Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim

ivan permana putra
Berita Utama / Biologi / Kepakaran / Sdgs Biologi / Sustainability

Dr Ivan Permana Putra: Indonesia Negara Megabiodiversitas, Tapi Riset tentang Jamur Masih Sangat Minim

Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Namun, apakah klaim itu juga berlaku untuk dunia jamur? Pertanyaan ini dibahas Dr Ivan Permana Putra, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University dalam webinar Ngobrolin Spesies edisi ke-7.

Dalam pemaparannya, Dr Ivan menyampaikan bahwa hingga kini, data tentang jamur di Indonesia masih sangat terbatas. Berdasarkan catatan tahun 2017, baru ada sekitar 2.273 spesies jamur makro dan mikro yang teridentifikasi. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan data global yang pada tahun yang sama telah mencatat lebih dari 5 juta spesies fungi. 

“Masalahnya bukan pada kekayaan alam kita, tetapi karena data kita belum lengkap dan belum terverifikasi dengan baik,” ujar Dr Ivan pada acara yang diselenggarakan Indonesia Species Specialist Group (IdSSG) secara daring (31/10).

Menurutnya, kendala utama penelitian jamur di Indonesia meliputi minimnya peneliti yang fokus pada bidang mikologi, kurangnya eksplorasi lapangan, serta belum adanya checklist jamur nasional. 

“Sering kali laporan tentang jamur hanya menyebutkan nama dan lokasi, tanpa dilengkapi deskripsi, gambar, atau herbarium. Padahal, tanpa bukti pendukung, data itu sulit diverifikasi. Karena itu kita perlu membuat standar minimum publikasi fungi di Indonesia agar datanya valid,” tegasnya.

Dr Ivan juga menyoroti kurang berkembangnya ilmu ekologi dan mikologi di Indonesia. Selain itu, ada kesenjangan generasi dalam bidang mikologi. Akibatnya, referensi lokal sangat terbatas. Banyak peneliti pemula, sebutnya, masih mengandalkan literatur dari luar negeri yang belum tentu sesuai dengan kondisi Indonesia.

Penelitian Dr Ivan dan tim mencakup tahapan koleksi jamur liar, identifikasi morfologi dan molekuler, hingga analisis nutrisi, untuk membuka peluang pemanfaatan jamur secara berkelanjutan.

Beberapa jenis jamur lokal juga disebut memiliki potensi ekonomi tinggi. Misalnya, jamur pelawan (Heimioporus sp.) yang harganya dapat mencapai Rp4 juta per kilogram dalam bentuk kering, serta jamur wild shiitake (Lentinula lateritia) yang ditemukan di hutan Jambi dan kini tengah dikembangkan sebagai bibit asli Indonesia. 

Dr Ivan menegaskan bahwa penelitian jamur di Indonesia berfokus pada tiga aspek utama: taksonomi, potensi budi daya, dan bioprospeksi. “Semua pemanfaatan keanekaragaman hayati berawal dari pengenalan. Kita harus tahu dulu siapa mereka, baru bisa memanfaatkan dan melindunginya,” katanya.

Dalam sesi diskusi, Dr Ivan menekankan pentingnya kolaborasi untuk memperkaya data keanekaragaman jamur di Indonesia. “Tidak hanya dengan peneliti, dosen, dan mahasiswa, kita juga perlu dukungan dari berbagai pihak, terutama bekerja sama dengan orang-orang lokal,” jelasnya.

Menutup sesi, Dr Ivan berharap ke depan Indonesia dapat memiliki basis data jamur nasional yang akurat dan terbuka agar dapat menjadi landasan riset, pendidikan, dan pengembangan industri berbasis fungi. (Ez)