{"id":4184,"date":"2022-09-20T10:18:00","date_gmt":"2022-09-20T03:18:00","guid":{"rendered":"http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184"},"modified":"2024-08-30T14:01:12","modified_gmt":"2024-08-30T07:01:12","slug":"dr-mega-safithri-ungkap-mekanisme-metabolisme-karbohidrat-mempengaruhi-penderita-diabetes","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184","title":{"rendered":"Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes"},"content":{"rendered":"\n<p>Karbohidrat merupakan sumber energi bagi tubuh. Namun, konsumsi karbohidrat berlebih sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko terkena penyakit diabetes. Peningkatan konsumsi karbohidrat yang merupakan gula disinyalir dapat meningkatkan kadar gula dalam darah. Ujungnya, berbagai risiko penyakit degeneratif ikut meningkat, terlebih bila jarang berolahraga.<\/p>\n\n\n\n<p>Dr Mega Safithri, dosen IPB University dari Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menerangkan, mekanisme metabolisme dalam tubuh manusia akan bergantung pada aktivitas yang dilakukan. Sehingga tingkat konsumsi karbohidrat juga akan mempengaruhi jenis aktivitas metabolisme dalam tubuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Perbedaan metabolisme karbohidrat, sebutnya, terjadi karena respon pada kadar glukosa darah. Bila kadar glukosa darah meningkat, memacu metabolisme glikolisis, glikogenesis atau jalur pentosa fosfat. Kelebihan kadar gula dalam darah juga akan disimpan sebagian sebagai lemak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaka dari itu, walau jarang mengonsumsi lipid atau makanan gorengan, mengonsumsi makanan berindeks glikemik tinggi akan tetap menambah lemak pada tubuh karena terjadi lipogenesis akibat meningkatnya produksi Asetil ko-A,\u201d ungkapnya. Sedangkan bila kadar glukosa dalam darah menurun, akan memicu metabolisme glikogenolisis dan glukoneogenesis.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut Dr Mega melanjutkan, sebagian besar proses metabolisme glukosa berada di hati. Gula yang dihasilkan dari pencernaan akan bermuara di hati kemudian diubah menjadi glukosa 6-fosfat yang merupakan senyawa intermediet penting dalam metabolisme karbohidrat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cGlukosa ini dapat dipolimerisasi menjadi glikogen, defosforilasi menjadi glukosa darah, atau dikonversi menjadi asam lemak melalui asetil Ko-A. Selain itu melalui siklus asam sitrat dan rantai respirasi untuk menghasilkan energi,\u201d tambahnya dalam Webinar Pergizi Pangan dengan tema \u201cKarbohidrat vs Diabetes: Seberapa Besar Risikonya?\u201d, Rabu (14\/9).<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menambahkan, neuron pada otak hanya menggunakan glukosa dan beta hidroksibutirat sebagai sumber energi. Beta hidroksibutirat ini penting pada saat puasa atau kelaparan. Alasan inilah pada penderita diabetes menahun, bila gula darahnya tidak dikontrol akan menjadi stroke karena terjadi pendarahan di otak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSel mengalami pengerutan karena glukosa darah cukup banyak di luar sel, akan menjadi kondisi hipertonis terhadap sel sehingga akhirnya akan terjadi pengerutan sel,\u201d ujar Peneliti Pusat Studi Biofarmaka, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Batas minimal glukosa darah, kata dia, adalah 40 miligram per 100 mililiter darah. Bila kurang dari batas minimal akan terjadi hipoglikemia berat. Pada beberapa penderita diabetes yang diberi insulin berlebih dapat mengalami hipoglikemia akibat kadar gulanya menurun drastis.<\/p>\n\n\n\n<p>Kenyang dan lapar juga mempengaruhi metabolisme. Dalam siklus makan-puasa mempunyai tiga tahap, pasca makan, pascar serap dan makan kembali saat sarapan. Siklus makan-puasa ini penting untuk menjaga homeostasis glukosa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSebenarnya untuk mengontrol kadar glukosa dalam darah harus dijaga dengan mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik baik. Indeks glikemik ini adalah nilai yang menunjukkan kemampuan suatu makanan yang mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Faktor tinggi rendahnya indeks glikemik ini di antaranya mulai dari proses pengolahan, ukuran partikel, hingga kadar zat anti gizi pangan. Bagi penderita diabetes, jenis makanan yang dianjurkan untuk konsumsi demi menjaga kadar gula dalam darah adalah pati resisten. (MW\/Rz)<\/p>\n\n\n\n<p>Narasumber : Dr Mega Safithri, ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karbohidrat merupakan sumber energi bagi tubuh. Namun, konsumsi karbohidrat berlebih sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko terkena penyakit diabetes. Peningkatan konsumsi karbohidrat yang merupakan gula disinyalir dapat meningkatkan kadar gula dalam