{"id":6332,"date":"2025-07-28T09:06:55","date_gmt":"2025-07-28T02:06:55","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332"},"modified":"2025-07-28T09:06:56","modified_gmt":"2025-07-28T02:06:56","slug":"ahli-biologi-ipb-university-gali-keunikan-sarang-semut-flora-khas-penghuni-hutan-tropis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332","title":{"rendered":"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis"},"content":{"rendered":"\n<p>Tumbuhan sarang semut bukan sekadar flora unik yang dikenal karena keberadaannya yang bersimbiosis dengan semut. Lebih dari itu, tumbuhan ini memiliki peranan dalam keseimbangan ekosistem hutan tropis. Hal ini disampaikan oleh dosen Biologi IPB University, Dr Nunik Sri Ariyanti, dalam penjelasannya mengenai taksonomi dan ekologi tumbuhan sarang semut<\/p>\n\n\n\n<p>Dr Nunik menjelaskan bahwa tumbuhan sarang semut, yang terdiri atas beberapa genus dan banyak spesies, secara taksonomi termasuk dalam famili Rubiaceae. Dua genus yang paling dikenal adalah Myrmecodia dan Hydnophytum. \u201cDua spesies Myrmecodia yang pernah kami inventarisasi dari Kabupaten Fak Fak, Papua Barat adalah M jobiensis dan M platytyrea,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, tim peneliti IPB University juga berhasil mengumpulkan beberapa spesimen herbarium dari genus Hydnophytum, meskipun identifikasi spesiesnya masih terkendala. \u201cKami belum dapat mengidentifikasi hingga nama spesies karena keterbatasan spesimen,\u201d tambah Dr Nunik.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti namanya, tumbuhan ini dijuluki demikian karena adanya hubungan simbiosis mutualistik dengan semut. \u201cTumbuhan sarang semut sering dikelompokkan ke dalam kategori myrmecophytes, meski ini bukan pengelompokan taksonomi,\u201d jelasnya. Ia merujuk pada penelitian-penelitian penting di bidang ini, seperti Huxley (1978) serta Huxley dan Jebb (1991, 1993), yang membahas morfologi, fisiologi, dan hubungan ekologi antara tumbuhan Rubiaceae tuberous dan koloni semut penghuni.<\/p>\n\n\n\n<p>Dr Nunik mengatakan bahwa hubungan mutualistik ini memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Tumbuhan sarang semut telah berevolusi membentuk struktur khusus yang berfungsi sebagai tempat tinggal, bahkan sumber makanan, bagi semut. Sebagai imbalannya, semut melindungi tumbuhan dari herbivora dan bahkan berkontribusi dalam penyediaan nutrisi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemut sendiri merupakan komponen penting dalam ekosistem, terutama di hutan tropis. Mereka berperan dalam penyerbukan, penyebaran biji, perlindungan, hingga daur ulang limbah organik,\u201d ujarnya. Kehadiran tumbuhan sarang semut dan semut sebagai mitra ekologis menciptakan jalinan interaksi kompleks yang menjaga keberlanjutan ekosistem.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, Dr Nunik mengingatkan bahwa keberadaan tumbuhan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama struktur hutan tempat mereka tumbuh. \u201cSeperti tumbuhan epifit lainnya, sarang semut sangat bergantung pada tumbuhan inangnya. Gangguan terhadap struktur hutan akan sangat memengaruhi kelangsungan hidupnya,\u201d jelas dia.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga mengatakan bahwa spesies tumbuhan sarang semut banyak ditemukan di hutan mangrove. Oleh karena itu, kerusakan habitat seperti hutan mangrove dapat menjadi ancaman serius bagi kelestarian tumbuhan tersebut. \u201cJika hutan mangrove rusak, saya kira ini akan mengancam kelestarian tumbuhan sarang semut secara langsung,\u201d ucapnya. (dr)<br><br>Source : <a href=\"https:\/\/www.ipb.ac.id\/news\/index\/2025\/07\/ahli-biologi-ipb-university-gali-keunikan-sarang-semut-flora-khas-penghuni-hutan-tropis\/\">ipb.ac.id<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tumbuhan sarang semut bukan sekadar flora unik yang dikenal karena keberadaannya yang bersimbiosis dengan semut. Lebih dari itu, tumbuhan ini