{"id":6839,"date":"2026-09-22T07:51:24","date_gmt":"2026-09-22T00:51:24","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839"},"modified":"2026-09-22T07:51:27","modified_gmt":"2026-09-22T00:51:27","slug":"dosen-fmipa-ipb-inversi-suhu-atmosfer-bikin-dentuman-anak-krakatau-terdengar-sampai-bandung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839","title":{"rendered":"Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suara dentuman yang dihasilkan erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah, termasuk Bandung. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, kejadian tersebut dapat dipengaruhi oleh lapisan inversi suhu atmosfer.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKondisi atmosfer, khususnya saat terjadi lapisan inversi suhu, dapat membuat gelombang suara dari letusan merambat lebih jauh dan terdengar lebih kuat di permukaan,\u201d ujar Sonni.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pengaruhi Rambatan Suara<br><\/strong>Inversi suhu merupakan suatu keadaan ketika suhu udara justru meningkat terhadap ketinggian. Dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara umumnya menurun seiring bertambahnya ketinggian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLapisan inversi terbentuk ketika udara di dekat permukaan mengalami pendinginan lebih cepat dibandingkan udara di atasnya. Pendinginan ini dapat terjadi akibat pendinginan radiatif di permukaan, masuknya adveksi udara dingin dan kering, maupun proses meteorologis lainnya,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, kondisi tersebut berpengaruh terhadap perambatan gelombang akustik. Suara merupakan gelombang yang merambat melalui udara, dengan kecepatan rambat yang dipengaruhi oleh suhu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbedaan suhu antarlapisan atmosfer dapat menyebabkan gelombang suara mengalami refleksi (pemantulan) atau refraksi (pembiasan), mana yang dominan sangat bergantung dari variasi suhu secara vertikal.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika variasi suhu udara berkurang secara vertikal, maka refraksi lebih dominan terjadi, sedangkan jika variasi suhu udara bertambah secara vertikal maka refleksi lebih dominan terjadi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPada kondisi inversi, pembelokan gelombang akustik menyebabkan lintasan sinar gelombang melengkung kembali ke arah bawah sehingga suara dari sumber yang jauh masih dapat terdengar di permukaan,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Topografi Jadi Faktor Pendukung<br><\/strong>Dalam konteks erupsi Anak Krakatau, aktivitas letusan tidak hanya menghasilkan material vulkanik, tetapi juga melepaskan energi dalam bentuk gelombang akustik. Ketika gelombang tersebut merambat melalui atmosfer yang memiliki kondisi inversi, energi suara dapat mengalami pembelokan dan pemantulan sehingga jangkauan suara menjadi lebih jauh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLapisan inversi dapat membuat suara letusan terdengar lebih jauh. Secara sederhana, kondisi ini seperti terbentuknya ruang yang membantu mempertahankan energi suara sehingga tidak langsung menyebar ke atmosfer bagian atas,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Topografi wilayah juga dapat memperkuat kondisi tersebut. Udara dingin cenderung terakumulasi di wilayah cekungan atau dataran rendah sehingga lebih mendukung terbentuknya lapisan inversi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cCekungan Bandung merupakan salah satu wilayah yang secara topografis rentan mengalami akumulasi udara dingin. Ketika kondisi atmosfer mendukung terbentuknya inversi, wilayah ini dapat menjadi jalur yang memungkinkan energi suara merambat lebih jauh,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dentuman Tidak Selalu Menandakan Sumber Dekat<br><\/strong>Energi gelombang yang mencapai wilayah penerima tidak hanya dapat terdengar sebagai dentuman, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menimbulkan getaran pada benda di sekitar, seperti kaca jendela, pintu, maupun bagian bangunan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fenomena ini menunjukkan bahwa suara dentuman yang terdengar masyarakat tidak selalu berasal dari sumber yang berada dekat dengan lokasi mereka. Aktivitas erupsi sebagai sumber energi, kondisi atmosfer sebagai media perambatan, serta topografi wilayah menjadi faktor yang bersama-sama menentukan sejauh mana suara dapat terdengar. (AS)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Source : <a href=\"https:\/\/www.ipb.ac.id\/news\/index\/2026\/09\/dosen-ipb-university-inversi-suhu-atmosfer-bikin-dentuman-anak-krakatau-terdengar-sampai-bandung\/\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/www.ipb.ac.id\/news\/index\/2026\/09\/dosen-ipb-university-inversi-suhu-atmosfer-bikin-dentuman-anak-krakatau-terdengar-sampai-bandung\/\">ipb.ac.id<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suara dentuman yang dihasilkan erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah, termasuk Bandung. