{"id":6400,"date":"2025-10-16T08:20:44","date_gmt":"2025-10-16T01:20:44","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400"},"modified":"2026-01-09T10:19:53","modified_gmt":"2026-01-09T03:19:53","slug":"prof-dr-drs-tri-atmowidi-m-si-kasus-sengatan-di-bantul-bukan-tawon-gung-tapi-lebah-hutan-mematikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400","title":{"rendered":"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan"},"content":{"rendered":"\n<p>Kasus meninggalnya seorang nenek di Bantul akibat disengat kawanan serangga yang diduga <em>tawon gung<\/em> menyita perhatian publik. Menanggapi hal ini, Pakar Serangga IPB University, Prof Tri Atmowidi, meluruskan informasi tersebut sekaligus mengedukasi masyarakat terkait penanganan yang tepat saat terjadi sengatan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bukan Tawon Gung<br><\/strong>Menurut Prof Tri, istilah <em>tawon gung<\/em> yang beredar di masyarakat umumnya mengacu pada spesies <em>Vespa affinis<\/em> atau <em>Vespa velutina<\/em>. Kedua jenis ini termasuk dalam kelompok <em>Spheciformes<\/em> dan dikenal memiliki tubuh ramping, berwarna coklat kehitaman dengan belang mencolok pada bagian perut.<br><br>\u201cSecara umum, tawon memiliki rambut tubuh yang lebih sedikit dibandingkan lebah dan bersifat lebih agresif,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, berdasarkan foto yang beredar di media, Prof Tri menduga serangan di Bantul bukan disebabkan oleh tawon, melainkan oleh lebah hutan besar (<em>Apis dorsata<\/em>).<br><br>\u201cDari ciri sarangnya, tampaknya itu bukan sarang tawon, melainkan sarang lebah besar yang hanya terdiri dari satu sisiran besar dan biasa menggantung di batang pohon tinggi,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menambahkan, lebah hutan ini memiliki ukuran tubuh sekitar 17\u201320 milimeter, berwarna coklat dengan belang kuning kecoklatan pada bagian abdomen. Jenis ini dikenal sangat defensif dan tidak dapat dibudidayakan karena perilakunya yang sering bermigrasi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDalam kasus di Bantul, kemungkinan korban disengat oleh puluhan lebah <em>Apis dorsata<\/em>. Meskipun satu lebah hanya dapat menyengat sekali, jika jumlahnya puluhan, racun yang masuk ke tubuh bisa menimbulkan efek toksik serius hingga menyebabkan kematian,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tawon umumnya lebih berbahaya dibanding lebah karena dapat menyengat berkali-kali tanpa kehilangan sengatnya. Sebaliknya, lebah hanya mampu menyengat satu kali karena sengatnya akan tertinggal di kulit korban.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cVenom lebah jumlahnya memang lebih banyak, namun racun tawon (terutama <em>Vespa<\/em>) memiliki daya toksik yang lebih kuat,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Baik tawon maupun lebah dapat memicu reaksi alergi berat dan bahkan kematian, terutama pada individu yang sensitif atau menerima banyak sengatan sekaligus. Racun lebah, yang dikenal sebagai apitoksin, mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti protein, peptida, dan amina biogenik (histamin, dopamin, melittin, serta fosfolipase).<em><br><\/em><br>\u201cPada reaksi lokal, gejala yang muncul berupa nyeri, panas, bengkak, dan gatal di area sengatan. Sementara pada reaksi sistemik atau anafilaksis, gejalanya bisa lebih berat, mulai dari kulit kemerahan, pembengkakan pada bibir dan kelopak mata, hingga sesak napas dan pingsan,\u201d paparnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika korban menerima banyak sengatan sekaligus, racun dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti hati dan ginjal. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis darurat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Langkah Pertama<br><\/strong>Prof Tri mengingatkan, langkah pertama yang harus dilakukan saat disengat tawon atau lebah adalah menjauh dari lokasi sarang agar tidak diserang kembali. Jika yang menyengat adalah lebah, segera keluarkan sengat yang tertinggal di kulit, cuci area tersebut dengan air sabun, dan kompres menggunakan air dingin.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMinumlah obat antihistamin untuk mengurangi reaksi alergi. Bila korban mengalami sesak atau pingsan, segera bawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,\u201d imbaunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau tidak panik dan jangan&nbsp; mengusir tawon dan lebah secara mandiri. Jika menemukan sarang di sekitar permukiman, segera laporkan kepada dinas terkait seperti pemadam kebakaran atau ahli lebah\/tawon.