{"id":4166,"date":"2022-09-01T10:10:00","date_gmt":"2022-09-01T03:10:00","guid":{"rendered":"http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166"},"modified":"2024-08-29T15:30:05","modified_gmt":"2024-08-29T08:30:05","slug":"dr-wisnu-ananta-ungkap-peran-kecerdasan-buatan-dalam-pengembangan-pengobatan-presisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166","title":{"rendered":"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perkembangan teknologi informasi mendorong berkembangnya pendekatan baru dalam pencarian obat. Dengan Artificial Intelligence (AI), terutama Machine Learning, kini dunia bisa mengembangkan pengobatan yang bersifat presisi sesuai profil genetik pasien, yang umum disebut dengan Precision Medicine.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr Wisnu Ananta Kusuma, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menjelaskan, precision medicine memerlukan integrasi data dari berbagai tipe dan format, meliputi data omics, data citra (image), data dari sensor, data klinis dan berbagai data lainnya yang mewakili fenotipe. Namun saat ini, banyak penelitian lebih berfokus pada pengolahan data omics, khususnya untuk pencarian biomarker dari genomik, transkriptomik, maupun proteomik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMembuat model asosiasi antara fenotipe dan genotipe, atau Genome-Wide Association Studies (GWAS) adalah salah satu kunci keberhasilan pengembangan precision medicine. Pengembangan precision medicine ini memerlukan siklus perbaikan terus menerus dan analisis secara komprehensif untuk menemukan obat yang tepat atau presisi dalam upaya mengatasi penyakit kompleks,\u201d ujarnya dalam AI Talks Institut Teknologi Bandung (ITB) seri ke-4 dengan topik \u201cThe Role of Artificial Intelligence in Precision\/Personalized Medicine\u2019, 25\/08.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengembangan precision medicine, lanjut Dr Wisnu, memerlukan pendekatan multi-level dan multi-skala. Analisis dapat dimulai dari level yang lebih makro, yaitu penyakit. Kemudian lebih rinci ke level seluler, lalu ke level molekul. Namun, bisa saja dimulai dari level yang paling mikro yaitu molekul, kemudian diperluas ke level seluler sampai level penyakit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAdapun multi skala karena pendekatan ini memerlukan berbagai data omics dari mulai genomik, transkriptomik, proteomik dan metabolomik. AI diperlukan untuk menganalisis data tiap level dan mengintegrasikannya sehingga menghasilkan kandidat obat presisi yang berfungsi sebagai pencegahan maupun untuk tindakan,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr Wisnu menyebut, sejalan dengan inisiatif pengembangan precision medicine di Indonesia, terdapat peluang untuk mengembangkan precision medicine berbasis herbal (precision \u201cherbal\u201d medicine) yang mengoptimalkan biodiversitas tanaman obat Indonesia. Tanaman obat mengandung banyak senyawa aktif dan mengikuti prinsip multi-komponen multi-target yang mungkin sesuai dengan karakteristik penyakit kompleks atau genetik yang biasanya berasosiasi dengan gen-gen atau protein-protein.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih lanjut ia mengutarakan, pendekatan big data dan network pharmacology dapat digunakan untuk memulai eksplorasi protein target pada penyakit kemudian melakukan pengayaan informasi dengan profil genetik dari pasien, biasanya berupa gen-gen yang memiliki penanda, misalnya Single Nucleotide Polymorphism (SNP), yang berasosiasi dengan fenotipe reaksi obat\/senyawa yang merugikan. Informasi ini nantinya dipakai untuk membangun drug-target interaction untuk senyawa herbal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selanjutnya dihasilkan kandidat senyawa yang divalidasi dengan molecular docking dan simulasi dinamika molekuler. Pada ujung prosesnya dibuktikan secara in vitro, in vivo, serta uji klinis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIPB University sedang mengembangkan sistem pencarian obat herbal presisi, yakni prototipe I-PRIME (IPB Precision Herbal Medicine Discovery System). Prototipe ini dikembangkan dari dua aplikasi sebelumnya, yaitu IJAH Analytics dan Integrated Single Nucleotide Polymorphism Pipeline (ISNIP),\u201d tutur Dr Wisnu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">IJAH Analytic merupakan aplikasi untuk memprediksi formula obat herbal berbasis machine learning. Sementara ISNIP digunakan untuk mengidentifikasi varian atau SNP. Visi pengembangan precision medicine untuk obat herbal ini telah disosialisasikan sejak tahun 2018.