{"id":4253,"date":"2023-02-07T10:47:00","date_gmt":"2023-02-07T03:47:00","guid":{"rendered":"http:\/\/satu.fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253"},"modified":"2024-08-30T15:02:26","modified_gmt":"2024-08-30T08:02:26","slug":"dr-wisnu-ananta-kusuma-paparkan-kunci-pengobatan-presisi-melalui-pendekatan-multi-omik-terintegrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253","title":{"rendered":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr Wisnu Ananta Kusuma, Peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) IPB University menjelaskan bahwa pengobatan presisi akan memudahkan diagnosa penyakit berdasarkan analisis biomarka pada pasien. Diharapkan dengan pengembangan pengobatan presisi ini, efektivitas obat\/terapi lebih tinggi dan efek samping yang ditimbulkan lebih rendah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, data bioinformatika yang digunakan adalah profil omik personal yang terintegrasi seperti genome, exposome, epigenome, transcriptome, proteome, microbiome, metabolome dan fenome.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPendekatan pertama yang dilakukan menggunakan pengetahuan dari berbagai basis data yang berbeda. Ini untuk menyatukan berbagai komponen berbeda dari patologi penyakit sehingga mendapatkan \u201cinsight\u201d penyakit dan mengidentifikasi molekuler kunci yang terlibat dalam patogenesis penyakit dan drug repurposing,\u201d terangnya dalam Kuliah Umum Forum Metabolomik Indonesia, (25\/01).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adapun pendekatan kedua, lanjutnya, dilakukan dengan mengintegrasikan dataset multi-omics yang dikumpulkan dari sampel yang sama. Analisa ini dapat membantu para peneliti dalam memahami mekanisme disregulasi dalam sampel penyakit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAnalisis multi-omik terintegrasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi subtipe penyakit, mendeteksi pola molekuler terkait penyakit, diagnosis atau prognosis, prediksi respon obat dan memahami proses regulasi,\u201d lanjutnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, dengan identifikasi subtipe penyakit, peneliti mendapatkan sasaran dan perawatan yang lebih efektif, termasuk obat-obatan biologis, terapi hormonal dan imunoterapi. Studi ini dilakukan dengan mengasosiasikan penanda molekuler (omik) dengan penanda klinis suatu penyakit (fenomik).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBahkan, metode ini dapat diterapkan pada penyakit multifaktorial yang sulit didiagnosis karena genotipe dan fenotipnya yang kompleks. Analisa multi-omik dapat memprediksikan aktivitas penyakit, tingkat keparahan, dan perjalanan penyakit menggunakan data molekuler terintegrasi,\u201d ujar Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menerangkan, analisis data multi-omik memungkinkan peneliti melakukan inferensi jejaring pengatur gen spesifik penyakit. Caranya dengan menggabungkan pengukuran dari ekspresi gen dan regulator potensial. Kemudian, jejaring pengatur gen spesifik penyakit dipakai untuk mengidentifikasi sub-jaringan utama yang mengalami deregulasi dalam membantu penemuan target obat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr Wisnu menerangkan bahwa integrasi multi-omik dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama adalah melakukan integrasi di awal (early integration), representasi berbasis graf dari sekumpulan data omik yang berbeda digunakan sebagai input untuk model Machine Learning (ML). Cara kedua adalah integrasi di tengah (intermediate integration), yaitu mempelajari representasi gabungan dari dataset.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIntegrasi ini digunakan untuk mengambil keputusan terkait perangkat (tools) apa yang dipilih untuk integrasi data. Pemilihannya bergantung pada tujuan ilmiah spesifik dan tantangan komputasi yang muncul. Cara ketiga adalah integrasi di akhir (late integration), model machine learning diterapkan ke setiap dataset secara independen. Kemudian, model terakhir menggabungkan hasil prediksi yang ada,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menambahkan, IPB University dan para penelitinya juga telah melakukan beberapa terobosan terkait topik ini. Misalnya penemuan formulasi jamu atau obat herbal presisi, penyakit komorbid kanker paru, hingga prediksi obat herbal dalam terapi penyembuhan COVID-19.