{"id":6841,"date":"2026-09-23T09:59:49","date_gmt":"2026-09-23T02:59:49","guid":{"rendered":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841"},"modified":"2026-09-23T09:59:51","modified_gmt":"2026-09-23T02:59:51","slug":"tanah-bekas-tambang-miskin-spesies-begini-temuan-dosen-fmipa-ipb-di-poboya-sulteng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841","title":{"rendered":"Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lahan bekas tambang kerap dipandang sebagai lingkungan yang telah kehilangan kehidupan. Namun, penelitian dosen IPB University terhadap DNA tanah Poboya, Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa komunitas mikroba di dalamnya masih memiliki kemampuan bertahan dan berpotensi mendukung pemulihan lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr Rahadian Pratama, peneliti IPB University dari Departemen Biokimia mengungkapkan bahwa penutupan vegetasi (<em>vegetation cover<\/em>) justru menjadi faktor dominan yang memicu pemulihan komunitas bakteri tanah, dibandingkan riwayat pertambangan itu sendiri.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTanah bekas tambang ternyata tidak sepenuhnya miskin spesies. Penanaman kembali atau revegetasi menjadi jalur yang sangat potensial untuk pemulihan mikroba di lahan bekas tambang,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Temuan tersebut diperolehnya melalui analisis mikrobioma tanah menggunakan teknologi <em>Oxford Nanopore Sequencing<\/em> (ONT) dan pendekatan metagenomik di kawasan konsesi tambang emas Poboya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mikroba dengan Potensi Unik<\/strong>Melalui analisis sekuensing terhadap sampel tanah, tim peneliti berhasil mengidentifikasi konsorsium mikroba yang memiliki perangkat metabolik (<em>metabolic toolkit<\/em>) unik untuk bertahan hidup di lingkungan tercemar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satunya adalah isolat bakteri seperti <em>Variovorax<\/em>. Analisis genomik menunjukkan bakteri tersebut membawa gen-gen pengurai polutan, gen resistensi logam berat, serta penyerap besi (<em>siderophores<\/em>). Bakteri ini juga dilengkapi gen pendorong pertumbuhan tanaman (<em>plant-growth promotion<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAnalisis genom ini memberikan bukti konkret mengenai potensi bioremediasi asli dari tanah Sulawesi. Ini menjadi petunjuk nyata untuk memulihkan tanah yang terdampak aktivitas pertambangan sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman di sekitarnya,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan tidak serta-merta membuat tanah kehilangan seluruh potensi mikrobiologisnya. Penutupan vegetasi menjadi salah satu faktor penting yang berkaitan dengan pemulihan komunitas bakteri tanah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Wallacea Sumber Genom<\/strong>Dr Rahadian juga menekankan bahwa tanah di kawasan Wallacea merupakan sumber daya genom yang sangat kaya, tetapi belum banyak tereksplorasi. Karena itu, pemantauan mikrobioma dinilai penting tidak hanya pada area bekas tambang, tetapi juga pada lahan yang mengalami alih fungsi menjadi pertanian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Temuan tersebut dipaparkan Dr Rahadian dalam webinar bertajuk <em>\u201cKetika Vegetasi \u2018Menyamarkan\u2019 Jejak Tambang: Kisah DNA Tanah Poboya\u201d<\/em> yang diselenggarakan Departemen Biokimia IPB University bekerja sama dengan Dynata Inovasi Corporalab secara daring, belum lama ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Webinar diikuti peneliti, mahasiswa, hingga praktisi laboratorium yang mendapatkan gambaran mengenai aplikasi praktis sekuensing Nanopore untuk mengungkap keanekaragaman hayati dan bioprospeksi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Source : ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lahan bekas tambang kerap dipandang sebagai lingkungan yang telah kehilangan kehidupan. Namun, penelitian dosen IPB University terhadap DNA tanah Poboya, Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa komunitas mikroba di dalamnya masih memiliki kemampuan bertahan dan berpotensi mendukung pemulihan lingkungan. Dr Rahadian Pratama, peneliti IPB University dari Departemen Biokimia mengungkapkan bahwa penutupan vegetasi (vegetation cover) justru menjadi faktor dominan yang memicu pemulihan komunitas bakteri tanah, dibandingkan riwayat pertambangan itu sendiri.