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cApa yang kita kerjakan ini baru berupa kandidat yang potensial belum bisa langsung menyimpulkan bahwa senyawa ini pasti bermanfaat, perlu dilakukan uji di lab sesuai dengan protokol dan regulasi yang ditetapkan BPOM,\u201d pungkasnya. (MW\/Rz)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perkembangan teknologi informasi mendorong berkembangnya pendekatan baru dalam pencarian obat. Dengan Artificial Intelligence (AI), terutama Machine Learning, kini dunia bisa mengembangkan pengobatan yang bersifat presisi sesuai profil genetik pasien, yang umum disebut dengan Precision Medicine. Dr Wisnu Ananta Kusuma, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menjelaskan, precision medicine memerlukan integrasi data dari berbagai tipe dan format, meliputi data omics, data citra (image), data dari sensor, data klinis dan berbagai data lainnya yang mewakili fenotipe. Namun saat ini, banyak penelitian lebih berfokus pada pengolahan data omics, khususnya untuk pencarian biomarker dari genomik, transkriptomik, maupun proteomik. \u201cMembuat model asosiasi antara fenotipe dan genotipe, atau Genome-Wide Association Studies (GWAS) adalah salah satu kunci keberhasilan pengembangan precision medicine. Pengembangan precision medicine ini memerlukan siklus perbaikan terus menerus dan analisis secara komprehensif untuk menemukan obat yang tepat atau presisi dalam upaya mengatasi penyakit kompleks,\u201d ujarnya dalam AI Talks Institut Teknologi Bandung (ITB) seri ke-4 dengan topik \u201cThe Role of Artificial Intelligence in Precision\/Personalized Medicine\u2019, 25\/08. Pengembangan precision medicine, lanjut Dr Wisnu, memerlukan pendekatan multi-level dan multi-skala. Analisis dapat dimulai dari level yang lebih makro, yaitu penyakit. Kemudian lebih rinci ke level seluler, lalu ke level molekul. Namun, bisa saja dimulai dari level yang paling mikro yaitu molekul, kemudian diperluas ke level seluler sampai level penyakit. \u201cAdapun multi skala karena pendekatan ini memerlukan berbagai data omics dari mulai genomik, transkriptomik, proteomik dan metabolomik. AI diperlukan untuk menganalisis data tiap level dan mengintegrasikannya sehingga menghasilkan kandidat obat presisi yang berfungsi sebagai pencegahan maupun untuk tindakan,\u201d tambahnya. Dr Wisnu menyebut, sejalan dengan inisiatif pengembangan precision medicine di Indonesia, terdapat peluang untuk mengembangkan precision medicine berbasis herbal (precision \u201cherbal\u201d medicine) yang mengoptimalkan biodiversitas tanaman obat Indonesia. Tanaman obat mengandung banyak senyawa aktif dan mengikuti prinsip multi-komponen multi-target yang mungkin sesuai dengan karakteristik penyakit kompleks atau genetik yang biasanya berasosiasi dengan gen-gen atau protein-protein. Lebih lanjut ia mengutarakan, pendekatan big data dan network pharmacology dapat digunakan untuk memulai eksplorasi protein target pada penyakit kemudian melakukan pengayaan informasi dengan profil genetik dari pasien, biasanya berupa gen-gen yang memiliki penanda, misalnya Single Nucleotide Polymorphism (SNP), yang berasosiasi dengan fenotipe reaksi obat\/senyawa yang merugikan. Informasi ini nantinya dipakai untuk membangun drug-target interaction untuk senyawa herbal. Selanjutnya dihasilkan kandidat senyawa yang divalidasi dengan molecular docking dan simulasi dinamika molekuler. Pada ujung prosesnya dibuktikan secara in vitro, in vivo, serta uji klinis. \u201cIPB University sedang mengembangkan sistem pencarian obat herbal presisi, yakni prototipe I-PRIME (IPB Precision Herbal Medicine Discovery System). Prototipe ini dikembangkan dari dua aplikasi sebelumnya, yaitu