memiliki peranan dalam keseimbangan ekosistem hutan tropis. Hal ini disampaikan oleh dosen Biologi IPB University, Dr Nunik Sri Ariyanti, dalam penjelasannya mengenai taksonomi dan ekologi tumbuhan sarang semut Dr Nunik menjelaskan bahwa tumbuhan sarang semut, yang terdiri atas beberapa genus dan banyak spesies, secara taksonomi termasuk dalam famili Rubiaceae. Dua genus yang paling dikenal adalah Myrmecodia dan Hydnophytum. \u201cDua spesies Myrmecodia yang pernah kami inventarisasi dari Kabupaten Fak Fak, Papua Barat adalah M jobiensis dan M platytyrea,\u201d ungkapnya. Selain itu, tim peneliti IPB University juga berhasil mengumpulkan beberapa spesimen herbarium dari genus Hydnophytum, meskipun identifikasi spesiesnya masih terkendala. \u201cKami belum dapat mengidentifikasi hingga nama spesies karena keterbatasan spesimen,\u201d tambah Dr Nunik. Seperti namanya, tumbuhan ini dijuluki demikian karena adanya hubungan simbiosis mutualistik dengan semut. \u201cTumbuhan sarang semut sering dikelompokkan ke dalam kategori myrmecophytes, meski ini bukan pengelompokan taksonomi,\u201d jelasnya. Ia merujuk pada penelitian-penelitian penting di bidang ini, seperti Huxley (1978) serta Huxley dan Jebb (1991, 1993), yang membahas morfologi, fisiologi, dan hubungan ekologi antara tumbuhan Rubiaceae tuberous dan koloni semut penghuni. Dr Nunik mengatakan bahwa hubungan mutualistik ini memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Tumbuhan sarang semut telah berevolusi membentuk struktur khusus yang berfungsi sebagai tempat tinggal, bahkan sumber makanan, bagi semut. Sebagai imbalannya, semut melindungi tumbuhan dari herbivora dan bahkan berkontribusi dalam penyediaan nutrisi. \u201cSemut sendiri merupakan komponen penting dalam ekosistem, terutama di hutan tropis. Mereka berperan dalam penyerbukan, penyebaran biji, perlindungan, hingga daur ulang limbah organik,\u201d ujarnya. Kehadiran tumbuhan sarang semut dan semut sebagai mitra ekologis menciptakan jalinan interaksi kompleks yang menjaga keberlanjutan ekosistem. Namun demikian, Dr Nunik mengingatkan bahwa keberadaan tumbuhan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama struktur hutan tempat mereka tumbuh. \u201cSeperti tumbuhan epifit lainnya, sarang semut sangat bergantung pada tumbuhan inangnya. Gangguan terhadap struktur hutan akan sangat memengaruhi kelangsungan hidupnya,\u201d jelas dia. Ia juga mengatakan bahwa spesies tumbuhan sarang semut banyak ditemukan di hutan mangrove. Oleh karena itu, kerusakan habitat seperti hutan mangrove dapat menjadi ancaman serius bagi kelestarian tumbuhan tersebut. \u201cJika hutan mangrove rusak, saya kira ini akan mengancam kelestarian tumbuhan sarang semut secara langsung,\u201d ucapnya. (dr) Source : ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6334,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26,35,45,95],"tags":[],"class_list":["post-6332","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-biologi","category-sdgs-biologi","category-sustainability"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.2 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tumbuhan sarang semut bukan sekadar flora unik yang dikenal karena keberadaannya yang bersimbiosis dengan semut. Lebih dari itu, tumbuhan ini memiliki peranan dalam keseimbangan ekosistem hutan tropis. Hal ini disampaikan oleh dosen Biologi IPB University, Dr Nunik Sri Ariyanti, dalam penjelasannya mengenai taksonomi dan ekologi tumbuhan sarang semut Dr Nunik menjelaskan bahwa tumbuhan sarang semut, yang terdiri atas beberapa genus dan banyak spesies, secara taksonomi termasuk dalam famili Rubiaceae. Dua genus yang paling dikenal adalah Myrmecodia dan Hydnophytum. \u201cDua spesies Myrmecodia yang pernah kami inventarisasi dari Kabupaten Fak Fak, Papua Barat adalah M jobiensis dan M platytyrea,\u201d ungkapnya. Selain itu, tim peneliti IPB University juga berhasil mengumpulkan beberapa spesimen herbarium