darah. Ujungnya, berbagai risiko penyakit degeneratif ikut meningkat, terlebih bila jarang berolahraga. Dr Mega Safithri, dosen IPB University dari Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menerangkan, mekanisme metabolisme dalam tubuh manusia akan bergantung pada aktivitas yang dilakukan. Sehingga tingkat konsumsi karbohidrat juga akan mempengaruhi jenis aktivitas metabolisme dalam tubuh. Perbedaan metabolisme karbohidrat, sebutnya, terjadi karena respon pada kadar glukosa darah. Bila kadar glukosa darah meningkat, memacu metabolisme glikolisis, glikogenesis atau jalur pentosa fosfat. Kelebihan kadar gula dalam darah juga akan disimpan sebagian sebagai lemak. \u201cMaka dari itu, walau jarang mengonsumsi lipid atau makanan gorengan, mengonsumsi makanan berindeks glikemik tinggi akan tetap menambah lemak pada tubuh karena terjadi lipogenesis akibat meningkatnya produksi Asetil ko-A,\u201d ungkapnya. Sedangkan bila kadar glukosa dalam darah menurun, akan memicu metabolisme glikogenolisis dan glukoneogenesis. Lebih lanjut Dr Mega melanjutkan, sebagian besar proses metabolisme glukosa berada di hati. Gula yang dihasilkan dari pencernaan akan bermuara di hati kemudian diubah menjadi glukosa 6-fosfat yang merupakan senyawa intermediet penting dalam metabolisme karbohidrat. \u201cGlukosa ini dapat dipolimerisasi menjadi glikogen, defosforilasi menjadi glukosa darah, atau dikonversi menjadi asam lemak melalui asetil Ko-A. Selain itu melalui siklus asam sitrat dan rantai respirasi untuk menghasilkan energi,\u201d tambahnya dalam Webinar Pergizi Pangan dengan tema \u201cKarbohidrat vs Diabetes: Seberapa Besar Risikonya?\u201d, Rabu (14\/9). Ia menambahkan, neuron pada otak hanya menggunakan glukosa dan beta hidroksibutirat sebagai sumber energi. Beta hidroksibutirat ini penting pada saat puasa atau kelaparan. Alasan inilah pada penderita diabetes menahun, bila gula darahnya tidak dikontrol akan menjadi stroke karena terjadi pendarahan di otak. \u201cSel mengalami pengerutan karena glukosa darah cukup banyak di luar sel, akan menjadi kondisi hipertonis terhadap sel sehingga akhirnya akan terjadi pengerutan sel,\u201d ujar Peneliti Pusat Studi Biofarmaka, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University ini. Batas minimal glukosa darah, kata dia, adalah 40 miligram per 100 mililiter darah. Bila kurang dari batas minimal akan terjadi hipoglikemia berat. Pada beberapa penderita diabetes yang diberi insulin berlebih dapat mengalami hipoglikemia akibat kadar gulanya menurun drastis. Kenyang dan lapar juga mempengaruhi metabolisme. Dalam siklus makan-puasa mempunyai tiga tahap, pasca makan, pascar serap dan makan kembali saat sarapan. Siklus makan-puasa ini penting untuk menjaga homeostasis glukosa. \u201cSebenarnya untuk mengontrol kadar glukosa dalam darah harus dijaga dengan mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik baik. Indeks glikemik ini adalah nilai yang menunjukkan kemampuan suatu makanan yang mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah,\u201d jelasnya. Faktor tinggi rendahnya indeks glikemik ini di antaranya mulai dari proses pengolahan, ukuran partikel, hingga kadar zat anti gizi pangan. Bagi penderita diabetes, jenis makanan yang dianjurkan untuk konsumsi demi menjaga kadar gula dalam darah adalah pati resisten. (MW\/Rz) Narasumber : Dr Mega Safithri, ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4185,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-4184","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Karbohidrat merupakan sumber energi bagi tubuh. Namun, konsumsi karbohidrat berlebih sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko terkena penyakit diabetes. Peningkatan konsumsi karbohidrat yang merupakan gula disinyalir dapat meningkatkan kadar gula dalam darah. Ujungnya, berbagai risiko penyakit degeneratif ikut meningkat, terlebih bila jarang berolahraga. Dr Mega Safithri, dosen IPB University dari Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menerangkan, mekanisme metabolisme dalam tubuh manusia akan bergantung pada aktivitas yang dilakukan. Sehingga tingkat konsumsi karbohidrat juga akan mempengaruhi jenis aktivitas metabolisme dalam tubuh. Perbedaan metabolisme karbohidrat, sebutnya, terjadi karena respon pada kadar glukosa darah. Bila kadar glukosa darah meningkat, memacu metabolisme glikolisis, glikogenesis atau jalur pentosa fosfat. Kelebihan kadar gula dalam darah juga akan disimpan sebagian sebagai lemak. \u201cMaka dari itu, walau jarang mengonsumsi lipid atau makanan gorengan, mengonsumsi makanan berindeks glikemik tinggi akan tetap menambah lemak pada tubuh karena terjadi lipogenesis akibat meningkatnya produksi Asetil ko-A,\u201d ungkapnya. Sedangkan bila kadar glukosa dalam darah menurun, akan memicu metabolisme glikogenolisis dan glukoneogenesis. Lebih lanjut Dr Mega melanjutkan, sebagian besar proses metabolisme glukosa berada di hati. Gula yang dihasilkan dari pencernaan akan bermuara di hati kemudian diubah menjadi glukosa 6-fosfat yang merupakan senyawa intermediet penting dalam metabolisme karbohidrat. \u201cGlukosa ini dapat dipolimerisasi menjadi glikogen, defosforilasi menjadi glukosa darah, atau dikonversi menjadi asam lemak melalui asetil Ko-A. Selain itu melalui siklus asam sitrat dan rantai respirasi untuk menghasilkan energi,\u201d tambahnya dalam Webinar Pergizi Pangan dengan tema \u201cKarbohidrat vs Diabetes: Seberapa Besar Risikonya?