{"id":6352,"date":"2025-08-27T07:59:01","date_gmt":"2025-08-27T00:59:01","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352"},"modified":"2025-08-27T09:15:12","modified_gmt":"2025-08-27T02:15:12","slug":"nvidia-sebut-fisika-jadi-fondasi-ai-guru-besar-ipb-university-80-persen-teknologi-modern-lahir-dari-teori-kuantum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352","title":{"rendered":"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum"},"content":{"rendered":"\n<p>Teori kuantum telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern yang manusia gunakan saat ini, termasuk <em>smartphone <\/em>dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Fakta ini diungkap Guru Besar Fisika Teori IPB University, Prof Husin Alatas, sebagai respons terhadap pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang tentang pentingnya fisika di era kecerdasan buatan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDalam kurun waktu seratus tahun belakangan, teori kuantum telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern,\u201d ungkap Prof Husin. Smartphone yang kita genggam setiap hari ditenagai prosesor yang dibangun dari unit-unit transistor berukuran kurang dari 10 nanometer\u2014teknologi yang hanya mungkin ada berkat pemahaman fisika kuantum.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kemampuan Intuisi-Imajinasi<br><\/strong>Sedikit berbeda dengan cabang sains lainnya yang bersandarkan pada tiga kemampuan: mengamati dan mengukur, melakukan analisa matematis, dan berpijak pada rasionalitas; fisika juga memiliki sandaran lain, yaitu mengandalkan ketajaman intuisi-imajinasi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIntuisi-imajinasi inilah yang membuat fisika memiliki kemampuan melahirkan banyak terobosan teknologi yang mewarnai peradaban belakangan ini,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof Husin menjelaskan bahwa fisika merupakan salah satu disiplin sains yang cakupannya mulai dari skala mikroskopik, mesoskopik hingga makroskopik. Ranah kajiannya mulai dari partikel elementer berukuran satu meter dibagi satu miliar miliar hingga alam semesta yang berukuran seratus triliun triliun meter.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Teori Relativitas dan Teori Kuantum<br><\/strong>Prof Husin menyebut dua contoh ekstrem, yaitu teori relativitas dan teori kuantum. Keduanya teori yang berkaitan dengan skala mikroskopik dan makroskopik, berturut-turut, menangani objek-objek yang sejatinya berada di luar kemampuan indera manusia untuk mengamatinya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cElektron dan galaksi adalah dua objek yang tentunya tidak dapat diamati secara langsung. Berbeda dengan misalnya makhluk-makhluk hidup yang menjadi objek bagi disiplin biologi, misalnya,\u201d tutur pengampu mata kuliah Teori Relativitas dan Fisika Kuantum Lanjut pada Program Studi S1 Fisika IPB University.<\/p>\n\n\n\n<p>Teori relativitas mengkaji berbagai fenomena alam yang unik. Teori ini mempelajari benda-benda yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, mendekati kecepatan cahaya. Selain itu, teori ini juga membahas objek yang memiliki massa sangat besar, seperti planet dan bintang.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Prof Husin, teori relativitas dibangun berdasarkan dua asumsi. Pertama, kecepatan cahaya di ruang hampa adalah konstanta alam semesta. Artinya, kecepatan cahaya selalu sama bagi semua pengamat, tidak peduli seberapa cepat mereka bergerak.