{"id":6819,"date":"2026-09-10T09:02:35","date_gmt":"2026-09-10T02:02:35","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819"},"modified":"2026-09-10T09:32:09","modified_gmt":"2026-09-10T02:32:09","slug":"dosen-ipb-university-ungkap-alasan-matahari-memerah-di-tengah-karhutla","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819","title":{"rendered":"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Matahari berwarna merah atau jingga di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu pemandangan yang banyak menarik perhatian. Perubahan warna tersebut kerap dikaitkan dengan kepulan asap yang menyelimuti atmosfer. Benarkah anggapan tersebut?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan, asap karhutla memang dapat mengubah penampakan Matahari menjadi merah atau jingga karena partikel-partikel aerosol di dalam asap berinteraksi dengan cahaya Matahari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSederhananya, asap bertindak seperti filter optik alami. Sebagian cahaya Matahari dihamburkan dan diserap oleh partikel asap, sehingga cahaya yang sampai ke mata kita relatif lebih kaya warna merah dan jingga,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih lanjut ia menjelaskan, cahaya Matahari terdiri atas berbagai panjang gelombang. Dalam kondisi atmosfer normal, molekul udara lebih efektif menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru. Kondisi inilah yang membuat langit pada siang hari tampak biru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKetika asap karhutla menambah konsentrasi aerosol di atmosfer, interaksi cahaya dengan partikel tersebut menjadi lebih kompleks. Ukuran, bentuk, dan komposisi partikel seperti jelaga, abu, serta material organik hasil pembakaran ikut menentukan bagaimana cahaya Matahari diteruskan, dihamburkan, atau diserap,\u201d urainya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fenomena Matahari berwarna merah biasanya terlihat lebih dramatis saat waktu terbit dan terbenam. Saat berada dekat horizon, cahaya Matahari harus menempuh jalur atmosfer yang lebih panjang dibandingkan ketika Matahari berada tinggi di langit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSemakin panjang lintasan cahaya di atmosfer, semakin besar peluang cahaya berinteraksi dengan molekul udara dan aerosol. Karena itu, warna merah atau jingga biasanya lebih kuat pada pagi dan sore hari,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski demikian, ia menegaskan bahwa warna Matahari yang terlihat oleh mata manusia tidak dapat digunakan secara langsung sebagai ukuran konsentrasi asap atau tingkat pencemaran udara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAsap yang berada cukup tinggi di atmosfer bisa membuat Matahari tampak merah, tetapi belum tentu konsentrasi PM2.5 di permukaan tinggi. Jadi, warna Matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warna yang terlihat dari suatu lokasi juga dipengaruhi ketinggian lapisan asap, ukuran dan komposisi aerosol, kelembapan, awan, sudut Matahari, serta kondisi angin. Karena itu, penentuan kualitas udara tetap perlu mengacu pada data dan informasi resmi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJika Matahari merah disertai kabut asap, jarak pandang menurun, dan adanya sumber karhutla di sekitar atau arah datang angin, masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa informasi kualitas udara resmi,\u201d sebutnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr Givo juga mengingatkan hal penting lain yang tidak boleh dilupakan: jangan melihat langsung matahari dengan mata telanjang. \u201cMeskipun tampak redup atau merah karena asap, pengamatan langsung terhadap Matahari tetap berbahaya,\u201d pungkasnya. (AS)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Source : <a href=\"https:\/\/www.ipb.ac.id\/news\/index\/2026\/08\/dosen-ipb-university-ungkap-alasan-matahari-memerah-di-tengah-karhutla\/\">ipb.ac.id<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matahari berwarna merah atau jingga di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu pemandangan yang banyak menarik perhatian. Perubahan warna tersebut kerap dikaitkan dengan kepulan asap yang menyelimuti atmosfer. Benarkah anggapan tersebut? Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan, asap karhutla memang dapat mengubah penampakan Matahari menjadi merah atau jingga karena partikel-partikel aerosol di dalam asap berinteraksi dengan cahaya Matahari. \u201cSederhananya, asap bertindak seperti filter optik alami. Sebagian cahaya Matahari dihamburkan dan diserap oleh partikel asap, sehingga cahaya yang sampai ke mata kita relatif lebih kaya warna merah dan jingga,\u201d ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, cahaya Matahari terdiri atas berbagai panjang gelombang. Dalam kondisi atmosfer normal, molekul udara lebih efektif menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru. Kondisi inilah yang membuat langit pada siang hari tampak biru. \u201cKetika asap karhutla menambah konsentrasi aerosol di atmosfer, interaksi cahaya