{"id":5065,"date":"2020-06-09T11:22:00","date_gmt":"2020-06-09T04:22:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065"},"modified":"2024-11-18T11:26:04","modified_gmt":"2024-11-18T04:26:04","slug":"impacts-of-peatlands-rewetting-on-greenhouse-gas-emissions-in-riau-province","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065","title":{"rendered":"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province"},"content":{"rendered":"\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Latar Belakang dan Deskripsi Program<\/h3>\n\n\n\n<p>Kegiatan penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan merupakan kontributor terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Di antara kegiatan ini, sebagian besar dilakukan di kawasan dengan cadangan karbon tinggi, seperti ekosistem lahan gambut.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengambil langkah-langkah mendesak dalam menghadapi perubahan iklim dan dampaknya, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Universitas IPB, diminta oleh Pemerintah Indonesia untuk menghasilkan pengetahuan baru terkait aksi mitigasi perubahan iklim. Kami melihat pemahaman tentang dampak restorasi lahan gambut melalui proses pemulihan (rewetting) sebagai opsi mitigasi yang strategis dengan cara mengkuantifikasi faktor emisi spesifik negara yang berskala tinggi di berbagai penggunaan lahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG), sebuah lembaga pemerintah ad hoc yang memiliki tugas untuk memulihkan 2 juta hektar lahan gambut terdegradasi dalam lima tahun (2016-2020), kami mengukur faktor emisi dari tiga gas rumah kaca utama: CO2, CH4, dan N2O pada lahan gambut yang direhabilitasi, serta perkebunan kelapa sawit dan karet. Parameter lain seperti kedalaman gambut dan tingkat muka air tanah (GWL) juga dipantau.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Implementasi<\/h3>\n\n\n\n<p>Kampanye pengukuran lapangan dilakukan dari Januari 2018 hingga Desember 2019 dengan interval 3-4 bulan untuk fluks GRK, sementara pengukuran GWL dilakukan sepanjang periode tersebut. Tiga mahasiswa turut terlibat dalam penelitian ini sebagai bagian dari proyek PhD dan Magister mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengukuran langsung emisi CO2 dilakukan dengan menggunakan alat analisis gas inframerah portabel, sementara untuk fluks CH4 dan N2O, gas-gas tersebut diambil dengan menggunakan teknik ruang tertutup dan dianalisis menggunakan kromatografi gas dari sampel yang diambil. Rangkaian faktor emisi akan dihasilkan dari pengukuran ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Suhu tanah dan GWL dipantau secara terus-menerus menggunakan diver untuk menunjukkan dampak pemulihan terhadap emisi GRK, di mana saluran drainase diblokir pada Desember 2018 untuk meningkatkan muka air tanah.<\/p>\n\n\n\n<p>Riau dipilih sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami perubahan penggunaan lahan yang luas. Pemilihan petak lahan untuk kampanye ini didasarkan pada praktik umum ketika hutan rawa gambut tropis ditebang dan diubah. Dengan demikian, kami dapat mensimulasikan tren di masa depan pada skala yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Hasil dan Dampak<\/h3>\n\n\n\n<p>Respons fluks GRK terhadap pemulihan lahan gambut berbeda antara jenis penggunaan lahan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kombinasi tutupan kanopi (suhu tanah) dan sistem akar. Lebih rinci:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Emisi CO2 total rata-rata sebelum pemblokiran saluran drainase di lahan yang direhabilitasi, perkebunan kelapa sawit, dan perkebunan karet masing-masing adalah 10,93, 16,66, dan 23,70 Mg CO2 ha-1 tahun-1. Setelah saluran diblokir, rata-rata emisi CO2 totalnya menjadi 3,57, 10,47, dan 15,27 Mg CO2 ha-1 tahun-1 di masing-masing jenis penggunaan lahan tersebut.<\/li>\n\n\n\n<li>Fluks Metana (CH4) sebelum pemblokiran saluran adalah -0,10, 0,34, dan 0,50 mg m-2 jam-1 di area yang direhabilitasi, perkebunan kelapa sawit, dan perkebunan karet, sementara setelah pemblokiran, fluksnya menjadi 8,02, 5,36, dan 0,64 mg m-2 jam-1.<\/li>\n\n\n\n<li>Di sisi lain, N2O menurun dari 0,40, 0,40, dan 0,40 mg m-2 jam-1 di area hutan, perkebunan kelapa sawit, dan perkebunan karet menjadi -0,20, -0,45, dan 2,15 mg m-2 jam-1.