<\/p>\n\n\n\n<p>Asumsi kedua lebih kompleks. Prof Husin menjelaskan bahwa pengamat yang berada pada kerangka acuan non-inersial (mengalami percepatan) tidak dapat membedakan apakah dirinya sedang dipercepat atau berada dalam medan gravitasi yang kuat. Dengan kata lain, efek percepatan dan gravitasi memberikan sensasi yang sama bagi pengamat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAsumsi-asumsi tersebut dalam kaitannya dengan aplikasi saat ini telah menjadi dasar dari beberapa teknologi seperti Global Positioning System (GPS), Positron-Electron Emission Tomography (PET) dan juga teknologi nuklir,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di pihak lain, teori kuantum yang didasari atas beberapa asumsi yang dibangun secara imajinatif dan berlawanan dengan pengalaman sehari-hari manusia. Dalam kurun waktu seratus tahun belakangan, teori ini telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern, salah satunya smartphone.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cProsesor <em>smartphone <\/em>dibangun dari unit transistor berukuran kurang dari 10 nanometer. Pada ukuran ini, kelakuan elektron yang mengalir di dalamnya diprediksi dengan sangat baik oleh teori kuantum,\u201d imbuh Prof Husin.<\/p>\n\n\n\n<p>Keunikan lainnya, teori kuantum juga menjelaskan bahwa sebuah elektron ataupun foton (partikel cahaya) dapat memiliki sekaligus sifat gelombang dan partikel.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPenjelasan intuitif-imajinatif yang diberikan teori kuantum ini telah membuka peluang yang amat luas bagi pemanfaatannya, termasuk dalam perancangan cip semikonduktor yang berukuran nanometer tersebut,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan kemampuan intuitif-imajinatif inilah, sebut Prof Husin, pernyataan dari Jensen Huang dapat dipahami. Fisika menawarkan peluang kreativitas yang hampir tak terbatas bagi perkembangan teknologi, dan menjadi dasar bagi kelahiran teknologi-teknologi baru yang bersifat disruptif.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemua tercermin dari berbagai macam teknologi yang seratus tahun lalu tidak terbayangkan, tetapi terbukti dapat diwujudkan. Termasuk memberikan peluang bagi lahirnya teknologi kecerdasan buatan yang berpotensi membuat disiplin lain menjadi kurang dibutuhkan lagi kehadirannya,\u201d tutupnya. (dr)<\/p>\n\n\n\n<p>Source : <a href=\"https:\/\/www.ipb.ac.id\/news\/index\/2025\/08\/nvidia-sebut-fisika-jadi-fondasi-ai-guru-besar-ipb-university-80-persen-teknologi-modern-lahir-dari-teori-kuantum\/\">www.ipb.ac.id<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teori kuantum telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern yang manusia gunakan saat ini, termasuk smartphone dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Fakta ini diungkap Guru Besar Fisika Teori IPB University, Prof Husin Alatas, sebagai respons terhadap pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang tentang pentingnya fisika di era kecerdasan buatan. \u201cDalam kurun waktu seratus tahun belakangan, teori kuantum telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern,\u201d ungkap Prof Husin. Smartphone yang kita genggam setiap hari ditenagai prosesor yang dibangun dari unit-unit transistor berukuran kurang dari 10 nanometer\u2014teknologi yang hanya mungkin ada berkat pemahaman fisika kuantum. Kemampuan Intuisi-ImajinasiSedikit berbeda dengan cabang sains lainnya yang bersandarkan pada tiga kemampuan: mengamati dan mengukur, melakukan analisa matematis, dan berpijak pada rasionalitas; fisika juga memiliki sandaran lain, yaitu mengandalkan ketajaman intuisi-imajinasi. \u201cIntuisi-imajinasi inilah yang membuat fisika memiliki kemampuan melahirkan banyak terobosan teknologi yang mewarnai peradaban belakangan ini,\u201d ucapnya. Prof Husin menjelaskan bahwa fisika merupakan salah satu disiplin sains yang cakupannya mulai dari skala mikroskopik, mesoskopik hingga makroskopik. Ranah kajiannya mulai dari partikel elementer berukuran satu meter dibagi satu miliar miliar hingga alam semesta yang berukuran seratus triliun triliun meter. Teori Relativitas dan Teori KuantumProf Husin menyebut dua contoh ekstrem, yaitu teori relativitas dan teori kuantum. Keduanya teori yang berkaitan dengan skala mikroskopik dan makroskopik, berturut-turut, menangani objek-objek yang sejatinya berada di luar kemampuan indera manusia untuk mengamatinya.