{"id":6485,"date":"2026-01-28T09:23:19","date_gmt":"2026-01-28T02:23:19","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485"},"modified":"2026-01-28T09:23:37","modified_gmt":"2026-01-28T02:23:37","slug":"prof-antonius-ungkap-kekayaan-tak-kasat-mata-indonesia-95-masih-jadi-misteri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485","title":{"rendered":"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri"},"content":{"rendered":"\n<p>Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan kekayaan alam yang melimpah. Namun, kekayaan tersebut tidak hanya terbatas pada sumber daya yang kasat mata. Nusantara juga menyimpan keragaman mikroba yang luar biasa dan berpotensi besar untuk dikembangkan dalam berbagai bidang, khususnya bioteknologi.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal tersebut disampaikan Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Prof Antonius Suwanto. Dalam tayangan IPB Podcast di YouTube IPB TV, ia menegaskan bahwa mikroba merupakan bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia yang selama ini belum banyak dieksplorasi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSekitar 95 persen dunia mikroorganisme itu masih menjadi misteri. Ini peluang besar bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof Antonius menjelaskan bahwa manusia baru mengenal mikroorganisme sejak ditemukannya mikroskop sekitar 300 tahun lalu oleh Antonie van Leeuwenhoek. Penemuan tersebut menjadi tonggak revolusi ilmu pengetahuan karena membuka pemahaman tentang keberadaan makhluk hidup renik yang sebelumnya tak terlihat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDengan ditemukannya mikroorganisme, kemudian berkembanglah ilmu genetika hingga penemuan DNA,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga mengaitkan sejarah penemuan mikroskop dengan kekayaan rempah Nusantara pada masa Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kekayaan tersebut secara tidak langsung mendukung kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKesejahteraan yang diperoleh Belanda dari rempah Nusantara memungkinkan lahirnya berbagai penemuan penting, termasuk mikroskop,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Prof Antonius, Indonesia memiliki potensi mikroba yang sangat besar karena keragaman geografis dan hayatinya. Mikroorganisme dapat ditemukan hampir di semua habitat, mulai dari tanah pertanian, laut, pegunungan, hingga lingkungan ekstrem seperti mata air panas. \u201cBakteri dan fungi itu sudah ada jauh sebelum manusia dan menghuni hampir semua tempat,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mencontohkan, mikroba yang hidup di lingkungan ekstrem atau ekstremofil dapat dimanfaatkan sebagai sumber enzim tahan panas. Enzim tersebut banyak digunakan dalam industri, termasuk detergen dan teknologi polymerase chain reaction (PCR). \u201cEnzim untuk PCR yang banyak digunakan, termasuk saat pandemi COVID-19, berasal dari bakteri yang hidup di mata air panas,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski penelitian mikroba di Indonesia mulai berkembang, Prof Antonius menilai pemanfaatannya masih didominasi skala laboratorium. Penelitian lanjutan hingga ke tingkat industri masih perlu didorong. \u201cSayang sekali kalau potensinya besar tetapi berhenti di laboratorium. Ini perlu strategi riset yang kuat,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menekankan bahwa pemanfaatan mikroba dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan. Mikroorganisme dapat diambil DNA-nya atau dikembangkan dalam jumlah sangat kecil di laboratorium. Selain itu, mikroba juga berperan penting dalam kesehatan manusia, hewan, dan tanaman melalui ekosistem mikrobioma.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof Antonius juga menyoroti peluang riset mikroba untuk menjawab tantangan lingkungan, seperti bakteri pengurai plastik. \u201cBakteri tertentu bisa diisolasi dan dimanfaatkan untuk menguraikan plastik secara lebih ramah lingkungan,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di akhir perbincangan, ia mengajak mahasiswa dan peneliti muda untuk lebih berani mengeksplorasi dunia mikroorganisme. \u201cCobalah mengeksplorasi dan meneliti mikroorganisme. Masih sangat banyak yang belum kita pahami, dan di sanalah peluang penemuan baru berada,\u201d tuturnya. (Fj)<\/p>\n\n\n\n<p>Source : <a href=\"https:\/\/www.ipb.ac.id\/news\/index\/2026\/01\/peneliti-ipb-university-ungkap-kekayaan-tak-kasat-mata-indonesia-95-persen-masih-jadi-misteri\/\">ipb.ac.id<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan kekayaan alam yang melimpah. Namun, kekayaan tersebut tidak hanya terbatas pada sumber daya yang kasat mata. Nusantara juga menyimpan keragaman mikroba yang luar biasa dan berpotensi besar untuk dikembangkan dalam berbagai bidang, khususnya bioteknologi. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Prof Antonius Suwanto. Dalam tayangan IPB Podcast di YouTube IPB TV, ia menegaskan bahwa mikroba merupakan bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia yang selama ini belum banyak dieksplorasi. \u201cSekitar 95 persen dunia mikroorganisme itu masih menjadi misteri. Ini peluang besar bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan,\u201d ujarnya. Prof Antonius menjelaskan bahwa manusia baru mengenal mikroorganisme sejak ditemukannya mikroskop sekitar 300 tahun lalu oleh Antonie van Leeuwenhoek. Penemuan tersebut menjadi tonggak revolusi ilmu pengetahuan karena membuka pemahaman tentang keberadaan makhluk hidup renik yang sebelumnya tak terlihat. \u201cDengan ditemukannya mikroorganisme, kemudian berkembanglah ilmu genetika hingga penemuan DNA,\u201d jelasnya. Ia juga mengaitkan sejarah penemuan mikroskop dengan kekayaan rempah Nusantara pada masa Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kekayaan tersebut secara tidak langsung mendukung kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa. \u201cKesejahteraan yang diperoleh Belanda dari rempah Nusantara memungkinkan lahirnya berbagai penemuan penting, termasuk mikroskop,\u201d katanya. Menurut Prof Antonius, Indonesia memiliki potensi mikroba yang sangat besar karena keragaman geografis dan hayatinya. Mikroorganisme dapat ditemukan hampir di semua habitat, mulai dari tanah pertanian, laut, pegunungan, hingga lingkungan ekstrem seperti mata air panas. \u201cBakteri dan fungi itu sudah ada jauh sebelum manusia dan menghuni hampir semua tempat,\u201d ujarnya. Ia mencontohkan, mikroba yang hidup di lingkungan ekstrem atau ekstremofil dapat dimanfaatkan sebagai sumber enzim tahan panas. Enzim tersebut banyak digunakan dalam industri, termasuk detergen dan teknologi polymerase chain reaction (PCR). \u201cEnzim untuk PCR yang banyak digunakan, termasuk saat pandemi COVID-19, berasal dari bakteri yang hidup di mata air panas,\u201d jelasnya. Meski penelitian mikroba di Indonesia mulai berkembang, Prof Antonius menilai pemanfaatannya masih didominasi skala laboratorium. Penelitian lanjutan hingga ke tingkat industri masih perlu didorong. \u201cSayang sekali kalau potensinya besar tetapi berhenti di laboratorium. Ini perlu strategi riset yang kuat,\u201d katanya. Ia menekankan bahwa pemanfaatan mikroba dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan. Mikroorganisme dapat diambil DNA-nya atau dikembangkan dalam jumlah sangat kecil di laboratorium. Selain itu, mikroba juga berperan penting dalam kesehatan manusia, hewan, dan tanaman melalui ekosistem mikrobioma. Prof Antonius juga menyoroti peluang riset mikroba untuk menjawab tantangan lingkungan, seperti bakteri pengurai plastik. \u201cBakteri tertentu bisa diisolasi dan dimanfaatkan untuk menguraikan plastik secara lebih ramah lingkungan,\u201d ujarnya. Di akhir perbincangan, ia mengajak mahasiswa dan peneliti muda untuk lebih berani mengeksplorasi dunia mikroorganisme. \u201cCobalah mengeksplorasi dan meneliti mikroorganisme. Masih sangat banyak yang belum kita pahami, dan di sanalah peluang penemuan baru berada,\u201d tuturnya. (Fj) Source : ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6486,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26,35,97,67,70,56,61,58,45,95],"tags":[106,133,135,98,99],"class_list":["post-6485","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-biologi","category-kepakaran","category-sdgs-12","category-sdgs-15","category-sdgs-3","category-sdgs-4","category-sdgs-9","category-sdgs-biologi","category-sustainability","tag-sdgs-12","tag-sdgs-15","tag-sdgs-3","tag-sdgs-4","tag-sdgs-9"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan kekayaan alam yang melimpah. Namun, kekayaan tersebut tidak hanya terbatas pada sumber daya yang kasat mata. Nusantara juga menyimpan keragaman mikroba yang luar biasa dan berpotensi besar untuk dikembangkan dalam berbagai bidang, khususnya bioteknologi. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Prof Antonius Suwanto. Dalam tayangan IPB Podcast di YouTube IPB TV, ia menegaskan bahwa mikroba merupakan bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia yang selama ini belum banyak dieksplorasi. \u201cSekitar 95 persen dunia mikroorganisme itu masih menjadi misteri. Ini peluang besar bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan,\u201d ujarnya. Prof Antonius menjelaskan bahwa manusia baru mengenal mikroorganisme sejak ditemukannya mikroskop sekitar 300 tahun lalu oleh Antonie van Leeuwenhoek. Penemuan tersebut menjadi tonggak revolusi ilmu pengetahuan karena membuka pemahaman tentang keberadaan makhluk hidup renik yang sebelumnya tak terlihat. \u201cDengan ditemukannya mikroorganisme, kemudian berkembanglah ilmu genetika hingga penemuan DNA,\u201d jelasnya. Ia juga mengaitkan sejarah penemuan mikroskop dengan kekayaan rempah Nusantara pada masa Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kekayaan tersebut secara tidak langsung mendukung kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa. \u201cKesejahteraan yang diperoleh Belanda dari rempah Nusantara memungkinkan lahirnya berbagai penemuan penting, termasuk mikroskop,\u201d katanya. Menurut Prof Antonius, Indonesia memiliki potensi mikroba yang sangat besar karena keragaman geografis dan hayatinya. Mikroorganisme dapat ditemukan hampir di semua habitat, mulai dari tanah pertanian, laut, pegunungan, hingga lingkungan ekstrem seperti mata air panas. \u201cBakteri dan fungi itu sudah ada jauh sebelum manusia dan menghuni hampir semua tempat,\u201d ujarnya. Ia mencontohkan, mikroba yang hidup di lingkungan ekstrem atau ekstremofil dapat dimanfaatkan sebagai sumber enzim tahan panas. Enzim tersebut banyak digunakan dalam industri, termasuk detergen dan teknologi polymerase chain reaction (PCR). \u201cEnzim untuk PCR yang banyak digunakan, termasuk saat pandemi COVID-19, berasal dari bakteri yang hidup di mata air panas,\u201d jelasnya. Meski penelitian mikroba di Indonesia mulai berkembang, Prof Antonius menilai pemanfaatannya masih didominasi skala laboratorium. Penelitian lanjutan hingga ke tingkat industri masih perlu didorong. \u201cSayang sekali kalau potensinya besar tetapi berhenti di laboratorium. Ini perlu strategi riset yang kuat,\u201d katanya. Ia menekankan bahwa pemanfaatan mikroba dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan. Mikroorganisme dapat diambil DNA-nya atau dikembangkan dalam jumlah sangat kecil di laboratorium. Selain itu, mikroba juga berperan penting dalam kesehatan manusia, hewan, dan tanaman melalui ekosistem mikrobioma. Prof Antonius juga menyoroti peluang riset mikroba untuk menjawab tantangan lingkungan, seperti bakteri pengurai plastik. \u201cBakteri tertentu bisa diisolasi dan dimanfaatkan untuk menguraikan plastik secara lebih ramah lingkungan,\u201d ujarnya. Di akhir perbincangan, ia mengajak mahasiswa dan peneliti muda untuk lebih berani mengeksplorasi dunia mikroorganisme. \u201cCobalah mengeksplorasi dan meneliti mikroorganisme. Masih sangat banyak yang belum kita pahami, dan di sanalah peluang penemuan baru berada,\u201d tuturnya. (Fj) Source : ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-01-28T02:23:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-01-28T02:23:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1281\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri\",\"datePublished\":\"2026-01-28T02:23:19+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-28T02:23:37+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485\"},\"wordCount\":451,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg\",\"keywords\":[\"SDGS 12\",\"SDGS 15\",\"SDGS 3\",\"SDGS 4\",\"SDGS 9\"],\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Biologi\",\"Kepakaran\",\"SDG'S 12\",\"SDG'S 15\",\"SDG's 3\",\"SDG'S 4\",\"SDG's 9\",\"Sdgs Biologi\",\"Sustainability\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485\",\"name\":\"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg\",\"datePublished\":\"2026-01-28T02:23:19+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-28T02:23:37+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg\",\"width\":1281,\"height\":721},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6485#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan kekayaan alam yang melimpah. Namun, kekayaan tersebut tidak hanya terbatas pada sumber daya yang kasat mata. Nusantara juga menyimpan keragaman mikroba yang luar biasa dan berpotensi besar untuk dikembangkan dalam berbagai bidang, khususnya bioteknologi. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Prof Antonius Suwanto. Dalam tayangan IPB Podcast di YouTube IPB TV, ia menegaskan bahwa mikroba merupakan bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia yang selama ini belum banyak dieksplorasi. \u201cSekitar 95 persen dunia mikroorganisme itu masih menjadi misteri. Ini peluang besar bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan,\u201d ujarnya. Prof Antonius menjelaskan bahwa manusia baru mengenal mikroorganisme sejak ditemukannya mikroskop sekitar 300 tahun lalu oleh Antonie van Leeuwenhoek. Penemuan tersebut menjadi tonggak revolusi ilmu pengetahuan karena membuka pemahaman tentang keberadaan makhluk hidup renik yang sebelumnya tak terlihat. \u201cDengan ditemukannya mikroorganisme, kemudian berkembanglah ilmu genetika hingga penemuan DNA,\u201d jelasnya. Ia juga mengaitkan sejarah penemuan mikroskop dengan kekayaan rempah Nusantara pada masa Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kekayaan tersebut secara tidak langsung mendukung kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa. \u201cKesejahteraan yang diperoleh Belanda dari rempah Nusantara memungkinkan lahirnya berbagai penemuan penting, termasuk mikroskop,\u201d katanya. Menurut Prof Antonius, Indonesia memiliki potensi mikroba yang sangat besar karena keragaman geografis dan hayatinya. Mikroorganisme dapat ditemukan hampir di semua habitat, mulai dari tanah pertanian, laut, pegunungan, hingga lingkungan ekstrem seperti mata air panas. \u201cBakteri dan fungi itu sudah ada jauh sebelum manusia dan menghuni hampir semua tempat,\u201d ujarnya. Ia mencontohkan, mikroba yang hidup di lingkungan ekstrem atau ekstremofil dapat dimanfaatkan sebagai sumber enzim tahan panas. Enzim tersebut banyak digunakan dalam industri, termasuk detergen dan teknologi polymerase chain reaction (PCR). \u201cEnzim untuk PCR yang banyak digunakan, termasuk saat pandemi COVID-19, berasal dari bakteri yang hidup di mata air panas,\u201d jelasnya. Meski penelitian mikroba di Indonesia mulai berkembang, Prof Antonius menilai pemanfaatannya masih didominasi skala laboratorium. Penelitian lanjutan hingga ke tingkat industri masih perlu didorong. \u201cSayang sekali kalau potensinya besar tetapi berhenti di laboratorium. Ini perlu strategi riset yang kuat,\u201d katanya. Ia menekankan bahwa pemanfaatan mikroba dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan. Mikroorganisme dapat diambil DNA-nya atau dikembangkan dalam jumlah sangat kecil di laboratorium. Selain itu, mikroba juga berperan penting dalam kesehatan manusia, hewan, dan tanaman melalui ekosistem mikrobioma. Prof Antonius juga menyoroti peluang riset mikroba untuk menjawab tantangan lingkungan, seperti bakteri pengurai plastik. \u201cBakteri tertentu bisa diisolasi dan dimanfaatkan untuk menguraikan plastik secara lebih ramah lingkungan,\u201d ujarnya. Di akhir perbincangan, ia mengajak mahasiswa dan peneliti muda untuk lebih berani mengeksplorasi dunia mikroorganisme. \u201cCobalah mengeksplorasi dan meneliti mikroorganisme. Masih sangat banyak yang belum kita pahami, dan di sanalah peluang penemuan baru berada,\u201d tuturnya. (Fj) Source : ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2026-01-28T02:23:19+00:00","article_modified_time":"2026-01-28T02:23:37+00:00","og_image":[{"width":1281,"height":721,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri","datePublished":"2026-01-28T02:23:19+00:00","dateModified":"2026-01-28T02:23:37+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485"},"wordCount":451,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg","keywords":["SDGS 12","SDGS 15","SDGS 3","SDGS 4","SDGS 9"],"articleSection":["Berita Utama","Biologi","Kepakaran","SDG'S 12","SDG'S 15","SDG's 3","SDG'S 4","SDG's 9","Sdgs Biologi","Sustainability"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485","name":"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg","datePublished":"2026-01-28T02:23:19+00:00","dateModified":"2026-01-28T02:23:37+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg","width":1281,"height":721},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":12,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":6419,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419","url_meta":{"origin":6485,"position":0},"title":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim","author":"FMIPA","date":"01\/12\/2025","format":false,"excerpt":"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Namun, apakah klaim itu juga berlaku untuk dunia jamur? Pertanyaan ini dibahas Dr Ivan Permana Putra, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University dalam webinar Ngobrolin Spesies edisi ke-7. Dalam pemaparannya, Dr Ivan menyampaikan bahwa hingga kini, data tentang jamur di\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6437,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6437","url_meta":{"origin":6485,"position":1},"title":"Dekan FMIPA Seluruh Indonesia Bertemu di IPB University, Siap Rombak Kurikulum Lebih Relevan","author":"FMIPA","date":"03\/12\/2025","format":false,"excerpt":"Kampus IPB Gunung Gede, Kota Bogor menjadi saksi pertemuan para dekan fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam (FMIPA), fakultas sains dan teknologi (FST), dan fakultas sains dan matematika (FSM) dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam MIPAnet. Melalui Workshop Kurikulum Industri-MIPAnet (23\u201326\/11), acara ini digelar sebagai forum strategis untuk menyelaraskan kurikulum\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/mipanet.