dengan partikel tersebut menjadi lebih kompleks. Ukuran, bentuk, dan komposisi partikel seperti jelaga, abu, serta material organik hasil pembakaran ikut menentukan bagaimana cahaya Matahari diteruskan, dihamburkan, atau diserap,\u201d urainya. Fenomena Matahari berwarna merah biasanya terlihat lebih dramatis saat waktu terbit dan terbenam. Saat berada dekat horizon, cahaya Matahari harus menempuh jalur atmosfer yang lebih panjang dibandingkan ketika Matahari berada tinggi di langit. \u201cSemakin panjang lintasan cahaya di atmosfer, semakin besar peluang cahaya berinteraksi dengan molekul udara dan aerosol. Karena itu, warna merah atau jingga biasanya lebih kuat pada pagi dan sore hari,\u201d ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa warna Matahari yang terlihat oleh mata manusia tidak dapat digunakan secara langsung sebagai ukuran konsentrasi asap atau tingkat pencemaran udara. \u201cAsap yang berada cukup tinggi di atmosfer bisa membuat Matahari tampak merah, tetapi belum tentu konsentrasi PM2.5 di permukaan tinggi. Jadi, warna Matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara,\u201d katanya. Warna yang terlihat dari suatu lokasi juga dipengaruhi ketinggian lapisan asap, ukuran dan komposisi aerosol, kelembapan, awan, sudut Matahari, serta kondisi angin. Karena itu, penentuan kualitas udara tetap perlu mengacu pada data dan informasi resmi. \u201cJika Matahari merah disertai kabut asap, jarak pandang menurun, dan adanya sumber karhutla di sekitar atau arah datang angin, masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa informasi kualitas udara resmi,\u201d sebutnya. Dr Givo juga mengingatkan hal penting lain yang tidak boleh dilupakan: jangan melihat langsung matahari dengan mata telanjang. \u201cMeskipun tampak redup atau merah karena asap, pengamatan langsung terhadap Matahari tetap berbahaya,\u201d pungkasnya. (AS) Source : ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6820,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false,"_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[26,34,68,70,56,46,95],"tags":[134,133,135],"class_list":["post-6819","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-geomet","category-sdgs-13","category-sdgs-15","category-sdgs-3","category-sdgs-geomet","category-sustainability","tag-sdgs-13","tag-sdgs-15","tag-sdgs-3"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Matahari berwarna merah atau jingga di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu pemandangan yang banyak menarik perhatian. Perubahan warna tersebut kerap dikaitkan dengan kepulan asap yang menyelimuti atmosfer. Benarkah anggapan tersebut? Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan, asap karhutla memang dapat mengubah penampakan Matahari menjadi merah atau jingga karena partikel-partikel aerosol di dalam asap berinteraksi dengan cahaya Matahari. \u201cSederhananya, asap bertindak seperti filter optik alami. Sebagian cahaya Matahari dihamburkan dan diserap oleh partikel asap, sehingga cahaya yang sampai ke mata kita relatif lebih kaya warna merah dan jingga,\u201d ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, cahaya Matahari terdiri atas berbagai panjang gelombang. Dalam kondisi atmosfer normal, molekul udara lebih efektif menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru. Kondisi inilah yang membuat langit pada siang hari tampak biru. \u201cKetika asap karhutla menambah konsentrasi aerosol di atmosfer, interaksi cahaya dengan partikel tersebut menjadi lebih kompleks. Ukuran, bentuk, dan komposisi partikel seperti jelaga, abu, serta material organik hasil pembakaran ikut menentukan bagaimana cahaya Matahari diteruskan, dihamburkan, atau diserap,\u201d urainya. Fenomena Matahari berwarna merah biasanya terlihat lebih dramatis saat waktu terbit dan terbenam. Saat berada dekat horizon, cahaya Matahari harus menempuh jalur atmosfer yang lebih panjang dibandingkan ketika Matahari berada tinggi di langit. \u201cSemakin panjang lintasan cahaya di atmosfer, semakin besar peluang cahaya berinteraksi dengan molekul udara dan aerosol. Karena itu, warna merah atau jingga biasanya lebih kuat pada pagi dan sore hari,\u201d ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa warna Matahari yang terlihat oleh mata manusia tidak dapat digunakan secara langsung sebagai ukuran konsentrasi asap atau tingkat pencemaran udara. \u201cAsap yang berada cukup tinggi di atmosfer bisa membuat Matahari tampak merah, tetapi belum tentu konsentrasi PM2.5 di permukaan tinggi. Jadi, warna Matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara,\u201d katanya. Warna yang terlihat dari suatu lokasi juga dipengaruhi ketinggian lapisan asap, ukuran dan komposisi aerosol, kelembapan, awan, sudut Matahari, serta kondisi angin. Karena itu, penentuan kualitas udara tetap perlu mengacu pada data dan informasi resmi. \u201cJika Matahari merah disertai kabut asap, jarak pandang menurun, dan adanya sumber karhutla di sekitar atau arah datang angin, masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa informasi