{"id":5071,"date":"2020-06-04T11:28:00","date_gmt":"2020-06-04T04:28:00","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071"},"modified":"2024-11-18T11:32:43","modified_gmt":"2024-11-18T04:32:43","slug":"penentuan-reduksi-emisi-lahan-gambut-setelah-mengalami-pembasahan-ulang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071","title":{"rendered":"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang"},"content":{"rendered":"\n<p>Latar Belakang dan Deskripsi Program<\/p>\n\n\n\n<p>Lahan gambut adalah ekosistem yang sangat khas karena selalu dalam kondisi basah atau tergenang dan menyimpan jumlah bahan organik yang sangat besar dari sisa vegetasi. Karena kondisi anaerobik yang menghambat dekomposisi bahan organik, lahan gambut berfungsi sebagai penyimpanan karbon dan air yang besar di permukaan bumi.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia memiliki lebih dari 20 juta hektar lahan gambut yang menyimpan setidaknya 55 milyar ton karbon (Jeanicke et al., 2008), yang setara dengan 202 milyar ton CO2. Dengan asumsi bahwa emisi sektor lahan Indonesia mencapai 672 juta ton per tahun (MOEF, 2016), dibutuhkan sekitar 82 tahun untuk mengemisikan seluruh karbon yang terkandung dalam lahan gambut Indonesia. Padahal, umur cadangan karbon di lahan gambut ini dapat mencapai antara 3.000 hingga 13.000 tahun, tergantung pada lokasinya (Kurnianto et al., 2014). Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan emisi dari lahan gambut dapat memberikan kontribusi besar dalam mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, penelitian tentang faktor emisi (EF) akibat pembasahan ulang lahan gambut sangat penting.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Implementasi<\/h3>\n\n\n\n<p>Penelitian ini merupakan hasil kerjasama antara Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB dengan Divisi Hidrometeorologi sebagai pelaksana kegiatan. Penelitian ini bertujuan untuk:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengestimasi faktor emisi pada berbagai tipe penggunaan lahan gambut yang telah dibasahi ulang, termasuk fluktuasi musiman.<\/li>\n\n\n\n<li>Melakukan ekstrapolasi dan validasi faktor emisi berdasarkan peta kelengasan tanah di kawasan gambut.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengestimasi reduksi emisi GRK yang dihasilkan oleh pembasahan ulang lahan gambut.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Hasil dan Dampak<\/h3>\n\n\n\n<p>Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting, di antaranya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Fluktuasi tinggi muka air tanah harian dapat memengaruhi emisi gas, terutama metana (CH4), sedangkan emisi nitrous oxide (N2O) tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan dinamika muka air tanah. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Inbushi et al. (2003) yang menemukan bahwa emisi CH4 berkorelasi positif dengan tinggi muka air tanah, sementara pengaruh muka air tanah terhadap emisi N2O belum dapat dipastikan, bahkan dalam pengamatan musiman.<\/li>\n\n\n\n<li>Hutan gambut tropis menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya dalam biomassa pohon, baik yang ada di atas maupun di bawah permukaan tanah dalam ekosistem gambut. Namun, konversi hutan gambut menjadi bentuk penggunaan lahan lain dapat mengubahnya menjadi sumber emisi gas rumah kaca (GRK). Degradasi hutan, deforestasi, perubahan penggunaan lahan, dan kebakaran hutan adalah penyebab utama peningkatan emisi CO2 dari lahan gambut tropis. Penelitian ini juga mencatat bahwa respirasi heterotrofik meningkat secara signifikan menjelang akhir periode penelitian.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tantangan dan Pembelajaran<\/h3>\n\n\n\n<p>Penelitian ini memerlukan pengamatan langsung di lapangan, dan lokasi penelitian yang berada di area terpencil menambah tantangan dalam pengambilan sampel karena aksesibilitas yang terbatas. Selain itu, keterbatasan peralatan pengambilan sampel juga menjadi hambatan, sehingga perlu diperluas area pengambilan sampel untuk meningkatkan cakupan penelitian.