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Walau masih dihadapi oleh beberapa tantangan, menurut Dr Wisnu, analisis multi-omik terintegrasi berpeluang untuk dikembangkan dalam mendukung inisiatif pengobatan presisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIntegrasi Omics dapat dilakukan di level data maupun pengetahuan, sehingga diperlukan sinergisitas antara peneliti melalui penelitian kolaboratif yang berjalan berdasarkan roadmap yang komprehensif dan berkelanjutan,\u201d tutupnya. (MW\/Zul)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Narasumber : Dr Wisnu Ananta Kusuma, ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr Wisnu Ananta Kusuma, Peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) IPB University menjelaskan bahwa pengobatan presisi akan memudahkan diagnosa penyakit berdasarkan analisis biomarka pada pasien. Diharapkan dengan pengembangan pengobatan presisi ini, efektivitas obat\/terapi lebih tinggi dan efek samping yang ditimbulkan lebih rendah. Menurutnya, data bioinformatika yang digunakan adalah profil omik personal yang terintegrasi seperti genome, exposome, epigenome, transcriptome, proteome, microbiome, metabolome dan fenome. \u201cPendekatan pertama yang dilakukan menggunakan pengetahuan dari berbagai basis data yang berbeda. Ini untuk menyatukan berbagai komponen berbeda dari patologi penyakit sehingga mendapatkan \u201cinsight\u201d penyakit dan mengidentifikasi molekuler kunci yang terlibat dalam patogenesis penyakit dan drug repurposing,\u201d terangnya dalam Kuliah Umum Forum Metabolomik Indonesia, (25\/01). Adapun pendekatan kedua, lanjutnya, dilakukan dengan mengintegrasikan dataset multi-omics yang dikumpulkan dari sampel yang sama. Analisa ini dapat membantu para peneliti dalam memahami mekanisme disregulasi dalam sampel penyakit. \u201cAnalisis multi-omik terintegrasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi subtipe penyakit, mendeteksi pola molekuler terkait penyakit, diagnosis atau prognosis, prediksi respon obat dan memahami proses regulasi,\u201d lanjutnya. Menurutnya, dengan identifikasi subtipe penyakit, peneliti mendapatkan sasaran dan perawatan yang lebih efektif, termasuk obat-obatan biologis, terapi hormonal dan imunoterapi. Studi ini dilakukan dengan mengasosiasikan penanda molekuler (omik) dengan penanda klinis suatu penyakit (fenomik). \u201cBahkan, metode ini dapat diterapkan pada penyakit multifaktorial yang sulit didiagnosis karena genotipe dan fenotipnya yang kompleks. Analisa multi-omik dapat memprediksikan aktivitas penyakit, tingkat keparahan, dan perjalanan penyakit menggunakan data molekuler terintegrasi,\u201d ujar Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) ini. Ia menerangkan, analisis data multi-omik memungkinkan peneliti melakukan inferensi jejaring pengatur gen spesifik penyakit. Caranya dengan menggabungkan pengukuran dari ekspresi gen dan regulator potensial. Kemudian, jejaring pengatur gen spesifik penyakit dipakai untuk mengidentifikasi sub-jaringan utama yang mengalami deregulasi dalam membantu penemuan target obat. Dr Wisnu menerangkan bahwa integrasi multi-omik dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama adalah melakukan integrasi di awal (early integration), representasi berbasis graf dari sekumpulan data omik yang berbeda digunakan sebagai input untuk model Machine Learning (ML). Cara kedua adalah integrasi di tengah (intermediate integration), yaitu mempelajari representasi gabungan dari dataset. \u201cIntegrasi ini digunakan untuk mengambil keputusan terkait perangkat (tools) apa yang dipilih untuk integrasi data. Pemilihannya bergantung pada tujuan ilmiah spesifik dan tantangan komputasi yang muncul. Cara ketiga adalah integrasi di akhir (late integration), model machine learning diterapkan ke setiap dataset secara independen. Kemudian, model terakhir menggabungkan hasil prediksi yang ada,\u201d terangnya. Ia menambahkan, IPB University dan para