kualitas udara resmi,\u201d sebutnya. Dr Givo juga mengingatkan hal penting lain yang tidak boleh dilupakan: jangan melihat langsung matahari dengan mata telanjang. \u201cMeskipun tampak redup atau merah karena asap, pengamatan langsung terhadap Matahari tetap berbahaya,\u201d pungkasnya. (AS) Source : ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-10T02:02:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-10T02:32:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1281\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla\",\"datePublished\":\"2026-09-10T02:02:35+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-10T02:32:09+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819\"},\"wordCount\":406,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg\",\"keywords\":[\"SDGS 13\",\"SDGS 15\",\"SDGS 3\"],\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Geomet\",\"SDG'S 13\",\"SDG'S 15\",\"SDG's 3\",\"Sdgs Geomet\",\"Sustainability\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819\",\"name\":\"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-10T02:02:35+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-10T02:32:09+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg\",\"width\":1281,\"height\":721},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6819#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Matahari berwarna merah atau jingga di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu pemandangan yang banyak menarik perhatian. Perubahan warna tersebut kerap dikaitkan dengan kepulan asap yang menyelimuti atmosfer. Benarkah anggapan tersebut? Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan, asap karhutla memang dapat mengubah penampakan Matahari menjadi merah atau jingga karena partikel-partikel aerosol di dalam asap berinteraksi dengan cahaya Matahari. \u201cSederhananya, asap bertindak seperti filter optik alami. Sebagian cahaya Matahari dihamburkan dan diserap oleh partikel asap, sehingga cahaya yang sampai ke mata kita relatif lebih kaya warna merah dan jingga,\u201d ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, cahaya Matahari terdiri atas berbagai panjang gelombang. Dalam kondisi atmosfer normal, molekul udara lebih efektif menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru. Kondisi inilah yang membuat langit pada siang hari tampak biru. \u201cKetika asap karhutla menambah konsentrasi aerosol di atmosfer, interaksi cahaya dengan partikel tersebut menjadi lebih kompleks. Ukuran, bentuk, dan komposisi partikel seperti jelaga, abu, serta material organik hasil pembakaran ikut menentukan bagaimana cahaya Matahari diteruskan, dihamburkan, atau diserap,\u201d urainya. Fenomena Matahari berwarna merah biasanya terlihat lebih dramatis saat waktu terbit dan terbenam. Saat berada dekat horizon, cahaya Matahari harus menempuh jalur atmosfer yang lebih panjang dibandingkan ketika Matahari berada tinggi di langit. \u201cSemakin panjang lintasan cahaya di atmosfer, semakin besar peluang cahaya berinteraksi dengan molekul udara dan aerosol. Karena itu, warna merah atau jingga biasanya lebih kuat pada pagi dan sore hari,\u201d ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa warna Matahari yang terlihat oleh mata manusia tidak dapat digunakan secara langsung sebagai ukuran konsentrasi asap atau tingkat pencemaran udara. \u201cAsap yang berada cukup tinggi di atmosfer bisa membuat Matahari tampak merah, tetapi belum tentu konsentrasi PM2.5 di permukaan tinggi. Jadi, warna Matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara,\u201d katanya. Warna yang terlihat dari suatu lokasi juga dipengaruhi ketinggian lapisan asap, ukuran dan komposisi aerosol, kelembapan, awan, sudut Matahari, serta kondisi angin. Karena itu, penentuan kualitas udara tetap perlu mengacu pada data dan informasi resmi. \u201cJika Matahari merah disertai kabut asap, jarak pandang menurun, dan adanya sumber karhutla di sekitar atau arah datang angin, masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa informasi kualitas udara resmi,\u201d sebutnya. Dr Givo juga mengingatkan hal penting lain yang tidak boleh dilupakan: jangan melihat langsung matahari dengan mata telanjang. \u201cMeskipun tampak redup atau merah karena asap, pengamatan langsung terhadap Matahari tetap berbahaya,\u201d pungkasnya. (AS) Source : ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2026-09-10T02:02:35+00:00","article_modified_time":"2026-09-10T02:32:09+00:00","og_image":[{"width":1281,"height":721,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla","datePublished":"2026-09-10T02:02:35+00:00","dateModified":"2026-09-10T02:32:09+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819"},"wordCount":406,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg","keywords":["SDGS 13","SDGS 15","SDGS 3"],"articleSection":["Berita Utama","Geomet","SDG'S 13","SDG'S 15","SDG's 3","Sdgs