\u201d, Rabu (14\/9). Ia menambahkan, neuron pada otak hanya menggunakan glukosa dan beta hidroksibutirat sebagai sumber energi. Beta hidroksibutirat ini penting pada saat puasa atau kelaparan. Alasan inilah pada penderita diabetes menahun, bila gula darahnya tidak dikontrol akan menjadi stroke karena terjadi pendarahan di otak. \u201cSel mengalami pengerutan karena glukosa darah cukup banyak di luar sel, akan menjadi kondisi hipertonis terhadap sel sehingga akhirnya akan terjadi pengerutan sel,\u201d ujar Peneliti Pusat Studi Biofarmaka, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University ini. Batas minimal glukosa darah, kata dia, adalah 40 miligram per 100 mililiter darah. Bila kurang dari batas minimal akan terjadi hipoglikemia berat. Pada beberapa penderita diabetes yang diberi insulin berlebih dapat mengalami hipoglikemia akibat kadar gulanya menurun drastis. Kenyang dan lapar juga mempengaruhi metabolisme. Dalam siklus makan-puasa mempunyai tiga tahap, pasca makan, pascar serap dan makan kembali saat sarapan. Siklus makan-puasa ini penting untuk menjaga homeostasis glukosa. \u201cSebenarnya untuk mengontrol kadar glukosa dalam darah harus dijaga dengan mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik baik. Indeks glikemik ini adalah nilai yang menunjukkan kemampuan suatu makanan yang mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah,\u201d jelasnya. Faktor tinggi rendahnya indeks glikemik ini di antaranya mulai dari proses pengolahan, ukuran partikel, hingga kadar zat anti gizi pangan. Bagi penderita diabetes, jenis makanan yang dianjurkan untuk konsumsi demi menjaga kadar gula dalam darah adalah pati resisten. (MW\/Rz) Narasumber : Dr Mega Safithri, ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-09-20T03:18:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-08-30T07:01:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184\"},\"author\":{\"name\":\"Support FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\"},\"headline\":\"Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes\",\"datePublished\":\"2022-09-20T03:18:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-30T07:01:12+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184\"},\"wordCount\":476,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184\",\"name\":\"Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"datePublished\":\"2022-09-20T03:18:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-30T07:01:12+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"width\":180,\"height\":180},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4184#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\",\"name\":\"Support FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Support FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Karbohidrat merupakan sumber energi bagi tubuh. Namun, konsumsi karbohidrat berlebih sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko terkena penyakit diabetes. Peningkatan konsumsi karbohidrat yang merupakan gula disinyalir dapat meningkatkan kadar gula dalam darah. Ujungnya, berbagai risiko penyakit degeneratif ikut meningkat, terlebih bila jarang berolahraga. Dr Mega Safithri, dosen IPB University dari Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menerangkan, mekanisme metabolisme dalam tubuh manusia akan bergantung pada aktivitas yang dilakukan. Sehingga tingkat konsumsi karbohidrat juga akan mempengaruhi jenis aktivitas metabolisme dalam tubuh. Perbedaan metabolisme karbohidrat, sebutnya, terjadi karena respon pada kadar glukosa darah. Bila kadar glukosa darah meningkat, memacu metabolisme glikolisis, glikogenesis atau jalur pentosa fosfat. Kelebihan kadar gula dalam darah juga akan disimpan sebagian sebagai lemak. \u201cMaka dari itu, walau jarang mengonsumsi lipid atau makanan gorengan, mengonsumsi makanan berindeks glikemik tinggi akan tetap menambah lemak pada tubuh karena terjadi lipogenesis akibat meningkatnya produksi Asetil ko-A,\u201d ungkapnya. Sedangkan bila kadar glukosa dalam darah menurun, akan memicu metabolisme glikogenolisis dan glukoneogenesis. Lebih lanjut Dr Mega melanjutkan, sebagian besar proses metabolisme glukosa berada di hati. Gula yang dihasilkan dari pencernaan akan bermuara di hati kemudian diubah menjadi glukosa 6-fosfat yang merupakan senyawa intermediet penting dalam metabolisme karbohidrat. \u201cGlukosa ini dapat dipolimerisasi menjadi glikogen, defosforilasi menjadi glukosa darah, atau dikonversi menjadi asam lemak melalui asetil Ko-A. Selain itu melalui siklus asam sitrat dan rantai respirasi untuk menghasilkan energi,\u201d tambahnya dalam Webinar Pergizi Pangan dengan tema \u201cKarbohidrat vs Diabetes: Seberapa Besar Risikonya?