&nbsp; \u201cElektron dan galaksi adalah dua objek yang tentunya tidak dapat diamati secara langsung. Berbeda dengan misalnya makhluk-makhluk hidup yang menjadi objek bagi disiplin biologi, misalnya,\u201d tutur pengampu mata kuliah Teori Relativitas dan Fisika Kuantum Lanjut pada Program Studi S1 Fisika IPB University. Teori relativitas mengkaji berbagai fenomena alam yang unik. Teori ini mempelajari benda-benda yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, mendekati kecepatan cahaya. Selain itu, teori ini juga membahas objek yang memiliki massa sangat besar, seperti planet dan bintang. Menurut Prof Husin, teori relativitas dibangun berdasarkan dua asumsi. Pertama, kecepatan cahaya di ruang hampa adalah konstanta alam semesta. Artinya, kecepatan cahaya selalu sama bagi semua pengamat, tidak peduli seberapa cepat mereka bergerak. Asumsi kedua lebih kompleks. Prof Husin menjelaskan bahwa pengamat yang berada pada kerangka acuan non-inersial (mengalami percepatan) tidak dapat membedakan apakah dirinya sedang dipercepat atau berada dalam medan gravitasi yang kuat. Dengan kata lain, efek percepatan dan gravitasi memberikan sensasi yang sama bagi pengamat. \u201cAsumsi-asumsi tersebut dalam kaitannya dengan aplikasi saat ini telah menjadi dasar dari beberapa teknologi seperti Global Positioning System (GPS), Positron-Electron Emission Tomography (PET) dan juga teknologi nuklir,\u201d ucapnya. Di pihak lain, teori kuantum yang didasari atas beberapa asumsi yang dibangun secara imajinatif dan berlawanan dengan pengalaman sehari-hari manusia. Dalam kurun waktu seratus tahun belakangan, teori ini telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern, salah satunya smartphone. \u201cProsesor smartphone dibangun dari unit transistor berukuran kurang dari 10 nanometer. Pada ukuran ini, kelakuan elektron yang mengalir di dalamnya diprediksi dengan sangat baik oleh teori kuantum,\u201d imbuh Prof Husin. Keunikan lainnya, teori kuantum juga menjelaskan bahwa sebuah elektron ataupun foton (partikel cahaya) dapat memiliki sekaligus sifat gelombang dan partikel. \u201cPenjelasan intuitif-imajinatif yang diberikan teori kuantum ini telah membuka peluang yang amat luas bagi pemanfaatannya, termasuk dalam perancangan cip semikonduktor yang berukuran nanometer tersebut,\u201d ucapnya. Berdasarkan kemampuan intuitif-imajinatif inilah, sebut Prof Husin, pernyataan dari Jensen Huang dapat dipahami. Fisika menawarkan peluang kreativitas yang hampir tak terbatas bagi perkembangan teknologi, dan menjadi dasar bagi kelahiran teknologi-teknologi baru yang bersifat disruptif.&nbsp; \u201cSemua tercermin dari berbagai macam teknologi yang seratus tahun lalu tidak terbayangkan, tetapi terbukti dapat diwujudkan. Termasuk memberikan peluang bagi lahirnya teknologi kecerdasan buatan yang berpotensi membuat disiplin lain menjadi kurang dibutuhkan lagi kehadirannya,\u201d tutupnya. (dr) Source : www.ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6354,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26,36,96,95],"tags":[],"class_list":["post-6352","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-fisika","category-sdgs-fisika","category-sustainability"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Teori kuantum telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern yang manusia gunakan saat ini, termasuk smartphone dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Fakta ini diungkap Guru Besar Fisika Teori IPB University, Prof Husin Alatas, sebagai respons terhadap pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang tentang pentingnya fisika di era kecerdasan buatan. \u201cDalam kurun waktu seratus tahun belakangan, teori kuantum telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern,\u201d ungkap Prof