{"id":6508,"date":"2026-02-13T08:37:08","date_gmt":"2026-02-13T01:37:08","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508"},"modified":"2026-02-13T08:37:10","modified_gmt":"2026-02-13T01:37:10","slug":"akademisi-ipb-university-jelaskan-batas-efektivitas-modifikasi-cuaca-dalam-mitigasi-bencana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508","title":{"rendered":"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana"},"content":{"rendered":"\n<p>Meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia mendorong pemanfaatan modifikasi cuaca sebagai solusi. Modifikasi cuaca kerap dipersepsikan sebagai jalan pintas untuk menekan dampak banjir, longsor, dan cuaca ekstrem.<\/p>\n\n\n\n<p>Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menyatakan bahwa modifikasi cuaca memang dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk meminimalisasi dampak bencana hidrometeorolog. Akan tetapi, ia menegaskan, hal itu hanya bersifat jangka pendek dan tidak menyentuh akar persoalan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cModifikasi cuaca itu penting sebagai salah satu usaha mitigasi, tetapi harus digarisbawahi bahwa ini bukan solusi permanen. Ia tidak menyelesaikan penyebab utama bencana hidrometeorologi,\u201d ujar Sonni.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Teknik ini baru bisa dilakukan apabila tersedia awan dengan karakteristik tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh, pada kondisi cuaca yang banyak awan, modifikasi dilakukan dengan cara menggabungkan awan-awan yang berdekatan sehingga proses presipitasi atau hujan dapat dipercepat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau kondisi atmosfernya tidak mendukung, modifikasi cuaca otomatis menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekalipun kondisi cuaca mendukung, Sonny mengatakan, dampak modifikasi cuaca bersifat lokal dan terbatas pada wilayah tertentu. Hal ini menjadi persoalan serius ketika modifikasi cuaca diterapkan untuk area yang sangat luas.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cUntuk wilayah yang cukup besar, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan, itu hanya akan menjadi pemborosan anggaran atau sekadar menghambur-hamburkan dana,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bukan Solusi Instan<br><\/strong>Lebih jauh, Sonni mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada modifikasi cuaca berisiko mengaburkan persoalan mendasar yang justru menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi, seperti perubahan tata guna lahan, kerusakan daerah aliran sungai, deforestasi, hingga tata kelola lingkungan yang tidak berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSelama esensi masalahnya tidak diselesaikan, modifikasi cuaca akan terus menjadi tidak efektif. Ini hanya penanganan gejala, bukan penyakitnya,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mendorong agar kebijakan mitigasi bencana tidak berhenti pada solusi instan, melainkan diarahkan pada pendekatan jangka panjang dan sistemik, berbasis perbaikan lingkungan, perencanaan wilayah yang matang, serta penguatan kapasitas adaptasi masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cModifikasi cuaca boleh dilakukan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional dan berbasis sains. Jangan sampai solusi cepat justru mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang jauh lebih besar,\u201d pungkas Sonni. (AS)<\/p>\n\n\n\n<p>Source: <a href=\"https:\/\/www.ipb.ac.id\/news\/index\/2026\/02\/akademisi-ipb-university-jelaskan-batas-efektivitas-modifikasi-cuaca-dalam-mitigasi-bencana\/\">ipb.ac.id<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia mendorong pemanfaatan modifikasi cuaca sebagai solusi. Modifikasi cuaca kerap dipersepsikan sebagai jalan pintas untuk menekan dampak banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menyatakan bahwa modifikasi cuaca memang dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk meminimalisasi dampak bencana hidrometeorolog. Akan tetapi, ia menegaskan, hal itu hanya bersifat jangka pendek dan tidak menyentuh akar persoalan. \u201cModifikasi cuaca itu penting sebagai salah satu usaha mitigasi, tetapi harus digarisbawahi bahwa ini bukan solusi permanen. Ia tidak menyelesaikan penyebab utama bencana hidrometeorologi,\u201d ujar Sonni. Menurutnya, efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Teknik ini baru bisa dilakukan apabila tersedia awan dengan karakteristik tertentu. Sebagai contoh, pada kondisi cuaca yang banyak awan, modifikasi dilakukan dengan cara menggabungkan awan-awan yang berdekatan sehingga proses presipitasi atau hujan dapat dipercepat. \u201cKalau kondisi atmosfernya tidak mendukung, modifikasi cuaca otomatis menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan,\u201d