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJangan melakukan gerakan mendadak atau berisik di sekitar sarang karena bisa memicu serangan kawanan lebah atau tawon. Cukup beri tanda peringatan di lokasi dan menjauh dengan tenang,\u201d pungkasnya. (AS)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kasus meninggalnya seorang nenek di Bantul akibat disengat kawanan serangga yang diduga tawon gung menyita perhatian publik. Menanggapi hal ini, Pakar Serangga IPB University, Prof Tri Atmowidi, meluruskan informasi tersebut sekaligus mengedukasi masyarakat terkait penanganan yang tepat saat terjadi sengatan. Bukan Tawon GungMenurut Prof Tri, istilah tawon gung yang beredar di masyarakat umumnya mengacu pada spesies Vespa affinis atau Vespa velutina. Kedua jenis ini termasuk dalam kelompok Spheciformes dan dikenal memiliki tubuh ramping, berwarna coklat kehitaman dengan belang mencolok pada bagian perut. \u201cSecara umum, tawon memiliki rambut tubuh yang lebih sedikit dibandingkan lebah dan bersifat lebih agresif,\u201d jelasnya. Namun, berdasarkan foto yang beredar di media, Prof Tri menduga serangan di Bantul bukan disebabkan oleh tawon, melainkan oleh lebah hutan besar (Apis dorsata). \u201cDari ciri sarangnya, tampaknya itu bukan sarang tawon, melainkan sarang lebah besar yang hanya terdiri dari satu sisiran besar dan biasa menggantung di batang pohon tinggi,\u201d ujarnya. Ia menambahkan, lebah hutan ini memiliki ukuran tubuh sekitar 17\u201320 milimeter, berwarna coklat dengan belang kuning kecoklatan pada bagian abdomen. Jenis ini dikenal sangat defensif dan tidak dapat dibudidayakan karena perilakunya yang sering bermigrasi. \u201cDalam kasus di Bantul, kemungkinan korban disengat oleh puluhan lebah Apis dorsata. Meskipun satu lebah hanya dapat menyengat sekali, jika jumlahnya puluhan, racun yang masuk ke tubuh bisa menimbulkan efek toksik serius hingga menyebabkan kematian,\u201d terangnya. Tawon umumnya lebih berbahaya dibanding lebah karena dapat menyengat berkali-kali tanpa kehilangan sengatnya. Sebaliknya, lebah hanya mampu menyengat satu kali karena sengatnya akan tertinggal di kulit korban. \u201cVenom lebah jumlahnya memang lebih banyak, namun racun tawon (terutama Vespa) memiliki daya toksik yang lebih kuat,\u201d tambahnya. Baik tawon maupun lebah dapat memicu reaksi alergi berat dan bahkan kematian, terutama pada individu yang sensitif atau menerima banyak sengatan sekaligus. Racun lebah, yang dikenal sebagai apitoksin, mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti protein, peptida, dan amina biogenik (histamin, dopamin, melittin, serta fosfolipase).\u201cPada reaksi lokal, gejala yang muncul berupa nyeri, panas, bengkak, dan gatal di area sengatan. Sementara pada reaksi sistemik atau anafilaksis, gejalanya bisa lebih berat, mulai dari kulit kemerahan, pembengkakan pada bibir dan kelopak mata, hingga sesak napas dan pingsan,\u201d paparnya. Jika korban menerima banyak sengatan sekaligus, racun dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti hati dan ginjal. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis darurat. Langkah PertamaProf Tri mengingatkan, langkah pertama yang harus dilakukan saat disengat tawon atau lebah adalah menjauh dari lokasi sarang agar tidak diserang kembali. Jika yang menyengat adalah lebah, segera keluarkan sengat yang tertinggal di kulit, cuci area tersebut dengan air sabun, dan kompres menggunakan air dingin. \u201cMinumlah obat antihistamin untuk mengurangi reaksi alergi. Bila korban mengalami sesak atau pingsan, segera bawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,\u201d imbaunya. Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau tidak panik dan jangan&nbsp; mengusir tawon dan lebah secara mandiri. Jika menemukan sarang di sekitar permukiman, segera laporkan kepada dinas terkait seperti pemadam kebakaran atau ahli lebah\/tawon. \u201cJangan melakukan gerakan mendadak atau berisik di sekitar sarang karena bisa memicu serangan kawanan lebah atau tawon. Cukup beri tanda peringatan di lokasi dan menjauh dengan tenang,\u201d pungkasnya. (AS)<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6401,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26,35,97],"tags":[],"class_list":["post-6400","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-biologi","category-kepakaran"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kasus meninggalnya seorang nenek di Bantul akibat disengat kawanan serangga yang diduga tawon gung menyita perhatian publik. Menanggapi hal ini, Pakar Serangga IPB University, Prof Tri Atmowidi, meluruskan informasi tersebut sekaligus mengedukasi masyarakat terkait penanganan yang tepat saat terjadi sengatan. Bukan Tawon GungMenurut Prof Tri, istilah tawon gung yang beredar di masyarakat umumnya mengacu pada spesies Vespa affinis atau Vespa velutina. Kedua jenis ini termasuk dalam kelompok Spheciformes dan dikenal memiliki tubuh ramping, berwarna coklat kehitaman