Husin. Smartphone yang kita genggam setiap hari ditenagai prosesor yang dibangun dari unit-unit transistor berukuran kurang dari 10 nanometer\u2014teknologi yang hanya mungkin ada berkat pemahaman fisika kuantum. Kemampuan Intuisi-ImajinasiSedikit berbeda dengan cabang sains lainnya yang bersandarkan pada tiga kemampuan: mengamati dan mengukur, melakukan analisa matematis, dan berpijak pada rasionalitas; fisika juga memiliki sandaran lain, yaitu mengandalkan ketajaman intuisi-imajinasi. \u201cIntuisi-imajinasi inilah yang membuat fisika memiliki kemampuan melahirkan banyak terobosan teknologi yang mewarnai peradaban belakangan ini,\u201d ucapnya. Prof Husin menjelaskan bahwa fisika merupakan salah satu disiplin sains yang cakupannya mulai dari skala mikroskopik, mesoskopik hingga makroskopik. Ranah kajiannya mulai dari partikel elementer berukuran satu meter dibagi satu miliar miliar hingga alam semesta yang berukuran seratus triliun triliun meter. Teori Relativitas dan Teori KuantumProf Husin menyebut dua contoh ekstrem, yaitu teori relativitas dan teori kuantum. Keduanya teori yang berkaitan dengan skala mikroskopik dan makroskopik, berturut-turut, menangani objek-objek yang sejatinya berada di luar kemampuan indera manusia untuk mengamatinya.&nbsp; \u201cElektron dan galaksi adalah dua objek yang tentunya tidak dapat diamati secara langsung. Berbeda dengan misalnya makhluk-makhluk hidup yang menjadi objek bagi disiplin biologi, misalnya,\u201d tutur pengampu mata kuliah Teori Relativitas dan Fisika Kuantum Lanjut pada Program Studi S1 Fisika IPB University. Teori relativitas mengkaji berbagai fenomena alam yang unik. Teori ini mempelajari benda-benda yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, mendekati kecepatan cahaya. Selain itu, teori ini juga membahas objek yang memiliki massa sangat besar, seperti planet dan bintang. Menurut Prof Husin, teori relativitas dibangun berdasarkan dua asumsi. Pertama, kecepatan cahaya di ruang hampa adalah konstanta alam semesta. Artinya, kecepatan cahaya selalu sama bagi semua pengamat, tidak peduli seberapa cepat mereka bergerak. Asumsi kedua lebih kompleks. Prof Husin menjelaskan bahwa pengamat yang berada pada kerangka acuan non-inersial (mengalami percepatan) tidak dapat membedakan apakah dirinya sedang dipercepat atau berada dalam medan gravitasi yang kuat. Dengan kata lain, efek percepatan dan gravitasi memberikan sensasi yang sama bagi pengamat. \u201cAsumsi-asumsi tersebut dalam kaitannya dengan aplikasi saat ini telah menjadi dasar dari beberapa teknologi seperti Global Positioning System (GPS), Positron-Electron Emission Tomography (PET) dan juga teknologi nuklir,\u201d ucapnya. Di pihak lain, teori kuantum yang didasari atas beberapa asumsi yang dibangun secara imajinatif dan berlawanan dengan pengalaman sehari-hari manusia. Dalam kurun waktu seratus tahun belakangan, teori ini telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern, salah satunya smartphone. \u201cProsesor smartphone dibangun dari unit transistor berukuran kurang dari 10 nanometer. Pada ukuran ini, kelakuan elektron yang mengalir di dalamnya diprediksi dengan sangat baik oleh teori kuantum,\u201d imbuh Prof Husin. Keunikan lainnya, teori kuantum juga menjelaskan bahwa sebuah elektron ataupun foton (partikel cahaya) dapat memiliki sekaligus sifat gelombang dan partikel. \u201cPenjelasan intuitif-imajinatif yang diberikan teori kuantum ini telah membuka peluang yang amat luas bagi pemanfaatannya, termasuk dalam perancangan cip semikonduktor yang berukuran nanometer tersebut,\u201d ucapnya. Berdasarkan kemampuan intuitif-imajinatif inilah, sebut Prof Husin, pernyataan dari Jensen Huang dapat dipahami. Fisika menawarkan peluang kreativitas yang hampir tak terbatas bagi perkembangan teknologi, dan menjadi dasar bagi kelahiran teknologi-teknologi baru yang bersifat disruptif.