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Tren penurunan emisi GRK karena pemulihan lahan gambut, terutama untuk CO2 (hingga 67%), menunjukkan bahwa dari perspektif mitigasi perubahan iklim, tindakan ini perlu diperluas.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tantangan dan Pembelajaran<\/h3>\n\n\n\n<p>Kami menyadari bahwa ukuran sampel selama periode dua tahun cukup terbatas meskipun fluks GRK menunjukkan variabilitas ruang dan waktu yang besar. Namun, memberikan rentang emisi (batas atas dan bawah) sudah cukup untuk menghasilkan faktor emisi yang lebih tidak pasti.<\/p>\n\n\n\n<p>Faktor emisi yang dihitung ini, yang sangat penting untuk inventaris GRK nasional, dapat diadopsi asalkan analisis ketidakpastian dilakukan. Faktor emisi ini juga bisa diekstrapolasi untuk menggambarkan emisi yang lebih terperinci pada tingkat lanskap.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Replikabilitas<\/h3>\n\n\n\n<p>Teknik pengambilan sampel gas dan analisis yang digunakan cukup standar dan banyak diterapkan. Pemisahan respirasi heterotrof dan autotrof dari emisi CO2 total perlu dilakukan di lokasi lain. Ini sangat penting karena karakteristik gambut dapat berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain tergantung pada input material organik dan proses biogeokimia yang berlangsung.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara singkat, lebih banyak sampel dengan prosedur pengambilan sampel yang terstratifikasi sebaiknya diusahakan untuk menangkap variabilitas ini. Dengan demikian, kampanye pengukuran ini akan menjadi lebih efektif secara biaya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tahun Kegiatan: 2019<\/h3>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Lokasi Kegiatan: Provinsi Riau<\/h3>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Penanggung Jawab Kegiatan: Prof. Daniel Murdiyarso<\/h3>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Latar Belakang dan Deskripsi Program Kegiatan penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan merupakan kontributor terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Di antara kegiatan ini, sebagian besar dilakukan di kawasan dengan cadangan karbon tinggi, seperti ekosistem lahan gambut. Untuk mengambil langkah-langkah mendesak dalam menghadapi perubahan iklim dan dampaknya, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Universitas IPB, diminta oleh Pemerintah Indonesia untuk menghasilkan pengetahuan baru terkait aksi mitigasi perubahan iklim. Kami melihat pemahaman tentang dampak restorasi lahan gambut melalui proses pemulihan (rewetting) sebagai opsi mitigasi yang strategis dengan cara mengkuantifikasi faktor emisi spesifik negara yang berskala tinggi di berbagai penggunaan lahan. Bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG), sebuah lembaga pemerintah ad hoc yang memiliki tugas untuk memulihkan 2 juta hektar lahan gambut terdegradasi dalam lima tahun (2016-2020), kami mengukur faktor emisi dari tiga gas rumah kaca utama: CO2, CH4, dan N2O pada lahan gambut yang direhabilitasi, serta perkebunan kelapa sawit dan karet. Parameter lain seperti kedalaman gambut dan tingkat muka air tanah (GWL) juga dipantau. Implementasi Kampanye pengukuran lapangan dilakukan dari Januari 2018 hingga Desember 2019 dengan interval 3-4 bulan untuk fluks GRK, sementara pengukuran GWL dilakukan sepanjang periode tersebut. Tiga mahasiswa turut terlibat dalam penelitian ini sebagai bagian dari proyek PhD dan Magister mereka. Pengukuran langsung emisi CO2 dilakukan dengan menggunakan alat analisis gas inframerah portabel, sementara untuk fluks CH4 dan N2O, gas-gas tersebut diambil dengan menggunakan teknik ruang tertutup dan dianalisis menggunakan kromatografi gas dari sampel yang diambil. Rangkaian faktor emisi akan dihasilkan dari pengukuran ini. Suhu tanah dan GWL dipantau secara terus-menerus menggunakan diver untuk menunjukkan dampak pemulihan terhadap emisi GRK, di mana saluran drainase diblokir pada Desember 2018 untuk meningkatkan muka air tanah. Riau dipilih sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami perubahan penggunaan lahan yang luas. Pemilihan petak lahan untuk kampanye ini didasarkan pada praktik umum ketika hutan rawa gambut tropis ditebang dan diubah. Dengan demikian, kami dapat mensimulasikan tren di masa depan pada skala yang lebih besar. Hasil dan Dampak Respons fluks GRK terhadap pemulihan lahan gambut berbeda