&nbsp; \u201cTanah bekas tambang ternyata tidak sepenuhnya miskin spesies. Penanaman kembali atau revegetasi menjadi jalur yang sangat potensial untuk pemulihan mikroba di lahan bekas tambang,\u201d ungkapnya. Temuan tersebut diperolehnya melalui analisis mikrobioma tanah menggunakan teknologi Oxford Nanopore Sequencing (ONT) dan pendekatan metagenomik di kawasan konsesi tambang emas Poboya. Mikroba dengan Potensi UnikMelalui analisis sekuensing terhadap sampel tanah, tim peneliti berhasil mengidentifikasi konsorsium mikroba yang memiliki perangkat metabolik (metabolic toolkit) unik untuk bertahan hidup di lingkungan tercemar. Salah satunya adalah isolat bakteri seperti Variovorax. Analisis genomik menunjukkan bakteri tersebut membawa gen-gen pengurai polutan, gen resistensi logam berat, serta penyerap besi (siderophores). Bakteri ini juga dilengkapi gen pendorong pertumbuhan tanaman (plant-growth promotion). \u201cAnalisis genom ini memberikan bukti konkret mengenai potensi bioremediasi asli dari tanah Sulawesi. Ini menjadi petunjuk nyata untuk memulihkan tanah yang terdampak aktivitas pertambangan sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman di sekitarnya,\u201d tambahnya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan tidak serta-merta membuat tanah kehilangan seluruh potensi mikrobiologisnya. Penutupan vegetasi menjadi salah satu faktor penting yang berkaitan dengan pemulihan komunitas bakteri tanah. Wallacea Sumber GenomDr Rahadian juga menekankan bahwa tanah di kawasan Wallacea merupakan sumber daya genom yang sangat kaya, tetapi belum banyak tereksplorasi. Karena itu, pemantauan mikrobioma dinilai penting tidak hanya pada area bekas tambang, tetapi juga pada lahan yang mengalami alih fungsi menjadi pertanian. Temuan tersebut dipaparkan Dr Rahadian dalam webinar bertajuk \u201cKetika Vegetasi \u2018Menyamarkan\u2019 Jejak Tambang: Kisah DNA Tanah Poboya\u201d yang diselenggarakan Departemen Biokimia IPB University bekerja sama dengan Dynata Inovasi Corporalab secara daring, belum lama ini. Webinar diikuti peneliti, mahasiswa, hingga praktisi laboratorium yang mendapatkan gambaran mengenai aplikasi praktis sekuensing Nanopore untuk mengungkap keanekaragaman hayati dan bioprospeksi Source : ipb.ac.id<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6845,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false,"_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[26,38,97,67,70,58,47,95],"tags":[106,133,99],"class_list":["post-6841","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-biokimia","category-kepakaran","category-sdgs-12","category-sdgs-15","category-sdgs-9","category-sdgs-biokimia","category-sustainability","tag-sdgs-12","tag-sdgs-15","tag-sdgs-9"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng - fmipa.ipb.ac.id<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng - fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Lahan bekas tambang kerap dipandang sebagai lingkungan yang telah kehilangan kehidupan. Namun, penelitian dosen IPB University terhadap DNA tanah Poboya, Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa komunitas mikroba di dalamnya masih memiliki kemampuan bertahan dan berpotensi mendukung pemulihan lingkungan. Dr Rahadian Pratama, peneliti IPB University dari Departemen Biokimia mengungkapkan bahwa penutupan vegetasi (vegetation cover) justru menjadi faktor dominan yang memicu pemulihan komunitas bakteri tanah, dibandingkan riwayat pertambangan itu sendiri.&nbsp; \u201cTanah bekas tambang ternyata tidak sepenuhnya miskin spesies. Penanaman kembali atau revegetasi menjadi jalur yang sangat potensial untuk pemulihan mikroba di lahan bekas tambang,\u201d ungkapnya. Temuan tersebut diperolehnya melalui analisis mikrobioma tanah menggunakan teknologi Oxford Nanopore Sequencing (ONT) dan pendekatan metagenomik di kawasan konsesi tambang emas Poboya. Mikroba dengan Potensi UnikMelalui analisis sekuensing terhadap sampel tanah, tim peneliti berhasil mengidentifikasi konsorsium mikroba yang memiliki perangkat metabolik (metabolic toolkit) unik untuk bertahan hidup di lingkungan tercemar. Salah satunya adalah isolat bakteri seperti Variovorax. Analisis genomik menunjukkan bakteri tersebut membawa gen-gen pengurai polutan, gen resistensi logam berat, serta penyerap besi (siderophores). Bakteri ini juga dilengkapi gen pendorong pertumbuhan tanaman (plant-growth promotion). \u201cAnalisis genom ini memberikan bukti konkret mengenai potensi bioremediasi asli dari tanah Sulawesi. Ini menjadi petunjuk nyata untuk memulihkan tanah yang terdampak aktivitas pertambangan sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman di sekitarnya,\u201d tambahnya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan tidak serta-merta membuat tanah kehilangan seluruh potensi mikrobiologisnya. Penutupan vegetasi menjadi salah satu faktor penting yang berkaitan dengan pemulihan komunitas bakteri tanah. Wallacea Sumber GenomDr Rahadian juga menekankan bahwa tanah di kawasan Wallacea merupakan sumber daya genom yang sangat kaya, tetapi belum banyak tereksplorasi. Karena itu, pemantauan mikrobioma dinilai penting tidak hanya pada area bekas tambang, tetapi juga pada lahan yang mengalami alih fungsi menjadi pertanian. Temuan tersebut dipaparkan Dr Rahadian dalam webinar bertajuk \u201cKetika Vegetasi \u2018Menyamarkan\u2019 Jejak Tambang: Kisah DNA Tanah Poboya\u201d yang diselenggarakan Departemen Biokimia IPB University bekerja sama dengan Dynata Inovasi Corporalab secara daring, belum lama ini. Webinar diikuti peneliti, mahasiswa, hingga praktisi laboratorium yang mendapatkan gambaran mengenai aplikasi praktis sekuensing Nanopore untuk mengungkap keanekaragaman hayati dan bioprospeksi Source : ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"fmipa.ipb.ac.