dari genus Hydnophytum, meskipun identifikasi spesiesnya masih terkendala. \u201cKami belum dapat mengidentifikasi hingga nama spesies karena keterbatasan spesimen,\u201d tambah Dr Nunik. Seperti namanya, tumbuhan ini dijuluki demikian karena adanya hubungan simbiosis mutualistik dengan semut. \u201cTumbuhan sarang semut sering dikelompokkan ke dalam kategori myrmecophytes, meski ini bukan pengelompokan taksonomi,\u201d jelasnya. Ia merujuk pada penelitian-penelitian penting di bidang ini, seperti Huxley (1978) serta Huxley dan Jebb (1991, 1993), yang membahas morfologi, fisiologi, dan hubungan ekologi antara tumbuhan Rubiaceae tuberous dan koloni semut penghuni. Dr Nunik mengatakan bahwa hubungan mutualistik ini memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Tumbuhan sarang semut telah berevolusi membentuk struktur khusus yang berfungsi sebagai tempat tinggal, bahkan sumber makanan, bagi semut. Sebagai imbalannya, semut melindungi tumbuhan dari herbivora dan bahkan berkontribusi dalam penyediaan nutrisi. \u201cSemut sendiri merupakan komponen penting dalam ekosistem, terutama di hutan tropis. Mereka berperan dalam penyerbukan, penyebaran biji, perlindungan, hingga daur ulang limbah organik,\u201d ujarnya. Kehadiran tumbuhan sarang semut dan semut sebagai mitra ekologis menciptakan jalinan interaksi kompleks yang menjaga keberlanjutan ekosistem. Namun demikian, Dr Nunik mengingatkan bahwa keberadaan tumbuhan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama struktur hutan tempat mereka tumbuh. \u201cSeperti tumbuhan epifit lainnya, sarang semut sangat bergantung pada tumbuhan inangnya. Gangguan terhadap struktur hutan akan sangat memengaruhi kelangsungan hidupnya,\u201d jelas dia. Ia juga mengatakan bahwa spesies tumbuhan sarang semut banyak ditemukan di hutan mangrove. Oleh karena itu, kerusakan habitat seperti hutan mangrove dapat menjadi ancaman serius bagi kelestarian tumbuhan tersebut. \u201cJika hutan mangrove rusak, saya kira ini akan mengancam kelestarian tumbuhan sarang semut secara langsung,\u201d ucapnya. (dr) Source : ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-28T02:06:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-28T02:06:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1281\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis\",\"datePublished\":\"2025-07-28T02:06:55+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-28T02:06:56+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332\"},\"wordCount\":377,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Biologi\",\"Sdgs Biologi\",\"Sustainability\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332\",\"name\":\"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg\",\"datePublished\":\"2025-07-28T02:06:55+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-28T02:06:56+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg\",\"width\":1281,\"height\":721},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Tumbuhan sarang semut bukan sekadar flora unik yang dikenal karena keberadaannya yang bersimbiosis dengan semut. Lebih dari itu, tumbuhan ini memiliki peranan dalam keseimbangan ekosistem hutan tropis. Hal ini disampaikan oleh dosen Biologi IPB University, Dr Nunik Sri Ariyanti, dalam penjelasannya mengenai taksonomi dan ekologi tumbuhan sarang semut Dr Nunik menjelaskan bahwa tumbuhan sarang semut, yang terdiri atas beberapa genus dan banyak spesies, secara taksonomi termasuk dalam famili Rubiaceae. Dua genus yang paling dikenal adalah Myrmecodia dan Hydnophytum. \u201cDua spesies Myrmecodia yang pernah kami inventarisasi dari Kabupaten Fak Fak, Papua Barat adalah M jobiensis dan M platytyrea,\u201d ungkapnya. Selain itu, tim peneliti IPB University juga berhasil mengumpulkan beberapa spesimen herbarium dari genus Hydnophytum, meskipun identifikasi spesiesnya masih terkendala. \u201cKami belum dapat mengidentifikasi hingga nama spesies karena keterbatasan