antara jenis penggunaan lahan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kombinasi tutupan kanopi (suhu tanah) dan sistem akar. Lebih rinci: Tren penurunan emisi GRK karena pemulihan lahan gambut, terutama untuk CO2 (hingga 67%), menunjukkan bahwa dari perspektif mitigasi perubahan iklim, tindakan ini perlu diperluas. Tantangan dan Pembelajaran Kami menyadari bahwa ukuran sampel selama periode dua tahun cukup terbatas meskipun fluks GRK menunjukkan variabilitas ruang dan waktu yang besar. Namun, memberikan rentang emisi (batas atas dan bawah) sudah cukup untuk menghasilkan faktor emisi yang lebih tidak pasti. Faktor emisi yang dihitung ini, yang sangat penting untuk inventaris GRK nasional, dapat diadopsi asalkan analisis ketidakpastian dilakukan. Faktor emisi ini juga bisa diekstrapolasi untuk menggambarkan emisi yang lebih terperinci pada tingkat lanskap. Replikabilitas Teknik pengambilan sampel gas dan analisis yang digunakan cukup standar dan banyak diterapkan. Pemisahan respirasi heterotrof dan autotrof dari emisi CO2 total perlu dilakukan di lokasi lain. Ini sangat penting karena karakteristik gambut dapat berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain tergantung pada input material organik dan proses biogeokimia yang berlangsung. Secara singkat, lebih banyak sampel dengan prosedur pengambilan sampel yang terstratifikasi sebaiknya diusahakan untuk menangkap variabilitas ini. Dengan demikian, kampanye pengukuran ini akan menjadi lebih efektif secara biaya. Tahun Kegiatan: 2019 Lokasi Kegiatan: Provinsi Riau Penanggung Jawab Kegiatan: Prof. Daniel Murdiyarso<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":5066,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[46],"tags":[],"class_list":["post-5065","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sdgs-geomet"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Latar Belakang dan Deskripsi Program Kegiatan penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan merupakan kontributor terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Di antara kegiatan ini, sebagian besar dilakukan di kawasan dengan cadangan karbon tinggi, seperti ekosistem lahan gambut. Untuk mengambil langkah-langkah mendesak dalam menghadapi perubahan iklim dan dampaknya, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Universitas IPB, diminta oleh Pemerintah Indonesia untuk menghasilkan pengetahuan baru terkait aksi mitigasi perubahan iklim. Kami melihat pemahaman tentang dampak restorasi lahan gambut melalui proses pemulihan (rewetting) sebagai opsi mitigasi yang strategis dengan cara mengkuantifikasi faktor emisi spesifik negara yang berskala tinggi di berbagai penggunaan lahan. Bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG), sebuah lembaga pemerintah ad hoc yang memiliki tugas untuk memulihkan 2 juta hektar lahan gambut terdegradasi dalam lima tahun (2016-2020), kami mengukur faktor emisi dari tiga gas rumah kaca utama: CO2, CH4, dan N2O pada lahan gambut yang direhabilitasi, serta perkebunan kelapa sawit dan karet. Parameter lain seperti kedalaman gambut dan tingkat muka air tanah (GWL) juga dipantau. Implementasi Kampanye pengukuran lapangan dilakukan dari Januari 2018 hingga Desember 2019 dengan interval 3-4 bulan untuk fluks GRK, sementara pengukuran GWL dilakukan sepanjang periode tersebut. Tiga mahasiswa turut terlibat dalam penelitian ini sebagai bagian dari proyek PhD dan Magister mereka. Pengukuran langsung emisi CO2 dilakukan dengan menggunakan alat analisis gas inframerah portabel, sementara untuk fluks CH4 dan N2O, gas-gas tersebut diambil dengan menggunakan teknik ruang tertutup dan dianalisis menggunakan kromatografi gas dari sampel yang diambil. Rangkaian faktor emisi akan dihasilkan dari pengukuran ini. Suhu tanah dan GWL dipantau secara terus-menerus menggunakan diver untuk menunjukkan dampak pemulihan terhadap emisi GRK, di mana saluran drainase diblokir pada Desember 2018 untuk meningkatkan muka air tanah. Riau dipilih sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami perubahan penggunaan lahan yang luas. Pemilihan petak lahan untuk kampanye ini didasarkan pada praktik umum ketika hutan rawa gambut tropis ditebang dan diubah. Dengan demikian, kami dapat mensimulasikan tren di masa depan pada skala yang lebih besar. Hasil dan Dampak Respons fluks GRK terhadap pemulihan lahan gambut