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-23T02:59:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-23T02:59:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-freepik.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1281\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"FMIPA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"FMIPA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841\"},\"author\":{\"name\":\"FMIPA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\"},\"headline\":\"Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng\",\"datePublished\":\"2026-09-23T02:59:49+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-23T02:59:51+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841\"},\"wordCount\":352,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Foto-freepik.jpg\",\"keywords\":[\"SDGS 12\",\"SDGS 15\",\"SDGS 9\"],\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Biokimia\",\"Kepakaran\",\"SDG'S 12\",\"SDG'S 15\",\"SDG's 9\",\"Sdgs Biokimia\",\"Sustainability\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841\",\"name\":\"Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng - fmipa.ipb.ac.id\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Foto-freepik.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-23T02:59:49+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-23T02:59:51+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Foto-freepik.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/Foto-freepik.jpg\",\"width\":1281,\"height\":721},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?p=6841#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"name\":\"fmipa.ipb.ac.id\",\"description\":\"Fast Forward Future\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Fakultas MIPA IPB University\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/07\\\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png\",\"width\":8200,\"height\":1648,\"caption\":\"Fakultas MIPA IPB University\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/fmipa_ipb\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0\",\"name\":\"FMIPA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"FMIPA\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/fmipa.ipb.ac.id\\\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng - fmipa.ipb.ac.id","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng - fmipa.ipb.ac.id","og_description":"Lahan bekas tambang kerap dipandang sebagai lingkungan yang telah kehilangan kehidupan. Namun, penelitian dosen IPB University terhadap DNA tanah Poboya, Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa komunitas mikroba di dalamnya masih memiliki kemampuan bertahan dan berpotensi mendukung pemulihan lingkungan. Dr Rahadian Pratama, peneliti IPB University dari Departemen Biokimia mengungkapkan bahwa penutupan vegetasi (vegetation cover) justru menjadi faktor dominan yang memicu pemulihan komunitas bakteri tanah, dibandingkan riwayat pertambangan itu sendiri.&nbsp; \u201cTanah bekas tambang ternyata tidak sepenuhnya miskin spesies. Penanaman kembali atau revegetasi menjadi jalur yang sangat potensial untuk pemulihan mikroba di lahan bekas tambang,\u201d ungkapnya. Temuan tersebut diperolehnya melalui analisis mikrobioma tanah menggunakan teknologi Oxford Nanopore Sequencing (ONT) dan pendekatan metagenomik di kawasan konsesi tambang emas Poboya. Mikroba dengan Potensi UnikMelalui analisis sekuensing terhadap sampel tanah, tim peneliti berhasil mengidentifikasi konsorsium mikroba yang memiliki perangkat metabolik (metabolic toolkit) unik untuk bertahan hidup di lingkungan tercemar. Salah satunya adalah isolat bakteri seperti Variovorax. Analisis genomik menunjukkan bakteri tersebut membawa gen-gen pengurai polutan, gen resistensi logam berat, serta penyerap besi (siderophores). Bakteri ini juga dilengkapi gen pendorong pertumbuhan tanaman (plant-growth promotion). \u201cAnalisis genom ini memberikan bukti konkret mengenai potensi bioremediasi asli dari tanah Sulawesi. Ini menjadi petunjuk nyata untuk memulihkan tanah yang terdampak aktivitas pertambangan sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman di sekitarnya,\u201d tambahnya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan tidak serta-merta membuat tanah kehilangan seluruh potensi mikrobiologisnya. Penutupan vegetasi menjadi salah satu faktor penting yang berkaitan dengan pemulihan komunitas bakteri tanah. Wallacea Sumber