debu yang telah diekstrak mineralnya untuk ditambang seperti emas dan perak. Sebenarnya tailing limbah pertambangan emas ini masih mengandung emas walau kandungannya sangat rendah, sehingga kalau dilakukan penambangan kembali membutuhkan biaya mahal. Bayam liar ini berguna sebagai fitomining untuk mengakumulasi emas di lahan tersebut dan dapat diekstraksi setelahnya. Bila dibanding dengan metode lain, tentu metode ini jauh lebih murah walau memerlukan penanganan yang spesifik. \u201cPengumpulan emas dengan cara diambil secara fisik mungkin sulit dan biayanya mahal bahkan menjadi tidak efisien. Tumbuhan fitomining seperti bayam liar ini punya fungsi ganda, sebagai penyerap semua unsur yang beracun di tanah dan menyerap logam yang di dalamnya mungkin mengandung logam mulia seperti emas,\u201d tambahnya. Menurutnya, penelitian terkait bayam liar sebagai fitomining memerlukan proses yang panjang. Harapannya dapat dicari spesies bayam maupun tumbuhan lain yang lebih efektif dan bersifat selektif terhadap penyerapan logam. Ia menjelaskan, tumbuhan hiperakumulator seperti bayam liar ini juga berfungsi untuk mengembalikan kualitas tanah di bekas area pertambangan. Lahan bekas pertambangan biasanya tidak mudah kembali ditanami karena kualitas tanahnya sudah menurun drastis. Bayam liar dapat menyerap kandungan senyawa logam berat yang tinggi maupun logam esensial berlebih. Namun, upaya ini harus dilakukan secara terstruktur, terencana dan perlu waktu yang tidak singkat. Setelah bayam dipanen, logam-logam yang terserap bisa diekstrak dan dipisahkan. Contoh area pertambangan lain, imbuhnya, yang cocok untuk menggali potensi tumbuhan hiperakumulator seperti bayam liar ini adalah di wilayah tanah ultramafic di Sulawesi atau Maluku. Ia yakin dengan pengembangan penelitian lebih lanjut, dapat digali jenis bayam liar maupun tumbuhan lain yang mampu memiliki kemampuan serapan lebih tinggi. Karena tumbuhan yang hidup di area tersebut telah beradaptasi puluhan bahkan ratusan tahun pada lahan dengan kadar logam yang tinggi sehingga akan banyak jenis tumbuhan yang lebih tahan terhadap cekaman logam berat dan berpotensi digunakan sebagai agen fitomining. \u201cHarapan saya juga penelitian ini mendapat dukungan dari aspek pendanaan dengan berbagai skema yang ditawarkan pemerintah karena perlu waktu yang relatif panjang. Saya juga berharap swasta dan industri yang terkait dengan bidang pertambangan yang memiliki perhatian yang sama terhadap lingkungan sehingga ikut mendukung penelitian ini. Baik dari industri hingga masyarakat juga dapat memanfaatkan tumbuhan ini dengan optimal,\u201d terangnya. (MW\/Zul) Narasumber : Prof Hamim, ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4128,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-4127","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bayam liar merupakan salah satu tumbuhan akumulator ion logam, termasuk logam emas. Bahkan, beberapa spesiesnya termasuk sebagai hiperakumulator. Bayam liar memiliki kemampuan mengabsorpsi atau menyerap beberapa logam dalam jumlah yang tinggi. Bila tempat tumbuhnya kebetulan mengandung emas, kemungkinan bayam liar juga akan menyerap logam emas tersebut. Namun, Prof Hamim, Dosen IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan menjelaskan bahwa tidak hanya emas yang diserap, bayam juga bisa menyerap jenis logam terlarut lainnya. Spesies ini sudah banyak diteliti terkait kemampuannya sebagai akumulator logam. \u201cMekanismenya adalah tumbuhan bayam liar ini akan menyerap logam dalam bentuk ion terlarut di tanah. Meski demikian untuk penyerapan emas biasanya tergolong rendah diakibatkan kelarutannya di alam untuk emas (Au) relatif rendah,\u201d katanya dalam sebuah sesi wawancara, belum lama ini. Menurutnya, untuk memudahkan kelarutan emas dalam bentuk ion biasanya ditambahkan pelarut seperti aqua regia, tiosulfat atau tiosianat. Nantinya bentuk terlarutnya akan mudah diserap oleh tumbuhan. Kalau tidak, akan sulit diserap oleh bayam, sehingga akumulasi di dalam jaringannya menjadi sedikit. Ia mengatakan bahwa penelitian terkait kemampuan bayam liar ini diuji di lahan bekas pertambangan emas atau disebut tailing. Tailing adalah hancuran bebatuan yang halus seperti pasir atau debu yang telah diekstrak mineralnya untuk ditambang seperti emas dan perak. Sebenarnya tailing limbah pertambangan emas ini masih mengandung emas walau kandungannya sangat rendah, sehingga kalau dilakukan penambangan kembali membutuhkan biaya mahal. Bayam liar ini