spesimen,\u201d tambah Dr Nunik. Seperti namanya, tumbuhan ini dijuluki demikian karena adanya hubungan simbiosis mutualistik dengan semut. \u201cTumbuhan sarang semut sering dikelompokkan ke dalam kategori myrmecophytes, meski ini bukan pengelompokan taksonomi,\u201d jelasnya. Ia merujuk pada penelitian-penelitian penting di bidang ini, seperti Huxley (1978) serta Huxley dan Jebb (1991, 1993), yang membahas morfologi, fisiologi, dan hubungan ekologi antara tumbuhan Rubiaceae tuberous dan koloni semut penghuni. Dr Nunik mengatakan bahwa hubungan mutualistik ini memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Tumbuhan sarang semut telah berevolusi membentuk struktur khusus yang berfungsi sebagai tempat tinggal, bahkan sumber makanan, bagi semut. Sebagai imbalannya, semut melindungi tumbuhan dari herbivora dan bahkan berkontribusi dalam penyediaan nutrisi. \u201cSemut sendiri merupakan komponen penting dalam ekosistem, terutama di hutan tropis. Mereka berperan dalam penyerbukan, penyebaran biji, perlindungan, hingga daur ulang limbah organik,\u201d ujarnya. Kehadiran tumbuhan sarang semut dan semut sebagai mitra ekologis menciptakan jalinan interaksi kompleks yang menjaga keberlanjutan ekosistem. Namun demikian, Dr Nunik mengingatkan bahwa keberadaan tumbuhan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama struktur hutan tempat mereka tumbuh. \u201cSeperti tumbuhan epifit lainnya, sarang semut sangat bergantung pada tumbuhan inangnya. Gangguan terhadap struktur hutan akan sangat memengaruhi kelangsungan hidupnya,\u201d jelas dia. Ia juga mengatakan bahwa spesies tumbuhan sarang semut banyak ditemukan di hutan mangrove. Oleh karena itu, kerusakan habitat seperti hutan mangrove dapat menjadi ancaman serius bagi kelestarian tumbuhan tersebut. \u201cJika hutan mangrove rusak, saya kira ini akan mengancam kelestarian tumbuhan sarang semut secara langsung,\u201d ucapnya. (dr) Source : ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2025-07-28T02:06:55+00:00","article_modified_time":"2025-07-28T02:06:56+00:00","og_image":[{"width":1281,"height":721,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis","datePublished":"2025-07-28T02:06:55+00:00","dateModified":"2025-07-28T02:06:56+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332"},"wordCount":377,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg","articleSection":["Berita Utama","Biologi","Sdgs Biologi","Sustainability"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332","name":"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg","datePublished":"2025-07-28T02:06:55+00:00","dateModified":"2025-07-28T02:06:56+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg","width":1281,"height":721},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6332#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ahli Biologi IPB University Gali Keunikan Sarang Semut, Flora Khas Penghuni Hutan Tropis"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":11,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/juli.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":3958,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958","url_meta":{"origin":6332,"position":0},"title":"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan","author":"Support FMIPA","date":"16\/11\/2021","format":false,"excerpt":"Lebah memiliki peranan penting di dalam ekosistem lingkungan. Hilangnya serangga ini bahkan dapat mengancam keseimbangan ekosistem. Terkait hal ini, Dr Windra Priawandiputra, dosen IPB University dari Departemen Biologi berbagi pengetahuan tentang biologi lebah tanpa sengat atau kelulut. Ia menyebut, kelulut dapat menjadi dasar dalam budidaya lebah secara berkelanjutan dan sebagai\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4118,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4118","url_meta":{"origin":6332,"position":1},"title":"Dr Puji Rianti Ungkap Penelitian Evolusi Genetika Orangutan dalam Simposium Primatologi Internasional","author":"Support FMIPA","date":"14\/07\/2022","format":false,"excerpt":"Dr Puji Rianti, Dosen IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menjadi salah satu pembicara dalam acara Simposium Internasional, Women and Primatology, \u201cWhat Attracts Women into Science and Conservation on Non-Human Primates?