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/mipanet.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/mipanet.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/mipanet.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/mipanet.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":5543,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5543","url_meta":{"origin":6485,"position":2},"title":"Departemen Biologi FMIPA IPB University Gelar Guest Lecture: Mengungkap Peran Enzim dalam Inovasi Bioplastik","author":"FMIPA","date":"04\/03\/2025","format":false,"excerpt":"Bogor, 3 Maret 2025 \u2013 Departemen Biologi FMIPA IPB University sukses menggelar kuliah tamu yang menghadirkan dua pakar terkemuka dari Division of Biological Science, Nara Institute of Science and Technology, yaitu Prof. Shosuke Yoshida dan Asst. Prof. Adrian Chek Min Fey. Dalam kesempatan istimewa ini, mereka membahas topik inovatif yang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-03-at-12.46.582-scaled.jpg?resize=1400%2C800&ssl=1 4x"},"classes":[]},{"id":6534,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6534","url_meta":{"origin":6485,"position":3},"title":"FMIPA IPB University Bertransformasi Menuju Fakultas Sains, Perkuat Bioinformatika dan Riset Biodiversitas","author":"FMIPA","date":"13\/04\/2026","format":false,"excerpt":"Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University terus melakukan pembaruan kelembagaan, akademik, dan riset sebagai bagian dari strategi penguatan sains dasar yang adaptif dan lintas disiplin. Hal ini disampaikan Dekan Dr Berry Juliandi, saat memaparkan perkembangan terbaru FMIPA IPB University. Ia menjelaskan, perubahan signifikan terjadi setelah tiga departemen\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6405,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6405","url_meta":{"origin":6485,"position":4},"title":"Mitigasi Kebakaran Lahan Gambut, Prof. Muh Taufik Kembangkan Pendekatan Ekohidrologi","author":"FMIPA","date":"13\/11\/2025","format":false,"excerpt":"IPB University kembali menghadirkan solusi dalam mitigasi kebakaran lahan gambut melalui pendekatan ekohidrologi. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof Muh Taufik, mengembangkan sistem deteksi dini kebakaran berbasis Peat Fire Vulnerability Index (PFVI) yang mampu memprediksi kerentanan hingga 14 hari ke depan. Prof Taufik menjelaskan bahwa sistem\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6342,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6342","url_meta":{"origin":6485,"position":5},"title":"ICoBio 2025 Hadirkan Pakar Dunia, Bahas Peran Biosains dalam SDGs","author":"FMIPA","date":"11\/08\/2025","format":false,"excerpt":"Departemen Biologi IPB University kembali menyelenggarakan konferensi bergengsi bertaraf internasional, The 6th International Conference on Biosciences (ICoBio) 2025, pada 5\u20136 Agustus 2025 di IPB International Convention Center, Bogor. Mengusung tema besar \u201cBioscience Innovations Toward Nation\u2019s Sovereignty\u201d atau Inovasi Biosains Menuju Kedaulatan Bangsa, konferensi ini menjadi wadah bagi para ilmuwan, peneliti,\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IcoBio.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IcoBio.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IcoBio.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IcoBio.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IcoBio.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6485","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6485"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6485\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6487,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6485\/revisions\/6487"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6486"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6485"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6485"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6485"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}