berguna sebagai fitomining untuk mengakumulasi emas di lahan tersebut dan dapat diekstraksi setelahnya. Bila dibanding dengan metode lain, tentu metode ini jauh lebih murah walau memerlukan penanganan yang spesifik. \u201cPengumpulan emas dengan cara diambil secara fisik mungkin sulit dan biayanya mahal bahkan menjadi tidak efisien. Tumbuhan fitomining seperti bayam liar ini punya fungsi ganda, sebagai penyerap semua unsur yang beracun di tanah dan menyerap logam yang di dalamnya mungkin mengandung logam mulia seperti emas,\u201d tambahnya. Menurutnya, penelitian terkait bayam liar sebagai fitomining memerlukan proses yang panjang. Harapannya dapat dicari spesies bayam maupun tumbuhan lain yang lebih efektif dan bersifat selektif terhadap penyerapan logam. Ia menjelaskan, tumbuhan hiperakumulator seperti bayam liar ini juga berfungsi untuk mengembalikan kualitas tanah di bekas area pertambangan. Lahan bekas pertambangan biasanya tidak mudah kembali ditanami karena kualitas tanahnya sudah menurun drastis. Bayam liar dapat menyerap kandungan senyawa logam berat yang tinggi maupun logam esensial berlebih. Namun, upaya ini harus dilakukan secara terstruktur, terencana dan perlu waktu yang tidak singkat. Setelah bayam dipanen, logam-logam yang terserap bisa diekstrak dan dipisahkan. Contoh area pertambangan lain, imbuhnya, yang cocok untuk menggali potensi tumbuhan hiperakumulator seperti bayam liar ini adalah di wilayah tanah ultramafic di Sulawesi atau Maluku. Ia yakin dengan pengembangan penelitian lebih lanjut, dapat digali jenis bayam liar maupun tumbuhan lain yang mampu memiliki kemampuan serapan lebih tinggi. Karena tumbuhan yang hidup di area tersebut telah beradaptasi puluhan bahkan ratusan tahun pada lahan dengan kadar logam yang tinggi sehingga akan banyak jenis tumbuhan yang lebih tahan terhadap cekaman logam berat dan berpotensi digunakan sebagai agen fitomining. \u201cHarapan saya juga penelitian ini mendapat dukungan dari aspek pendanaan dengan berbagai skema yang ditawarkan pemerintah karena perlu waktu yang relatif panjang. Saya juga berharap swasta dan industri yang terkait dengan bidang pertambangan yang memiliki perhatian yang sama terhadap lingkungan sehingga ikut mendukung penelitian ini. Baik dari industri hingga masyarakat juga dapat memanfaatkan tumbuhan ini dengan optimal,\u201d terangnya. (MW\/Zul) Narasumber : Prof Hamim, ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-08-05T02:52:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-08-28T08:41:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127\"},\"author\":{\"name\":\"Support FMIPA\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\"},\"headline\":\"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas\",\"datePublished\":\"2022-08-05T02:52:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-28T08:41:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127\"},\"wordCount\":565,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127\",\"name\":\"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"datePublished\":\"2022-08-05T02:52:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-28T08:41:19+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"width\":180,\"height\":180},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\",\"name\":\"Support FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Support FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Bayam liar merupakan salah satu tumbuhan akumulator ion logam, termasuk logam emas. Bahkan, beberapa spesiesnya termasuk sebagai hiperakumulator. Bayam liar memiliki kemampuan mengabsorpsi atau menyerap beberapa logam dalam jumlah yang tinggi. Bila tempat tumbuhnya kebetulan mengandung emas, kemungkinan bayam liar juga akan menyerap logam emas tersebut. Namun, Prof Hamim, Dosen IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan menjelaskan bahwa tidak hanya emas yang diserap, bayam juga bisa menyerap jenis logam terlarut lainnya. Spesies ini sudah banyak diteliti terkait kemampuannya sebagai akumulator logam. \u201cMekanismenya adalah tumbuhan bayam liar ini akan menyerap logam dalam bentuk ion terlarut di tanah. Meski demikian untuk penyerapan emas biasanya tergolong rendah diakibatkan kelarutannya di alam untuk emas (Au) relatif rendah,\u201d katanya dalam sebuah sesi wawancara, belum lama ini. Menurutnya, untuk memudahkan kelarutan emas dalam bentuk ion biasanya ditambahkan pelarut seperti aqua regia, tiosulfat atau tiosianat. Nantinya bentuk terlarutnya