\u201d Kegiatan ini digelar oleh Pusat Riset Primata Universitas Nasional, 7\/7. Sebuah kebanggaan menjadi\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4041,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4041","url_meta":{"origin":6332,"position":2},"title":"Dua Dosen Departemen Biologi FMIPA IPB Bahas Pendalaman Materi Biologi Bagi Para Guru SMA","author":"Support FMIPA","date":"31\/03\/2022","format":false,"excerpt":"Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), IPB University menggelar Webinar Nasional Pendalaman Biologi 2022 Seri ke-3 secara daring, (29\/03). Acara ini ditujukan bagi guru biologi dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) serta masyarakat umum. Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi dan pengabdian Departemen Biologi IPB University untuk selalu memberikan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3870,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3870","url_meta":{"origin":6332,"position":3},"title":"Ingin Jadi Ahli Biologi, Kuliah di IPB University Aja","author":"Support FMIPA","date":"19\/02\/2021","format":false,"excerpt":"Biologi menjadi salah satu ilmu dasar yang berperan penting dalam pengembangan sains dan teknologi dari masa ke masa. Di IPB University, secara khusus Biologi dipelajari dan dikembangkan di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Di departemen ini, biologi\u00a0 dikaji dari berbagai aspek biologi dasar dan aspek lain\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":5050,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5050","url_meta":{"origin":6332,"position":4},"title":"Departemen Biologi IPB, Resmikan 2 Stasiun Riset Lapang di Belitung","author":"FMIPA","date":"14\/11\/2019","format":false,"excerpt":"Sebagai bagian dari kerja sama antara Departemen Biologi, MCSTO IPB, dan Belitong Geopark, dua stasiun riset lapang resmi dibuka oleh Ketua Departemen Biologi. Peresmian Stasiun Hutan Kerangas Cendil berlangsung pada 24 Oktober 2019, dihadiri oleh Dr. Miftahudin, Ketua Departemen Biologi, bersama dengan Hirmas Fuady Putra, M.Si., Ketua MCSTO IPB. Peresmian\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Biologi&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Biologi","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=45"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=1400%2C800&ssl=1 4x"},"classes":[]},{"id":6400,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400","url_meta":{"origin":6332,"position":5},"title":"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan","author":"FMIPA","date":"16\/10\/2025","format":false,"excerpt":"Kasus meninggalnya seorang nenek di Bantul akibat disengat kawanan serangga yang diduga tawon gung menyita perhatian publik. Menanggapi hal ini, Pakar Serangga IPB University, Prof Tri Atmowidi, meluruskan informasi tersebut sekaligus mengedukasi masyarakat terkait penanganan yang tepat saat terjadi sengatan. Bukan Tawon GungMenurut Prof Tri, istilah tawon gung yang beredar\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6332","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6332"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6332\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6335,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6332\/revisions\/6335"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6334"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6332"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6332"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6332"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}