GenomDr Rahadian juga menekankan bahwa tanah di kawasan Wallacea merupakan sumber daya genom yang sangat kaya, tetapi belum banyak tereksplorasi. Karena itu, pemantauan mikrobioma dinilai penting tidak hanya pada area bekas tambang, tetapi juga pada lahan yang mengalami alih fungsi menjadi pertanian. Temuan tersebut dipaparkan Dr Rahadian dalam webinar bertajuk \u201cKetika Vegetasi \u2018Menyamarkan\u2019 Jejak Tambang: Kisah DNA Tanah Poboya\u201d yang diselenggarakan Departemen Biokimia IPB University bekerja sama dengan Dynata Inovasi Corporalab secara daring, belum lama ini. Webinar diikuti peneliti, mahasiswa, hingga praktisi laboratorium yang mendapatkan gambaran mengenai aplikasi praktis sekuensing Nanopore untuk mengungkap keanekaragaman hayati dan bioprospeksi Source : ipb.ac.id","og_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841","og_site_name":"fmipa.ipb.ac.id","article_published_time":"2026-09-23T02:59:49+00:00","article_modified_time":"2026-09-23T02:59:51+00:00","og_image":[{"width":1281,"height":721,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-freepik.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"FMIPA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"FMIPA","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841"},"author":{"name":"FMIPA","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0"},"headline":"Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng","datePublished":"2026-09-23T02:59:49+00:00","dateModified":"2026-09-23T02:59:51+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841"},"wordCount":352,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-freepik.jpg","keywords":["SDGS 12","SDGS 15","SDGS 9"],"articleSection":["Berita Utama","Biokimia","Kepakaran","SDG'S 12","SDG'S 15","SDG's 9","Sdgs Biokimia","Sustainability"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841","name":"Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng - fmipa.ipb.ac.id","isPartOf":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-freepik.jpg","datePublished":"2026-09-23T02:59:49+00:00","dateModified":"2026-09-23T02:59:51+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841#primaryimage","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-freepik.jpg","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-freepik.jpg","width":1281,"height":721},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6841#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tanah Bekas Tambang Miskin Spesies? Begini Temuan Dosen FMIPA IPB di Poboya Sulteng"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#website","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","name":"fmipa.ipb.ac.id","description":"Fast Forward Future","publisher":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#organization","name":"Fakultas MIPA IPB University","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","contentUrl":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/G-Logo-IPB-University-Vertical-Warna-Hi-1.png","width":8200,"height":1648,"caption":"Fakultas MIPA IPB University"},"image":{"@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/fmipa_ipb\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/#\/schema\/person\/263bf412b978c4e0e0357d09b736e8d0","name":"FMIPA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc86fbcdfc132d52c99f722214aabaa74d935697fa5c88e390cfcfc3f33ec2d7?s=96&d=mm&r=g","caption":"FMIPA"},"sameAs":["https:\/\/fmipa.ipb.ac.id"],"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?author=4"}]}},"views":1,"jetpack-related-posts":[{"id":6534,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6534","url_meta":{"origin":6841,"position":0},"title":"FMIPA IPB University Bertransformasi Menuju Fakultas Sains, Perkuat Bioinformatika dan Riset Biodiversitas","author":"FMIPA","date":"13\/04\/2026","format":false,"excerpt":"Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University terus melakukan pembaruan kelembagaan, akademik, dan riset sebagai bagian dari strategi penguatan sains dasar yang adaptif dan lintas disiplin. Hal ini disampaikan Dekan Dr Berry Juliandi, saat memaparkan perkembangan terbaru FMIPA IPB University. Ia menjelaskan, perubahan signifikan terjadi setelah tiga departemen\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/FMIPA-IPB-University-Bertransformasi-Menuju-Fakultas-Sains-Perkuat-Bioinformatika-dan-Riset-Biodiversitas.