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Replikabilitas<\/h3>\n\n\n\n<p>Metode yang digunakan dalam penelitian ini sudah sesuai dengan prosedur penelitian ilmiah yang baku. Dengan demikian, metode yang sama dapat diterapkan di wilayah lain, dengan mempertimbangkan kondisi spesifik wilayah tersebut serta parameter permukaan lainnya yang relevan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tahun Kegiatan: 2019<\/h3>\n\n\n\n<p>Lokasi Kegiatan: Provinsi Jambi<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Latar Belakang dan Deskripsi Program Lahan gambut adalah ekosistem yang sangat khas karena selalu dalam kondisi basah atau tergenang dan menyimpan jumlah bahan organik yang sangat besar dari sisa vegetasi. Karena kondisi anaerobik yang menghambat dekomposisi bahan organik, lahan gambut berfungsi sebagai penyimpanan karbon dan air yang besar di permukaan bumi. Indonesia memiliki lebih dari 20 juta hektar lahan gambut yang menyimpan setidaknya 55 milyar ton karbon (Jeanicke et al., 2008), yang setara dengan 202 milyar ton CO2. Dengan asumsi bahwa emisi sektor lahan Indonesia mencapai 672 juta ton per tahun (MOEF, 2016), dibutuhkan sekitar 82 tahun untuk mengemisikan seluruh karbon yang terkandung dalam lahan gambut Indonesia. Padahal, umur cadangan karbon di lahan gambut ini dapat mencapai antara 3.000 hingga 13.000 tahun, tergantung pada lokasinya (Kurnianto et al., 2014). Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan emisi dari lahan gambut dapat memberikan kontribusi besar dalam mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, penelitian tentang faktor emisi (EF) akibat pembasahan ulang lahan gambut sangat penting. Implementasi Penelitian ini merupakan hasil kerjasama antara Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB dengan Divisi Hidrometeorologi sebagai pelaksana kegiatan. Penelitian ini bertujuan untuk: Hasil dan Dampak Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting, di antaranya: Tantangan dan Pembelajaran Penelitian ini memerlukan pengamatan langsung di lapangan, dan lokasi penelitian yang berada di area terpencil menambah tantangan dalam pengambilan sampel karena aksesibilitas yang terbatas. Selain itu, keterbatasan peralatan pengambilan sampel juga menjadi hambatan, sehingga perlu diperluas area pengambilan sampel untuk meningkatkan cakupan penelitian. Replikabilitas Metode yang digunakan dalam penelitian ini sudah sesuai dengan prosedur penelitian ilmiah yang baku. Dengan demikian, metode yang sama dapat diterapkan di wilayah lain, dengan mempertimbangkan kondisi spesifik wilayah tersebut serta parameter permukaan lainnya yang relevan. Tahun Kegiatan: 2019 Lokasi Kegiatan: Provinsi Jambi<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":5072,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[46],"tags":[],"class_list":["post-5071","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sdgs-geomet"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Latar Belakang dan Deskripsi Program Lahan gambut adalah ekosistem yang sangat khas karena selalu dalam kondisi basah atau tergenang dan menyimpan jumlah bahan organik yang sangat besar dari sisa vegetasi. Karena kondisi anaerobik yang menghambat dekomposisi bahan organik, lahan gambut berfungsi sebagai penyimpanan karbon dan air yang besar di permukaan bumi. Indonesia memiliki lebih dari 20 juta hektar lahan gambut yang menyimpan setidaknya 55 milyar ton karbon (Jeanicke et al., 2008), yang setara dengan 202 milyar ton CO2. Dengan asumsi bahwa emisi sektor lahan Indonesia mencapai 672 juta ton per tahun (MOEF, 2016), dibutuhkan sekitar 82 tahun untuk mengemisikan seluruh karbon yang terkandung dalam lahan gambut Indonesia. Padahal, umur cadangan karbon di lahan gambut ini dapat mencapai antara 3.000 hingga 13.000 tahun, tergantung pada lokasinya (Kurnianto et al., 2014). Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan emisi dari lahan gambut dapat memberikan kontribusi besar dalam mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, penelitian tentang faktor emisi (EF) akibat pembasahan ulang lahan gambut sangat penting. Implementasi Penelitian ini merupakan hasil kerjasama antara Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB dengan Divisi Hidrometeorologi sebagai pelaksana kegiatan. Penelitian ini bertujuan untuk: Hasil dan Dampak Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting, di antaranya: Tantangan dan Pembelajaran Penelitian ini memerlukan pengamatan langsung di lapangan, dan lokasi penelitian yang berada di area terpencil menambah tantangan dalam pengambilan sampel karena aksesibilitas yang terbatas. Selain itu, keterbatasan peralatan pengambilan sampel juga menjadi hambatan, sehingga perlu diperluas area pengambilan sampel untuk meningkatkan cakupan penelitian. Replikabilitas Metode yang digunakan dalam penelitian ini sudah sesuai dengan prosedur penelitian ilmiah yang baku. Dengan demikian, metode yang sama dapat diterapkan di wilayah lain, dengan mempertimbangkan kondisi spesifik wilayah tersebut serta parameter permukaan lainnya yang relevan. Tahun Kegiatan: 2019 Lokasi Kegiatan: Provinsi Jambi\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-06-04T04:28:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-11-18T04:32:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/reduksiemisi2.