berbeda antara jenis penggunaan lahan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kombinasi tutupan kanopi (suhu tanah) dan sistem akar. Lebih rinci: Tren penurunan emisi GRK karena pemulihan lahan gambut, terutama untuk CO2 (hingga 67%), menunjukkan bahwa dari perspektif mitigasi perubahan iklim, tindakan ini perlu diperluas. Tantangan dan Pembelajaran Kami menyadari bahwa ukuran sampel selama periode dua tahun cukup terbatas meskipun fluks GRK menunjukkan variabilitas ruang dan waktu yang besar. Namun, memberikan rentang emisi (batas atas dan bawah) sudah cukup untuk menghasilkan faktor emisi yang lebih tidak pasti. Faktor emisi yang dihitung ini, yang sangat penting untuk inventaris GRK nasional, dapat diadopsi asalkan analisis ketidakpastian dilakukan. Faktor emisi ini juga bisa diekstrapolasi untuk menggambarkan emisi yang lebih terperinci pada tingkat lanskap. Replikabilitas Teknik pengambilan sampel gas dan analisis yang digunakan cukup standar dan banyak diterapkan. Pemisahan respirasi heterotrof dan autotrof dari emisi CO2 total perlu dilakukan di lokasi lain. Ini sangat penting karena karakteristik gambut dapat berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain tergantung pada input material organik dan proses biogeokimia yang berlangsung. Secara singkat, lebih banyak sampel dengan prosedur pengambilan sampel yang terstratifikasi sebaiknya diusahakan untuk menangkap variabilitas ini. Dengan demikian, kampanye pengukuran ini akan menjadi lebih efektif secara biaya. Tahun Kegiatan: 2019 Lokasi Kegiatan: Provinsi Riau Penanggung Jawab Kegiatan: Prof. Daniel Murdiyarso\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-06-09T04:22:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-11-18T04:26:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/impact_peatlands.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"654\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"488\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province\",\"datePublished\":\"2020-06-09T04:22:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-11-18T04:26:04+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065\"},\"wordCount\":654,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/impact_peatlands.jpg\",\"articleSection\":[\"Sdgs Geomet\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065\",\"name\":\"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/impact_peatlands.jpg\",\"datePublished\":\"2020-06-09T04:22:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-11-18T04:26:04+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/impact_peatlands.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/impact_peatlands.jpg\",\"width\":654,\"height\":488},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5065#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Latar Belakang dan Deskripsi Program Kegiatan penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan merupakan kontributor terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Di antara kegiatan ini, sebagian besar dilakukan di kawasan dengan cadangan karbon tinggi, seperti ekosistem lahan gambut. Untuk mengambil langkah-langkah mendesak dalam menghadapi perubahan iklim dan dampaknya, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Universitas IPB, diminta oleh Pemerintah Indonesia untuk menghasilkan pengetahuan baru terkait aksi mitigasi perubahan iklim. Kami melihat pemahaman tentang dampak restorasi lahan gambut melalui proses pemulihan (rewetting) sebagai opsi mitigasi yang strategis dengan cara mengkuantifikasi faktor emisi spesifik negara yang berskala tinggi di berbagai penggunaan lahan. Bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG), sebuah lembaga pemerintah ad hoc yang memiliki tugas untuk memulihkan 2 juta hektar lahan gambut terdegradasi dalam lima tahun (2016-2020), kami mengukur faktor emisi dari tiga gas rumah kaca utama: CO2, CH4, dan N2O pada lahan gambut yang direhabilitasi, serta perkebunan kelapa sawit dan karet. Parameter lain seperti kedalaman gambut dan tingkat muka air tanah (GWL) juga dipantau. Implementasi Kampanye pengukuran lapangan dilakukan dari Januari 2018 hingga Desember 2019 dengan interval 3-4 bulan untuk fluks GRK, sementara pengukuran GWL dilakukan sepanjang periode tersebut. Tiga mahasiswa turut terlibat dalam penelitian ini sebagai bagian dari