IJAH Analytics dan Integrated Single Nucleotide Polymorphism Pipeline (ISNIP),\u201d tutur Dr Wisnu. IJAH Analytic merupakan aplikasi untuk memprediksi formula obat herbal berbasis machine learning. Sementara ISNIP digunakan untuk mengidentifikasi varian atau SNP. Visi pengembangan precision medicine untuk obat herbal ini telah disosialisasikan sejak tahun 2018. \u201cApa yang kita kerjakan ini baru berupa kandidat yang potensial belum bisa langsung menyimpulkan bahwa senyawa ini pasti bermanfaat, perlu dilakukan uji di lab sesuai dengan protokol dan regulasi yang ditetapkan BPOM,\u201d pungkasnya. (MW\/Rz)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4167,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-4166","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Perkembangan teknologi informasi mendorong berkembangnya pendekatan baru dalam pencarian obat. Dengan Artificial Intelligence (AI), terutama Machine Learning, kini dunia bisa mengembangkan pengobatan yang bersifat presisi sesuai profil genetik pasien, yang umum disebut dengan Precision Medicine. Dr Wisnu Ananta Kusuma, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menjelaskan, precision medicine memerlukan integrasi data dari berbagai tipe dan format, meliputi data omics, data citra (image), data dari sensor, data klinis dan berbagai data lainnya yang mewakili fenotipe. Namun saat ini, banyak penelitian lebih berfokus pada pengolahan data omics, khususnya untuk pencarian biomarker dari genomik, transkriptomik, maupun proteomik. \u201cMembuat model asosiasi antara fenotipe dan genotipe, atau Genome-Wide Association Studies (GWAS) adalah salah satu kunci keberhasilan pengembangan precision medicine. Pengembangan precision medicine ini memerlukan siklus perbaikan terus menerus dan analisis secara komprehensif untuk menemukan obat yang tepat atau presisi dalam upaya mengatasi penyakit kompleks,\u201d ujarnya dalam AI Talks Institut Teknologi Bandung (ITB) seri ke-4 dengan topik \u201cThe Role of Artificial Intelligence in Precision\/Personalized Medicine\u2019, 25\/08. Pengembangan precision medicine, lanjut Dr Wisnu, memerlukan pendekatan multi-level dan multi-skala. Analisis dapat dimulai dari level yang lebih makro, yaitu penyakit. Kemudian lebih rinci ke level seluler, lalu ke level molekul. Namun, bisa saja dimulai dari level yang paling mikro yaitu molekul, kemudian diperluas ke level seluler sampai level penyakit. \u201cAdapun multi skala karena pendekatan ini memerlukan berbagai data omics dari mulai genomik, transkriptomik, proteomik dan metabolomik. AI diperlukan untuk menganalisis data tiap level dan mengintegrasikannya sehingga menghasilkan kandidat obat presisi yang berfungsi sebagai pencegahan maupun untuk tindakan,\u201d tambahnya. Dr Wisnu menyebut, sejalan dengan inisiatif pengembangan precision medicine di Indonesia, terdapat peluang untuk mengembangkan precision medicine berbasis herbal (precision \u201cherbal\u201d medicine) yang mengoptimalkan biodiversitas tanaman obat Indonesia. Tanaman obat mengandung banyak senyawa aktif dan mengikuti prinsip multi-komponen multi-target yang mungkin sesuai dengan karakteristik penyakit kompleks atau genetik yang biasanya berasosiasi dengan gen-gen atau protein-protein. Lebih lanjut ia mengutarakan, pendekatan big data dan network pharmacology dapat digunakan untuk memulai eksplorasi protein target pada penyakit kemudian melakukan pengayaan informasi dengan profil genetik dari pasien, biasanya berupa gen-gen yang memiliki penanda, misalnya Single Nucleotide Polymorphism (SNP), yang berasosiasi dengan fenotipe reaksi obat\/senyawa yang merugikan. Informasi ini nantinya dipakai untuk membangun drug-target interaction untuk senyawa herbal. Selanjutnya dihasilkan kandidat senyawa yang divalidasi dengan molecular docking dan simulasi dinamika molekuler. Pada ujung prosesnya dibuktikan secara in vitro, in vivo, serta uji klinis. \u201cIPB University sedang mengembangkan sistem pencarian obat herbal presisi, yakni prototipe I-PRIME (IPB Precision Herbal Medicine Discovery System). Prototipe ini dikembangkan dari dua aplikasi sebelumnya, yaitu IJAH