{"id":6416,"date":"2025-11-19T07:44:46","date_gmt":"2025-11-19T00:44:46","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416"},"modified":"2026-01-09T10:14:49","modified_gmt":"2026-01-09T03:14:49","slug":"cuaca-kian-panas-dosen-meteorologi-fmipa-ipb-ungkap-pemicunya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416","title":{"rendered":"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya"},"content":{"rendered":"\n<p>Belakangan ini, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia mengeluhkan suhu udara yang terasa semakin panas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab di balik peningkatan suhu tersebut dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari maupun kondisi lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, fenomena ini berkaitan dengan proses absorbsi radiasi medan elektromagnetik oleh atmosfer. Hal tersebut berpengaruh langsung terhadap perubahan suhu udara, khususnya di lapisan troposfer bagian bawah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAtmosfer berfungsi sebagai medium yang menerima radiasi dari dua sumber utama, yakni matahari dan bumi. Radiasi dari matahari disebut radiasi gelombang pendek, sementara radiasi dari bumi disebut radiasi gelombang panjang. Keduanya memiliki spektrum absorpsi berbeda,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menambahkan, radiasi matahari lebih banyak diserap di lapisan stratosfer hingga termosfer, terutama pada spektrum ultraviolet (UV). Sementara itu, radiasi gelombang panjang dari permukaan bumi lebih dominan diserap di lapisan troposfer pada spektrum inframerah (IR).<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, besarnya energi radiasi yang diserap atmosfer sangat bergantung pada kerapatan partikel pengabsorpsi dan intensitas radiasi yang diterima. \u201cSemakin tinggi konsentrasi partikel pengabsorpsi, semakin besar energi yang terserap, sehingga suhu udara pun meningkat,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang memicu pemanasan udara di lapisan bawah atmosfer. Pertama, peningkatan konsentrasi gas-gas pengabsorpsi radiasi gelombang panjang seperti uap air, karbon dioksida (CO\u2082), serta partikel aerosol dari polutan dan debu. Proses ini dikenal sebagai efek rumah kaca, yang menyebabkan panas dari bumi terperangkap di atmosfer.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua, perubahan tutupan lahan akibat alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun turut memengaruhi kapasitas panas permukaan bumi. Permukaan dengan kapasitas panas rendah, seperti beton atau aspal, lebih cepat menyerap dan memancarkan panas dibandingkan tanah atau vegetasi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHal ini membuat suhu permukaan meningkat dan memperkuat pemanasan udara di lapisan bawah,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain faktor tersebut, posisi astronomis bumi juga memengaruhi variasi radiasi yang diterima. Pada bulan Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas Pulau Jawa dan Bali, sehingga kedua wilayah ini menerima intensitas radiasi matahari yang lebih tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cFenomena ini merupakan proses fisis yang wajar terjadi setiap tahun. Namun, peningkatan suhu akan terasa lebih ekstrem ketika dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya polutan di atmosfer,\u201d pungkasnya. (AS)<\/p>\n\n\n\n<p>Source : <a href=\"https:\/\/www.ipb.ac.id\/news\/index\/2025\/10\/cuaca-kian-panas-dosen-meteorologi-ipb-university-ungkap-pemicunya\/\">ipb.ac.id<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belakangan ini, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia mengeluhkan suhu udara yang terasa semakin panas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab di balik peningkatan suhu tersebut dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari maupun kondisi lingkungan. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, fenomena ini berkaitan dengan proses absorbsi radiasi medan elektromagnetik oleh atmosfer. Hal tersebut berpengaruh langsung terhadap perubahan suhu udara, khususnya di lapisan troposfer bagian bawah. \u201cAtmosfer berfungsi sebagai medium yang menerima radiasi dari dua sumber utama, yakni matahari dan bumi. Radiasi dari matahari disebut radiasi gelombang pendek, sementara radiasi dari bumi disebut radiasi gelombang panjang. Keduanya memiliki spektrum absorpsi berbeda,\u201d jelasnya. Ia menambahkan, radiasi matahari lebih banyak diserap di lapisan stratosfer hingga termosfer, terutama pada spektrum ultraviolet (UV). Sementara itu, radiasi gelombang panjang dari permukaan bumi lebih dominan diserap di lapisan troposfer pada spektrum inframerah (IR). Lebih lanjut, besarnya energi radiasi yang diserap atmosfer sangat bergantung pada kerapatan partikel pengabsorpsi dan intensitas radiasi yang diterima. \u201cSemakin tinggi konsentrasi partikel pengabsorpsi, semakin besar energi yang terserap, sehingga suhu udara pun meningkat,\u201d ujarnya. Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang memicu pemanasan udara di lapisan bawah atmosfer. Pertama, peningkatan konsentrasi gas-gas pengabsorpsi radiasi gelombang panjang seperti uap air, karbon dioksida (CO\u2082), serta partikel aerosol dari polutan dan debu. Proses ini dikenal sebagai efek rumah kaca, yang menyebabkan panas dari bumi terperangkap di atmosfer. Kedua, perubahan tutupan lahan akibat alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun turut memengaruhi kapasitas panas permukaan bumi. Permukaan dengan kapasitas panas rendah, seperti beton atau aspal, lebih cepat menyerap dan memancarkan panas dibandingkan tanah atau vegetasi. \u201cHal ini membuat suhu permukaan meningkat dan memperkuat pemanasan udara di lapisan bawah,\u201d tegasnya. Selain faktor tersebut, posisi astronomis bumi juga memengaruhi variasi radiasi yang diterima. Pada bulan Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas Pulau Jawa dan Bali, sehingga kedua wilayah ini menerima intensitas radiasi matahari yang lebih tinggi. \u201cFenomena ini merupakan proses fisis yang wajar terjadi setiap tahun. Namun, peningkatan suhu akan terasa lebih ekstrem ketika dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya polutan di atmosfer,\u201d pungkasnya. (AS) Source : ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6417,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26,34,66,68,56,61,46,95],"tags":[105,134,135,98],"class_list":["post-6416","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-geomet","category-sdgs-11","category-sdgs-13","category-sdgs-3","category-sdgs-4","category-sdgs-geomet","category-sustainability","tag-sdgs-11","tag-sdgs-13","tag-sdgs-3","tag-sdgs-4"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Belakangan ini, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia mengeluhkan suhu udara yang terasa semakin panas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab di balik peningkatan suhu tersebut dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari maupun kondisi lingkungan. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, fenomena ini berkaitan dengan proses absorbsi radiasi medan elektromagnetik oleh atmosfer. Hal tersebut berpengaruh langsung terhadap perubahan suhu udara, khususnya di lapisan troposfer bagian bawah. \u201cAtmosfer berfungsi sebagai medium yang menerima radiasi dari dua sumber utama, yakni matahari dan bumi. Radiasi dari matahari disebut radiasi gelombang pendek, sementara radiasi dari bumi disebut radiasi gelombang panjang. Keduanya memiliki spektrum absorpsi berbeda,\u201d jelasnya. Ia menambahkan, radiasi matahari lebih banyak diserap di lapisan stratosfer hingga termosfer, terutama pada spektrum ultraviolet (UV). Sementara itu, radiasi gelombang panjang dari permukaan bumi lebih dominan diserap di lapisan troposfer pada spektrum inframerah (IR). Lebih lanjut, besarnya energi radiasi yang diserap atmosfer sangat bergantung pada kerapatan partikel pengabsorpsi dan intensitas radiasi yang diterima. \u201cSemakin tinggi konsentrasi partikel pengabsorpsi, semakin besar energi yang terserap, sehingga suhu udara pun meningkat,\u201d ujarnya. Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang memicu pemanasan udara di lapisan bawah atmosfer. Pertama, peningkatan konsentrasi gas-gas pengabsorpsi radiasi gelombang panjang seperti uap air, karbon dioksida (CO\u2082), serta partikel aerosol dari polutan dan debu. Proses ini dikenal sebagai efek rumah kaca, yang menyebabkan panas dari bumi terperangkap di atmosfer. Kedua, perubahan tutupan lahan akibat alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun turut memengaruhi kapasitas panas permukaan bumi. Permukaan dengan kapasitas panas rendah, seperti beton atau aspal, lebih cepat menyerap dan memancarkan panas dibandingkan tanah atau vegetasi. \u201cHal ini membuat suhu permukaan meningkat dan memperkuat pemanasan udara di lapisan bawah,\u201d tegasnya. Selain faktor tersebut, posisi astronomis bumi juga memengaruhi variasi radiasi yang diterima. Pada bulan Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas Pulau Jawa dan Bali, sehingga kedua wilayah ini menerima intensitas radiasi matahari yang lebih tinggi. \u201cFenomena ini merupakan proses fisis yang wajar terjadi setiap tahun. Namun, peningkatan suhu akan terasa lebih ekstrem ketika dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya polutan di atmosfer,\u201d pungkasnya. (AS) Source : ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-19T00:44:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-01-09T03:14:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1281\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya\",\"datePublished\":\"2025-11-19T00:44:46+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-09T03:14:49+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416\"},\"wordCount\":356,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/cuaca-kian-panas.jpg\",\"keywords\":[\"SDGS 11\",\"SDGS 13\",\"SDGS 3\",\"SDGS 4\"],\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Geomet\",\"SDG'S 11\",\"SDG'S 13\",\"SDG's 3\",\"SDG'S 4\",\"Sdgs Geomet\",\"Sustainability\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416\",\"name\":\"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/cuaca-kian-panas.jpg\",\"datePublished\":\"2025-11-19T00:44:46+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-09T03:14:49+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/cuaca-kian-panas.