dengan belang mencolok pada bagian perut. \u201cSecara umum, tawon memiliki rambut tubuh yang lebih sedikit dibandingkan lebah dan bersifat lebih agresif,\u201d jelasnya. Namun, berdasarkan foto yang beredar di media, Prof Tri menduga serangan di Bantul bukan disebabkan oleh tawon, melainkan oleh lebah hutan besar (Apis dorsata). \u201cDari ciri sarangnya, tampaknya itu bukan sarang tawon, melainkan sarang lebah besar yang hanya terdiri dari satu sisiran besar dan biasa menggantung di batang pohon tinggi,\u201d ujarnya. Ia menambahkan, lebah hutan ini memiliki ukuran tubuh sekitar 17\u201320 milimeter, berwarna coklat dengan belang kuning kecoklatan pada bagian abdomen. Jenis ini dikenal sangat defensif dan tidak dapat dibudidayakan karena perilakunya yang sering bermigrasi. \u201cDalam kasus di Bantul, kemungkinan korban disengat oleh puluhan lebah Apis dorsata. Meskipun satu lebah hanya dapat menyengat sekali, jika jumlahnya puluhan, racun yang masuk ke tubuh bisa menimbulkan efek toksik serius hingga menyebabkan kematian,\u201d terangnya. Tawon umumnya lebih berbahaya dibanding lebah karena dapat menyengat berkali-kali tanpa kehilangan sengatnya. Sebaliknya, lebah hanya mampu menyengat satu kali karena sengatnya akan tertinggal di kulit korban. \u201cVenom lebah jumlahnya memang lebih banyak, namun racun tawon (terutama Vespa) memiliki daya toksik yang lebih kuat,\u201d tambahnya. Baik tawon maupun lebah dapat memicu reaksi alergi berat dan bahkan kematian, terutama pada individu yang sensitif atau menerima banyak sengatan sekaligus. Racun lebah, yang dikenal sebagai apitoksin, mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti protein, peptida, dan amina biogenik (histamin, dopamin, melittin, serta fosfolipase).\u201cPada reaksi lokal, gejala yang muncul berupa nyeri, panas, bengkak, dan gatal di area sengatan. Sementara pada reaksi sistemik atau anafilaksis, gejalanya bisa lebih berat, mulai dari kulit kemerahan, pembengkakan pada bibir dan kelopak mata, hingga sesak napas dan pingsan,\u201d paparnya. Jika korban menerima banyak sengatan sekaligus, racun dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti hati dan ginjal. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis darurat. Langkah PertamaProf Tri mengingatkan, langkah pertama yang harus dilakukan saat disengat tawon atau lebah adalah menjauh dari lokasi sarang agar tidak diserang kembali. Jika yang menyengat adalah lebah, segera keluarkan sengat yang tertinggal di kulit, cuci area tersebut dengan air sabun, dan kompres menggunakan air dingin. \u201cMinumlah obat antihistamin untuk mengurangi reaksi alergi. Bila korban mengalami sesak atau pingsan, segera bawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,\u201d imbaunya. Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau tidak panik dan jangan&nbsp; mengusir tawon dan lebah secara mandiri. Jika menemukan sarang di sekitar permukiman, segera laporkan kepada dinas terkait seperti pemadam kebakaran atau ahli lebah\/tawon. \u201cJangan melakukan gerakan mendadak atau berisik di sekitar sarang karena bisa memicu serangan kawanan lebah atau tawon. Cukup beri tanda peringatan di lokasi dan menjauh dengan tenang,\u201d pungkasnya. (AS)\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-16T01:20:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-01-09T03:19:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1281\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan\",\"datePublished\":\"2025-10-16T01:20:44+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-09T03:19:53+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400\"},\"wordCount\":521,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/Prof-Tri.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Biologi\",\"Kepakaran\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400\",\"name\":\"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/Prof-Tri.jpg\",\"datePublished\":\"2025-10-16T01:20:44+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-09T03:19:53+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/Prof-Tri.