Geomet","Sustainability"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819","name":"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg","datePublished":"2026-09-10T02:02:35+00:00","dateModified":"2026-09-10T02:32:09+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg","width":1281,"height":721},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":3,"jetpack-related-posts":[{"id":6416,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416","url_meta":{"origin":6819,"position":0},"title":"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya","author":"FMIPA","date":"19\/11\/2025","format":false,"excerpt":"Belakangan ini, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia mengeluhkan suhu udara yang terasa semakin panas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab di balik peningkatan suhu tersebut dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari maupun kondisi lingkungan. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, fenomena ini berkaitan dengan proses\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":4297,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4297","url_meta":{"origin":6819,"position":1},"title":"Prof Sri Nurdiati Prediksi Potensi Karhutla Menggunakan Konsep Pemodelan Matematis","author":"Support FMIPA","date":"25\/09\/2023","format":false,"excerpt":"Prof Sri Nurdiati, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menyampaikan analisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dapat menggunakan konsep pemodelan matematis. Ia menilai, konsep pemodelan yang menggunakan data amatan dari stasiun klimatologi dengan skala model yang singkat (harian, mingguan) tersebut dapat memberikan hasil\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":6352,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6352","url_meta":{"origin":6819,"position":2},"title":"Nvidia Sebut Fisika Jadi Fondasi AI, Guru Besar IPB University: 80 Persen Teknologi Modern Lahir dari Teori Kuantum","author":"FMIPA","date":"27\/08\/2025","format":false,"excerpt":"Teori kuantum telah melahirkan hampir 80 persen teknologi modern yang manusia gunakan saat ini, termasuk smartphone dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Fakta ini diungkap Guru Besar Fisika Teori IPB University, Prof Husin Alatas, sebagai respons terhadap pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang tentang pentingnya fisika di era kecerdasan buatan. \u201cDalam kurun\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/prof-Husein.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":3986,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=3986","url_meta":{"origin":6819,"position":3},"title":"Physics Talk ke-19 Departemen Fisika FMIPA IPB University Bahas Lubang Hitam Berambut dan Tak Berambut","author":"Support FMIPA","date":"23\/12\/2021","format":false,"excerpt":"Departemen Fisika IPB University menggelar IPB Physics Talk #19, 16\/12. Pada seri ke-19 ini dihadirkan dosen Kelompok Keahlian Fisika Teori dan Energi Tinggi, Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung dengan topik \u201cNo Hair but Not Bald\u201d. Di awal presentasinya, Prof Bobby Eka Gunara memaparkan tentang black hole (lubang hitam) dan keberadaan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4256,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4256","url_meta":{"origin":6819,"position":4},"title":"Departemen Fisika FMIPA IPB University Gelar Diskusi, Hadirkan Pakar Sel Surya","author":"Support FMIPA","date":"07\/02\/2023","format":false,"excerpt":"Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University melalui kegiatan Webinar IPB Physics Talk edisi 42 menghadirkan Pakar Sel Surya dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yaitu Prof Toto Winata, PhD. Judul materi yang dibawakan adalah \u201cAplikasi Lapisan Tipis Material Nano Semikonduktor Berbasis Karbon dalam Sel Surya Silikon\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":4235,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4235","url_meta":{"origin":6819,"position":5},"title":"Departemen Fisika FMIPA IPB University undang Peneliti Fisika Partikel Berbagi Pengetahuan","author":"Support FMIPA","date":"23\/11\/2022","format":false,"excerpt":"Departemen Fisika IPB University kembali mengundang praktisi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan mahasiswa di kampus IPB Dramaga, Bogor. Pada kesempatan ini, pakar Fisika Partikel Eksperimen, Dr Suharyo Sumowidagdo diundang untuk memberikan kuliah tamu pada Mata Kuliah Fisika Nuklir dan Partikel, 14-15\/11. Dr Suharyo Sumowidagdo merupakan peneliti pada Badan Riset\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6819","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6819"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6819\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6821,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6819\/revisions\/6821"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6820"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6819"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6819"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6819"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}