Analytics dan Integrated Single Nucleotide Polymorphism Pipeline (ISNIP),\u201d tutur Dr Wisnu. IJAH Analytic merupakan aplikasi untuk memprediksi formula obat herbal berbasis machine learning. Sementara ISNIP digunakan untuk mengidentifikasi varian atau SNP. Visi pengembangan precision medicine untuk obat herbal ini telah disosialisasikan sejak tahun 2018. \u201cApa yang kita kerjakan ini baru berupa kandidat yang potensial belum bisa langsung menyimpulkan bahwa senyawa ini pasti bermanfaat, perlu dilakukan uji di lab sesuai dengan protokol dan regulasi yang ditetapkan BPOM,\u201d pungkasnya. (MW\/Rz)\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-09-01T03:10:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-08-29T08:30:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166\"},\"author\":{\"name\":\"Support FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\"},\"headline\":\"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi\",\"datePublished\":\"2022-09-01T03:10:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-29T08:30:05+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166\"},\"wordCount\":512,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166\",\"name\":\"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"datePublished\":\"2022-09-01T03:10:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-29T08:30:05+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"width\":180,\"height\":180},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4166#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\",\"name\":\"Support FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Support FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Perkembangan teknologi informasi mendorong berkembangnya pendekatan baru dalam pencarian obat. Dengan Artificial Intelligence (AI), terutama Machine Learning, kini dunia bisa mengembangkan pengobatan yang bersifat presisi sesuai profil genetik pasien, yang umum disebut dengan Precision Medicine. Dr Wisnu Ananta Kusuma, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menjelaskan, precision medicine memerlukan integrasi data dari berbagai tipe dan format, meliputi data omics, data citra (image), data dari sensor, data klinis dan berbagai data lainnya yang mewakili fenotipe. Namun saat ini, banyak penelitian lebih berfokus pada pengolahan data omics, khususnya untuk pencarian biomarker dari genomik, transkriptomik, maupun proteomik. \u201cMembuat model asosiasi antara fenotipe dan genotipe, atau Genome-Wide Association Studies (GWAS) adalah salah satu kunci keberhasilan pengembangan precision medicine. Pengembangan precision medicine ini memerlukan siklus perbaikan terus menerus dan analisis secara komprehensif untuk menemukan obat yang tepat atau presisi dalam upaya mengatasi penyakit kompleks,\u201d ujarnya dalam AI Talks Institut Teknologi Bandung (ITB) seri ke-4 dengan topik \u201cThe Role of Artificial Intelligence in Precision\/Personalized Medicine\u2019, 25\/08. Pengembangan precision medicine, lanjut Dr Wisnu, memerlukan pendekatan multi-level dan multi-skala. Analisis dapat dimulai dari level yang lebih makro, yaitu penyakit. Kemudian lebih rinci ke level seluler, lalu ke level molekul. Namun, bisa saja dimulai dari level yang paling mikro yaitu molekul, kemudian diperluas ke level seluler sampai level penyakit. \u201cAdapun multi skala karena pendekatan ini memerlukan berbagai data omics dari mulai genomik, transkriptomik, proteomik dan metabolomik. AI diperlukan untuk menganalisis data tiap level dan mengintegrasikannya sehingga menghasilkan kandidat obat presisi yang berfungsi sebagai pencegahan maupun untuk tindakan,\u201d tambahnya. Dr Wisnu menyebut, sejalan dengan inisiatif pengembangan precision medicine di Indonesia, terdapat peluang untuk mengembangkan precision medicine berbasis herbal (precision \u201cherbal\u201d medicine) yang mengoptimalkan biodiversitas tanaman obat Indonesia. Tanaman obat mengandung banyak senyawa aktif dan mengikuti prinsip multi-komponen multi-target yang mungkin sesuai dengan karakteristik penyakit kompleks atau genetik yang biasanya berasosiasi dengan