\u201d, Rabu (14\/9). Ia menambahkan, neuron pada otak hanya menggunakan glukosa dan beta hidroksibutirat sebagai sumber energi. Beta hidroksibutirat ini penting pada saat puasa atau kelaparan. Alasan inilah pada penderita diabetes menahun, bila gula darahnya tidak dikontrol akan menjadi stroke karena terjadi pendarahan di otak. \u201cSel mengalami pengerutan karena glukosa darah cukup banyak di luar sel, akan menjadi kondisi hipertonis terhadap sel sehingga akhirnya akan terjadi pengerutan sel,\u201d ujar Peneliti Pusat Studi Biofarmaka, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University ini. Batas minimal glukosa darah, kata dia, adalah 40 miligram per 100 mililiter darah. Bila kurang dari batas minimal akan terjadi hipoglikemia berat. Pada beberapa penderita diabetes yang diberi insulin berlebih dapat mengalami hipoglikemia akibat kadar gulanya menurun drastis. Kenyang dan lapar juga mempengaruhi metabolisme. Dalam siklus makan-puasa mempunyai tiga tahap, pasca makan, pascar serap dan makan kembali saat sarapan. Siklus makan-puasa ini penting untuk menjaga homeostasis glukosa. \u201cSebenarnya untuk mengontrol kadar glukosa dalam darah harus dijaga dengan mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik baik. Indeks glikemik ini adalah nilai yang menunjukkan kemampuan suatu makanan yang mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah,\u201d jelasnya. Faktor tinggi rendahnya indeks glikemik ini di antaranya mulai dari proses pengolahan, ukuran partikel, hingga kadar zat anti gizi pangan. Bagi penderita diabetes, jenis makanan yang dianjurkan untuk konsumsi demi menjaga kadar gula dalam darah adalah pati resisten. (MW\/Rz) Narasumber : Dr Mega Safithri, ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2022-09-20T03:18:00+00:00","article_modified_time":"2024-08-30T07:01:12+00:00","og_image":[{"width":180,"height":180,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Support FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Support FMIPA","Estimasi waktu membaca":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184"},"author":{"name":"Support FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef"},"headline":"Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes","datePublished":"2022-09-20T03:18:00+00:00","dateModified":"2024-08-30T07:01:12+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184"},"wordCount":476,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg","articleSection":["Berita Utama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184","name":"Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg","datePublished":"2022-09-20T03:18:00+00:00","dateModified":"2024-08-30T07:01:12+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg","width":180,"height":180},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4184#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dr Mega Safithri Ungkap Mekanisme Metabolisme Karbohidrat Mempengaruhi Penderita Diabetes"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef","name":"Support FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","caption":"Support FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=1"}]}},"views":236,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Mega-Safithri-Ungkap-Mekanisme-Metabolisme-Karbohidrat-Mempengaruhi-Penderita-Diabetes-800x445-1-180x180-1.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":3894,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3894","url_meta":{"origin":4184,"position":0},"title":"Prof Dyah Iswantini Bicara Keampuhan Sidaguri untuk Redakan Asam Urat di Sapa Agrianita","author":"Support FMIPA","date":"30\/03\/2021","format":false,"excerpt":"Seiring bertambahnya usia, munculnya keluhan penyakit seperti asam urat semakin terasa. Dampak ke seluruh tubuh pun tentunya tidak menyenangkan dan bahkan dapat berakibat fatal. Indonesia sebagai negara megabioversitas memiliki berbagai tanaman herbal lokal yang berkhasiat sebagai obat asam urat yang mudah ditanam di pekarangan rumah.Prof Dyah Iswantini, Guru Besar IPB\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4214,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4214","url_meta":{"origin":4184,"position":1},"title":"Dr