&nbsp; \u201cSemua tercermin dari berbagai macam teknologi yang seratus tahun lalu tidak terbayangkan, tetapi terbukti dapat diwujudkan. Termasuk memberikan peluang bagi lahirnya teknologi kecerdasan buatan yang berpotensi membuat disiplin lain menjadi kurang dibutuhkan lagi kehadirannya,\u201d tutupnya. (dr) Source : www.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-08-27T00:59:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-27T02:15:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1281\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum\",\"datePublished\":\"2025-08-27T00:59:01+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-27T02:15:12+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352\"},\"wordCount\":608,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/prof-Husein.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Fisika\",\"Sdgs Fisika\",\"Sustainability\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352\",\"name\":\"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/prof-Husein.jpg\",\"datePublished\":\"2025-08-27T00:59:01+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-27T02:15:12+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/prof-Husein.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/08\\\/prof-Husein.jpg\",\"width\":1281,\"height\":721},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6352#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Teori kuantum telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern yang manusia gunakan saat ini, termasuk smartphone dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Fakta ini diungkap Guru Besar Fisika Teori IPB University, Prof Husin Alatas, sebagai respons terhadap pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang tentang pentingnya fisika di era kecerdasan buatan. \u201cDalam kurun waktu seratus tahun belakangan, teori kuantum telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern,\u201d ungkap Prof Husin. Smartphone yang kita genggam setiap hari ditenagai prosesor yang dibangun dari unit-unit transistor berukuran kurang dari 10 nanometer\u2014teknologi yang hanya mungkin ada berkat pemahaman fisika kuantum. Kemampuan Intuisi-ImajinasiSedikit berbeda dengan cabang sains lainnya yang bersandarkan pada tiga kemampuan: mengamati dan mengukur, melakukan analisa matematis, dan berpijak pada rasionalitas; fisika juga memiliki sandaran lain, yaitu mengandalkan ketajaman intuisi-imajinasi. \u201cIntuisi-imajinasi inilah yang membuat fisika memiliki kemampuan melahirkan banyak terobosan teknologi yang mewarnai peradaban belakangan ini,\u201d ucapnya. Prof Husin menjelaskan bahwa fisika merupakan salah satu disiplin sains yang cakupannya mulai dari skala mikroskopik, mesoskopik hingga makroskopik. Ranah kajiannya mulai dari partikel elementer berukuran satu meter dibagi satu miliar miliar hingga alam semesta yang berukuran seratus triliun triliun meter. Teori Relativitas dan Teori KuantumProf Husin menyebut dua contoh ekstrem, yaitu teori relativitas dan teori kuantum. Keduanya teori yang berkaitan dengan skala mikroskopik dan makroskopik, berturut-turut, menangani objek-objek yang sejatinya berada di luar kemampuan indera manusia untuk mengamatinya.&nbsp; \u201cElektron dan galaksi adalah dua objek yang tentunya tidak dapat diamati secara langsung. Berbeda dengan misalnya makhluk-makhluk hidup yang menjadi objek bagi disiplin biologi, misalnya,\u201d tutur pengampu mata kuliah Teori Relativitas dan Fisika Kuantum Lanjut pada Program Studi S1 Fisika IPB University. Teori relativitas mengkaji berbagai fenomena alam yang unik. Teori ini mempelajari benda-benda yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, mendekati kecepatan cahaya. Selain itu, teori ini juga membahas objek yang memiliki massa sangat besar, seperti planet dan bintang. Menurut Prof Husin, teori relativitas dibangun berdasarkan dua asumsi. Pertama, kecepatan