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, kejadian tersebut dapat dipengaruhi oleh lapisan inversi suhu atmosfer. \u201cKondisi atmosfer, khususnya saat terjadi lapisan inversi suhu, dapat membuat gelombang suara dari letusan merambat lebih jauh dan terdengar lebih kuat di permukaan,\u201d ujar Sonni. Pengaruhi Rambatan SuaraInversi suhu merupakan suatu keadaan ketika suhu udara justru meningkat terhadap ketinggian. Dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara umumnya menurun seiring bertambahnya ketinggian. \u201cLapisan inversi terbentuk ketika udara di dekat permukaan mengalami pendinginan lebih cepat dibandingkan udara di atasnya. Pendinginan ini dapat terjadi akibat pendinginan radiatif di permukaan, masuknya adveksi udara dingin dan kering, maupun proses meteorologis lainnya,\u201d jelasnya. Menurutnya, kondisi tersebut berpengaruh terhadap perambatan gelombang akustik. Suara merupakan gelombang yang merambat melalui udara, dengan kecepatan rambat yang dipengaruhi oleh suhu.&nbsp; Perbedaan suhu antarlapisan atmosfer dapat menyebabkan gelombang suara mengalami refleksi (pemantulan) atau refraksi (pembiasan), mana yang dominan sangat bergantung dari variasi suhu secara vertikal.&nbsp; Jika variasi suhu udara berkurang secara vertikal, maka refraksi lebih dominan terjadi, sedangkan jika variasi suhu udara bertambah secara vertikal maka refleksi lebih dominan terjadi.&nbsp; \u201cPada kondisi inversi, pembelokan gelombang akustik menyebabkan lintasan sinar gelombang melengkung kembali ke arah bawah sehingga suara dari sumber yang jauh masih dapat terdengar di permukaan,\u201d ujarnya. Topografi Jadi Faktor PendukungDalam konteks erupsi Anak Krakatau, aktivitas letusan tidak hanya menghasilkan material vulkanik, tetapi juga melepaskan energi dalam bentuk gelombang akustik. Ketika gelombang tersebut merambat melalui atmosfer yang memiliki kondisi inversi, energi suara dapat mengalami pembelokan dan pemantulan sehingga jangkauan suara menjadi lebih jauh. \u201cLapisan inversi dapat membuat suara letusan terdengar lebih jauh. Secara sederhana, kondisi ini seperti terbentuknya ruang yang membantu mempertahankan energi suara sehingga tidak langsung menyebar ke atmosfer bagian atas,\u201d katanya. Topografi wilayah juga dapat memperkuat kondisi tersebut. Udara dingin cenderung terakumulasi di wilayah cekungan atau dataran rendah sehingga lebih mendukung terbentuknya lapisan inversi. \u201cCekungan Bandung merupakan salah satu wilayah yang secara topografis rentan mengalami akumulasi udara dingin. Ketika kondisi atmosfer mendukung terbentuknya inversi, wilayah ini dapat menjadi jalur yang memungkinkan energi suara merambat lebih jauh,\u201d ungkapnya. Dentuman Tidak Selalu Menandakan Sumber DekatEnergi gelombang yang mencapai wilayah penerima tidak hanya dapat terdengar sebagai dentuman, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menimbulkan getaran pada benda di sekitar, seperti kaca jendela, pintu, maupun bagian bangunan. Fenomena ini menunjukkan bahwa suara dentuman yang terdengar masyarakat tidak selalu berasal dari sumber yang berada dekat dengan lokasi mereka. Aktivitas erupsi sebagai sumber energi, kondisi atmosfer sebagai media perambatan, serta topografi wilayah menjadi faktor yang bersama-sama menentukan sejauh mana suara dapat terdengar. (AS) Source : ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6844,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false,"_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[26,34,97,66,68,61,58,46,95],"tags":[105,134,98,99],"class_list":["post-6839","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-geomet","category-kepakaran","category-sdgs-11","category-sdgs-13","category-sdgs-4","category-sdgs-9","category-sdgs-geomet","category-sustainability","tag-sdgs-11","tag-sdgs-13","tag-sdgs-4","tag-sdgs-9"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Suara dentuman yang dihasilkan erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah, termasuk Bandung. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, kejadian tersebut dapat dipengaruhi oleh lapisan inversi suhu atmosfer. \u201cKondisi atmosfer, khususnya saat terjadi lapisan inversi suhu, dapat membuat gelombang suara dari letusan merambat lebih jauh dan terdengar lebih kuat di permukaan,\u201d ujar Sonni. Pengaruhi Rambatan SuaraInversi suhu merupakan suatu keadaan ketika suhu udara justru meningkat terhadap ketinggian. Dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara umumnya menurun seiring bertambahnya ketinggian. \u201cLapisan inversi terbentuk ketika udara di dekat permukaan mengalami pendinginan lebih cepat dibandingkan udara di atasnya. Pendinginan ini dapat terjadi akibat pendinginan radiatif di permukaan, masuknya adveksi udara dingin dan kering, maupun proses meteorologis lainnya,\u201d jelasnya. Menurutnya, kondisi tersebut berpengaruh terhadap perambatan gelombang akustik. Suara merupakan gelombang yang merambat melalui udara, dengan kecepatan rambat yang dipengaruhi oleh suhu.&nbsp; Perbedaan suhu antarlapisan atmosfer dapat menyebabkan gelombang suara mengalami refleksi (pemantulan) atau refraksi (pembiasan), mana yang dominan sangat bergantung dari variasi suhu secara vertikal.&nbsp; Jika variasi suhu udara berkurang secara vertikal, maka refraksi lebih dominan terjadi, sedangkan jika variasi suhu udara bertambah secara vertikal maka refleksi lebih dominan terjadi.&nbsp; \u201cPada kondisi inversi, pembelokan gelombang akustik menyebabkan lintasan sinar gelombang melengkung kembali ke arah bawah sehingga suara dari sumber yang jauh masih dapat terdengar di permukaan,\u201d ujarnya. Topografi Jadi Faktor PendukungDalam konteks erupsi Anak Krakatau, aktivitas letusan tidak hanya menghasilkan material vulkanik, tetapi juga melepaskan energi dalam bentuk gelombang akustik. Ketika gelombang tersebut merambat melalui atmosfer yang memiliki kondisi inversi, energi suara dapat mengalami pembelokan dan pemantulan sehingga jangkauan suara menjadi lebih jauh. \u201cLapisan inversi dapat membuat suara letusan terdengar lebih jauh. Secara sederhana, kondisi ini seperti terbentuknya ruang yang membantu mempertahankan energi suara sehingga tidak langsung menyebar ke atmosfer bagian atas,\u201d katanya. Topografi wilayah juga dapat memperkuat kondisi tersebut. Udara dingin cenderung terakumulasi di wilayah cekungan atau dataran rendah sehingga lebih mendukung terbentuknya lapisan inversi. \u201cCekungan Bandung merupakan salah satu wilayah yang secara topografis rentan mengalami akumulasi udara dingin. Ketika kondisi atmosfer mendukung terbentuknya inversi, wilayah ini dapat menjadi jalur yang memungkinkan energi suara merambat lebih jauh,\u201d ungkapnya. Dentuman Tidak Selalu Menandakan Sumber DekatEnergi gelombang yang mencapai wilayah penerima tidak hanya dapat terdengar sebagai dentuman, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menimbulkan getaran pada benda di sekitar, seperti kaca jendela, pintu, maupun bagian bangunan. Fenomena ini menunjukkan bahwa suara dentuman yang terdengar masyarakat tidak selalu berasal dari sumber yang berada dekat dengan lokasi mereka. Aktivitas erupsi sebagai sumber energi, kondisi atmosfer sebagai media perambatan, serta topografi wilayah menjadi faktor yang bersama-sama menentukan sejauh mana suara dapat terdengar. (AS) Source : ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-22T00:51:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-22T00:51:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1281\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung\",\"datePublished\":\"2026-09-22T00:51:24+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-22T00:51:27+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839\"},\"wordCount\":455,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg\",\"keywords\":[\"SDGS 11\",\"SDGS 13\",\"SDGS 4\",\"SDGS 9\"],\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Geomet\",\"Kepakaran\",\"SDG'S 11\",\"SDG'S 13\",\"SDG'S 4\",\"SDG's 9\",\"Sdgs Geomet\",\"Sustainability\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839\",\"name\":\"Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-22T00:51:24+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-22T00:51:27+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg\",\"width\":1281,\"height\":721},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6839#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Suara dentuman yang dihasilkan erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah, termasuk Bandung. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, kejadian tersebut dapat dipengaruhi oleh lapisan inversi suhu atmosfer. \u201cKondisi atmosfer, khususnya saat terjadi lapisan inversi suhu, dapat membuat gelombang suara dari letusan merambat lebih jauh dan terdengar lebih kuat di permukaan,\u201d ujar Sonni. Pengaruhi Rambatan SuaraInversi suhu merupakan suatu keadaan ketika suhu udara justru meningkat terhadap ketinggian. Dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara umumnya menurun seiring bertambahnya ketinggian. \u201cLapisan inversi terbentuk ketika udara di dekat permukaan mengalami pendinginan lebih cepat dibandingkan udara di atasnya. Pendinginan ini dapat terjadi akibat pendinginan radiatif di permukaan, masuknya adveksi udara dingin dan kering, maupun proses meteorologis lainnya,\u201d jelasnya. Menurutnya, kondisi tersebut berpengaruh terhadap perambatan gelombang akustik. Suara merupakan gelombang yang merambat melalui udara, dengan kecepatan rambat yang dipengaruhi oleh suhu.&nbsp; Perbedaan suhu antarlapisan atmosfer dapat menyebabkan gelombang suara mengalami refleksi (pemantulan) atau refraksi (pembiasan), mana yang dominan sangat bergantung dari variasi suhu secara vertikal.&nbsp; Jika variasi suhu udara berkurang secara vertikal, maka refraksi lebih dominan terjadi, sedangkan jika variasi suhu udara bertambah secara vertikal maka refleksi lebih dominan terjadi.&nbsp; \u201cPada kondisi inversi, pembelokan gelombang akustik menyebabkan lintasan sinar gelombang melengkung kembali ke arah bawah sehingga suara dari sumber yang jauh masih dapat terdengar di permukaan,\u201d ujarnya. Topografi Jadi Faktor PendukungDalam konteks erupsi Anak Krakatau, aktivitas letusan tidak hanya menghasilkan material vulkanik, tetapi juga melepaskan energi dalam bentuk gelombang akustik. Ketika gelombang tersebut merambat melalui atmosfer yang memiliki kondisi inversi, energi suara dapat mengalami pembelokan dan pemantulan sehingga jangkauan suara menjadi lebih jauh. \u201cLapisan inversi dapat membuat suara letusan terdengar lebih jauh. Secara sederhana, kondisi ini seperti terbentuknya ruang yang membantu mempertahankan energi suara sehingga tidak langsung menyebar ke atmosfer bagian atas,\u201d katanya. Topografi wilayah juga dapat memperkuat kondisi tersebut. Udara dingin cenderung terakumulasi di wilayah cekungan atau dataran rendah sehingga lebih mendukung terbentuknya lapisan inversi. \u201cCekungan Bandung merupakan salah satu wilayah yang secara topografis rentan mengalami akumulasi udara dingin. Ketika kondisi atmosfer mendukung terbentuknya inversi, wilayah ini dapat menjadi jalur yang memungkinkan energi suara merambat lebih jauh,\u201d ungkapnya. Dentuman Tidak Selalu Menandakan Sumber DekatEnergi gelombang yang mencapai wilayah penerima tidak hanya dapat terdengar sebagai dentuman, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menimbulkan getaran pada benda di sekitar, seperti kaca jendela, pintu, maupun bagian bangunan. Fenomena ini menunjukkan bahwa suara dentuman yang terdengar masyarakat tidak selalu berasal dari sumber yang berada dekat dengan lokasi mereka. Aktivitas erupsi sebagai sumber energi, kondisi atmosfer sebagai media perambatan, serta topografi wilayah menjadi faktor yang bersama-sama menentukan sejauh mana suara dapat terdengar. (AS) Source : ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2026-09-22T00:51:24+00:00","article_modified_time":"2026-09-22T00:51:27+00:00","og_image":[{"width":1281,"height":721,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung","datePublished":"2026-09-22T00:51:24+00:00","dateModified":"2026-09-22T00:51:27+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839"},"wordCount":455,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg","keywords":["SDGS 11","SDGS 13","SDGS 4","SDGS 9"],"articleSection":["Berita Utama","Geomet","Kepakaran","SDG'S 11","SDG'S 13","SDG'S 4","SDG's 9","Sdgs Geomet","Sustainability"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839","name":"Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg","datePublished":"2026-09-22T00:51:24+00:00","dateModified":"2026-09-22T00:51:27+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg","width":1281,"height":721},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6839#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dosen FMIPA IPB: Inversi Suhu Atmosfer Bikin Dentuman Anak Krakatau Terdengar Sampai Bandung"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":2,"jetpack-related-posts":[{"id":6416,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6416","url_meta":{"origin":6839,"position":0},"title":"Cuaca Kian Panas, Dosen Meteorologi FMIPA IPB Ungkap Pemicunya","author":"FMIPA","date":"19\/11\/2025","format":false,"excerpt":"Belakangan ini, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia mengeluhkan suhu udara yang terasa semakin panas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab di balik peningkatan suhu tersebut dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari maupun kondisi lingkungan. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, fenomena ini berkaitan dengan proses\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/cuaca-kian-panas.