jelasnya. Sekalipun kondisi cuaca mendukung, Sonny mengatakan, dampak modifikasi cuaca bersifat lokal dan terbatas pada wilayah tertentu. Hal ini menjadi persoalan serius ketika modifikasi cuaca diterapkan untuk area yang sangat luas. \u201cUntuk wilayah yang cukup besar, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan, itu hanya akan menjadi pemborosan anggaran atau sekadar menghambur-hamburkan dana,\u201d tegasnya. Bukan Solusi InstanLebih jauh, Sonni mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada modifikasi cuaca berisiko mengaburkan persoalan mendasar yang justru menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi, seperti perubahan tata guna lahan, kerusakan daerah aliran sungai, deforestasi, hingga tata kelola lingkungan yang tidak berkelanjutan. \u201cSelama esensi masalahnya tidak diselesaikan, modifikasi cuaca akan terus menjadi tidak efektif. Ini hanya penanganan gejala, bukan penyakitnya,\u201d ujarnya. Ia mendorong agar kebijakan mitigasi bencana tidak berhenti pada solusi instan, melainkan diarahkan pada pendekatan jangka panjang dan sistemik, berbasis perbaikan lingkungan, perencanaan wilayah yang matang, serta penguatan kapasitas adaptasi masyarakat. \u201cModifikasi cuaca boleh dilakukan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional dan berbasis sains. Jangan sampai solusi cepat justru mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang jauh lebih besar,\u201d pungkas Sonni. (AS) Source: ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6513,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[26,48,34,97,46,95],"tags":[],"class_list":["post-6508","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-fakultas","category-geomet","category-kepakaran","category-sdgs-geomet","category-sustainability"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia mendorong pemanfaatan modifikasi cuaca sebagai solusi. Modifikasi cuaca kerap dipersepsikan sebagai jalan pintas untuk menekan dampak banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menyatakan bahwa modifikasi cuaca memang dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk meminimalisasi dampak bencana hidrometeorolog. Akan tetapi, ia menegaskan, hal itu hanya bersifat jangka pendek dan tidak menyentuh akar persoalan. \u201cModifikasi cuaca itu penting sebagai salah satu usaha mitigasi, tetapi harus digarisbawahi bahwa ini bukan solusi permanen. Ia tidak menyelesaikan penyebab utama bencana hidrometeorologi,\u201d ujar Sonni. Menurutnya, efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Teknik ini baru bisa dilakukan apabila tersedia awan dengan karakteristik tertentu. Sebagai contoh, pada kondisi cuaca yang banyak awan, modifikasi dilakukan dengan cara menggabungkan awan-awan yang berdekatan sehingga proses presipitasi atau hujan dapat dipercepat. \u201cKalau kondisi atmosfernya tidak mendukung, modifikasi cuaca otomatis menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan,\u201d jelasnya. Sekalipun kondisi cuaca mendukung, Sonny mengatakan, dampak modifikasi cuaca bersifat lokal dan terbatas pada wilayah tertentu. Hal ini menjadi persoalan serius ketika modifikasi cuaca diterapkan untuk area yang sangat luas. \u201cUntuk wilayah yang cukup besar, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan, itu hanya akan menjadi pemborosan anggaran atau sekadar menghambur-hamburkan dana,\u201d tegasnya. Bukan Solusi InstanLebih jauh, Sonni mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada modifikasi cuaca berisiko mengaburkan persoalan mendasar yang justru menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi, seperti perubahan tata guna lahan, kerusakan daerah aliran sungai, deforestasi, hingga tata kelola lingkungan yang tidak berkelanjutan. \u201cSelama esensi masalahnya tidak diselesaikan, modifikasi cuaca akan terus menjadi tidak efektif. Ini hanya penanganan gejala, bukan penyakitnya,\u201d ujarnya. Ia mendorong agar kebijakan mitigasi bencana tidak berhenti pada solusi instan, melainkan diarahkan pada pendekatan jangka panjang dan sistemik, berbasis perbaikan lingkungan, perencanaan wilayah yang matang, serta penguatan kapasitas adaptasi masyarakat. \u201cModifikasi cuaca boleh dilakukan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional dan berbasis sains. Jangan sampai solusi cepat justru mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang jauh lebih besar,\u201d pungkas Sonni. (AS) Source: ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-02-13T01:37:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-02-13T01:37:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1281\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana\",\"datePublished\":\"2026-02-13T01:37:08+00:00\",\"dateModified\":\"2026-02-13T01:37:10+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508\"},\"wordCount\":342,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/modifikasi-cuaca.