gen-gen atau protein-protein. Lebih lanjut ia mengutarakan, pendekatan big data dan network pharmacology dapat digunakan untuk memulai eksplorasi protein target pada penyakit kemudian melakukan pengayaan informasi dengan profil genetik dari pasien, biasanya berupa gen-gen yang memiliki penanda, misalnya Single Nucleotide Polymorphism (SNP), yang berasosiasi dengan fenotipe reaksi obat\/senyawa yang merugikan. Informasi ini nantinya dipakai untuk membangun drug-target interaction untuk senyawa herbal. Selanjutnya dihasilkan kandidat senyawa yang divalidasi dengan molecular docking dan simulasi dinamika molekuler. Pada ujung prosesnya dibuktikan secara in vitro, in vivo, serta uji klinis. \u201cIPB University sedang mengembangkan sistem pencarian obat herbal presisi, yakni prototipe I-PRIME (IPB Precision Herbal Medicine Discovery System). Prototipe ini dikembangkan dari dua aplikasi sebelumnya, yaitu IJAH Analytics dan Integrated Single Nucleotide Polymorphism Pipeline (ISNIP),\u201d tutur Dr Wisnu. IJAH Analytic merupakan aplikasi untuk memprediksi formula obat herbal berbasis machine learning. Sementara ISNIP digunakan untuk mengidentifikasi varian atau SNP. Visi pengembangan precision medicine untuk obat herbal ini telah disosialisasikan sejak tahun 2018. \u201cApa yang kita kerjakan ini baru berupa kandidat yang potensial belum bisa langsung menyimpulkan bahwa senyawa ini pasti bermanfaat, perlu dilakukan uji di lab sesuai dengan protokol dan regulasi yang ditetapkan BPOM,\u201d pungkasnya. (MW\/Rz)","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2022-09-01T03:10:00+00:00","article_modified_time":"2024-08-29T08:30:05+00:00","og_image":[{"width":180,"height":180,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Support FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Support FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166"},"author":{"name":"Support FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef"},"headline":"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi","datePublished":"2022-09-01T03:10:00+00:00","dateModified":"2024-08-29T08:30:05+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166"},"wordCount":512,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg","articleSection":["Berita Utama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166","name":"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg","datePublished":"2022-09-01T03:10:00+00:00","dateModified":"2024-08-29T08:30:05+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg","width":180,"height":180},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef","name":"Support FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","caption":"Support FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=1"}]}},"views":28,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Ungkap-Peran-Kecerdasan-Buatan-dalam-Pengembangan-Pengobatan-Presisi-800x445-1-180x180-1.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":4060,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4060","url_meta":{"origin":4166,"position":0},"title":"Pengembangan Repositori Data Omics Tentukan Arah Pemanfaatan dan Penelitian Terkait Biodiversitas Indonesia","author":"Support FMIPA","date":"27\/05\/2022","format":false,"excerpt":"Indonesia merupakan salah satu negara dengan julukan megabiodiversitas di dunia. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki tanaman obat dunia terbesar. Arah penelitian modern menunjukkan bahwa biodiversitas merupakan faktor penting dalam pengembangan riset di bidang kesehatan dan pertanian. Namun demikian, jumlah fitofarmaka di Indonesia cenderung rendah. Hal tersebut disampaikan Dr Wisnu Ananta\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4253,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253","url_meta":{"origin":4166,"position":1},"title":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi","author":"Support FMIPA","date":"07\/02\/2023","format":false,"excerpt":"Dr Wisnu Ananta Kusuma, Peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) IPB University menjelaskan bahwa pengobatan presisi akan memudahkan diagnosa penyakit