{"id":6419,"date":"2025-12-01T08:12:20","date_gmt":"2025-12-01T01:12:20","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419"},"modified":"2026-01-09T10:11:35","modified_gmt":"2026-01-09T03:11:35","slug":"dr-ivan-permana-putra-indonesia-negara-megabiodiversitas-tapi-riset-tentang-jamur-masih-sangat-minim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419","title":{"rendered":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim"},"content":{"rendered":"\n<p>Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Namun, apakah klaim itu juga berlaku untuk dunia jamur? Pertanyaan ini dibahas Dr Ivan Permana Putra, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University dalam webinar Ngobrolin Spesies edisi ke-7.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam pemaparannya, Dr Ivan menyampaikan bahwa hingga kini, data tentang jamur di Indonesia masih sangat terbatas. Berdasarkan catatan tahun 2017, baru ada sekitar 2.273 spesies jamur makro dan mikro yang teridentifikasi. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan data global yang pada tahun yang sama telah mencatat lebih dari 5 juta spesies fungi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMasalahnya bukan pada kekayaan alam kita, tetapi karena data kita belum lengkap dan belum terverifikasi dengan baik,\u201d ujar Dr Ivan pada acara yang diselenggarakan Indonesia Species Specialist Group (IdSSG) secara daring (31\/10).<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, kendala utama penelitian jamur di Indonesia meliputi minimnya peneliti yang fokus pada bidang mikologi, kurangnya eksplorasi lapangan, serta belum adanya <em>checklist<\/em> jamur nasional.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSering kali laporan tentang jamur hanya menyebutkan nama dan lokasi, tanpa dilengkapi deskripsi, gambar, atau herbarium. Padahal, tanpa bukti pendukung, data itu sulit diverifikasi. Karena itu kita perlu membuat standar minimum publikasi fungi di Indonesia agar datanya valid,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dr Ivan juga menyoroti kurang berkembangnya ilmu ekologi dan mikologi di Indonesia. Selain itu, ada kesenjangan generasi dalam bidang mikologi. Akibatnya, referensi lokal sangat terbatas. Banyak peneliti pemula, sebutnya, masih mengandalkan literatur dari luar negeri yang belum tentu sesuai dengan kondisi Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian Dr Ivan dan tim mencakup tahapan koleksi jamur liar, identifikasi morfologi dan molekuler, hingga analisis nutrisi, untuk membuka peluang pemanfaatan jamur secara berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa jenis jamur lokal juga disebut memiliki potensi ekonomi tinggi. Misalnya, jamur pelawan (<em>Heimioporus sp.<\/em>) yang harganya dapat mencapai Rp4 juta per kilogram dalam bentuk kering, serta jamur <em>wild shiitake<\/em> (<em>Lentinula lateritia<\/em>) yang ditemukan di hutan Jambi dan kini tengah dikembangkan sebagai bibit asli Indonesia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dr Ivan menegaskan bahwa penelitian jamur di Indonesia berfokus pada tiga aspek utama: taksonomi, potensi budi daya, dan bioprospeksi. \u201cSemua pemanfaatan keanekaragaman hayati berawal dari pengenalan. Kita harus tahu dulu siapa mereka, baru bisa memanfaatkan dan melindunginya,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sesi diskusi, Dr Ivan menekankan pentingnya kolaborasi untuk memperkaya data keanekaragaman jamur di Indonesia. \u201cTidak hanya dengan peneliti, dosen, dan mahasiswa, kita juga perlu dukungan dari berbagai pihak, terutama bekerja sama dengan orang-orang lokal,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menutup sesi, Dr Ivan berharap ke depan Indonesia dapat memiliki basis data jamur nasional yang akurat dan terbuka agar dapat menjadi landasan riset, pendidikan, dan pengembangan industri berbasis fungi. (Ez)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Namun, apakah klaim itu juga berlaku untuk dunia jamur? Pertanyaan ini dibahas Dr Ivan Permana Putra, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University dalam webinar Ngobrolin Spesies edisi ke-7. Dalam pemaparannya, Dr Ivan menyampaikan bahwa hingga kini, data tentang jamur di Indonesia masih sangat terbatas. Berdasarkan catatan tahun 2017, baru ada sekitar 2.273 spesies jamur makro dan mikro yang teridentifikasi. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan data global yang pada tahun yang sama telah mencatat lebih dari 5 juta spesies fungi.&nbsp; \u201cMasalahnya bukan pada kekayaan alam kita, tetapi karena data kita belum lengkap dan belum terverifikasi dengan baik,\u201d ujar Dr Ivan pada acara yang diselenggarakan Indonesia Species Specialist Group (IdSSG) secara daring (31\/10). Menurutnya, kendala utama penelitian jamur di Indonesia meliputi minimnya peneliti yang fokus pada bidang mikologi, kurangnya eksplorasi lapangan, serta belum adanya checklist jamur nasional.&nbsp; \u201cSering kali laporan tentang jamur hanya menyebutkan nama dan lokasi, tanpa dilengkapi deskripsi, gambar, atau herbarium. Padahal, tanpa bukti pendukung, data itu sulit diverifikasi. Karena itu kita perlu membuat standar minimum publikasi fungi di Indonesia agar datanya valid,\u201d tegasnya. Dr Ivan juga menyoroti kurang berkembangnya ilmu ekologi dan mikologi di Indonesia. Selain itu, ada kesenjangan generasi dalam bidang mikologi. Akibatnya, referensi lokal sangat terbatas. Banyak peneliti pemula, sebutnya, masih mengandalkan literatur dari luar negeri yang belum tentu sesuai dengan kondisi Indonesia. Penelitian Dr Ivan dan tim mencakup tahapan koleksi jamur liar, identifikasi morfologi dan molekuler, hingga analisis nutrisi, untuk membuka peluang pemanfaatan jamur secara berkelanjutan. Beberapa jenis jamur lokal juga disebut memiliki potensi ekonomi tinggi. Misalnya, jamur pelawan (Heimioporus sp.) yang harganya dapat mencapai Rp4 juta per kilogram dalam bentuk kering, serta jamur wild shiitake (Lentinula lateritia) yang ditemukan di hutan Jambi dan kini tengah dikembangkan sebagai bibit asli Indonesia.&nbsp; Dr Ivan menegaskan bahwa penelitian jamur di Indonesia berfokus pada tiga aspek utama: taksonomi, potensi budi daya, dan bioprospeksi. \u201cSemua pemanfaatan keanekaragaman hayati berawal dari pengenalan. Kita harus tahu dulu siapa mereka, baru bisa memanfaatkan dan melindunginya,\u201d katanya. Dalam sesi diskusi, Dr Ivan menekankan pentingnya kolaborasi untuk memperkaya data keanekaragaman jamur di Indonesia. \u201cTidak hanya dengan peneliti, dosen, dan mahasiswa, kita juga perlu dukungan dari berbagai pihak, terutama bekerja sama dengan orang-orang lokal,\u201d jelasnya. Menutup sesi, Dr Ivan berharap ke depan Indonesia dapat memiliki basis data jamur nasional yang akurat dan terbuka agar dapat menjadi landasan riset, pendidikan, dan pengembangan industri berbasis fungi. (Ez)<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6420,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26,35,97,70,72,61,58,45,95],"tags":[133,102,98,99],"class_list":["post-6419","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-biologi","category-kepakaran","category-sdgs-15","category-sdgs-17","category-sdgs-4","category-sdgs-9","category-sdgs-biologi","category-sustainability","tag-sdgs-15","tag-sdgs-17","tag-sdgs-4","tag-sdgs-9"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Namun, apakah klaim itu juga berlaku untuk dunia jamur? Pertanyaan ini dibahas Dr Ivan Permana Putra, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University dalam webinar Ngobrolin Spesies edisi ke-7. Dalam pemaparannya, Dr Ivan menyampaikan bahwa hingga kini, data tentang jamur di Indonesia masih sangat terbatas. Berdasarkan catatan tahun 2017, baru ada sekitar 2.273 spesies jamur makro dan mikro yang teridentifikasi. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan data global yang pada tahun yang sama telah mencatat lebih dari 5 juta spesies fungi.&nbsp; \u201cMasalahnya bukan pada kekayaan alam kita, tetapi karena data kita belum lengkap dan belum terverifikasi dengan baik,\u201d ujar Dr Ivan pada acara yang diselenggarakan Indonesia Species Specialist Group (IdSSG) secara daring (31\/10). Menurutnya, kendala utama penelitian jamur di Indonesia meliputi minimnya peneliti yang fokus pada bidang mikologi, kurangnya eksplorasi lapangan, serta belum adanya checklist jamur nasional.