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/Prof-Tri.jpg\",\"width\":1281,\"height\":721},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6400#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Kasus meninggalnya seorang nenek di Bantul akibat disengat kawanan serangga yang diduga tawon gung menyita perhatian publik. Menanggapi hal ini, Pakar Serangga IPB University, Prof Tri Atmowidi, meluruskan informasi tersebut sekaligus mengedukasi masyarakat terkait penanganan yang tepat saat terjadi sengatan. Bukan Tawon GungMenurut Prof Tri, istilah tawon gung yang beredar di masyarakat umumnya mengacu pada spesies Vespa affinis atau Vespa velutina. Kedua jenis ini termasuk dalam kelompok Spheciformes dan dikenal memiliki tubuh ramping, berwarna coklat kehitaman dengan belang mencolok pada bagian perut. \u201cSecara umum, tawon memiliki rambut tubuh yang lebih sedikit dibandingkan lebah dan bersifat lebih agresif,\u201d jelasnya. Namun, berdasarkan foto yang beredar di media, Prof Tri menduga serangan di Bantul bukan disebabkan oleh tawon, melainkan oleh lebah hutan besar (Apis dorsata). \u201cDari ciri sarangnya, tampaknya itu bukan sarang tawon, melainkan sarang lebah besar yang hanya terdiri dari satu sisiran besar dan biasa menggantung di batang pohon tinggi,\u201d ujarnya. Ia menambahkan, lebah hutan ini memiliki ukuran tubuh sekitar 17\u201320 milimeter, berwarna coklat dengan belang kuning kecoklatan pada bagian abdomen. Jenis ini dikenal sangat defensif dan tidak dapat dibudidayakan karena perilakunya yang sering bermigrasi. \u201cDalam kasus di Bantul, kemungkinan korban disengat oleh puluhan lebah Apis dorsata. Meskipun satu lebah hanya dapat menyengat sekali, jika jumlahnya puluhan, racun yang masuk ke tubuh bisa menimbulkan efek toksik serius hingga menyebabkan kematian,\u201d terangnya. Tawon umumnya lebih berbahaya dibanding lebah karena dapat menyengat berkali-kali tanpa kehilangan sengatnya. Sebaliknya, lebah hanya mampu menyengat satu kali karena sengatnya akan tertinggal di kulit korban. \u201cVenom lebah jumlahnya memang lebih banyak, namun racun tawon (terutama Vespa) memiliki daya toksik yang lebih kuat,\u201d tambahnya. Baik tawon maupun lebah dapat memicu reaksi alergi berat dan bahkan kematian, terutama pada individu yang sensitif atau menerima banyak sengatan sekaligus. Racun lebah, yang dikenal sebagai apitoksin, mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti protein, peptida, dan amina biogenik (histamin, dopamin, melittin, serta fosfolipase).\u201cPada reaksi lokal, gejala yang muncul berupa nyeri, panas, bengkak, dan gatal di area sengatan. Sementara pada reaksi sistemik atau anafilaksis, gejalanya bisa lebih berat, mulai dari kulit kemerahan, pembengkakan pada bibir dan kelopak mata, hingga sesak napas dan pingsan,\u201d paparnya. Jika korban menerima banyak sengatan sekaligus, racun dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti hati dan ginjal. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis darurat. Langkah PertamaProf Tri mengingatkan, langkah pertama yang harus dilakukan saat disengat tawon atau lebah adalah menjauh dari lokasi sarang agar tidak diserang kembali. Jika yang menyengat adalah lebah, segera keluarkan sengat yang tertinggal di kulit, cuci area tersebut dengan air sabun, dan kompres menggunakan air dingin. \u201cMinumlah obat antihistamin untuk mengurangi reaksi alergi. Bila korban mengalami sesak atau pingsan, segera bawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,\u201d imbaunya. Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau tidak panik dan jangan&nbsp; mengusir tawon dan lebah secara mandiri. Jika menemukan sarang di sekitar permukiman, segera laporkan kepada dinas terkait seperti pemadam kebakaran atau ahli lebah\/tawon. \u201cJangan melakukan gerakan mendadak atau berisik di sekitar sarang karena bisa memicu serangan kawanan lebah atau tawon. Cukup beri tanda peringatan di lokasi dan menjauh dengan tenang,\u201d pungkasnya. (AS)","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2025-10-16T01:20:44+00:00","article_modified_time":"2026-01-09T03:19:53+00:00","og_image":[{"width":1281,"height":721,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan","datePublished":"2025-10-16T01:20:44+00:00","dateModified":"2026-01-09T03:19:53+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400"},"wordCount":521,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg","articleSection":["Berita Utama","Biologi","Kepakaran"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400","name":"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg","datePublished":"2025-10-16T01:20:44+00:00","dateModified":"2026-01-09T03:19:53+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg","width":1281,"height":721},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6400#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":22,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Prof-Tri.