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6819,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6819","url_meta":{"origin":6839,"position":1},"title":"Dosen IPB University Ungkap Alasan Matahari Memerah di Tengah Karhutla","author":"FMIPA","date":"10\/09\/2026","format":false,"excerpt":"Matahari berwarna merah atau jingga di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu pemandangan yang banyak menarik perhatian. Perubahan warna tersebut kerap dikaitkan dengan kepulan asap yang menyelimuti atmosfer. Benarkah anggapan tersebut? Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan, asap karhutla memang dapat mengubah\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Matahari-Memerah-di-Tengah-Karhutla.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6405,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6405","url_meta":{"origin":6839,"position":2},"title":"Mitigasi Kebakaran Lahan Gambut, Prof. Muh Taufik Kembangkan Pendekatan Ekohidrologi","author":"FMIPA","date":"13\/11\/2025","format":false,"excerpt":"IPB University kembali menghadirkan solusi dalam mitigasi kebakaran lahan gambut melalui pendekatan ekohidrologi. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof Muh Taufik, mengembangkan sistem deteksi dini kebakaran berbasis Peat Fire Vulnerability Index (PFVI) yang mampu memprediksi kerentanan hingga 14 hari ke depan. Prof Taufik menjelaskan bahwa sistem\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Mitigasi.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6508,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6508","url_meta":{"origin":6839,"position":3},"title":"Akademisi IPB University Jelaskan Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca dalam Mitigasi Bencana","author":"FMIPA","date":"13\/02\/2026","format":false,"excerpt":"Meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia mendorong pemanfaatan modifikasi cuaca sebagai solusi. Modifikasi cuaca kerap dipersepsikan sebagai jalan pintas untuk menekan dampak banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menyatakan bahwa modifikasi cuaca memang dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/modifikasi-cuaca.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6823,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6823","url_meta":{"origin":6839,"position":4},"title":"Dari Regenerasi Tulang hingga Penyerap Logam Berat, Ini Potensi Besar Senyawa Apatit Menurut Prof Charlena","author":"FMIPA","date":"17\/09\/2026","format":false,"excerpt":"Senyawa apatit dinilai berpotensi besar sebagai material strategis yang mampu menjawab tantangan kesehatan dan lingkungan global abad ke-21.\u00a0 Selain telah banyak dimanfaatkan dalam bidang biomedis untuk mendukung regenerasi jaringan keras, material ini juga menunjukkan kemampuan tinggi dalam mengatasi pencemaran logam berat di lingkungan.\u00a0 Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Matematika\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Potensi-Besar-Senyawa-Apatit.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Potensi-Besar-Senyawa-Apatit.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Potensi-Besar-Senyawa-Apatit.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Potensi-Besar-Senyawa-Apatit.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Potensi-Besar-Senyawa-Apatit.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6419,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419","url_meta":{"origin":6839,"position":5},"title":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim","author":"FMIPA","date":"01\/12\/2025","format":false,"excerpt":"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Namun, apakah klaim itu juga berlaku untuk dunia jamur? Pertanyaan ini dibahas Dr Ivan Permana Putra, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University dalam webinar Ngobrolin Spesies edisi ke-7. Dalam pemaparannya, Dr Ivan menyampaikan bahwa hingga kini, data tentang jamur di\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-anak-gunung-krakatau.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6839","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6839"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6839\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6840,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6839\/revisions\/6840"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6844"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6839"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6839"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6839"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}