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Fakultas\",\"Geomet\",\"Kepakaran\",\"Sdgs Geomet\",\"Sustainability\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508\",\"name\":\"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/modifikasi-cuaca.jpg\",\"datePublished\":\"2026-02-13T01:37:08+00:00\",\"dateModified\":\"2026-02-13T01:37:10+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/modifikasi-cuaca.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/02\\\/modifikasi-cuaca.jpg\",\"width\":1281,\"height\":721},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6508#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia mendorong pemanfaatan modifikasi cuaca sebagai solusi. Modifikasi cuaca kerap dipersepsikan sebagai jalan pintas untuk menekan dampak banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menyatakan bahwa modifikasi cuaca memang dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk meminimalisasi dampak bencana hidrometeorolog. Akan tetapi, ia menegaskan, hal itu hanya bersifat jangka pendek dan tidak menyentuh akar persoalan. \u201cModifikasi cuaca itu penting sebagai salah satu usaha mitigasi, tetapi harus digarisbawahi bahwa ini bukan solusi permanen. Ia tidak menyelesaikan penyebab utama bencana hidrometeorologi,\u201d ujar Sonni. Menurutnya, efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Teknik ini baru bisa dilakukan apabila tersedia awan dengan karakteristik tertentu. Sebagai contoh, pada kondisi cuaca yang banyak awan, modifikasi dilakukan dengan cara menggabungkan awan-awan yang berdekatan sehingga proses presipitasi atau hujan dapat dipercepat. \u201cKalau kondisi atmosfernya tidak mendukung, modifikasi cuaca otomatis menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan,\u201d jelasnya. Sekalipun kondisi cuaca mendukung, Sonny mengatakan, dampak modifikasi cuaca bersifat lokal dan terbatas pada wilayah tertentu. Hal ini menjadi persoalan serius ketika modifikasi cuaca diterapkan untuk area yang sangat luas. \u201cUntuk wilayah yang cukup besar, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan, itu hanya akan menjadi pemborosan anggaran atau sekadar menghambur-hamburkan dana,\u201d tegasnya. Bukan Solusi InstanLebih jauh, Sonni mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada modifikasi cuaca berisiko mengaburkan persoalan mendasar yang justru menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi, seperti perubahan tata guna lahan, kerusakan daerah aliran sungai, deforestasi, hingga tata kelola lingkungan yang tidak berkelanjutan. \u201cSelama esensi masalahnya tidak diselesaikan, modifikasi cuaca akan terus menjadi tidak efektif. Ini hanya penanganan gejala, bukan penyakitnya,\u201d ujarnya. Ia mendorong agar kebijakan mitigasi bencana tidak berhenti pada solusi instan, melainkan diarahkan pada pendekatan jangka panjang dan sistemik, berbasis perbaikan lingkungan, perencanaan wilayah yang matang, serta penguatan kapasitas adaptasi masyarakat. \u201cModifikasi cuaca boleh dilakukan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional dan berbasis sains. Jangan sampai solusi cepat justru mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang jauh lebih besar,\u201d pungkas Sonni. (AS) Source: ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2026-02-13T01:37:08+00:00","article_modified_time":"2026-02-13T01:37:10+00:00","og_image":[{"width":1281,"height":721,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana","datePublished":"2026-02-13T01:37:08+00:00","dateModified":"2026-02-13T01:37:10+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508"},"wordCount":342,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg","articleSection":["Berita Utama","Fakultas","Geomet","Kepakaran","Sdgs Geomet","Sustainability"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508","name":"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg","datePublished":"2026-02-13T01:37:08+00:00","dateModified":"2026-02-13T01:37:10+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg","width":1281,"height":721},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":136,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg","jetpack-related-posts":[{"id":4306,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4306","url_meta":{"origin":6508,"position":0},"title":"Himagreto FMIPA IPB dan Panti Goceng Kenalkan Isu Perubahan Iklim di Panti Asuhan Darushsholihat","author":"Support FMIPA","date":"16\/10\/2023","format":false,"excerpt":"Himpunan Mahasiswa Agrometeorologi (Himagreto) Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University bersama Komunitas Panti Goceng