penelitinya juga telah melakukan beberapa terobosan terkait topik ini. Misalnya penemuan formulasi jamu atau obat herbal presisi, penyakit komorbid kanker paru, hingga prediksi obat herbal dalam terapi penyembuhan COVID-19. Walau masih dihadapi oleh beberapa tantangan, menurut Dr Wisnu, analisis multi-omik terintegrasi berpeluang untuk dikembangkan dalam mendukung inisiatif pengobatan presisi. \u201cIntegrasi Omics dapat dilakukan di level data maupun pengetahuan, sehingga diperlukan sinergisitas antara peneliti melalui penelitian kolaboratif yang berjalan berdasarkan roadmap yang komprehensif dan berkelanjutan,\u201d tutupnya. (MW\/Zul) Narasumber : Dr Wisnu Ananta Kusuma, ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4254,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-4253","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dr Wisnu Ananta Kusuma, Peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) IPB University menjelaskan bahwa pengobatan presisi akan memudahkan diagnosa penyakit berdasarkan analisis biomarka pada pasien. Diharapkan dengan pengembangan pengobatan presisi ini, efektivitas obat\/terapi lebih tinggi dan efek samping yang ditimbulkan lebih rendah. Menurutnya, data bioinformatika yang digunakan adalah profil omik personal yang terintegrasi seperti genome, exposome, epigenome, transcriptome, proteome, microbiome, metabolome dan fenome. \u201cPendekatan pertama yang dilakukan menggunakan pengetahuan dari berbagai basis data yang berbeda. Ini untuk menyatukan berbagai komponen berbeda dari patologi penyakit sehingga mendapatkan \u201cinsight\u201d penyakit dan mengidentifikasi molekuler kunci yang terlibat dalam patogenesis penyakit dan drug repurposing,\u201d terangnya dalam Kuliah Umum Forum Metabolomik Indonesia, (25\/01). Adapun pendekatan kedua, lanjutnya, dilakukan dengan mengintegrasikan dataset multi-omics yang dikumpulkan dari sampel yang sama. Analisa ini dapat membantu para peneliti dalam memahami mekanisme disregulasi dalam sampel penyakit. \u201cAnalisis multi-omik terintegrasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi subtipe penyakit, mendeteksi pola molekuler terkait penyakit, diagnosis atau prognosis, prediksi respon obat dan memahami proses regulasi,\u201d lanjutnya. Menurutnya, dengan identifikasi subtipe penyakit, peneliti mendapatkan sasaran dan perawatan yang lebih efektif, termasuk obat-obatan biologis, terapi hormonal dan imunoterapi. Studi ini dilakukan dengan mengasosiasikan penanda molekuler (omik) dengan penanda klinis suatu penyakit (fenomik). \u201cBahkan, metode ini dapat diterapkan pada penyakit multifaktorial yang sulit didiagnosis karena genotipe dan fenotipnya yang kompleks. Analisa multi-omik dapat memprediksikan aktivitas penyakit, tingkat keparahan, dan perjalanan penyakit menggunakan data molekuler terintegrasi,\u201d ujar Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) ini. Ia menerangkan, analisis data multi-omik memungkinkan peneliti melakukan inferensi jejaring pengatur gen spesifik penyakit. Caranya dengan menggabungkan pengukuran dari ekspresi gen dan regulator potensial. Kemudian, jejaring pengatur gen spesifik penyakit dipakai untuk mengidentifikasi sub-jaringan utama yang mengalami deregulasi dalam membantu penemuan target obat. Dr Wisnu menerangkan bahwa integrasi multi-omik dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama adalah melakukan integrasi di awal (early integration), representasi berbasis graf dari sekumpulan data omik yang berbeda digunakan sebagai input untuk model Machine Learning (ML). Cara kedua adalah integrasi di tengah (intermediate integration), yaitu mempelajari representasi gabungan dari dataset. \u201cIntegrasi ini digunakan untuk mengambil keputusan terkait perangkat (tools) apa yang dipilih untuk integrasi data. Pemilihannya bergantung pada tujuan ilmiah spesifik dan tantangan komputasi yang muncul. Cara ketiga adalah integrasi di akhir (late integration), model machine learning diterapkan ke setiap dataset secara independen. Kemudian, model terakhir menggabungkan hasil prediksi yang ada,\u201d terangnya. Ia menambahkan, IPB University dan para penelitinya juga