&nbsp; \u201cSering kali laporan tentang jamur hanya menyebutkan nama dan lokasi, tanpa dilengkapi deskripsi, gambar, atau herbarium. Padahal, tanpa bukti pendukung, data itu sulit diverifikasi. Karena itu kita perlu membuat standar minimum publikasi fungi di Indonesia agar datanya valid,\u201d tegasnya. Dr Ivan juga menyoroti kurang berkembangnya ilmu ekologi dan mikologi di Indonesia. Selain itu, ada kesenjangan generasi dalam bidang mikologi. Akibatnya, referensi lokal sangat terbatas. Banyak peneliti pemula, sebutnya, masih mengandalkan literatur dari luar negeri yang belum tentu sesuai dengan kondisi Indonesia. Penelitian Dr Ivan dan tim mencakup tahapan koleksi jamur liar, identifikasi morfologi dan molekuler, hingga analisis nutrisi, untuk membuka peluang pemanfaatan jamur secara berkelanjutan. Beberapa jenis jamur lokal juga disebut memiliki potensi ekonomi tinggi. Misalnya, jamur pelawan (Heimioporus sp.) yang harganya dapat mencapai Rp4 juta per kilogram dalam bentuk kering, serta jamur wild shiitake (Lentinula lateritia) yang ditemukan di hutan Jambi dan kini tengah dikembangkan sebagai bibit asli Indonesia.&nbsp; Dr Ivan menegaskan bahwa penelitian jamur di Indonesia berfokus pada tiga aspek utama: taksonomi, potensi budi daya, dan bioprospeksi. \u201cSemua pemanfaatan keanekaragaman hayati berawal dari pengenalan. Kita harus tahu dulu siapa mereka, baru bisa memanfaatkan dan melindunginya,\u201d katanya. Dalam sesi diskusi, Dr Ivan menekankan pentingnya kolaborasi untuk memperkaya data keanekaragaman jamur di Indonesia. \u201cTidak hanya dengan peneliti, dosen, dan mahasiswa, kita juga perlu dukungan dari berbagai pihak, terutama bekerja sama dengan orang-orang lokal,\u201d jelasnya. Menutup sesi, Dr Ivan berharap ke depan Indonesia dapat memiliki basis data jamur nasional yang akurat dan terbuka agar dapat menjadi landasan riset, pendidikan, dan pengembangan industri berbasis fungi. (Ez)\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-12-01T01:12:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-01-09T03:11:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1281\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim\",\"datePublished\":\"2025-12-01T01:12:20+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-09T03:11:35+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419\"},\"wordCount\":412,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/ivan-permana-putra.jpg\",\"keywords\":[\"SDGS 15\",\"SDGS 17\",\"SDGS 4\",\"SDGS 9\"],\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Biologi\",\"Kepakaran\",\"SDG'S 15\",\"SDG'S 17\",\"SDG'S 4\",\"SDG's 9\",\"Sdgs Biologi\",\"Sustainability\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419\",\"name\":\"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/ivan-permana-putra.jpg\",\"datePublished\":\"2025-12-01T01:12:20+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-09T03:11:35+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/ivan-permana-putra.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/ivan-permana-putra.jpg\",\"width\":1281,\"height\":721},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6419#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Namun, apakah klaim itu juga berlaku untuk dunia jamur? Pertanyaan ini dibahas Dr Ivan Permana Putra, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University dalam webinar Ngobrolin Spesies edisi ke-7. Dalam pemaparannya, Dr Ivan menyampaikan bahwa hingga kini, data tentang jamur di Indonesia masih sangat terbatas. Berdasarkan catatan tahun 2017, baru ada sekitar 2.273 spesies jamur makro dan mikro yang teridentifikasi. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan data global yang pada tahun yang sama telah mencatat lebih dari 5 juta spesies fungi.&nbsp; \u201cMasalahnya bukan pada kekayaan alam kita, tetapi karena data kita belum lengkap dan belum terverifikasi dengan baik,\u201d ujar Dr Ivan pada acara yang diselenggarakan Indonesia Species Specialist Group (IdSSG) secara daring (31\/10). Menurutnya, kendala utama penelitian jamur di Indonesia meliputi minimnya peneliti yang fokus pada bidang mikologi, kurangnya eksplorasi lapangan, serta belum adanya checklist jamur nasional.