berdasarkan analisis biomarka pada pasien. Diharapkan dengan pengembangan pengobatan presisi ini, efektivitas obat\/terapi lebih tinggi dan efek samping yang ditimbulkan lebih rendah. Menurutnya, data bioinformatika yang digunakan adalah profil\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3915,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3915","url_meta":{"origin":4166,"position":2},"title":"Dosen Ilmu Komputer FMIPA IPB Paparkan Peran Bioinformatika dalam Precision Medicine bagi Pengobatan Kanker","author":"Support FMIPA","date":"03\/05\/2021","format":false,"excerpt":"Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University bekerja sama dengan Working Group Bioinformatika dan Pusat Studi Bioinformatika Tropika (Trop BRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University menggelar Bioinformatics Webinar Series 1 dengan tema utama \u201cPrecision Medicine for Cancer\u201d, (29\/04). Kegiatan tersebut digelar\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4026,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4026","url_meta":{"origin":4166,"position":3},"title":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Jelaskan Riset dan Inovasi Para Peneliti IPB University Terkait High Performance Computing dalam Bidang Ilmu Pengetahuan Alam","author":"Support FMIPA","date":"17\/03\/2022","format":false,"excerpt":"Para peneliti IPB University selalu hadir dalam mengembangkan berbagai inovasi terbaru dengan memanfaatkan teknologi terkini. Pemanfaatan High Performance Computing (HPC) atau Komputasi Berperforma Tinggi menjadi salah satu terobosan saintifik untuk membantu peneliti dalam mengeksplorasi data.HPC ini merupakan kebutuhan penting pada era di mana data menjadi paradigma keempat dalam sains. Kemudahan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4139,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4139","url_meta":{"origin":4166,"position":4},"title":"Dr Wisnu Ananta Kusuma: Analisis Jejaring Mampu Temukan Penyakit Komorbid dengan Kanker Paru-Paru","author":"Support FMIPA","date":"15\/08\/2022","format":false,"excerpt":"Penyakit kanker merupakan penyakit yang terkadang sulit terdeteksi, terutama bila komorbid dengan beberapa penyakit degeneratif lainnya. Beberapa teknologi mampu mengidentifikasi penyakit yang kemungkinan komorbid dengan kanker, khususnya kanker paru-paru. Teknologi ini merupakan pengembangan di bidang bioinformatika yakni melalui analisis jejaring. Dr Wisnu Ananta Kusuma, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3855,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3855","url_meta":{"origin":4166,"position":5},"title":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Bagikan Pengetahuan Mengenai Bioinformatika dan Penelitian Terkininya di Indonesia","author":"Support FMIPA","date":"26\/01\/2021","format":false,"excerpt":"Dalam Pertemuan Nasional Masyarakat Komputasi Indonesia yang belum lama ini digelar, Dr Wisnu Ananta Kusuma, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), hadir sebagai narasumber utama. Ia memberikan kuliah umum mengenai kiprah bidang bioinformatika di Indonesia serta penelitian terkini dan potensi kerjasama lintas\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Wisnu-Ananta-Kusuma-800x445-1-750x445-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Wisnu-Ananta-Kusuma-800x445-1-750x445-1.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Wisnu-Ananta-Kusuma-800x445-1-750x445-1.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Wisnu-Ananta-Kusuma-800x445-1-750x445-1.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x"},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4166","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4166"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4166\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4168,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4166\/revisions\/4168"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4166"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4166"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4166"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}