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":3958,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3958","url_meta":{"origin":6400,"position":0},"title":"Dosen Biologi IPB University Jelaskan Pentingnya Peran Kelulut dalam Konservasi Hutan Berkelanjutan","author":"Support FMIPA","date":"16\/11\/2021","format":false,"excerpt":"Lebah memiliki peranan penting di dalam ekosistem lingkungan. Hilangnya serangga ini bahkan dapat mengancam keseimbangan ekosistem. Terkait hal ini, Dr Windra Priawandiputra, dosen IPB University dari Departemen Biologi berbagi pengetahuan tentang biologi lebah tanpa sengat atau kelulut. Ia menyebut, kelulut dapat menjadi dasar dalam budidaya lebah secara berkelanjutan dan sebagai\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4232,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4232","url_meta":{"origin":6400,"position":1},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB University Gelar Kelas Diskusi: Mengenal Kemampuan Unik Lebah Madu Bertahan Hidup di Wilayah Bersuhu Dingin","author":"Support FMIPA","date":"23\/11\/2022","format":false,"excerpt":"Lebah madu dikenal sebagai salah satu serangga polinator penghasil madu. Riset terkait ekologi dan genomik lebah ini juga semakin berkembang, terutama terkait kemampuannya bertahan hidup di tengah perubahan iklim. Membahas lebih lanjut terkait hal ini, Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar Integrative Biology Class\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4327,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4327","url_meta":{"origin":6400,"position":2},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB Gelar Seminar, Salah Satunya Ungkap Alasan Lebah Suka Berkoloni","author":"Support FMIPA","date":"14\/11\/2023","format":false,"excerpt":"Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University kembali menggelar Seminar on Biology, Kamis (2\/11). Topik utama yang diulik terkait lebah dan isu-isu yang menyelimutinya dilihat dari sisi biologi. Adapun peserta yang hadir merupakan mahasiswa Departemen Biologi IPB University. Seminar ini menghadirkan dua mahasiswa, salah satunya dari\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":5047,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5047","url_meta":{"origin":6400,"position":3},"title":"Kenalkan Biopori, Warga Babakan Kembar, Situ Gunung Siap Gali Lubang","author":"FMIPA","date":"02\/08\/2019","format":false,"excerpt":"\"Kegiatan ini sangat bermanfaat. Warga sangat antusias menyaksikan demo yang disampaikan,\" ujar Juarma, Ketua RT Babakan Kembar, Desa Gede Pangrango, Kadudampit, yang terletak di kawasan Situ Gunung. Bertempat di Babakan Kembar, sejumlah dosen dan mahasiswa dari jenjang S1, S2, dan S3 di Departemen Biologi bertemu dengan warga untuk mensosialisasikan lubang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Biologi&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Biologi","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=45"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/2a.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/2a.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/2a.jpeg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/2a.jpeg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/2a.jpeg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":4023,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4023","url_meta":{"origin":6400,"position":4},"title":"Departemen Fisika FMIPA IPB Hadirkan Pakar Teknologi Plasma, Bahas Teori Hingga Produk Komersial","author":"Support FMIPA","date":"17\/03\/2022","format":false,"excerpt":"Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University belum lama ini hadirkan pakar teknologi plasma dalam Physics Talk edisi 24. Pakar tersebut adalah Prof Muhammad Nur dari Center for Plasma Research Universitas Diponegoro. Prof Nur membawakan materi berjudul \u201cSains dan Teknologi Plasma dari Laboratorium Menjadi Produk Inovasi\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4259,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4259","url_meta":{"origin":6400,"position":5},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB University Memulai Riset UKICIS Pariwisata di Belitung","author":"Support FMIPA","date":"07\/02\/2023","format":false,"excerpt":"Para peneliti di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University telah melakukan riset pemanfaatan sumberdaya hayati untuk pariwisata berkelanjutan dan terintegrasi. Rangkaian riset di bawah United Kingdom-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS)-IPB yang dibiayai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini akan berlangsung selama empat tahun.\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6400","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6400"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6400\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6403,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6400\/revisions\/6403"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6401"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6400"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6400"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6400"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}