menggagas program Cerdas Edukasi Ramah Iklim bersama Adik Panti Asuhan (CERIA). Kegiatan ini merupakan pembaharuan dari kegiatan Indonesia Climate Student Forum (ICSF) yang dilaksanakan di Panti Asuhan Darushsholihat,\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3989,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3989","url_meta":{"origin":6508,"position":1},"title":"Dr Akhmad Faqih Berikan Rekomendasi Strategi dalam Kebijakan Sekolah Lapang Iklim","author":"Support FMIPA","date":"23\/12\/2021","format":false,"excerpt":"Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar Webinar Lesson Learnt: Sekolah Lapang Iklim, pekan lalu. Webinar ini bertujuan untuk memberikan layanan informasi terkait cuaca dan iklim di Jawa Barat yang selama ini dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala Bidang\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":5078,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=5078","url_meta":{"origin":6508,"position":2},"title":"Himagreto Ajak Siswa SMA Amati Kualitas Udara di Kegiatan Haze : Minimizing Pollution in New Year Hype","author":"FMIPA","date":"27\/01\/2020","format":false,"excerpt":"Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB, bekerja sama dengan Center for Climate Risk and Opportunity Management (CCROM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB, menyelenggarakan kegiatan pemantauan kualitas udara di Kota Bogor, Jawa Barat, pada periode 29 Desember 2019 hingga 2 Januari\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Sdgs Geomet&quot;","block_context":{"text":"Sdgs Geomet","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=46"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp_Image_2020-01-22_at_13.47.071.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp_Image_2020-01-22_at_13.47.071.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp_Image_2020-01-22_at_13.47.071.jpeg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp_Image_2020-01-22_at_13.47.071.jpeg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/WhatsApp_Image_2020-01-22_at_13.47.071.jpeg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":4273,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4273","url_meta":{"origin":6508,"position":3},"title":"Dua Dosen FMIPA IPB University Bahas Ekohidrologi dalam Mendukung Ekonomi Hijau dari Sisi Sains dan Kajian Islam","author":"Support FMIPA","date":"21\/02\/2023","format":false,"excerpt":"Ekonomi hijau merupakan konsep ekonomi berkelanjutan yang berfokus kepada lingkungan. Ekonomi hijau terus didorong oleh Pemerintah Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak. Di dalamnya, aspek ekohidrologi juga tidak bisa diabaikan. Membahas hal ini dari sisi sains dan kajian Islam, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar acara TerCerahkan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4017,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4017","url_meta":{"origin":6508,"position":4},"title":"Prof Husin Alatas Jelaskan Fenomena Aphelion dan Pengaruhnya terhadap Batuk Pilek","author":"Support FMIPA","date":"17\/03\/2022","format":false,"excerpt":"Aphelion merupakan istilah yang digunakan ketika posisi bumi berada pada titik terjauh dari matahari. Fenomena ini menjadi perhatian sejak beredarnya informasi terkait adanya hubungan fenomena aphelion sebagai penyebab batuk dan pilek. Prof Husin Alatas, Guru Besar IPB University Bidang Fisika Teori sekaligus pengajar mata kuliah Fisika Sistem Kompleks pada Program\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":6405,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6405","url_meta":{"origin":6508,"position":5},"title":"Mitigasi Kebakaran Lahan Gambut, Prof. Muh Taufik Kembangkan Pendekatan Ekohidrologi","author":"FMIPA","date":"13\/11\/2025","format":false,"excerpt":"IPB University kembali menghadirkan solusi dalam mitigasi kebakaran lahan gambut melalui pendekatan ekohidrologi. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof Muh Taufik, mengembangkan sistem deteksi dini kebakaran berbasis Peat Fire Vulnerability Index (PFVI) yang mampu memprediksi kerentanan hingga 14 hari ke depan. Prof Taufik menjelaskan bahwa sistem\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6508","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6508"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6508\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6509,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6508\/revisions\/6509"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6513"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6508"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6508"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6508"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}