proyek PhD dan Magister mereka. Pengukuran langsung emisi CO2 dilakukan dengan menggunakan alat analisis gas inframerah portabel, sementara untuk fluks CH4 dan N2O, gas-gas tersebut diambil dengan menggunakan teknik ruang tertutup dan dianalisis menggunakan kromatografi gas dari sampel yang diambil. Rangkaian faktor emisi akan dihasilkan dari pengukuran ini. Suhu tanah dan GWL dipantau secara terus-menerus menggunakan diver untuk menunjukkan dampak pemulihan terhadap emisi GRK, di mana saluran drainase diblokir pada Desember 2018 untuk meningkatkan muka air tanah. Riau dipilih sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami perubahan penggunaan lahan yang luas. Pemilihan petak lahan untuk kampanye ini didasarkan pada praktik umum ketika hutan rawa gambut tropis ditebang dan diubah. Dengan demikian, kami dapat mensimulasikan tren di masa depan pada skala yang lebih besar. Hasil dan Dampak Respons fluks GRK terhadap pemulihan lahan gambut berbeda antara jenis penggunaan lahan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kombinasi tutupan kanopi (suhu tanah) dan sistem akar. Lebih rinci: Tren penurunan emisi GRK karena pemulihan lahan gambut, terutama untuk CO2 (hingga 67%), menunjukkan bahwa dari perspektif mitigasi perubahan iklim, tindakan ini perlu diperluas. Tantangan dan Pembelajaran Kami menyadari bahwa ukuran sampel selama periode dua tahun cukup terbatas meskipun fluks GRK menunjukkan variabilitas ruang dan waktu yang besar. Namun, memberikan rentang emisi (batas atas dan bawah) sudah cukup untuk menghasilkan faktor emisi yang lebih tidak pasti. Faktor emisi yang dihitung ini, yang sangat penting untuk inventaris GRK nasional, dapat diadopsi asalkan analisis ketidakpastian dilakukan. Faktor emisi ini juga bisa diekstrapolasi untuk menggambarkan emisi yang lebih terperinci pada tingkat lanskap. Replikabilitas Teknik pengambilan sampel gas dan analisis yang digunakan cukup standar dan banyak diterapkan. Pemisahan respirasi heterotrof dan autotrof dari emisi CO2 total perlu dilakukan di lokasi lain. Ini sangat penting karena karakteristik gambut dapat berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain tergantung pada input material organik dan proses biogeokimia yang berlangsung. Secara singkat, lebih banyak sampel dengan prosedur pengambilan sampel yang terstratifikasi sebaiknya diusahakan untuk menangkap variabilitas ini. Dengan demikian, kampanye pengukuran ini akan menjadi lebih efektif secara biaya. Tahun Kegiatan: 2019 Lokasi Kegiatan: Provinsi Riau Penanggung Jawab Kegiatan: Prof. Daniel Murdiyarso","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2020-06-09T04:22:00+00:00","article_modified_time":"2024-11-18T04:26:04+00:00","og_image":[{"width":654,"height":488,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/impact_peatlands.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province","datePublished":"2020-06-09T04:22:00+00:00","dateModified":"2024-11-18T04:26:04+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065"},"wordCount":654,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/impact_peatlands.jpg","articleSection":["Sdgs Geomet"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065","name":"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/impact_peatlands.jpg","datePublished":"2020-06-09T04:22:00+00:00","dateModified":"2024-11-18T04:26:04+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/impact_peatlands.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/impact_peatlands.jpg","width":654,"height":488},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":12,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/impact_peatlands.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":5071,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071","url_meta":{"origin":5065,"position":0},"title":"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang","author":"FMIPA","date":"04\/06\/2020","format":false,"excerpt":"Latar Belakang dan Deskripsi Program Lahan gambut adalah ekosistem yang sangat khas karena selalu dalam kondisi basah atau tergenang dan menyimpan jumlah bahan organik yang sangat besar dari sisa vegetasi. Karena kondisi anaerobik yang menghambat dekomposisi bahan organik, lahan gambut berfungsi sebagai penyimpanan karbon dan air yang besar di permukaan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Geomet&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Geomet","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=46"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/reduksiemisi2.