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/cuaca-kian-panas.jpg\",\"width\":1281,\"height\":721},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6416#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Belakangan ini, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia mengeluhkan suhu udara yang terasa semakin panas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab di balik peningkatan suhu tersebut dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari maupun kondisi lingkungan. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, fenomena ini berkaitan dengan proses absorbsi radiasi medan elektromagnetik oleh atmosfer. Hal tersebut berpengaruh langsung terhadap perubahan suhu udara, khususnya di lapisan troposfer bagian bawah. \u201cAtmosfer berfungsi sebagai medium yang menerima radiasi dari dua sumber utama, yakni matahari dan bumi. Radiasi dari matahari disebut radiasi gelombang pendek, sementara radiasi dari bumi disebut radiasi gelombang panjang. Keduanya memiliki spektrum absorpsi berbeda,\u201d jelasnya. Ia menambahkan, radiasi matahari lebih banyak diserap di lapisan stratosfer hingga termosfer, terutama pada spektrum ultraviolet (UV). Sementara itu, radiasi gelombang panjang dari permukaan bumi lebih dominan diserap di lapisan troposfer pada spektrum inframerah (IR). Lebih lanjut, besarnya energi radiasi yang diserap atmosfer sangat bergantung pada kerapatan partikel pengabsorpsi dan intensitas radiasi yang diterima. \u201cSemakin tinggi konsentrasi partikel pengabsorpsi, semakin besar energi yang terserap, sehingga suhu udara pun meningkat,\u201d ujarnya. Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang memicu pemanasan udara di lapisan bawah atmosfer. Pertama, peningkatan konsentrasi gas-gas pengabsorpsi radiasi gelombang panjang seperti uap air, karbon dioksida (CO\u2082), serta partikel aerosol dari polutan dan debu. Proses ini dikenal sebagai efek rumah kaca, yang menyebabkan panas dari bumi terperangkap di atmosfer. Kedua, perubahan tutupan lahan akibat alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun turut memengaruhi kapasitas panas permukaan bumi. Permukaan dengan kapasitas panas rendah, seperti beton atau aspal, lebih cepat menyerap dan memancarkan panas dibandingkan tanah atau vegetasi. \u201cHal ini membuat suhu permukaan meningkat dan memperkuat pemanasan udara di lapisan bawah,\u201d tegasnya. Selain faktor tersebut, posisi astronomis bumi juga memengaruhi variasi radiasi yang diterima. Pada bulan Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas Pulau Jawa dan Bali, sehingga kedua wilayah ini menerima intensitas radiasi matahari yang lebih tinggi. \u201cFenomena ini merupakan proses fisis yang wajar terjadi setiap tahun. Namun, peningkatan suhu akan terasa lebih ekstrem ketika dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya polutan di atmosfer,\u201d pungkasnya. (AS) Source : ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2025-11-19T00:44:46+00:00","article_modified_time":"2026-01-09T03:14:49+00:00","og_image":[{"width":1281,"height":721,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya","datePublished":"2025-11-19T00:44:46+00:00","dateModified":"2026-01-09T03:14:49+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416"},"wordCount":356,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg","keywords":["SDGS 11","SDGS 13","SDGS 3","SDGS 4"],"articleSection":["Berita Utama","Geomet","SDG'S 11","SDG'S 13","SDG's 3","SDG'S 4","Sdgs Geomet","Sustainability"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416","name":"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg","datePublished":"2025-11-19T00:44:46+00:00","dateModified":"2026-01-09T03:14:49+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg","width":1281,"height":721},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":26,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":6405,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6405","url_meta":{"origin":6416,"position":0},"title":"Mitigasi Kebakaran Lahan Gambut, Prof. Muh Taufik Kembangkan Pendekatan Ekohidrologi","author":"FMIPA","date":"13\/11\/2025","format":false,"excerpt":"IPB University kembali menghadirkan solusi dalam mitigasi kebakaran lahan gambut melalui pendekatan ekohidrologi. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof Muh Taufik, mengembangkan sistem deteksi dini kebakaran berbasis Peat Fire Vulnerability Index (PFVI) yang mampu memprediksi kerentanan hingga 14 hari ke depan. Prof Taufik menjelaskan bahwa sistem\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6534,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6534","url_meta":{"origin":6416,"position":1},"title":"FMIPA IPB University Bertransformasi Menuju Fakultas Sains, Perkuat Bioinformatika dan Riset Biodiversitas","author":"FMIPA","date":"13\/04\/2026","format":false,"excerpt":"Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University terus melakukan pembaruan kelembagaan, akademik, dan riset sebagai bagian dari strategi penguatan sains dasar yang adaptif dan lintas disiplin. Hal ini disampaikan Dekan Dr Berry Juliandi, saat memaparkan perkembangan terbaru FMIPA IPB University. Ia menjelaskan, perubahan signifikan terjadi setelah tiga departemen\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6485,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485","url_meta":{"origin":6416,"position":2},"title":"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri","author":"FMIPA","date":"28\/01\/2026","format":false,"excerpt":"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan kekayaan alam yang melimpah. Namun, kekayaan tersebut tidak hanya terbatas pada sumber daya yang kasat mata. Nusantara juga menyimpan keragaman mikroba yang luar biasa dan berpotensi besar untuk dikembangkan dalam berbagai bidang, khususnya bioteknologi. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6419,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419","url_meta":{"origin":6416,"position":3},"title":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim","author":"FMIPA","date":"01\/12\/2025","format":false,"excerpt":"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Namun, apakah klaim itu juga berlaku untuk dunia jamur? Pertanyaan ini dibahas Dr Ivan Permana Putra, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University dalam webinar Ngobrolin Spesies edisi ke-7. Dalam pemaparannya, Dr Ivan menyampaikan bahwa hingga kini, data tentang jamur di\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6434,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6434","url_meta":{"origin":6416,"position":4},"title":"Molecules to Memories","author":"FMIPA","date":"02\/12\/2025","format":false,"excerpt":"\u200bPada 29 Nov 2025, Himpunan Alumni Biokimia IPB sukses menyelenggarakan Reuni Akbar bertajuk \"Molecules to Memories\" di Auditorium FMIPA IPB Dramaga. Acara ini dihadiri oleh 125 alumni dari berbagai angkatan dan berhasil merealisasikan tujuan utama reuni: merajut kembali silaturahmi, memfasilitasi networking profesional, dan menguatkan ikatan alumni dengan almamater. Tema \"Molecules\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-11-29-at-17.06.09.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-11-29-at-17.06.09.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-11-29-at-17.06.09.jpeg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-11-29-at-17.06.09.jpeg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-11-29-at-17.06.09.jpeg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6451,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6451","url_meta":{"origin":6416,"position":5},"title":"Perluas Akses Sertifikasi, FMIPA IPB Jadi Tuan Rumah Penyelenggaraan JLPT 2025","author":"FMIPA","date":"18\/12\/2025","format":false,"excerpt":"Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB sukses menyelenggarakan Japanese Language Proficiency Test (JLPT) 2025 sebagai tuan rumah pertama di wilayah Bogor. Ujian yang dilaksanakan pada Minggu, 6 Juli dan 7 Desember 2025 diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, pelajar, guru, hingga masyarakat umum.\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/web-jlpt.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/web-jlpt.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/web-jlpt.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/web-jlpt.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/web-jlpt.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6416","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6416"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6416\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6418,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6416\/revisions\/6418"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6417"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6416"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6416"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6416"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}