cahaya di ruang hampa adalah konstanta alam semesta. Artinya, kecepatan cahaya selalu sama bagi semua pengamat, tidak peduli seberapa cepat mereka bergerak. Asumsi kedua lebih kompleks. Prof Husin menjelaskan bahwa pengamat yang berada pada kerangka acuan non-inersial (mengalami percepatan) tidak dapat membedakan apakah dirinya sedang dipercepat atau berada dalam medan gravitasi yang kuat. Dengan kata lain, efek percepatan dan gravitasi memberikan sensasi yang sama bagi pengamat. \u201cAsumsi-asumsi tersebut dalam kaitannya dengan aplikasi saat ini telah menjadi dasar dari beberapa teknologi seperti Global Positioning System (GPS), Positron-Electron Emission Tomography (PET) dan juga teknologi nuklir,\u201d ucapnya. Di pihak lain, teori kuantum yang didasari atas beberapa asumsi yang dibangun secara imajinatif dan berlawanan dengan pengalaman sehari-hari manusia. Dalam kurun waktu seratus tahun belakangan, teori ini telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern, salah satunya smartphone. \u201cProsesor smartphone dibangun dari unit transistor berukuran kurang dari 10 nanometer. Pada ukuran ini, kelakuan elektron yang mengalir di dalamnya diprediksi dengan sangat baik oleh teori kuantum,\u201d imbuh Prof Husin. Keunikan lainnya, teori kuantum juga menjelaskan bahwa sebuah elektron ataupun foton (partikel cahaya) dapat memiliki sekaligus sifat gelombang dan partikel. \u201cPenjelasan intuitif-imajinatif yang diberikan teori kuantum ini telah membuka peluang yang amat luas bagi pemanfaatannya, termasuk dalam perancangan cip semikonduktor yang berukuran nanometer tersebut,\u201d ucapnya. Berdasarkan kemampuan intuitif-imajinatif inilah, sebut Prof Husin, pernyataan dari Jensen Huang dapat dipahami. Fisika menawarkan peluang kreativitas yang hampir tak terbatas bagi perkembangan teknologi, dan menjadi dasar bagi kelahiran teknologi-teknologi baru yang bersifat disruptif.&nbsp; \u201cSemua tercermin dari berbagai macam teknologi yang seratus tahun lalu tidak terbayangkan, tetapi terbukti dapat diwujudkan. Termasuk memberikan peluang bagi lahirnya teknologi kecerdasan buatan yang berpotensi membuat disiplin lain menjadi kurang dibutuhkan lagi kehadirannya,\u201d tutupnya. (dr) Source : www.ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2025-08-27T00:59:01+00:00","article_modified_time":"2025-08-27T02:15:12+00:00","og_image":[{"width":1281,"height":721,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum","datePublished":"2025-08-27T00:59:01+00:00","dateModified":"2025-08-27T02:15:12+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352"},"wordCount":608,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg","articleSection":["Berita Utama","Fisika","Sdgs Fisika","Sustainability"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352","name":"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg","datePublished":"2025-08-27T00:59:01+00:00","dateModified":"2025-08-27T02:15:12+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg","width":1281,"height":721},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":25,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":3923,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3923","url_meta":{"origin":6352,"position":0},"title":"Prof Husin Alatas: Materi di Alam Semesta yang Terlihat Hanya 4 Persen","author":"Support FMIPA","date":"21\/08\/2021","format":false,"excerpt":"Fenomena alam semesta banyak dijelaskan melalui Teori Relativitas Umum (TRU) yang dicetuskan oleh Albert Einstein di tahun 1915. Salah satunya adalah teori ini mampu menjelaskan kehadiran gelombang gravitasi yang berhasil dideteksi pertama kali pada bulan september tahun 2015 dan dipublikasikan pada tahun 2016. Prof Husin Alatas, Guru Besar Fakultas Matematika\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3932,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3932","url_meta":{"origin":6352,"position":1},"title":"Departemen