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":6405,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6405","url_meta":{"origin":5065,"position":1},"title":"Mitigasi Kebakaran Lahan Gambut, Prof. Muh Taufik Kembangkan Pendekatan Ekohidrologi","author":"FMIPA","date":"13\/11\/2025","format":false,"excerpt":"IPB University kembali menghadirkan solusi dalam mitigasi kebakaran lahan gambut melalui pendekatan ekohidrologi. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof Muh Taufik, mengembangkan sistem deteksi dini kebakaran berbasis Peat Fire Vulnerability Index (PFVI) yang mampu memprediksi kerentanan hingga 14 hari ke depan. Prof Taufik menjelaskan bahwa sistem\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":4084,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4084","url_meta":{"origin":5065,"position":2},"title":"Prof. Dr. Ir. Daniel Murdiyarso, M.S. Mendapatkan Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Helsinki, Finlandia","author":"Support FMIPA","date":"20\/06\/2022","format":false,"excerpt":"Prof. Dr. Ir. Daniel Murdiyarso, M.S., Profesor Meteorologi Hutan pada Institut Pertanian Bogor (IPB) mendapatkan gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Helsinki, Finlandia pada tanggal 17 Juni 2022. Prof Daniel merupakan satu-satunya penerima gelar kehormatan yang dipilih dari Indonesia dan merupakan satu dari 30 orang lainnya dari berbagai\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4273,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4273","url_meta":{"origin":5065,"position":3},"title":"Dua Dosen FMIPA IPB University Bahas Ekohidrologi dalam Mendukung Ekonomi Hijau dari Sisi Sains dan Kajian Islam","author":"Support FMIPA","date":"21\/02\/2023","format":false,"excerpt":"Ekonomi hijau merupakan konsep ekonomi berkelanjutan yang berfokus kepada lingkungan. Ekonomi hijau terus didorong oleh Pemerintah Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak. Di dalamnya, aspek ekohidrologi juga tidak bisa diabaikan. Membahas hal ini dari sisi sains dan kajian Islam, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar acara TerCerahkan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4285,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4285","url_meta":{"origin":5065,"position":4},"title":"Himagreto FMIPA IPB University Lakukan Pelatihan Kompos BSF Bersama Warga Desa Pulosari","author":"Support FMIPA","date":"21\/09\/2023","format":false,"excerpt":"Himpunan Profesi Mahasiswa Agrometeorologi (Himagreto), Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM) IPB University melakukan pelatihan pembuatan kompos dengan menggunakan larva black soldier fly (BSF) di Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Pelatihan ini dilaksanakan sebagai salah satu rangkaian dari kegiatan Studi Observasi Meteorologi (STORM) 2023. Pelatihan kompos dengan menggunakan larva BSF\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4306,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4306","url_meta":{"origin":5065,"position":5},"title":"Himagreto FMIPA IPB dan Panti Goceng Kenalkan Isu Perubahan Iklim di Panti Asuhan Darushsholihat","author":"Support FMIPA","date":"16\/10\/2023","format":false,"excerpt":"Himpunan Mahasiswa Agrometeorologi (Himagreto) Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University bersama Komunitas Panti Goceng menggagas program Cerdas Edukasi Ramah Iklim bersama Adik Panti Asuhan (CERIA). Kegiatan ini merupakan pembaharuan dari kegiatan Indonesia Climate Student Forum (ICSF) yang dilaksanakan di Panti Asuhan Darushsholihat,\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5065","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5065"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5065\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5067,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5065\/revisions\/5067"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5066"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5065"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5065"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5065"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}