Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan
Prof. Dr. Drs. Tri Atmowidi, M.Si. : Kasus Sengatan di Bantul Bukan Tawon Gung, tapi Lebah Hutan Mematikan
Kasus meninggalnya seorang nenek di Bantul akibat disengat kawanan serangga yang diduga tawon gung menyita perhatian publik. Menanggapi hal ini, Pakar Serangga IPB University, Prof Tri Atmowidi, meluruskan informasi tersebut sekaligus mengedukasi masyarakat terkait penanganan yang tepat saat terjadi sengatan.
Bukan Tawon Gung
Menurut Prof Tri, istilah tawon gung yang beredar di masyarakat umumnya mengacu pada spesies Vespa affinis atau Vespa velutina. Kedua jenis ini termasuk dalam kelompok Spheciformes dan dikenal memiliki tubuh ramping, berwarna coklat kehitaman dengan belang mencolok pada bagian perut.
“Secara umum, tawon memiliki rambut tubuh yang lebih sedikit dibandingkan lebah dan bersifat lebih agresif,” jelasnya.
Namun, berdasarkan foto yang beredar di media, Prof Tri menduga serangan di Bantul bukan disebabkan oleh tawon, melainkan oleh lebah hutan besar (Apis dorsata).
“Dari ciri sarangnya, tampaknya itu bukan sarang tawon, melainkan sarang lebah besar yang hanya terdiri dari satu sisiran besar dan biasa menggantung di batang pohon tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, lebah hutan ini memiliki ukuran tubuh sekitar 17–20 milimeter, berwarna coklat dengan belang kuning kecoklatan pada bagian abdomen. Jenis ini dikenal sangat defensif dan tidak dapat dibudidayakan karena perilakunya yang sering bermigrasi.
“Dalam kasus di Bantul, kemungkinan korban disengat oleh puluhan lebah Apis dorsata. Meskipun satu lebah hanya dapat menyengat sekali, jika jumlahnya puluhan, racun yang masuk ke tubuh bisa menimbulkan efek toksik serius hingga menyebabkan kematian,” terangnya.
Tawon umumnya lebih berbahaya dibanding lebah karena dapat menyengat berkali-kali tanpa kehilangan sengatnya. Sebaliknya, lebah hanya mampu menyengat satu kali karena sengatnya akan tertinggal di kulit korban.
“Venom lebah jumlahnya memang lebih banyak, namun racun tawon (terutama Vespa) memiliki daya toksik yang lebih kuat,” tambahnya.
Baik tawon maupun lebah dapat memicu reaksi alergi berat dan bahkan kematian, terutama pada individu yang sensitif atau menerima banyak sengatan sekaligus. Racun lebah, yang dikenal sebagai apitoksin, mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti protein, peptida, dan amina biogenik (histamin, dopamin, melittin, serta fosfolipase).
“Pada reaksi lokal, gejala yang muncul berupa nyeri, panas, bengkak, dan gatal di area sengatan. Sementara pada reaksi sistemik atau anafilaksis, gejalanya bisa lebih berat, mulai dari kulit kemerahan, pembengkakan pada bibir dan kelopak mata, hingga sesak napas dan pingsan,” paparnya.
Jika korban menerima banyak sengatan sekaligus, racun dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti hati dan ginjal. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis darurat.
Langkah Pertama
Prof Tri mengingatkan, langkah pertama yang harus dilakukan saat disengat tawon atau lebah adalah menjauh dari lokasi sarang agar tidak diserang kembali. Jika yang menyengat adalah lebah, segera keluarkan sengat yang tertinggal di kulit, cuci area tersebut dengan air sabun, dan kompres menggunakan air dingin.
“Minumlah obat antihistamin untuk mengurangi reaksi alergi. Bila korban mengalami sesak atau pingsan, segera bawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,” imbaunya.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau tidak panik dan jangan mengusir tawon dan lebah secara mandiri. Jika menemukan sarang di sekitar permukiman, segera laporkan kepada dinas terkait seperti pemadam kebakaran atau ahli lebah/tawon.
“Jangan melakukan gerakan mendadak atau berisik di sekitar sarang karena bisa memicu serangan kawanan lebah atau tawon. Cukup beri tanda peringatan di lokasi dan menjauh dengan tenang,” pungkasnya. (AS)