akan mudah diserap oleh tumbuhan. Kalau tidak, akan sulit diserap oleh bayam, sehingga akumulasi di dalam jaringannya menjadi sedikit. Ia mengatakan bahwa penelitian terkait kemampuan bayam liar ini diuji di lahan bekas pertambangan emas atau disebut tailing. Tailing adalah hancuran bebatuan yang halus seperti pasir atau debu yang telah diekstrak mineralnya untuk ditambang seperti emas dan perak. Sebenarnya tailing limbah pertambangan emas ini masih mengandung emas walau kandungannya sangat rendah, sehingga kalau dilakukan penambangan kembali membutuhkan biaya mahal. Bayam liar ini berguna sebagai fitomining untuk mengakumulasi emas di lahan tersebut dan dapat diekstraksi setelahnya. Bila dibanding dengan metode lain, tentu metode ini jauh lebih murah walau memerlukan penanganan yang spesifik. \u201cPengumpulan emas dengan cara diambil secara fisik mungkin sulit dan biayanya mahal bahkan menjadi tidak efisien. Tumbuhan fitomining seperti bayam liar ini punya fungsi ganda, sebagai penyerap semua unsur yang beracun di tanah dan menyerap logam yang di dalamnya mungkin mengandung logam mulia seperti emas,\u201d tambahnya. Menurutnya, penelitian terkait bayam liar sebagai fitomining memerlukan proses yang panjang. Harapannya dapat dicari spesies bayam maupun tumbuhan lain yang lebih efektif dan bersifat selektif terhadap penyerapan logam. Ia menjelaskan, tumbuhan hiperakumulator seperti bayam liar ini juga berfungsi untuk mengembalikan kualitas tanah di bekas area pertambangan. Lahan bekas pertambangan biasanya tidak mudah kembali ditanami karena kualitas tanahnya sudah menurun drastis. Bayam liar dapat menyerap kandungan senyawa logam berat yang tinggi maupun logam esensial berlebih. Namun, upaya ini harus dilakukan secara terstruktur, terencana dan perlu waktu yang tidak singkat. Setelah bayam dipanen, logam-logam yang terserap bisa diekstrak dan dipisahkan. Contoh area pertambangan lain, imbuhnya, yang cocok untuk menggali potensi tumbuhan hiperakumulator seperti bayam liar ini adalah di wilayah tanah ultramafic di Sulawesi atau Maluku. Ia yakin dengan pengembangan penelitian lebih lanjut, dapat digali jenis bayam liar maupun tumbuhan lain yang mampu memiliki kemampuan serapan lebih tinggi. Karena tumbuhan yang hidup di area tersebut telah beradaptasi puluhan bahkan ratusan tahun pada lahan dengan kadar logam yang tinggi sehingga akan banyak jenis tumbuhan yang lebih tahan terhadap cekaman logam berat dan berpotensi digunakan sebagai agen fitomining. \u201cHarapan saya juga penelitian ini mendapat dukungan dari aspek pendanaan dengan berbagai skema yang ditawarkan pemerintah karena perlu waktu yang relatif panjang. Saya juga berharap swasta dan industri yang terkait dengan bidang pertambangan yang memiliki perhatian yang sama terhadap lingkungan sehingga ikut mendukung penelitian ini. Baik dari industri hingga masyarakat juga dapat memanfaatkan tumbuhan ini dengan optimal,\u201d terangnya. (MW\/Zul) Narasumber : Prof Hamim, ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2022-08-05T02:52:00+00:00","article_modified_time":"2024-08-28T08:41:19+00:00","og_image":[{"width":180,"height":180,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Support FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Support FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127"},"author":{"name":"Support FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef"},"headline":"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas","datePublished":"2022-08-05T02:52:00+00:00","dateModified":"2024-08-28T08:41:19+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127"},"wordCount":565,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg","articleSection":["Berita Utama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127","name":"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg","datePublished":"2022-08-05T02:52:00+00:00","dateModified":"2024-08-28T08:41:19+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg","width":180,"height":180},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef","name":"Support FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","caption":"Support FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=1"}]}},"views":13,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr.-Ir.-Hamim-M.Si_.-800x445-1-180x180-1.