Irzaman Jadi Salah Satu Pembicara Kunci di YSSSEE 2022, Bahas Alat Deteksi Dini Kadar Haemoglobin dan Glukosa dalam Darah","author":"Support FMIPA","date":"03\/11\/2022","format":false,"excerpt":"Dr Irzaman, dosen IPB University menjadi pembicara kunci dalam The 5th Young Scholar Symposium on Science and Mathematics Education and Environment 2022 (The 5th YSSSEE 2022), Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (25-26\/10). Dosen dari Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini mempresentasikan makalah dengan judul Ferroelectrics\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":5107,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5107","url_meta":{"origin":4184,"position":2},"title":"Pentingnya Mengetahui Kualitas Air Baku","author":"FMIPA","date":"09\/05\/2020","format":false,"excerpt":"Air adalah senyawa kimia esensial yang menjadi dasar kehidupan dan melimpah di tubuh makhluk hidup. Semua organisme hidup mengandung air dalam jumlah sekitar 55-78% dari berat tubuhnya. Dalam tubuh, air berfungsi sebagai pelarut yang memungkinkan terjadinya reaksi kimia di dalam sel, yang dikenal sebagai metabolisme. Karena pentingnya peran air, menjaga\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Biokimia&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Biokimia","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=47"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/foto.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/foto.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/foto.jpeg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/foto.jpeg?resize=700%2C400&ssl=1 2x"},"classes":[]},{"id":4035,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4035","url_meta":{"origin":4184,"position":3},"title":"Dosen FMIPA IPB Ciptakan Alat Deteksi Hb Tanpa Lukai Pasien","author":"Support FMIPA","date":"29\/03\/2022","format":false,"excerpt":"Tim peneliti IPB University membuat terobosan baru dalam bidang kesehatan. Mereka membuat alat pengukur kadar hemoglobin (Hb) dalam darah secara non invasif (tanpa melukai pasien). Para peneliti yang tergabung dalam Riset Inovatif Produktif (Rispro) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia ini adalah Dr Irzaman dan Prof Husein\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":5110,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5110","url_meta":{"origin":4184,"position":4},"title":"Pentingnya Peran Pangan Fungsional bagi Ibu Hamil dan Balita","author":"FMIPA","date":"09\/05\/2020","format":false,"excerpt":"Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di Indonesia menunjukkan sedikit penurunan, yaitu dari 11,1% pada tahun 2010 menjadi 10,2% pada tahun 2013, meskipun sebarannya bervariasi di setiap kabupaten (Riskesdas, 2013). Namun, Riskesdas 2013 melaporkan bahwa prevalensi gizi kurang di Indonesia mengalami peningkatan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Biokimia&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Biokimia","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=47"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/Bu_Mega_foto.png?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/Bu_Mega_foto.png?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/Bu_Mega_foto.png?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/Bu_Mega_foto.png?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/Bu_Mega_foto.png?resize=1050%2C600&ssl=1 3x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/Bu_Mega_foto.png?resize=1400%2C800&ssl=1 4x"},"classes":[]},{"id":4094,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4094","url_meta":{"origin":4184,"position":5},"title":"Inovasi Alat Hb Meter Karya Peneliti FMIPA IPB University Siap Diujicoba","author":"Support FMIPA","date":"23\/06\/2022","format":false,"excerpt":"Inovasi Hb Meter yang diinisiasi oleh Dr Irzaman dan tim kini telah siap menguji alatnya kepada relawan. Kegiatan berlangsung di Klinik IPB University, Dramaga, Bogor, 10\/6. Kegiatan ini diikuti oleh 60 relawan dari kalangan civitas warga IPB University dan warga sekitar lingkar kampus IPB University dalam rentang usia 18-67 tahun.\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4184","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4184"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4184\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4186,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4184\/revisions\/4186"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4185"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4184"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4184"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4184"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}