Fisika IPB University Bahas Fenomena Lubang Hitam dalam Physics Talk #9","author":"Support FMIPA","date":"10\/08\/2021","format":false,"excerpt":"Departemen Fisika IPB University hadirkan Pakar Teori Fisika dalam IPB Physics Talk #9 bahas fenomena lubang hitam. Prof Husin Alatas selaku Ketua Divisi Fisika Teori, Departemen Fisika IPB University menjelaskan bahwa Physics Talk diadakan untuk memotivasi mahasiswa agar terus belajar, membuka wawasan dan mempererat kolaborasi antar akademisi. Penelitian-penelitian terkait lubang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4178,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4178","url_meta":{"origin":6352,"position":2},"title":"Dosen FMIPA IPB University Bahas Peran Fisika dalam Dunia Metaverse","author":"Support FMIPA","date":"14\/09\/2022","format":false,"excerpt":"Himpunan Mahasiswa Fisika (Himafi), Departemen Fisika FMIPA IPB University mengadakan Physics Insight yang membahas isu dan fenomena ilmu Fisika terkini. Physics Insight kali ini mengusung tema \u201cFenomena Fisika Modern: Metaverse from The Point of View of Physics\u201d. Narasumber yang hadir adalah Prof Husein Alatas dan Dr Erus Rustami, keduanya adalah\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4017,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4017","url_meta":{"origin":6352,"position":3},"title":"Prof Husin Alatas Jelaskan Fenomena Aphelion dan Pengaruhnya terhadap Batuk Pilek","author":"Support FMIPA","date":"17\/03\/2022","format":false,"excerpt":"Aphelion merupakan istilah yang digunakan ketika posisi bumi berada pada titik terjauh dari matahari. Fenomena ini menjadi perhatian sejak beredarnya informasi terkait adanya hubungan fenomena aphelion sebagai penyebab batuk dan pilek. Prof Husin Alatas, Guru Besar IPB University Bidang Fisika Teori sekaligus pengajar mata kuliah Fisika Sistem Kompleks pada Program\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3986,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3986","url_meta":{"origin":6352,"position":4},"title":"Physics Talk ke-19 Departemen Fisika FMIPA IPB University Bahas Lubang Hitam Berambut dan Tak Berambut","author":"Support FMIPA","date":"23\/12\/2021","format":false,"excerpt":"Departemen Fisika IPB University menggelar IPB Physics Talk #19, 16\/12. Pada seri ke-19 ini dihadirkan dosen Kelompok Keahlian Fisika Teori dan Energi Tinggi, Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung dengan topik \u201cNo Hair but Not Bald\u201d. Di awal presentasinya, Prof Bobby Eka Gunara memaparkan tentang black hole (lubang hitam) dan keberadaan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4032,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4032","url_meta":{"origin":6352,"position":5},"title":"Guru Besar FMIPA IPB Kembangkan Model Fisika yang Mampu Hancurkan SARS-Cov-2","author":"Support FMIPA","date":"29\/03\/2022","format":false,"excerpt":"Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof R Tony Ibnu Sumaryada Wijaya Puspita mengembangkan model fisika yang mampu menghancurkan virus SARS-Cov-2. Hal ini terungkap dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Penetapan Guru Besar Prof Tony, (24\/3), dengan materi yang berjudul Pendekatan Fisika tmTeoritis dan Komputasional\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6352","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6352"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6352\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6363,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6352\/revisions\/6363"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6354"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6352"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6352"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6352"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}