telah melakukan beberapa terobosan terkait topik ini. Misalnya penemuan formulasi jamu atau obat herbal presisi, penyakit komorbid kanker paru, hingga prediksi obat herbal dalam terapi penyembuhan COVID-19. Walau masih dihadapi oleh beberapa tantangan, menurut Dr Wisnu, analisis multi-omik terintegrasi berpeluang untuk dikembangkan dalam mendukung inisiatif pengobatan presisi. \u201cIntegrasi Omics dapat dilakukan di level data maupun pengetahuan, sehingga diperlukan sinergisitas antara peneliti melalui penelitian kolaboratif yang berjalan berdasarkan roadmap yang komprehensif dan berkelanjutan,\u201d tutupnya. (MW\/Zul) Narasumber : Dr Wisnu Ananta Kusuma, ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-02-07T03:47:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-08-30T08:02:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"180\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Support FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253\"},\"author\":{\"name\":\"Support FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\"},\"headline\":\"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi\",\"datePublished\":\"2023-02-07T03:47:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-30T08:02:26+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253\"},\"wordCount\":491,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253\",\"name\":\"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"datePublished\":\"2023-02-07T03:47:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-30T08:02:26+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg\",\"width\":180,\"height\":180},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=4253#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef\",\"name\":\"Support FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Support FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Dr Wisnu Ananta Kusuma, Peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) IPB University menjelaskan bahwa pengobatan presisi akan memudahkan diagnosa penyakit berdasarkan analisis biomarka pada pasien. Diharapkan dengan pengembangan pengobatan presisi ini, efektivitas obat\/terapi lebih tinggi dan efek samping yang ditimbulkan lebih rendah. Menurutnya, data bioinformatika yang digunakan adalah profil omik personal yang terintegrasi seperti genome, exposome, epigenome, transcriptome, proteome, microbiome, metabolome dan fenome. \u201cPendekatan pertama yang dilakukan menggunakan pengetahuan dari berbagai basis data yang berbeda. Ini untuk menyatukan berbagai komponen berbeda dari patologi penyakit sehingga mendapatkan \u201cinsight\u201d penyakit dan mengidentifikasi molekuler kunci yang terlibat dalam patogenesis penyakit dan drug repurposing,\u201d terangnya dalam Kuliah Umum Forum Metabolomik Indonesia, (25\/01). Adapun pendekatan kedua, lanjutnya, dilakukan dengan mengintegrasikan dataset multi-omics yang dikumpulkan dari sampel yang sama. Analisa ini dapat membantu para peneliti dalam memahami mekanisme disregulasi dalam sampel penyakit. \u201cAnalisis multi-omik terintegrasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi subtipe penyakit, mendeteksi pola molekuler terkait penyakit, diagnosis atau prognosis, prediksi respon obat dan memahami proses regulasi,\u201d lanjutnya. Menurutnya, dengan identifikasi subtipe penyakit, peneliti mendapatkan sasaran dan perawatan yang lebih efektif, termasuk obat-obatan biologis, terapi hormonal dan imunoterapi. Studi ini dilakukan dengan mengasosiasikan penanda molekuler (omik) dengan penanda klinis suatu penyakit (fenomik). \u201cBahkan, metode ini dapat diterapkan pada penyakit multifaktorial yang sulit didiagnosis karena genotipe dan fenotipnya yang kompleks. Analisa multi-omik dapat memprediksikan aktivitas penyakit, tingkat keparahan, dan perjalanan penyakit menggunakan data molekuler terintegrasi,\u201d ujar Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) ini. Ia menerangkan, analisis data multi-omik memungkinkan peneliti melakukan inferensi jejaring pengatur gen spesifik penyakit. Caranya dengan menggabungkan pengukuran dari ekspresi gen dan regulator potensial. Kemudian, jejaring