&nbsp; \u201cSering kali laporan tentang jamur hanya menyebutkan nama dan lokasi, tanpa dilengkapi deskripsi, gambar, atau herbarium. Padahal, tanpa bukti pendukung, data itu sulit diverifikasi. Karena itu kita perlu membuat standar minimum publikasi fungi di Indonesia agar datanya valid,\u201d tegasnya. Dr Ivan juga menyoroti kurang berkembangnya ilmu ekologi dan mikologi di Indonesia. Selain itu, ada kesenjangan generasi dalam bidang mikologi. Akibatnya, referensi lokal sangat terbatas. Banyak peneliti pemula, sebutnya, masih mengandalkan literatur dari luar negeri yang belum tentu sesuai dengan kondisi Indonesia. Penelitian Dr Ivan dan tim mencakup tahapan koleksi jamur liar, identifikasi morfologi dan molekuler, hingga analisis nutrisi, untuk membuka peluang pemanfaatan jamur secara berkelanjutan. Beberapa jenis jamur lokal juga disebut memiliki potensi ekonomi tinggi. Misalnya, jamur pelawan (Heimioporus sp.) yang harganya dapat mencapai Rp4 juta per kilogram dalam bentuk kering, serta jamur wild shiitake (Lentinula lateritia) yang ditemukan di hutan Jambi dan kini tengah dikembangkan sebagai bibit asli Indonesia.&nbsp; Dr Ivan menegaskan bahwa penelitian jamur di Indonesia berfokus pada tiga aspek utama: taksonomi, potensi budi daya, dan bioprospeksi. \u201cSemua pemanfaatan keanekaragaman hayati berawal dari pengenalan. Kita harus tahu dulu siapa mereka, baru bisa memanfaatkan dan melindunginya,\u201d katanya. Dalam sesi diskusi, Dr Ivan menekankan pentingnya kolaborasi untuk memperkaya data keanekaragaman jamur di Indonesia. \u201cTidak hanya dengan peneliti, dosen, dan mahasiswa, kita juga perlu dukungan dari berbagai pihak, terutama bekerja sama dengan orang-orang lokal,\u201d jelasnya. Menutup sesi, Dr Ivan berharap ke depan Indonesia dapat memiliki basis data jamur nasional yang akurat dan terbuka agar dapat menjadi landasan riset, pendidikan, dan pengembangan industri berbasis fungi. (Ez)","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2025-12-01T01:12:20+00:00","article_modified_time":"2026-01-09T03:11:35+00:00","og_image":[{"width":1281,"height":721,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim","datePublished":"2025-12-01T01:12:20+00:00","dateModified":"2026-01-09T03:11:35+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419"},"wordCount":412,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg","keywords":["SDGS 15","SDGS 17","SDGS 4","SDGS 9"],"articleSection":["Berita Utama","Biologi","Kepakaran","SDG'S 15","SDG'S 17","SDG'S 4","SDG's 9","Sdgs Biologi","Sustainability"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419","name":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg","datePublished":"2025-12-01T01:12:20+00:00","dateModified":"2026-01-09T03:11:35+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg","width":1281,"height":721},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":16,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":6534,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6534","url_meta":{"origin":6419,"position":0},"title":"FMIPA IPB University Bertransformasi Menuju Fakultas Sains, Perkuat Bioinformatika dan Riset Biodiversitas","author":"FMIPA","date":"13\/04\/2026","format":false,"excerpt":"Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University terus melakukan pembaruan kelembagaan, akademik, dan riset sebagai bagian dari strategi penguatan sains dasar yang adaptif dan lintas disiplin. Hal ini disampaikan Dekan Dr Berry Juliandi, saat memaparkan perkembangan terbaru FMIPA IPB University. Ia menjelaskan, perubahan signifikan terjadi setelah tiga departemen\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6485,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485","url_meta":{"origin":6419,"position":1},"title":"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri","author":"FMIPA","date":"28\/01\/2026","format":false,"excerpt":"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan kekayaan alam yang melimpah. Namun, kekayaan tersebut tidak hanya terbatas pada sumber daya yang kasat mata. Nusantara juga menyimpan keragaman mikroba yang luar biasa dan berpotensi besar untuk dikembangkan dalam berbagai bidang, khususnya bioteknologi. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6342,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6342","url_meta":{"origin":6419,"position":2},"title":"ICoBio 2025 Hadirkan Pakar Dunia, Bahas Peran Biosains dalam SDGs","author":"FMIPA","date":"11\/08\/2025","format":false,"excerpt":"Departemen Biologi IPB University kembali menyelenggarakan konferensi bergengsi bertaraf internasional, The 6th International Conference on Biosciences (ICoBio) 2025, pada 5\u20136 Agustus 2025 di IPB International Convention Center, Bogor. Mengusung tema besar \u201cBioscience Innovations Toward Nation\u2019s Sovereignty\u201d atau Inovasi Biosains Menuju Kedaulatan Bangsa, konferensi ini menjadi wadah bagi para ilmuwan, peneliti,\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IcoBio.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IcoBio.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IcoBio.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IcoBio.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IcoBio.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6437,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6437","url_meta":{"origin":6419,"position":3},"title":"Dekan FMIPA Seluruh Indonesia Bertemu di IPB University, Siap Rombak Kurikulum Lebih Relevan","author":"FMIPA","date":"03\/12\/2025","format":false,"excerpt":"Kampus IPB Gunung Gede, Kota Bogor menjadi saksi pertemuan para dekan fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam (FMIPA), fakultas sains dan teknologi (FST), dan fakultas sains dan matematika (FSM) dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam MIPAnet. Melalui Workshop Kurikulum Industri-MIPAnet (23\u201326\/11), acara ini digelar sebagai forum strategis untuk menyelaraskan kurikulum\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/mipanet.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/mipanet.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/mipanet.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/mipanet.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/mipanet.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":5543,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5543","url_meta":{"origin":6419,"position":4},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB University Gelar Guest Lecture: Mengungkap Peran Enzim dalam Inovasi Bioplastik","author":"FMIPA","date":"04\/03\/2025","format":false,"excerpt":"Bogor, 3 Maret 2025 \u2013 Departemen Biologi FMIPA IPB University sukses menggelar kuliah tamu yang menghadirkan dua pakar terkemuka dari Division of Biological Science, Nara Institute of Science and Technology, yaitu Prof. Shosuke Yoshida dan Asst. Prof. Adrian Chek Min Fey. Dalam kesempatan istimewa ini, mereka membahas topik inovatif yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=1400%2C800&ssl=1 4x"},"classes":[]},{"id":5050,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5050","url_meta":{"origin":6419,"position":5},"title":"Departemen Biologi IPB, Resmikan 2 Stasiun Riset Lapang di Belitung","author":"FMIPA","date":"14\/11\/2019","format":false,"excerpt":"Sebagai bagian dari kerja sama antara Departemen Biologi, MCSTO IPB, dan Belitong Geopark, dua stasiun riset lapang resmi dibuka oleh Ketua Departemen Biologi. Peresmian Stasiun Hutan Kerangas Cendil berlangsung pada 24 Oktober 2019, dihadiri oleh Dr. Miftahudin, Ketua Departemen Biologi, bersama dengan Hirmas Fuady Putra, M.Si., Ketua MCSTO IPB. Peresmian\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Biologi&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Biologi","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=45"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/IMG_9701-2-scaled.jpg?resize=1400%2C800&ssl=1 4x"},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6419","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6419"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6419\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6421,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6419\/revisions\/6421"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6420"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6419"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6419"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6419"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}