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":4127,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=4127","url_meta":{"origin":6841,"position":1},"title":"Riset Dosen FMIPA IPB: Bayam Liar Bisa Menjadi Agen Fitomining di Lahan Bekas Pertambangan Emas","author":"Support FMIPA","date":"05\/08\/2022","format":false,"excerpt":"Bayam liar merupakan salah satu tumbuhan akumulator ion logam, termasuk logam emas. Bahkan, beberapa spesiesnya termasuk sebagai hiperakumulator. Bayam liar memiliki kemampuan mengabsorpsi atau menyerap beberapa logam dalam jumlah yang tinggi. Bila tempat tumbuhnya kebetulan mengandung emas, kemungkinan bayam liar juga akan menyerap logam emas tersebut. Namun, Prof Hamim, Dosen\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":6419,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6419","url_meta":{"origin":6841,"position":2},"title":"Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim","author":"FMIPA","date":"01\/12\/2025","format":false,"excerpt":"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Namun, apakah klaim itu juga berlaku untuk dunia jamur? Pertanyaan ini dibahas Dr Ivan Permana Putra, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University dalam webinar Ngobrolin Spesies edisi ke-7. Dalam pemaparannya, Dr Ivan menyampaikan bahwa hingga kini, data tentang jamur di\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/ivan-permana-putra.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6434,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6434","url_meta":{"origin":6841,"position":3},"title":"Molecules to Memories","author":"FMIPA","date":"02\/12\/2025","format":false,"excerpt":"\u200bPada 29 Nov 2025, Himpunan Alumni Biokimia IPB sukses menyelenggarakan Reuni Akbar bertajuk \"Molecules to Memories\" di Auditorium FMIPA IPB Dramaga. Acara ini dihadiri oleh 125 alumni dari berbagai angkatan dan berhasil merealisasikan tujuan utama reuni: merajut kembali silaturahmi, memfasilitasi networking profesional, dan menguatkan ikatan alumni dengan almamater. Tema \"Molecules\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-11-29-at-17.06.09.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-11-29-at-17.06.09.jpeg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-11-29-at-17.06.09.jpeg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-11-29-at-17.06.09.jpeg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-11-29-at-17.06.09.jpeg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6485,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6485","url_meta":{"origin":6841,"position":4},"title":"Prof Antonius Ungkap Kekayaan Tak Kasat Mata Indonesia, 95% Masih Jadi Misteri","author":"FMIPA","date":"28\/01\/2026","format":false,"excerpt":"Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan kekayaan alam yang melimpah. Namun, kekayaan tersebut tidak hanya terbatas pada sumber daya yang kasat mata. Nusantara juga menyimpan keragaman mikroba yang luar biasa dan berpotensi besar untuk dikembangkan dalam berbagai bidang, khususnya bioteknologi. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Prof-Antonius-Suwanto.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]},{"id":6823,"url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?p=6823","url_meta":{"origin":6841,"position":5},"title":"Dari Regenerasi Tulang hingga Penyerap Logam Berat, Ini Potensi Besar Senyawa Apatit Menurut Prof Charlena","author":"FMIPA","date":"17\/09\/2026","format":false,"excerpt":"Senyawa apatit dinilai berpotensi besar sebagai material strategis yang mampu menjawab tantangan kesehatan dan lingkungan global abad ke-21.\u00a0 Selain telah banyak dimanfaatkan dalam bidang biomedis untuk mendukung regenerasi jaringan keras, material ini juga menunjukkan kemampuan tinggi dalam mengatasi pencemaran logam berat di lingkungan.\u00a0 Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Matematika\u2026","rel":"","context":"dalam &quot;Berita Utama&quot;","block_context":{"text":"Berita Utama","link":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/?cat=26"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Potensi-Besar-Senyawa-Apatit.jpg?resize=350%2C200&ssl=1","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Potensi-Besar-Senyawa-Apatit.jpg?resize=350%2C200&ssl=1 1x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Potensi-Besar-Senyawa-Apatit.jpg?resize=525%2C300&ssl=1 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Potensi-Besar-Senyawa-Apatit.jpg?resize=700%2C400&ssl=1 2x, https:\/\/i0.wp.com\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Potensi-Besar-Senyawa-Apatit.jpg?resize=1050%2C600&ssl=1 3x"},"classes":[]}],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Foto-freepik.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6841","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6841"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6841\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6843,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6841\/revisions\/6843"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6845"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6841"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6841"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fmipa.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6841"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}