pengatur gen spesifik penyakit dipakai untuk mengidentifikasi sub-jaringan utama yang mengalami deregulasi dalam membantu penemuan target obat. Dr Wisnu menerangkan bahwa integrasi multi-omik dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama adalah melakukan integrasi di awal (early integration), representasi berbasis graf dari sekumpulan data omik yang berbeda digunakan sebagai input untuk model Machine Learning (ML). Cara kedua adalah integrasi di tengah (intermediate integration), yaitu mempelajari representasi gabungan dari dataset. \u201cIntegrasi ini digunakan untuk mengambil keputusan terkait perangkat (tools) apa yang dipilih untuk integrasi data. Pemilihannya bergantung pada tujuan ilmiah spesifik dan tantangan komputasi yang muncul. Cara ketiga adalah integrasi di akhir (late integration), model machine learning diterapkan ke setiap dataset secara independen. Kemudian, model terakhir menggabungkan hasil prediksi yang ada,\u201d terangnya. Ia menambahkan, IPB University dan para penelitinya juga telah melakukan beberapa terobosan terkait topik ini. Misalnya penemuan formulasi jamu atau obat herbal presisi, penyakit komorbid kanker paru, hingga prediksi obat herbal dalam terapi penyembuhan COVID-19. Walau masih dihadapi oleh beberapa tantangan, menurut Dr Wisnu, analisis multi-omik terintegrasi berpeluang untuk dikembangkan dalam mendukung inisiatif pengobatan presisi. \u201cIntegrasi Omics dapat dilakukan di level data maupun pengetahuan, sehingga diperlukan sinergisitas antara peneliti melalui penelitian kolaboratif yang berjalan berdasarkan roadmap yang komprehensif dan berkelanjutan,\u201d tutupnya. (MW\/Zul) Narasumber : Dr Wisnu Ananta Kusuma, ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2023-02-07T03:47:00+00:00","article_modified_time":"2024-08-30T08:02:26+00:00","og_image":[{"width":180,"height":180,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Support FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Support FMIPA","Estimasi waktu membaca":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253"},"author":{"name":"Support FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef"},"headline":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi","datePublished":"2023-02-07T03:47:00+00:00","dateModified":"2024-08-30T08:02:26+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253"},"wordCount":491,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg","articleSection":["Berita Utama"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253","name":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg","datePublished":"2023-02-07T03:47:00+00:00","dateModified":"2024-08-30T08:02:26+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg","width":180,"height":180},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4253#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Paparkan Kunci Pengobatan Presisi Melalui Pendekatan Multi-Omik Terintegrasi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/e472382f202bbe561cc403265fb3d3ef","name":"Support FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ad535c49bd97d202dd61f20df4e287d2e4bc73cd937bf0c272136076f3f31d66?s=96&d=mm&r=g","caption":"Support FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=1"}]}},"views":33,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Dr-Wisnu-Ananta-Kusuma-Paparkan-Kunci-Pengobatan-Presisi-Melalui-Pendekatan-Multi-Omik-Terintegrasi-800x445-1-180x180-1.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":4166,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4166","url_meta":{"origin":4253,"position":0},"title":"Dr Wisnu Ananta Ungkap Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Pengobatan Presisi","author":"Support FMIPA","date":"01\/09\/2022","format":false,"excerpt":"Perkembangan teknologi informasi mendorong berkembangnya pendekatan baru dalam pencarian obat. Dengan Artificial Intelligence (AI), terutama Machine Learning, kini dunia bisa mengembangkan pengobatan yang bersifat presisi sesuai profil genetik pasien, yang umum disebut dengan Precision Medicine. Dr Wisnu Ananta