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"484\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"363\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang\",\"datePublished\":\"2020-06-04T04:28:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-11-18T04:32:43+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071\"},\"wordCount\":464,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/reduksiemisi2.jpg\",\"articleSection\":[\"Sdgs Geomet\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071\",\"name\":\"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/reduksiemisi2.jpg\",\"datePublished\":\"2020-06-04T04:28:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-11-18T04:32:43+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/reduksiemisi2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/11\\\/reduksiemisi2.jpg\",\"width\":484,\"height\":363},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=5071#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Latar Belakang dan Deskripsi Program Lahan gambut adalah ekosistem yang sangat khas karena selalu dalam kondisi basah atau tergenang dan menyimpan jumlah bahan organik yang sangat besar dari sisa vegetasi. Karena kondisi anaerobik yang menghambat dekomposisi bahan organik, lahan gambut berfungsi sebagai penyimpanan karbon dan air yang besar di permukaan bumi. Indonesia memiliki lebih dari 20 juta hektar lahan gambut yang menyimpan setidaknya 55 milyar ton karbon (Jeanicke et al., 2008), yang setara dengan 202 milyar ton CO2. Dengan asumsi bahwa emisi sektor lahan Indonesia mencapai 672 juta ton per tahun (MOEF, 2016), dibutuhkan sekitar 82 tahun untuk mengemisikan seluruh karbon yang terkandung dalam lahan gambut Indonesia. Padahal, umur cadangan karbon di lahan gambut ini dapat mencapai antara 3.000 hingga 13.000 tahun, tergantung pada lokasinya (Kurnianto et al., 2014). Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan emisi dari lahan gambut dapat memberikan kontribusi besar dalam mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, penelitian tentang faktor emisi (EF) akibat pembasahan ulang lahan gambut sangat penting. Implementasi Penelitian ini merupakan hasil kerjasama antara Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB dengan Divisi Hidrometeorologi sebagai pelaksana kegiatan. Penelitian ini bertujuan untuk: Hasil dan Dampak Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting, di antaranya: Tantangan dan Pembelajaran Penelitian ini memerlukan pengamatan langsung di lapangan, dan lokasi penelitian yang berada di area terpencil menambah tantangan dalam pengambilan sampel karena aksesibilitas yang terbatas. Selain itu, keterbatasan peralatan pengambilan sampel juga menjadi hambatan, sehingga perlu diperluas area pengambilan sampel untuk meningkatkan cakupan penelitian. Replikabilitas Metode yang digunakan dalam penelitian ini sudah sesuai dengan prosedur penelitian ilmiah yang baku. Dengan demikian, metode yang sama dapat diterapkan di wilayah lain, dengan mempertimbangkan kondisi spesifik wilayah tersebut serta parameter permukaan lainnya yang relevan. Tahun Kegiatan: 2019 Lokasi Kegiatan: Provinsi Jambi","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2020-06-04T04:28:00+00:00","article_modified_time":"2024-11-18T04:32:43+00:00","og_image":[{"width":484,"height":363,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/reduksiemisi2.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang","datePublished":"2020-06-04T04:28:00+00:00","dateModified":"2024-11-18T04:32:43+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071"},"wordCount":464,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/reduksiemisi2.jpg","articleSection":["Sdgs Geomet"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071","name":"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/reduksiemisi2.jpg","datePublished":"2020-06-04T04:28:00+00:00","dateModified":"2024-11-18T04:32:43+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/reduksiemisi2.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/reduksiemisi2.jpg","width":484,"height":363},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5071#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Penentuan Reduksi Emisi lahan gambut setelah mengalami pembasahan-ulang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":15,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/reduksiemisi2.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":6405,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6405","url_meta":{"origin":5071,"position":0},"title":"Mitigasi Kebakaran Lahan Gambut, Prof. Muh Taufik Kembangkan Pendekatan Ekohidrologi","author":"FMIPA","date":"13\/11\/2025","format":false,"excerpt":"IPB University kembali menghadirkan solusi dalam mitigasi kebakaran lahan gambut melalui pendekatan ekohidrologi. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof Muh Taufik, mengembangkan sistem deteksi dini kebakaran berbasis Peat Fire Vulnerability Index (PFVI) yang mampu memprediksi kerentanan hingga 14 hari ke depan. Prof Taufik menjelaskan bahwa sistem\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":5065,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5065","url_meta":{"origin":5071,"position":1},"title":"Impacts of peatlands rewetting on greenhouse gas emissions in Riau Province","author":"FMIPA","date":"09\/06\/2020","format":false,"excerpt":"Latar Belakang dan Deskripsi Program Kegiatan penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan merupakan kontributor terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Di antara kegiatan ini, sebagian besar dilakukan di kawasan dengan cadangan karbon tinggi, seperti ekosistem lahan gambut. Untuk mengambil langkah-langkah mendesak dalam menghadapi perubahan iklim dan dampaknya, Departemen\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Geomet&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Geomet","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=46"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/impact_peatlands.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/impact_peatlands.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/impact_peatlands.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x"},"classes":[]},{"id":4273,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4273","url_meta":{"origin":5071,"position":2},"title":"Dua Dosen FMIPA IPB University Bahas Ekohidrologi dalam Mendukung Ekonomi Hijau dari Sisi Sains dan Kajian Islam","author":"Support FMIPA","date":"21\/02\/2023","format":false,"excerpt":"Ekonomi hijau merupakan konsep ekonomi berkelanjutan yang berfokus kepada lingkungan. Ekonomi hijau terus didorong oleh Pemerintah Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak. Di dalamnya, aspek ekohidrologi juga tidak bisa diabaikan. Membahas hal ini dari sisi sains dan kajian Islam, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar acara TerCerahkan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4084,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4084","url_meta":{"origin":5071,"position":3},"title":"Prof. Dr. Ir. Daniel Murdiyarso, M.S. Mendapatkan Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Helsinki, Finlandia","author":"Support FMIPA","date":"20\/06\/2022","format":false,"excerpt":"Prof. Dr. Ir. Daniel Murdiyarso, M.S., Profesor Meteorologi Hutan pada Institut Pertanian Bogor (IPB) mendapatkan gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Helsinki, Finlandia pada tanggal 17 Juni 2022. Prof Daniel merupakan satu-satunya penerima gelar kehormatan yang dipilih dari Indonesia dan merupakan satu dari 30 orang lainnya dari berbagai\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":6416,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416","url_meta":{"origin":5071,"position":4},"title":"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya","author":"FMIPA","date":"19\/11\/2025","format":false,"excerpt":"Belakangan ini, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia mengeluhkan suhu udara yang terasa semakin panas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab di balik peningkatan suhu tersebut dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari maupun kondisi lingkungan. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, fenomena ini berkaitan dengan proses\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":4014,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4014","url_meta":{"origin":5071,"position":5},"title":"Prof. Dr. Akhiruddin Maddu Ubah Biomassa Jadi Material Maju untuk Deteksi Kanker Hingga Teknologi Siluman","author":"Support FMIPA","date":"16\/03\/2022","format":false,"excerpt":"Biomassa adalah material berasal dari tumbuhan atau hewan. Biomassa mengandung berbagai jenis unsur atau senyawa yang membangun fungsi keseluruhan dari tumbuhan dan hewan. Potensi limbah biomassa menjadi material dan produk fungsional sangat menjanjikan. Melalui pendekatan nanoteknologi, eksplorasi biomassa dapat menghasilkan material maju dengan karakteristik dan fungsi yang baru sehingga dapat\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5071","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5071"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5071\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5073,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5071\/revisions\/5073"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5072"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5071"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5071"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5071"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}