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":4223,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4223","url_meta":{"origin":4127,"position":0},"title":"Departemen Fisika FMIPA IPB University Gelar Physics Talk, Hadirkan Pakar Metalurgi","author":"Support FMIPA","date":"23\/11\/2022","format":false,"excerpt":"Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University kembali menghadirkan pakar ilmu fisika dalam \u201cIPB Physics Talk\u201d edisi ke 39, beberapa waktu lalu. Physics Talk edisi ini menghadirkan salah satu narasumber yang berpengalaman dalam dunia material dan metalurgi, yaitu Dr Mochamad Chalid. Ia adalah dosen dan peneliti\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4020,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4020","url_meta":{"origin":4127,"position":1},"title":"Siswa-Siswi SMA Icip Kuliah Online Sehari di Departemen Biologi FMIPA IPB","author":"Support FMIPA","date":"17\/03\/2022","format":false,"excerpt":"Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) kembali menggelar kegiatan Kuliah Online Sehari di BioIPB melalui Zoom, (25\/02). Kegiatan diadakan untuk mempromosikan Departemen Biologi kepada para siswa SMA kelas 12. Melalui Kuliah Online Sehari ini, para siswa tidak hanya dapat mencicipi bagaimana rasanya menjadi mahasiswa Biologi IPB University.\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":6332,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332","url_meta":{"origin":4127,"position":2},"title":"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis","author":"FMIPA","date":"28\/07\/2025","format":false,"excerpt":"Tumbuhan sarang semut bukan sekadar flora unik yang dikenal karena keberadaannya yang bersimbiosis dengan semut. Lebih dari itu, tumbuhan ini memiliki peranan dalam keseimbangan ekosistem hutan tropis. Hal ini disampaikan oleh dosen Biologi IPB University, Dr Nunik Sri Ariyanti, dalam penjelasannya mengenai taksonomi dan ekologi tumbuhan sarang semut Dr Nunik\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":3971,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3971","url_meta":{"origin":4127,"position":3},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB University Gelar Kuliah Umum Pengelolaan Cendawan","author":"Support FMIPA","date":"09\/12\/2021","format":false,"excerpt":"Kesuburan tanah merupakan suatu tren untuk riset penelitian dan pengembangan. Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Mikoina Komunitas Bogor dan Indonesian Center for Tropical Sciences menyelenggarakan kuliah umum daring. Kuliah umum tersebut bertema \u201cStrategi Pengelolaan Aset Biodiversitas Cendawan di Indonesia\u201d (06\/12). Ketua Kelompok Peneliti Biologi\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":6419,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419","url_meta":{"origin":4127,"position":4},"title":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim","author":"FMIPA","date":"01\/12\/2025","format":false,"excerpt":"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Namun, apakah klaim itu juga berlaku untuk dunia jamur? Pertanyaan ini dibahas Dr Ivan Permana Putra, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University dalam webinar Ngobrolin Spesies edisi ke-7. Dalam pemaparannya, Dr Ivan menyampaikan bahwa hingga kini, data tentang jamur di\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":4259,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4259","url_meta":{"origin":4127,"position":5},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB University Memulai Riset UKICIS Pariwisata di Belitung","author":"Support FMIPA","date":"07\/02\/2023","format":false,"excerpt":"Para peneliti di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University telah melakukan riset pemanfaatan sumberdaya hayati untuk pariwisata berkelanjutan dan terintegrasi. Rangkaian riset di bawah United Kingdom-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS)-IPB yang dibiayai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini akan berlangsung selama empat tahun.\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4127","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4127"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4127\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4129,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4127\/revisions\/4129"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4128"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4127"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4127"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4127"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}