Kusuma, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4139,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4139","url_meta":{"origin":4253,"position":1},"title":"Dr Wisnu Ananta Kusuma: Analisis Jejaring Mampu Temukan Penyakit Komorbid dengan Kanker Paru-Paru","author":"Support FMIPA","date":"15\/08\/2022","format":false,"excerpt":"Penyakit kanker merupakan penyakit yang terkadang sulit terdeteksi, terutama bila komorbid dengan beberapa penyakit degeneratif lainnya. Beberapa teknologi mampu mengidentifikasi penyakit yang kemungkinan komorbid dengan kanker, khususnya kanker paru-paru. Teknologi ini merupakan pengembangan di bidang bioinformatika yakni melalui analisis jejaring. Dr Wisnu Ananta Kusuma, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4060,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4060","url_meta":{"origin":4253,"position":2},"title":"Pengembangan Repositori Data Omics Tentukan Arah Pemanfaatan dan Penelitian Terkait Biodiversitas Indonesia","author":"Support FMIPA","date":"27\/05\/2022","format":false,"excerpt":"Indonesia merupakan salah satu negara dengan julukan megabiodiversitas di dunia. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki tanaman obat dunia terbesar. Arah penelitian modern menunjukkan bahwa biodiversitas merupakan faktor penting dalam pengembangan riset di bidang kesehatan dan pertanian. Namun demikian, jumlah fitofarmaka di Indonesia cenderung rendah. Hal tersebut disampaikan Dr Wisnu Ananta\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4026,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4026","url_meta":{"origin":4253,"position":3},"title":"Dr Wisnu Ananta Kusuma Jelaskan Riset dan Inovasi Para Peneliti IPB University Terkait High Performance Computing dalam Bidang Ilmu Pengetahuan Alam","author":"Support FMIPA","date":"17\/03\/2022","format":false,"excerpt":"Para peneliti IPB University selalu hadir dalam mengembangkan berbagai inovasi terbaru dengan memanfaatkan teknologi terkini. Pemanfaatan High Performance Computing (HPC) atau Komputasi Berperforma Tinggi menjadi salah satu terobosan saintifik untuk membantu peneliti dalam mengeksplorasi data.HPC ini merupakan kebutuhan penting pada era di mana data menjadi paradigma keempat dalam sains. Kemudahan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3992,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3992","url_meta":{"origin":4253,"position":4},"title":"Peneliti FMIPA IPB University Paparkan Peranan Bioinformatika dalam Penemuan Senyawa Herbal Berkhasiat","author":"Support FMIPA","date":"23\/08\/2021","format":false,"excerpt":"Penelusuran dan panapisan senyawa bioaktif tanaman herbal secara komputasi, kini semakin berkembang. Pemanfaatan basis data senyawa bioaktif dari bahan alam Indonesia ini dapat menjadi awal bagi kemajuan fitofarmaka di Indonesia. Dr Wisnu Ananta Kusuma, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menyebutkan masih\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3915,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3915","url_meta":{"origin":4253,"position":5},"title":"Dosen Ilmu Komputer FMIPA IPB Paparkan Peran Bioinformatika dalam Precision Medicine bagi Pengobatan Kanker","author":"Support FMIPA","date":"03\/05\/2021","format":false,"excerpt":"Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University bekerja sama dengan Working Group Bioinformatika dan Pusat Studi Bioinformatika Tropika (Trop BRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University menggelar Bioinformatics Webinar Series 1 dengan tema utama \u201cPrecision Medicine for Cancer\u201d, (29\/04). Kegiatan tersebut digelar\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4253","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4253"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4253\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4255,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4253\/revisions\/4255"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4254"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4253"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4253"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4253"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}